15 April 2015

Fiksi Lotus


Beberapa hari yang lalu saya datang ke sebuah toko buku. Maksud kedatangan saya ke sana tentu ingin membeli buku. Kedatangan saya ke toko buku ini sebenarnya terbilang jarang, sebab saya lebih senang mendatangi tokotoko buku kecil yang lebih gampang saya datangi. Saya datang ke sana dengan satu alasan: buku yang saya cari hanya ada di toko buku itu. Alasan saya ini sejatinya hanya dugaan belaka. Tapi hitunghitungan sudah lama saya tak menyambangi toko buku yang dimaksud, maka saya datang juga ke sana.

Awal cerita kenapa saya datang ke toko buku itu, karena hasil percakapan via BBM dengan seorang penjaja buku online. Suatu waktu, via display picture BBMnya, terpampang gambar buku: fiksi lotus judulnya. Itu saya tahu setelah beberapa kali picture zoom saya lakukan. Dari gambar itu, saya tahu itu buku sastra. Tapi apakah itu kumpulan sajak, cerita pendek ataukah novel saya tidak tahu. Tapi setelah saya tanyakan kepada pemiliknya, buku itu ternyata adalah kumpulan cerita pendek dari sastrawansatrawan dunia, sebab tak lama kemudian ia mengirim namanama yang menjadi penulis buku itu. Dan dari entri nama yang dicantumkannya, terbersit seketika dalam benak: saya harus segera membacanya.

Saya sebenarnya awam tentang dunia sastra. Basic keilmuan saya adalah ilmu sosial, sosiologi tepatnya. Jadi, tentang sastra, ibarat ilmu yang baru pertama kali saya kenali. Sebab itulah saya tak mengenal seluk beluk sastra, perkembangan sastra, aliranaliran sastra, bentukbentuk sastra dan seluruh pilahpilah keilmuan susastra. Juga tentu saya juga tak begitu banyak tahu tentang namanama sastrawan dunia, pun jika ada belum tentu saya pernah membaca karyakaryanya. Tapi dari namanama yang dikirimkan oleh penjaja buku itu, yang menjadi entri dari buku bersampul warnawarni itu, saya mengenal beberapa nama dari orangorang yang kerap menyebut namanama semisal, Ernest Hemingway, O Henry, Frans Kafka, Naguib Mahfouz, J.P Satre, Anton Chekov dsb. Dan dari namanama merekalah hati saya digerakkan agar segera membaca buku itu.

Tapi malang. Di waktu itu, si penjaja buku tak bermaksud menjual buku itu. Justru Ia hanya bermaksud memajangnya menjadi DP BBMnya. Tapi karena sudah sering saya membeli bukubukunya, saya akhirnya menanyakan berapakah harga bukunya. Siapa tau saja ia berubah pikiran agar menjualnya. Malang tetaplah malang, sebab ia bersikukuh untuk tidak menjualnya, ia bermaksud hanya menjadikannya koleksi pribadi. Tapi komunikasi bisa mengubah seluruh hal termasuk dalam transaksi ekonomi. Apalagi jenis transaksi saya dengan penjaja buku ini selama ini terbilang dialogis. Artinya keputusan bisa saja berubah, tergantung komunikasi yang dibicarakan. Dan akhirnya, dari perbincangan via BBM itu, ia mengubah sikapnya dengan bersedia menjual bukunya dengan kesepakatan harga yang ditetapkannya.

Hanya saja dari harga yang ditetapkannya, saya agak berat dengan nominal yang diberikannya. Dengan beberapa kali permintaan harga baru yang sedikit lebih murah pun ia tak bergeming. Maka dari beberapa kali percobaan negoisasi yang tak mulus, transaksi akhirnya gagal. Harga yang diharapkan kedua pihak tak kunjung disepakati.  Tapi dari negoisasi yang tak berhasil itu, disarankanlah kepada saya untuk mencarinya ke toko buku yang ia katakan. Dari sarannya  itu, maka saya menuju ke toko buku yang dimaksud.

Dan kesialan yang kedua untuk tidak ingin dikatakan malang, di toko buku itu, buku yang susah payah saya negoisasikan sebelumnya ternyata kosong. Dari deretan panjang rak buku sastra, beratusratus buku di sana, mata saya gagal menemukannya. Apa daya, barangkali indera tak mampu menyapu bersih setiap sudut rak buku, maka tibalah saya di depan mesin pencari dengan keyakinan tak ada yang bisa lolos dari jangkauan sistem informasi. Berbekal setengah iman yang tersisa, diketiklah judul buku itu: fiksi lotus. Dan itulah kesialan yang sesungguhnya: stock kosong. Dan kesialan manalagikah yang engkau dustakan: berada di toko buku terbesar, di antara jubel riburibu buku, tetapi satu ekslempar  buku yang diinginkan tak juga ditemukan. Nampaknya malaikat buku tak sudi  meridhaiku.

Dan dari kesialan yang serupa durian runtuh itu adalah, betapa lugunya saya untuk tetap datang ke toko buku itu setelah sebelumnya dikatakan oleh si penjaja buku, bahwa ia juga pernah mencarinya di toko buku yang sama dan ia pun tak berhasil menemukannya. Dan dua kali lipat rasanya sebab dikatakannya bahwa kejadian itu sudah setahun yang lalu terjadi. Artinya sebenarnya saya tak perlu datang untuk mencarinya, sebab ia sebelumnya sudah melakukannya. Tapi itu satu tahun yang lalu, tentu banyak kemungkinan bisa terjadi, misalnya buku itu sebenarnya masih ada dan luput dari pencariannya. Bisa juga, seeksemplar yang luput dari pencariannya masih ada tersisa dan tak ada yang sudi membelinya. Atau yang paling mungkin: buku itu dicetak ulang.

Syahdan, keluguan dan kemalangan saya di toko buku besar itu saya konversi saja dengan membeli beberapa buku yang lain. Buku yang saya beli masih bergenre buku sastra dan sebuah buku filsafat. Tepat sampai di sini, perasaan yang telah dikonversi menjadi duka kembali. Pasalnya, bila bertahuntahun yang lalu masih saya temukan dua tiga rak khusus untuk bukubuku filsafat, justru di waktu sekarang yang tersisa hanyalah setengah dari satu rak buku. Dan, penanda tempat buku filsafat yang biasanya diterakan di atas rak buku, juga lenyap di antara rak yang lain. Anehnya, beberapa buku filsafat yang tersisa di simpan begitu saja di bagian bukubuku agama. Di situlah letaknya, setengah dari rak kelompok bukubuku agama.

Seandainya setengah rak itu paralel dengan arti sebagian pengetahuan antara iman agama adalah filsafat, maka hati saya tak mencelos. Tapi keadaan itu justru lain: ini tinanda bahwa filsafat tengah tersingkir dari konstelasi produksi pengetahuan. Buktinya, walaupun tidak disertai bukti kuat, adalah berkurangnya bukubuku filsafat di pasaran mainstream. Ini artinya produksi pengetahuan yang berbau filosofis sudah sangat jarang dilakukan. Dan malangnya, ini juga hampir berlaku bagi buku dengan genre yang lain.

Maka, di toko buku yang megah itu, saya hanya bisa bergumam dalam hati: maka kesialan mana lagikah yang engkau dustakan.

25 Maret 2015

madah limapuluhsatu

Tahun 1984, suatu tempat di Jerman Timur.

Rumah Dreyman disusupi. Hampir setiap sudut rumahnya penuh kabelkabel tersembunyi di balik dinding. Di vas bunga, di balik pintu, terminal listrik, belakang lemari, di bawah tempat tidur, bahkan di dalam kamar mandi. Praktis setiap sudut jadi suatu proyek pengintaian. Ruang tempat tinggal Dreyman jadi pusat perhatian negara. Di bawah pengintaian, Dreyman jadi manusia yang transparan. Gerak geriknya jadi bahan amatan dari objek kekuasaan. Tapi ia tak tahu.

Sementara di suatu sudut rumah, di mana kabelkabel itu berpusat, empat sampai lima monitor tak pernah padam. Alat rekam suara juga tak berhenti menangkap setiap bunyi. Dan seseorang dengan taat mengawasi gerakgerik Dreyman dari ruang kotak itu. Mencatat setiap detil yang mencurigakan. Memasukkannya dalam laporanlaporan setiap hal yang dialami Dreyman. Pria yang taat itu akhirnya mulai mempelajari Dreyman dengan membangun jadwal aktivitasnya. Dengan telaten, setiap gerak, juga setiap bunyi.

Dosa Dreyman hanya satu, ia terlahir sebagai seorang penulis.

Di negerinya Jerman Timur, yang berhaluan komunisme, setiap huruf harus mengikuti intruksi negara. Negara tempat Dreyman tinggal punya kebijakan, bahwa setiap proyek pencerahan harus memuati maksud seperti yang dikehendaki negara. Seluruh proses pembudayaan mesti selaras dengan semangat revolusi komunisme. Ini berarti, setiap tulisan yang lahir dari lidah setiap penulis, harus berbicara tentang hal ihwal revolusi; semangat kaum proletar, pandangan realism, kemajuan partai, pabrikpabrik yang dinasionalisasikan, dan tentu komunisme sebagai pandangan universal.  

Sebelumnya diintai, ia adalah seorang sastrawan dan penulis naskah teater yang tak begitu dicurigai negara. Pentas teater yang sering kali ditulisnya tak mengandung unsurunsur seni borjuis yang dibenci negara. Bahkan ia di mata petinggipetinggi partai adalah salah satu seniman yang menjadi garda depan untuk mendorong kebudayaan negara jadi lebih maju. Sebab itulah ia dipandang sebagai salah satu seniman yang diberikan kebebasan untuk berkarya sesuai dengan pandanganpandangan komunisme.

Tapi semenjak kedatangan Gerd Wiesler, agen matamata Jerman Timur, di suatu pertunjukannya, semuanya berubah. Dari atas balkon pertunjukan,  Gerd Wiesler mengamati dengan teliti Dreyman di tempatnya ia menyaksikan teater yang merupakan hasil garapan tulisannya. Dari pengamatan Wiesler di atas balkon, Dreyman disimpulkan sebagai orang yang tak sepenuhnya bersih.  Dari gerak tubuh, mimik wajah, bahkan setiap detil yang dimiliki Dreyman  yang di amati Wiesler, kesimpulannya adalah Dreyman adalah orang yang mesti dicurigai sebagai tersangka yang berbahaya. Dia bukan seniman yang lurus, melainkan ada sesuatu yang selama ini disembunyikan.

 Tapi Wiesler perlu bukti yang menguatkan kecurigaannya. Biar bagaimanapun kecurigaan tak bisa dijadikan modal untuk menuntut orang tanpa datadata yang jelas dan akurat. Sebab itulah Dreyman disadap. Rumahnya dijebol dan diselipkan alatalat yang merekam semua tindakannya. Di bawah pengawasan Wiesler, mulailah ia dicurigai sebagai musuh negara.

Akhirnya tiap detik dari Dreyman adalah jadi bahan amatan negara. Setiap yang dilakukannya jadi catatan terperinci Wiesler berdasarkan waktu dan tempat di mana itu terjadi. Wiesler harus bisa mengajukan bukti kepada petinggi partai bahwa Dreyman sebenarnya adalah seniman yang diamdiam mengkritisi komunisme. Tapi Wiesler butuh waktu untuk suatu bukti yang gamblang.

Sampai di sini saya tak tahu apakah di negeri ini ada orang yang mengalami hal yang sama seperti Georg Dreyman. Seorang penulis naskah yang dimatamatai negara oleh sebab dicurigai memiliki maksud tersembunyi yang tak sesuai dengan paham negara.

Di film itu ada dua hal yang akhirnya menjadi genting; kebebasan berekspresi dan kontrol negara. Dua hal ini yang menjadi sisi antagonis di film drama Jerman itu. Kebebasan berekspresi yang menjadi pilihan Dreyman dan kontrol negara yang merupakan bagian dari kekuasaan yang terlampau besar. Dua hal ini, dalam konteks negara dan kebebasan berekspresi menjadi dua anasir yang seringkali berhadaphadapan. Tapi jika dilema dapat kita temukan di film itu, barangkali adalah Wiesler itu sendiri, seorang yang telaten mematamatai Dreyman.

Wiesler, di kehidupan seharihari seperti yang kita alami, tak jauh berbeda dengan pekerja pemerintah yang memiliki pengabdian total terhadap negaranya. Taat dan setia menjalankan tugas. Di Film itu, Wiesler ditokohkan sebagai agen matamata yang berdedikasi tinggi dan idealis menjalankan tugasnya. Orangnya tepat waktu dan jernih mengamati halhal detail. Dan selama mematamatai Dreyman sang penulis drama, ia juga menulis laporan pengamatannya tanpa unsurunsur dramatik.

Ia mengamati, mendengar setiap bunyi. Menulis setiap dialog.

Tapi Wiesler juga manusia, punya rasa punya asih. Selama pengamatannya, justru ia tersentuh dengan peristiwa yang dialami Dreyman. Akhirnya batinnya jebol, apalagi semenjak ia membaca buku kepunyaan Dreyman yang dicurinya tanpa sepengetahuan. Ia ingin tahu lewat buku, bagaimana karakter asli Dreyman. Tapi apa daya, melalui buku yang ia baca, ia paham siapa sesungguhnya orang yang dimatamatainya. Kekuatan sebuah buku memang bisa mengubah seluruh pandangan seseorang, begitu juga Weisler terhadap Dreyman. Syahdan, Weisler mulai melindungi Dreyman dari atasannya. Ia menulis laporan palsu tentang aktivitas pengarang itu. Begitu seterusnya.

Das Leben der Anderen barangkali film yang ingin menyitir sejarah Jerman dengan menggunakan cara yang bisa dibilang melankolik; drama. Tapi itu sepertinya pembacaan yang terlalu jauh, sebab tak ada kesan dalam film itu yang mengarahkan kepada pengertian yang mengungkapungkap sejarah. Sebab pula di film itu tak menyebut cerita yang pasti dengan alur yang semacam itu. Toh jika ingin disebut demikian, film itu hanya bicara plot orangorang yang hidup di situasi yang cekam dan kontrol negara yang terlampau totaliter.

Dan Dreyman merasakan, juga barangkali orangorang yang terbiasa hidup dengan kemerdekaan berpikir dan berpendapat, bahwa biar bagaimanapun, kontrol negara tak bisa merebut hal yang paling intim dari mahluk bernama manusia; kebebasan berperasaan. Di film itu, kebebasan adalah suara bungkam yang justru jadi senjata manusia. Di film itu Dreyman tahu untuk apa ia menulis.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...