09 Mei 2015

Mengapa Sastra

Akhirakhir ini saya senang membaca karangankarangan sastra, terutama ceritacerita pendek. Membaca cerpen merupakan kesenangan baru saya untuk memahami sastra. Sebab itulah akhirnya saya mencari bukubuku cerita pendek karangan sastrawan yang saya ketahui. Tujuan saya membaca ceritacerita pendek sebenarnya didasari oleh pertimbangan untuk mengelak dari bukubuku yang mengandung unsur ilmiah. Bukubuku semacam itu, belakangan ini memang saya hindari, selain karena secara konseptual bukubuku semacam itu membuat saya jenuh, tetapi juga bukubuku yang mengandung konstruksi teoritis seringkali tak banyak menggamit unsurunsur yang lebih humanis; ironi.

Ironi, suatu keadaan yang kerap muncul dalam karya sastra, misalnya ceritacerita pendek, adalah suatu anasir yang membuat saya bisa mengerti bahwa di dalam suatu bulatan nasib umat manusia, hidup tak selalu bisa dimengerti. Melalui ironi, ada halhal yang tak bisa serta merta bersih dan jernih tanpa cacat, sehingga ada suatu yang mesti kita maklumi dan terima. Dengan ironi, manusia bisa tahu bahwa di dalam dirinya selalu ada sisi yang tak penuh lengkap.

Sebab itulah saya senang membaca karangan sastra, sebab di dalamnya  suatu pengertian bukanlah berbicara untuk dapat dominan agar bisa mengampu suatu totalitas dunia, melainkan mengajarkan saya untuk dapat menerima berbagai macam sisi kehidupan yang justru memiliki banyak cacat.  Barangkali karena itulah dunia yang penuh bopeng, kerap di jadikan core dalam sastra sebagai semacam penyambung untuk mengingatkan manusia yang terkadang lupa bahwa suatu titik pusat yang selalu jadi puncak adalah jalan terjal yang sungguh landai. Berbeda dari agamaagama maupun filsafat, suatu titik pusat yang jadi arah dalam sastra dapat didekati dengan berbagai arah. Di dalam sastra seluruh kemungkinan dapat dimungkinkan. Dunia, di dalam sastra memang suatu kemungkinan yang tak mungkin dapat diramalkan.

Dengan itu saya akhinya bisa tahu, dari bacaan saya, bahwa sastra bisa bicara banyak hal. Bisa membuka beragam pintu untuk memasuki dunia. Dengan sastra terutama ceritacerita pendek, saya dipertemukan beragam narasi bahwa suatu perjalanan hidup manusia bisa saja dapat berubah sepersekian detiknya. Dengan itulah melalui ceritacerita pendek yang saya baca, memberikan saya suatu ruang untuk berjarak terhadap sesuatu agar semuanya tak harus begitu saja diterima. Setidaknya, melalui ceritacerita dan ironi yang saya baca, dapat berbagi pengalaman dengan saya.

08 Mei 2015

madah limapuluhtiga

Namun aku tak bisa menghakimi situasiku sendiri; aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku menantang keabadian dan karena itu aku tak mengerti apaapa. Aku tak kehilangan apaapa: meski banyak hal seharusnya kurindukan, seperti rasa manzanilla atau waktu yang kuhabiskan berenang di sungai kecil di dekat Cadis saat musim panas tiba- sayangnya kematian telah mengeruhkan segalanya.

Seperti itulah Sartre menulis bait dalam cerita pendeknya, The Wall. Cerita pendek yang diterbitkan di 1933. Ungkapan itu  adalah ungkapan Ibbieta, salah satu tokoh yang genting menghadapi waktu ekseskusi kematiannya. Ibbieta tak sendiri, ia bersama dua tokoh lainnya yang mengalami hal yang sama untuk ditembak mati; Juan dan Tom. Diceritakan di sana, baik Ibietta, Juan dan Tom adalah tahanan yang tanpa melalui peradilan harus menerima keputusan eksekusi mati. Kesalahannya masingmasing adalah menyembunyikan tokoh pemberontak, terlibat gerakan subversif  dan merupakan bagian keluarga dari seorang pengagum anarki.

Melalui tiga tokoh ini, nampaknya Sartre berusaha menyampir pandangan eksistensialisnya dalam kaitannya dengan kematian. Di cerpen yang lumayan panjang itu, dari sikap tokohtokohnya, saya bisa menangkap suatu sikap eksistensial bagaimana manusia tengah menghadapi batasanbatasan keberadaannya. Suatu sikap yang menyadari bahwa kebebasan secara eksistensial berhadapan langsung dengan keadaan yang tak dapat dilampauinya. Pertama, Sartre mengangkat metafora tahanan sebagai keadaan yang melingkupi eksistensi, dengan tembok sebagai perbatasan antara kebebasan dan keterpenjaraan. Dan yang ke dua adalah kematian itu sendiri.

Kematian, biar bagaimanapun adalah kepastian yang tak bisa disisihkan dalam belantara nasib manusia. Ia bisa saja terselip dalam suatu momen hidup yang tak disangkasangka. Datang diantara beragam pengalaman yang rupamacam dan dengan suatu kekuatan purba memutus semua mata rantai tepat di tengahtengah ketidaktahuan kita. Kemudian pergi membawa keberadaan kita dan hanya menyisakan tubuh yang tertinggal waktu. Sebab itulah kematian adalah ihwal yang misterium. Fenomena yang tak memiliki riwayat identitas. Datang dan kemudian tetiba pergi. Kematian memanglah kematian.
   
Tapi bagaimanakah jika ujung dari keberadaan kita sudah merupakan terang yang benderang. Di mana suatu pagi yang belum biru seluruh adalah akhir dengan harus melalui cara letusan pelor panas. Begitulah nasib tiga tokoh yang diungkap Sartre dalam ceritanya; ditembak mati. Takdir yang harus diputuskan tanpa pengadilan. Kematian yang harus di lalui di suatu pagi.  Sementara sebelumnya tersisa satu malam sebagai waktu yang tersisa jelang eksekusi.

Dan di dalam masa penantian itu, waktu adalah medium eksistensi untuk dihayati tiap momennya. Di sanalah kesadaran terhadap waktu nampak di dalam penghayatan, menjadikannya bagian yang dikontruksi kembali untuk diselami. Di situasi itu, barangkali manusia menjadi mahluk yang berbeda, menjadi mahluk yang mewaktu.

Seperti itulah yang dialami oleh Ibbieta dalam menunggu kematiannya. Di malam menjelang kematiannya, dengan segenap kesadarannya, waktu dikonstruksinya menjadi totalitas yang menegasi liniearitas spasial. Waktu dimasukinya dengan aliran kesadaran penuh yang dibentangnya dengan seluruh totalitasnya. Dalam keadaan ini ada dua hal yang menjadi ciri eksistensi manusia; kecemasan dan ketakutan. Tetapi hanya kecemasanlah yang mengindikasikan esensialitas manusia sebagai penanda kebebasannya.

Mengacu dalam pemikiran Heidegger tentang kecemasan, adalah keadaan paling dasar dari perasaan yang tak memiliki kejelasan atas objeknya. “Objek rasa cemas bukanlah mengada di dunia ini. Karena itu rasa cemas pada hakikatnya tidak memiliki isi persoalan”  ungkapnya. Melalui ciri ini, kecemasan merupakan perasaan yang berbeda dari ketakutan yang menjadi bagian dari keseharian. Ketakutan selalu mengandaikan kepastian yang tampak benderang sebagai konsekusensi atas tindakan, sementara kecemasan adalah peristiwa yang tak mampu memproyeksi keadaan apa yang dihadapi; suatu keadaan di hadapan ketidakpastian yang tak terjelaskan; suatu misterium tanpa dasar. Sebab itulah kematian yang di hadapi, walaupun sudah merupakan suatu peristiwa yang akan di hadapi, tetap merupakan ihwal yang tak memiliki isi. Dan “sesuatu yang tak memiliki isi” itulah yang dihadapi Ibbieta.

Begitu juga yang dialami oleh Tom; suatu kesadaran yang dimunculkan semenjak ia merenungi waktu sebagai selaput tipis yang akan membawanya pada kematian. Nampaknya di dalam cerpen ini, watak yang paling menunjukan bagaimana kesadaran eksitensial di narasikan Sartre adalah pada tokoh ini; seorang aktivis yang terlibat dengan gerakan pemberontakan. Di masa penantian di dalam penjara, pasca perbincangannya dengan Ibieta menyangkut kematian, melalui kecemasannya ia mengajukan pertanyaan; benarkah bahwa semua hal dalam hidup ini akan berakhir?

Di cerita itu tak ada jawaban untuk pertanyaan yang diajukan Tom. Sepertinya hal itu dibiarkan menganga tanpa dialog dari Ibbietta yang bisa saja dijawabnya. Dialog itu mengibaratkan suatu perbincangan yang siasia, tanpa arti, sebab barangkali “akhir” bukanlah pokok yang menjadi soal utamanya.  Dari filsafat Sartre kita bisa tahu, “akhir” sama saja sebagai suatu batas yang secara paradoksal menganggap “permulaan” sebagai titik muasal manusia.

Karena itulah dalam cerita itu, Sartre mengawali setting cerita dengan ketiga tokoh yang begitu saja dilempar ke dalam ruangan besar sebagai penjara bagi mereka. Melalui narasi semacam itu, manusia ingin digambarkan oleh sahabat Albert Camus   ini sebagai mahluk yang “terlempar” begitu saja ke dunia tanpa niat sebagai dasarnya.  Ada dengan “terlempar” begitu saja, tanpa asalusul, tanpa riwayat. Semacam kehadiran yang tidak didasari oleh basis metafisika seperti agamaagama dengan menyebutkan asal muasal dari suatu peristiwa dua manusia asal yakni Adam maupun Hawa.

Tidak seperti agamaagama yang menyertakan asalasul sebagai riwayat kehadiran dalam sejarah, Sartre mengandaikan dengan demikian tak ada alasan untuk mengkhawatirkan  suatu akhir, termasuk kematian. Sebab “kematian menyingkirkan semua makna dari kehidupan” sebutnya. Maka itulah eksistensilah yang harus menjadi pusat mengada manusia,  bukan kematian itu sendiri.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...