25 Desember 2015

selamat natal temanteman kecilku

Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, akhir Desember merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Pasalnya dua hal; 25 Desember adalah hari natal, dan akhir Desember merupakan harihari menjelang tahun baru.

Saya masih ingat betapa tekunnya saya di hadapan layar kaca menonton filmfilm kartun ketika hari libur. Tapi, sesungguhnya, yang paling berkesan tentu di tanggal 25 nanti, ketika saya berpakaian rapi, sehabis magrib, pergi mengunjungi rumah teman bermain yang merayakan hari natal.

Memang waktu itu saya banyak memiliki temanteman yang beragama Nasrani. Bahkan di tempat tinggal saya, mayoritas penduduknya adalah Nasrani. Sehingga hampir bisa dikatakan, penduduk muslim sekitar mukim saya hanya bisa dihitung jari. Nasrani di Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur tempat saya tinggal waktu itu (bahkan sampai sekarang), memang merupakan agama mayoritas.

Jadi bisa dibayangkan betapa meriahnya natal di waktu itu. Hampir setiap tempat banyak dipadati pernak pernik natal. Sontak kala hari natal menjelang, jalanjalan utama banyak dihiasi lampulampu pijar. Gerejagereja jadi lebih ramai. Tokotoko ditempeli aksesoris Santa Claus. Tak lupa pula hampir setiap saat terdengar lagulagu natal yang diputar untuk memeriahkan perayaan. Dan yang paling ikonik tentu saja pohon cemara yang menyalanyala hampir di setiap rumah.

Jadinya, dalam kepala, saya sudah punya daftar namanama tetangga yang harus saya datangi saat natal nanti. Di mulai dari rumah yang paling jauh hingga tetangga dekat rumah. Saat itu saya tidak sendiri, karena beberapa teman saya yang muslim juga punya niat yang sama. Akhirnya kami sepakat untuk melakukannya bersamasama. Kebiasaan ini sudah sering kami lakukan tiap akhir tahun.


Target pertama bersama temanteman mengaji saya itu, rumah temanteman nasrani yang sering kami jadikan lawan tanding sepak bola. Kami rela berjalan masuk ke dalam kompleks perumnas untuk mendatangi rumah mereka. Mereka adalah anakanak yang tinggal dalam kompleks yang bersebelahan dengan daerah tempat kami tinggal. Walaupun hampir di tiap sore mereka adalah lawan taruhan sepak bola, di hari itu, ikatan “permusuhan” kepada mereka segera kami lupakan. Satu hal yang kami inginkan; mereka adalah teman di mana rumah mereka yang akan kami sambangi.

Tujuan kami selain ingin mengucapkan selamat merayakan hari natal, tentu adalah bisa membawa pulang kuekue yang diberikan. Maka sudah tentu, selain rapi, kami mengenakan baju ataupun celana yang berkantung banyak. Itu sudah pasti untuk menampung beraneka ragam kue yang disuguhkan. Maka ketika kami tiba, mereka hanya bengong, dan akhirnya tersenyum manis dengan menyambut kami masuk. Dan di saat pulang, tanpa malu kami berebutan mengisi kantung baju dan celana dengan kuekue yang sebisa mungkin dibawa pulang.

Itu juga kami lakukan bukan saja kepada kawankawan sebelah kompleks. Bahkan untuk memenuhi ambisi polos kami itu, setiap rumah yang tak kami kenali tetapi kami ketahui sedang merayakan natal pun kami sambangi.

Ketika itu kami lakukan, diperjalanan, kami banyak bertemu anakanak yang lain. Mereka juga berpakaian rapi, beberapa di antara mereka saya kenali. Mereka adalah anakanak kompleks sebelah pemukiman kami. Tujuan mereka tentu sama, yakni datang berkunjung di rumahrumah yang merayakan natal. Dan pasti seperti kami; membawa pulang kue sebanyakbanyaknya.

Saya masih ingat ketika itu, kami saling memamerkan kuekue yang mampu kami bawa pulang. Di saat pulang saku baju dan celana kami penuh dengan tepung kuekue yang penuh sembari saling bertukar jenis kue di perjalanan pulang. Dan yang paling menyenangkan, ketika saat pulang kami bisa membawa minuman kaleng sebagai tanda keberhasilan melawat. Memang saat itu barang siapa yang dapat membawa pulang minuman kaleng yang bersoda itu, akan dianggap sebagai jagoan. Apalagi jika itu disahkan dengan menunjukkan bibir dan lidah yang berubah berwarna merah, maka semakin paripurnalah dia sebagai jagoannya.

Natal yang kami lalui adalah natal yang betulbetul ceria. Walaupun kami berbeda keyakinan, tak pernah terbersit sekalipun untuk membesarkan perbedaan  di antara kami. Apalagi kami adalah anakanak yang tak pusing dengan halhal semacam itu. Itu semakin terasa ketika kami berkunjung ke tetanggatetangga dekat dipemukiman. Saya selalu terperangah kepada setiap pohon natal yang mereka pajang di ruang tamu. Di sana banyak lampulampu hias yang digantung, plus dengan kapaskapas putih. Indah sekali! Seketika saya juga langsung tahu tujuan kapas itu disematkan, yakni sebagai ilustrasi yang menggambarkan salju sebagai tanda keceriaan natal.

Begitu juga ketika saya terkesima dan merasa aneh dengan patungpatung seorang perempuan dan seorang bayi lelaki yang dibuat dari keramik yang berkilatkilat. Hiasan dari keramik itu menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi di dalam kandang domba.  Tak luput juga ada hiasanhiasan seperti periperi bayi bersayap terbang mengelilingi perempuan berkerudung itu. Itu saya temukan di beberapa beberapa rumah teman saya yang juga dipajang di sudut ruang tamu mereka. Melihat itu, saya tahu betapa hormatnya mereka kepada bayi yang berada dipangkuan perempuan yang kemudian saya kenal sebagai Ibu dari lelaki yang mereka Agungkan itu.

Tetangga saya bernama Harli, waktu itu ia lebih tua tiga atau empat tahun dari saya. Ia punya adik bernama Roland yang gemar bermain pasir di halaman rumah saya. Roland ketika datang bermain, mulutnya seringkali penuh nasi yang tak kunjung ditelannya. Mamanya selalu bercerita tentang kebiasaan buruk Roland itu, yang selalu menghisap nasinya jadi bubur ketika ia makan. Dengan kebiasaan itu, kami selalu tahu, kalau ia makan, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

23 Desember 2015

Manifesto Komunis


”Kaum proletar tidak akan kehilangan apa pun kecuali belenggu mereka. Mereka punya satu dunia untuk dimenangkan. Kaum proletar semua negeri, bersatulah.” (Karl Marx dan Friedrich Engels).

MEMBACA Manifesto Komunis sebenarnya membaca keresahan yang muram. Terkadang orang-orang dibuat takzim sekaligus curiga. Tapi, tidak sedikit yang membacanya justru dengan nada optimis sekaligus melihatnya sebagai tulisan yang mengandung azimat.

Syahdan, azimat itu sudah didengungkan dan ditutup dengan kalimat ”kaum proletar semua negeri, bersatulah.”

Begitulah, tulisan itu mulai ditulis di akhir Desember 1847 sampai Januari 1848. Alinea terakhir manifesto komunis itu, akhirnya menyedot banyak mata, terutama kaum yang disebut-sebut di dokumen itu.

Yang namanya manifesto pasti suara yang mendesak. Di situ, saat Marx dan Engels mengucapkan dengan bulat, suatu dunia telah dibayangkan. Suatu momen sejarah yang harus direbut dari belenggu. Suatu tatanan yang mereka katakan untuk dimenangkan. Di sana, hanya dunia yang bebas belaka. Kaum proletar, disebutnya, di semua negeri manapun, bersatulah.

Memang di dokumen yang lebih mirip pamflet itu menyebut banyak golongan: orang merdeka dan budak, patrisian dan plebeian, tuan bangsawan dan tani hamba, warga gilda dan magang. Tapi hanya satu golongan yang diseru. Bahkan itu suatu kaum.

Kaum, oleh Marx dan Engels, disebutnya suatu kelas masyarakat yang tersisih dan disatukan dalam hirarki masyarakat Eropa. Yakni suatu tatanan mayarakat yang lahir dari sejarah perjuangan kelas. Kaum proletariat disebut-sebut merupakan hasil dari zaman yang sedang bergerak saat itu.

Zaman borjuis, begitu Marx dan Engels tulis, telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas, seluruh masyarakat semakin lama terbelah menjadi dua kubu utama: borjuasi dan proletariat.

Yang menarik, perkembangan itu bertolak dari rusaknya tatanan yang guyah oleh perselisihan kelas. Bahkan itu dimulai ketika hak milik mengubah ide kepemilikan zaman pertengahan menjadi era yang serba baru tanpa mengubah mode kepemilikan. Dari tani hamba zaman pertengahan lahirlah warga kota yang merdeka, yang merupakan unsur-unsur pertama borjuasi. Ini didukung dengan ditemukannya Amerika dan jalur laut Afrika sebagai prakondisi suatu lapisan baru yang baru tumbuh. 

Di situ ide tentang dagang mengubah cara orang melihat pertukaran, dan dengan itu zaman bergerak.
Analisis Marx dan Engels juga menyertakan bagaimana kaum borjuis berkembang cepat akibat reaksi balik terhadap industri yang bergerak maju, pelayaran, dan lalu lintas kereta api, ketika konsolidasi itu menyapu habis tatanan feodal. Singkatnya, kaum borjuasi jadi kelas yang cekatan dan dengan cepat menjadi kelas dominan menguasai sumber-sumber ekonomi.

Tapi, lamat-lamat borjuasi menjadi ekonomistik. Ia jadi ”momok yang menanggalkan tampang suci semua orang.” Begitu ungkap Marx dan Engels. Borjuasi mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana, menjadi buruh upahan yang dibayar. Yang suci di abad pertengahan jadi sosor. Semuanya jadi barang dagangan.

Akhirnya, dengan sendirinya, kaum yang membabat habis kekuatan abad pertengahan itu, tiada henti dicela. Imbas borjuasi telah merenggut perasaan yang polos yang sempat dipunyai manusia, menjadi hubungan uang belaka.

Mencela karena itu adalah suatu sikap yang lumrah. Apalagi itu ditujukan untuk mengolok-olok masa yang mengkerdilkan bobot suatu ide baru. Itu harus untuk membuka kemungkinan-kemungkinan perubahan yang terlanjur mapan. Marx bahkan menggunakan cara yang paling horor: hantu komunisme.

Hantu komunisme, yang dinabalkan sedang bergentayangan di langit-langit Eropa itu, segera menjadi momok. Di zaman bergerak, suatu momok adalah batu sandung menjengkelkan. Tapi momok itu penting, sebab pelbagai cara selain rasa horor untuk memukul habis borjuasi memang perlu.

Yang namanya hantu, di manapun adalah sosok yang tidak bisa mati. Dan dengan sikap itu Marx dan Engels memperkenalkan suatu sikap kaum proletariat. Di manapun komunisme bergentayangan, ada rasa takut dan khawatir yang mesti diwaspadai. Dia jadi puaka.

Komunisme tak dinyana akhirnya jadi bola salju. Merembes, menggelinding. Mendorong pendulum sejarah yang bergerak lamban. Sebelum itu sejarah jadi ihktiar yang lurus, dan bahkan kolot. Sejarah seperti iman yang sulit digugat, bahkan sulit diguyah. Untuk itu komunisme jadi marwah banyak orang yang jadi tampin borjuasi. Komunisme akhirnya jadi suluk yang menggugat sekaligus menggugah.

Suatu yang menggugah dengan sendirinya adalah kekuatan yang menggerakkan. Komunisme jadi ikhtiar yang merusak apa yang disebut Marx ”ikatan suci antara kaum padri dan antek-antek intelijen.” Di saat kalimat itu dituliskan, Marx memang menantang golongan yang kepalang angkat bicara tentang komunisme, bahwa ide yang dipandang setengah mata akan jadi suara yang menyeret banyak emosi.

Dan Marx benar. Banyak yang terseret komunisme. Di zaman sesak karena industri, suatu gagasan egaliter menjadi penting. Orang-orang yang telah dipukul rata semangatnya dibangkitkan. Di medan kerja, alienasi yang menipu, dikuak, bahwa itu suatu yang bisa diubah.

Tabiat manusia memang kerja, tapi tidak dengan paksaan. Biar bagaimanapun, kemerdekaan merupakan satu-satunya yang membuat manusia jadi agung. Bukan sekedar ketika semuanya dihitung berdasarkan upah. Sejarah yang awalnya milik tuan-tuan borjuis diseret, dicela, dikritik, dan akhirkan dilongsorkan.

Maka, disitulah pentingnya dialektika materialisme atas sejarah. Rumus paten dari hantu yang membangkitkan asa itu. Kebutuhan manusia dalam jejaring produksi tidak selamanya milik kaum borjuis. Dalam jejaring kaitmengait itu, hidup manusia ditentukan dengan bagaimana ia mengerahkan tenaganya untuk berproduksi. Sementara di satu sisi, kegiatan berproduksi tidak bisa dipaksakan oleh sistem kerja hirarkis, melainkan usaha yang setara bagi setiap manusia. Sebab itulah penghisapan kerja harus diubah menjadi pembebasan. Kaum proletar harus bangkit melawan.

Dengan itu Marx dan Engels bicara tentang suatu masa yang revolusioner, yakni buruh-buruh yang tidak terburu-buru keinginan tanpa dasar ilmiah. Butuh suatu yang terang, yang disebut Marx sebagai kesadaran kelas pekerja. Melalui itu, kapitalisme akan dilihat sebagai batang tubuh yang selamanya tidak kuat belaka, tapi dia sosok yang juga bisa roboh. Karena kapitalisme sebenarnya, seperti tubuh, punya penyakit, punya cacat bawaan: kontradiksi internal.

Tapi tidak sendirinya kapitalisme tumbang. Dia memang nanti jadi reyot, tapi sejarah harus dirampas dengan cara revolusi. Itulah perlunya perjuangan kelas, dengan maksud untuk waktu yang disebutnya ”harus dimenangkan.”  

Marx dalam German Ideology menyatakan komunisme bukan keadaan yang diciptakan, melainkan gerakan nyata yang menggantikan keadaan sebelumnya. Itu berarti komunisme bukan sekadar cita-cita, tapi keharusan argumentatif hukum-hukum objektif.

Itulah mengapa, manifesto yang banyak digandakan kepelbagai bahasa itu, yang azimat itu, banyak menyindir sosialisme-sosialisme gadungan. Sosialisme yang bicara tanpa dasar objektif apapun. Sosialisme yang masih menyimpan kerinduan tentang masa feodal. Atau bahkan sosialisme yang disebut dalam dokumen itu sebagai sosialisme borjuis.

Literasi Manifesto komunis, bukan diperuntukkan bagi sosialisme setengah hati. Tapi sosialisme sejati yang didasarkan kepada hukum-hukum ilmiah, kesadaran kelas, dan perjuangan dalam konteks kepartaian. Bahkan semua itu tidak bisa dimulai tanpa teori revolusioner. Hanya dengan itu komunisme jadi radikal. Hanya dengan cara itulah perubahan jadi mungkin.

Maka seperti azimat manifesto komunis jadi pusaka.

Pada akhirnya, yang membaca manifesto pasti menyadari siapa yang harus terlibat dalam kerja-kerja revolusioner. Dia memang seperti azimat, semua mengyakini pasti takzim, dan tentu jadi sakti. Kaum buruh di manapun, bersatulah.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...