12 Februari 2016

twitt tentang twitter

Tempo hari saya bikin akun twitter baru. Maksudnya akun lama yang diaktifkan kembali. Entah mengapa tibatiba saya ingin main twitter. Kalau dilihat waktunya, twitter saya di buat tahun 2013. Tahun itu saya resmi jadi netizen twitter. Namun, karena saat itu menganggap twitter ribet, saya urung membukanya. Sebabnya sederhana belaka, saya tak paham istilahistilah yang dipakai twitter.

Kala itu membuat twitter hanya untuk mencari wadah agar tulisan diblog bisa diposting. Rencananya selain facebook, twitter akan saya gunakan untuk mengupload tulisan. Namun sayang, karena jarang dibuka, akhirnya tanpa sepengetahuan, akun saya ditangguhkan.

Itu saya tahu ketika ingin memposting tulisan. Tibatiba akun sulit ditembus. Pikir saya barangkali pasword yang saya lupa. Setelah dicoba ulangulang malah tidak mau. Akhirnya jalan lain saya tempuh. Lewat mesin pencari, saya buka jejak rekaman akun saya. Ketika masuk dan loading, malah di situ ditulis akun saya di tangguhkan.

Berbagai hal dilakukan agar akun saya dapat aktif kembali. Mulai dari searching bagaimana cara membuka akun twitter yang terblokir, sampai mencoba kembali berbagai kata yang sering dijadikan pasword. Dicoba berkalikali tidak pernah berhasil. Sampai akhirnya saya malas mengurusinya.

Bertahuntahun saya tinggalkan twitter dan lebih suka main facebook. Main fb itupun hanya sekedar melihatlihat perkembangan status orangorang. Terkadang malah jalanjalan ke dinding orangorang yang menarik perhatian. Selebihnya hanya sekedar upload tulisan via blog.

Jadi nyaris hampir jejak rekam fb hanya memuat tulisantulisan blog. Saya bisa dikata orang yang jarang memuat status. Pikir saya tak ada menariknya bikin status kalau hanya sekedar hanya ingin mendapatkan komentar. Toh kalau iya, saya ingin komentar yang ada tentang tulisantulisan yang diupload.

Saya agak lupa kapan saya membuat akun facebook. Sebab memang bukan saya yang membuatnya. Saat itu belum ada kemauan seperti kebanyakan orang yang ramai gegara booming fb. Tapi entah mengapa seorang teman membuatkan saya akun. Katanya biar tidak ketinggalan jaman. Sejak saat itu akhirnya saya punya akun baru. Sekiranya itu terjadi antara 2007 atau 2008.

Ketika mengoperasikan fb tak ada kesulitan menggunakannya. fb ternyata mudah digunakan. Barangkali tampilannya yang membuat begitu. Saat itu saya juga baru tahu bahwa fb prinsipnya jejaring pertemanan. Dan sewaktuwaktu kita bisa mengungkapkan apa yang dipikir dan dirasakan dalam kolom status.

Karena situs jejaring pertemanan, saya juga mulai mencari mukamuka yang saya kenali. Kalau ada yang dikenali tidak pikir panjang langsung saya ajak berteman. Kadang juga dari nama yang saya ketahui membuat aktivitas itu semakin gampang. Saya tinggal klik dan menunggu dikonfirm. Begitu seterusnya sampai saya capek sendiri.

Semenjak dibuat, akun fb saya sudah punya lebih seribuan teman. Entah teman yang betulbetul teman atau hanya sekedar kenal tampang. Bahkan ada yang semula bukan teman, tapi karena sering mengomentari akhirnya jadi teman. Bahkan tibatiba diajak teman begitu saja. Kalau kenal saya konfirmasi, kalau tidak saya biarkan.

Sampai sekarang ada orangorang yang tidak saya konfimasi. Mereka entah mengapa mengajak saya berteman. Mungkin pernah melihat atau merasa pernah terlibat dalam satu momen dengan saya. Entahlah. Yang pasti adaada saja yang nangkring di daftar tunggu pertemanan.

Saya bukan sombong, tapi pilihpilih teman. Jaman sekarang yang serba transparan saya harus berhatihati pilih teman. Apalagi banyak teman yang anehaneh. Kadang adaada saja yang diposting. Bahkan bawabawa iman segala. Pusing saya.

Yang buat heran, grup yang “sejuta” jumlahnya. Sedikitsedikit grup. Sebentarsebentar grup. Lagilagi grup. Memangya grup bisa bikin bahagia? Justru bikin jengkel. Sedikitsedikit masuk notifikasi yang tidak jelas. Apalagi yang muat situs “tantetante.”

Saya heran saja grup yang segudang itu. Tidak tahu apa manfaatnya. Seakanakan bergabung di grup sudah bisa bikin sesuatu. Orang bikin grup kan dasarnya punya tujuan. Ada maksud. Tapi kalau hanya kumpulkumpul teman buat apa?

Sekarang akun twitter saya telah aktif kembali. Agak kecewa juga setelah sekian lama baru dipulihkan. Sebabnya saya hanya punya sedikit followers. Kata teman twitter beda dengan facebook. Kalau twitter agak susah dapat followers. Kita harus aktif ngetwitt, kalau tidak sepi pengunjung. Apalagi kalau dilihatlihat hanya orangorang “tertentu” yang main twitter. Makanya agak susah mendapatkan followers.

Baiklah mudahmudahan twitter senyaman facebook kala dimainkan. Saat ini saya masih cobacoba mengetahui cara tepat menggunakannya. Berusaha mengikuti kebiasaan orangorang bermain twitter. Juga agar dapat memiliki teman di sana. Apalagi kebiasaan posting tulisan saya. Mudahmudahan selancar facebook. Cao.


10 Februari 2016

yang tinggal dari "geliat atte dalam dua novel"

Jusnawati bilang, tulisannya mengandung dua hal; segi informatif dan evaluatif. Berdasarkan itulah dia membangun perspektif. Di tulisannya, dia banyak omong tentang hal yang patut diketahui, dan yang patut dievaluasi. Ini posisi yang dia tempuh.

Dia memberi tahu, Titisan Cinta Leluhur dan Djarina, dua novel yang patut dibaca. Setidaknya yang senang dengan sejarah suatu kaum. Jusna bilang kalau dia tidak suka baca sejarah. Tapi, dari dua novel yang diresensinya, dia mulai mempertimbangkan minatnya.

Pemaparan Jusna lumayan banyak. Saya agak kurang perhatikan. Tidak tahu kawankawan yang lain. Banyak suara bising. Motormotor berkejaran. Apalagi mobil yang macet. Tapi ada hal yang saya tangkap. Hubungannya dengan nuansa feminin yang dibilangnya.

Di warkop yang ramai sayupsayup saya dengar Jusna juga bilang kalau Titisan Cinta Leluhur punya judul yang filosofis. Judulnya menarik, ada kesan filosofis. Begitu dia bilang. Tapi dia kritik balik, bahwa dia tidak menemukan kesan yang sama. Seakanakan novel itu bercerita yang lain. Tidak ada kesan titisan cinta leluhur , begitu katanya. Ini kritik pertama.

Kedua Jusna ajukan kepada Djarina. Novel kedua yang diresensinya. Katanya tak relevan antara sinopsis dan isi novel. Di sinopsisnya, Djarina disebut membahas Bantaeng era pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, tapi Jusna tangkap justru disitu tak ada ulasan yang disebut di bagian sinopsis. Jusna ajukan pertanyaan: apakah sinopsis itu ditulis langsung penulisnya atau penerbit bukunya. Ini kritik kedua.

Lanjutan dari kritik kedua. Ini dari saya. Kalau disebut sinopsis mewakili keseluruhan isi novel, Djarina novel yang abai terhadap relevansi ceritanya. Ketika seseorang berdasar sinopsis memilih memiliki bukunya, tapi justru isinya berbeda, nanti disebut penipuan. Bisa jadi. Ini hanya prasangka saja. Sahsah saja.

Tapi yang dibilang Jusna menarik. Dia menemukan unsur feminin di dalam dua novel karangan Atte Maladevi ini. Juga unsur lokalitas. Dia sebut unsur keperempuanan begitu kuat di dalamnya. Ini patut dicontoh, katanya. Terutama yang ditunjukkan tokoh Djarina.

Di sisi lain Andi Reski tidak sepakat. Katanya banyak hal yang bisa diulas. Bukan saja kandungan nilai perempuan. Tapi maskulinitas tokohnya. Bilang Andi Reski, justru tokoh lakilaki dalam novel Titisan Cinta Leluhur juga patut diperhatikan. Justru Djarinah hanya jadi media bagaimana tokohtokoh di sekitarnya dikenal. Terutama maskulinitasnya.

Selanjutnya tentang nama Djarina. Nama yang sama dalam dua novel harus mengandung pertanyaan. Ini Jusna yang soalkan. Dia punya indikasi kalau dua novel Atte saling berhubungan. Itu bisa terjadi kalau ceritanya saling terkait. Atau saling menyahuti. Seperti novel Pram.

Tapi saya bilang bisa juga tidak. Banyak penulis sering gunakan nama yang sama untuk cerita yang beda. Putu Wijaya misalnya, selalu pakai Pak Ami dan Ibu Ami dihampir cerpencerpennya. Juga beberapa cerpen Eka Kurniawan. Ceritanya berbeda dengan nama yang sama.

Ada kemungkinan kalau dua novel Atte berhubungan. Tidak pada ceritanya, tapi latarnya. Dua novelnya dihubungkan sejarah Bantaeng. Tradisi masyarakatnya. Juga bisa jadi tempatnya. Bisa dibilang dua novel Atte dipertemukan oleh konteks yang sama. Ini yang mungkin Jusna maksud. Yang disebut berhubungan. Tapi, entahlah…

Selebihnya diskusi dimulai, agak formal, padahal bukan itu mau saya. Niat awal ini hanya untuk ngobrol ringan tapi berbobot. Atau berbobot sambil santai. Dengan sedikit menyeruput kopi. Atau teh tarik seperti dipesan Itto. Yang lain kopi. Sedang saya teh susu.

Saya jelaskan sebelumnya Bahrulamsal For Literacy hanya ingin mengumpulkan beberapa kawankawan yang senang ngopi. Berdiskusi daripada lowong sembari online tanpa sadar. Lebih baik yang individual dikolektifkan. Waktu senggang jadi ilmu. Kebiasaan jadi pengetahuan. Itulah saya undang Jusnawati untuk diajak ngobrol bersama yang lain. Tentang tulisannya di koran tempo hari.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...