21 Februari 2016

Dari Mana Membangun Kritik Sastra


Sejarah kebudayaan Indonesia, tidak sedikit yang bilang sama halnya sejarah perkembangan sastra. Kebudayaan dan Sastra, di sejarah awal Indonesia bisa saling menyampir. Saling mengisi. Atau bahkan sulit dibedakan. Yang terakhir akibat pandangan yang bilang kalau sastra adalah cermin kebudayaan masyarakat. Sastra tidak berbeda dengan norma atau tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat, sehingga kalau mau bilang kebudayaan suatu masyarakat, berarti harus mengikutkan sastra di dalamnya.

Ada juga penolakan bahwa sastra merupakan perkembangan yang khas dari kebudayaan. Sastra menempati posisi yang unggul dari hanya sekedar tatanan nilai anutan masyarakat. Justru sastra memiliki kekebalan dari cemar kebudayaan. Sastra-lah yang membentuk nilainilai. Posisinya melampaui yang manifes.

Karena itulah lahir kritik sastra. Suatu cabang ilmu sastra yang lahir untuk memilah baik buruknya suatu karya sastra. Atau memberikan justifikasi suatu karya dapat disebut sastra atau bukan.

Kritik sastra, di Indonesia disebutsebut tidak berkembang baik seperti di dunia barat. Kritik sastra banyak nian bersentuhan dengan politik. Malah politik lebih dominan daripada sastra itu sendiri. akibatnya, pertumbuhan sastra di Tanah Air tak bisa lepas dari variabel apa dan di mana dia tumbuh.

Tapi perkembangan yang demikian, justru memberikan dampak yang berkepanjangan terhadap perkembangan sastra selanjutnya. Perdebatan antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Sanusi Pane, Manikebu dengan Lekra, dan yang paling dekat dari kita antara Komunitas Salihara dengan Boemi Putra, merupakan titiktitik sejarah yang terus membangun garis pemisah antara pelbagai pandangan sastra yang berkembang.

Sejarah sastra Indonesia pada hakikatnya adalah pertanyaan besar yang selama ini masih relevan diperbincangkan: dari mana datangnya kebudayaan Indonesia? Atau pertanyaan paling prinsipilnya yakni apa sebenarnya kebudayaan Indonesia itu?

Dua pertanyaan besar inilah yang sampai saat ini terus mendasari kritik sastra bahkan sampai membentuk suatu pola pemikiran yang khas dan jamak Namun , bagaimana sebenarnya kritik sastra itu bermula? Dari perkembangannya ada dua bentuk kritik sastra. Kalau mau pakai bahasa sederhana, yang pertama kritik yang menaruh perhatian terhadap isi, dan yang kedua cenderung memberikan perhatian kepada bentuk.

Dua pola ini punya sejarah panjang. Di mulai dari kritik Platon terhadap sumber keilmuan selain filsafat. Bisa dibilang kritik sastra disulutdari perendahan Platon terhadap sastra daripada filsafat. Konteksnya punya variabel macammacam. Variabel pertama diacu dari pandangan Platon tentang Philosofer-King.Platon, melalui  konteks negara Polisnya, memberikan kepercayaan hanya kepada filsuf sebagai kelas ideal. Selain filsuf tak ada profesi yang palig agung. Hanya filsuf-lah yang mampu memimpin, sebab dia punya kualitas ideal sebagai manusia.

Sementara seorang sastrawan, adalah tukang replika. Kata Platon, sastra hanya mengimitasi imitasi. Hanya mengulang apa yang sudah terulang. Tidak sejati. Bentuk yang dicandra sastrawan hanya bayangbayang. Sastrawan hanya mereplikasi replika dari bentukbentuk ideal. Lewat panggung, puisi hanya numpang dibacakan, lewat panggung, teater hanya mengulang. Panggung tidak langsung, dia dunia kedua. Palsu. Begitu kirakira pandangan Platon.

Karena itulah Platon emoh terhadap sastra. Di mata Platon sastra menduduki posisi nomor dua dalam hirarki keilmuannya setelah filsafat. Sebab intinya, sastra hanya bermain pada gaya bahasa, isi kadang kabur akibat bahasa yang mendua. Sastra hanya berusaha rethoris saja.

Tapi, Platon tidak  bisa selamanya jumawa. Aristoteles punya cara pandang lain. Muridnya, melalui rhetorika, membangun kritik. Sastra justru membantu, tidak selamanya yang ideal (universal), jadi titik pusat. Partikularia (kenyataan) mampu juga membawa manusia kepada suatu nilai. Lewat suatu gaya bahasa yang indah, justru kebenaran akan mudah diterima.

Kirakira begitulah awalnya, kritik sastra dimulai. Dua nama besar ini agak susah mau disingkirkan. Juga, perkembangan sastra Indonesia. Agak susah bila tidak dikatakan sejarah sastra sebenarnya sejarah persitegangan.

20 Februari 2016

kala kala jangan kalah

Kala belum jadi. Saya memilih tidur. Ngantuk tibatiba datang menyergap. Maklum pagi tadi saya harus keluar lebih awal. Setelah pulang, akibat kekenyangan membuat mata saya berat.
Kali ini Kala saya tangguhkan sampai malam. Sengaja saya tidur saja, biar malam jauh lebih fit mengerjakannya. Apalagi sampai siang belum ada tulisan yang masuk.

Minggu lalu, pasca kelas menulis PI, sudah ada tulisan yang siap pakai. Cuman baru satu esai. Kala biasa memuat dua esai. Terkadang juga beberapa puisi, itupun kalau memang dua esai tidak mencukupi kolom yang tersedia.

Satu esai, dimuat minimal 500-700 kata. Kadang ada esai yang bisa dimuat lantaran sampai 1000an kata. Implikasinya, satu esai yang lain harus tidak lebih dari 700 kata. Kalau format tulisannya pas, maka tak jadi soal. Kala terbit dengan dua esai seperti biasa.

Kala buletin debutan. Karena masih baru, Kala masih mencari pola. Entah aspek wacananya sampai teknis penerbitannya. Sampai detik ini, Kala sudah terbit empat pekan. Selama ini polanya sudah mulai kelihatan. Pertama, perhatian model tulisan selain esai, juga cerpen. Juga puisi. Kedua, nanti setiap jelang kelas PI dibuka baru Kala siap edar.

Pola kedua terjadi akibat tulisan jarang masuk lebih awal. Padahal setiap pekan redaksi Kala terbuka lebar bagi setiap tulisan kelas menulis PI. Namun, entah sampai saat ini meja redaksi Kala sepi tulisan. Kalau yang ini maklum, Kala bukan buletin prestisius. Juga memang barangkali tak ada yang tertarik mengirimkan tulisan.

Konsep awal Kala adalah media kolektif. Tujuan dasarnya menampung tulisan kelas menulis PI. Jadi secara kolektif tak ada soal dari mana sumber tulisan Kala. Itu bisa diambil dari tulisan kawankawan. Yang jadi problem adalah hampir semua kawankawan banyak menulis jenis tulisan freewriting. Sementara yang dikhususkan merupakan tulisan jenis esai. Atau suatu tulisan yang fokus membahas satu tema dengan menyertakan sudut pandang tertentu.

Jenis freewriting gandrung akhirakhir ini. Temanya bisa macammacam. Gaya maupun bentuk penulisannya juga demikian. Kelebihan jenis tulisan ini bisa mengeksplore banyak hal dari satu tema yang menjadi pintu masuk. Prinsipnya mengalir bagai air. Biarkan ceritamu yang menuntunmu. Karenanya, akan sulit bertahan atas satu ide yang akan digubah. Walaupun bebas, tulisan bukan sama sekali menanggalkan aturan main penulisan. Fleksibel, salah satu kuncinya.

Kala bisa memuat jenis tulisan macam freewriting bila satu esai sudah terpenuhi. Kalau belum akan ditunggu sampai masuk ke meja redaksi. Waktu deadline biasanya sampai jam 10 pagi. Pernah di pekan keempat, esai yang masuk hanya satu judul. Sementara esai yang kedua nanti datang jelang masa injurytime. Karena saat itu malah menyisakan kolom kosong, mau tak mau itu jadi tugas redaksi mengisinya.

Tadi siang ada omongan kalau Kala hanya beredar di kalangan internal. Itu bisa jadi soal atau malah sebaliknya. Kala jadi soal kalau peredarannya belum bisa keluar dari komunitas. Justru jadi serius kalau belum bisa menjadi wacana. Ukuran redaksi, Kala bisa berhasil salah satunya kalau posisi Kala menjadi topik omongan. Sebaliknya tidak jadi masalah, karena Kala bukan apaapa. Makanya bukan soal kalau Kala hanya beredar di seputar kawankawan.

Sampai malam ini masih satu esai yang masuk. Kala butuh dua esai. Kalau besok pagi belum terpenuhi dua esai, sudah jadi tugas redaksi mensiasatinya. Redaksi memang harus punya banyak akal, apalagi misal tulisan yang kurang.

Sekarang saya habis makan. Janji sebelumnya malam ini baru urus Kala. Seperti biasa harus lebih dulu mengedit tulisan. Setelah itu baru sesi urus layout. Terakhir tinggal save kemudian siap naik cetak besok siang.

Tapi, seperti yang saya bilang, sampai saat ini masih satu esai yang layak terbit. Redaksi harus bersabar sampai besok. Kalau memang belum ada, jujur terpaksa redaksi harus pakai jurus ke 977. Kadang di keadaan yang kepepet, jurus itu penting. Sama pentingnya, Kala harus tetap terbit di akhir pekan. Kala jangan Kalah.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...