24 Februari 2015

Madah Tigapuluhenam

Belakangan ini ada yang mencolok di dalam layar kaca; India dan Korea. Di layar kaca kita, India dan Korea akrab melalui drama dan sinetron. Nampaknya ada yang terasa aneh, sebab lebih dulu Malaysia lebih awal kita tonton berjamjam melalui kartun Upin dan Ipin itu. Tapi siapa yang bakal menonton kartun yang kental dialek Malaysia itu selain anakanak. Dan dari ceritacerita itu, saya banyak mendengar anakanak yang tumbuh bersamaan dengan kartun yang diimpor itu, lebih fasih dialek Malaysia dari pada bahasa ibunya.

Adakah yang salah dari itu?

Tapi kita sebenarnya harus waswas. Zaman global seperti sekarang, banyak yang menjebol batas. Hingga terkadang sampai sulit kita bendung. Akhirnya banyak hal yang harus dilindungi dari sesuatu yang berbau "luar." Banyak hal yang mesti dipertahankan, juga budaya.

Saya rasa, dari "yang luar"  itu bukan saja sudah bisa bikin waswas hati kita, tetapi juga makin jadijadi setiap hari. Sebab di ruang paling pribadi, kita sulit mengenal apa yang masih asli bagi kita. Apa yang masih genuine, atau yang disebut sebagai identitas otentik, belakangan ini akhirnya menjadi sesuatu yang penting. Atau bahkan sebenarnya genting. Sebab nampaknya yang asli, akhirakhir ini merupakan sesuatu yang sulit kita defenisikan.

Soekarno, yang getol menjunjung revolusi itu, di waktu Indonesia masih mendorong semangat antikolonialisme, melihat "yang luar" sebagai ancaman serius bagi kepribadian bangsa. Di saat perjuangan belum jauh ditinggalkan di belakang sejarah, budaya Indonesia yang defenitif harus berarti menolak impor produkproduk kebudayaan luar.

Kita pernah mendengar Soekarno berkoar tentang tidak ada lagi yang "bitelbitelans" untuk mengucapkan budaya yang asli negeri sendiri. "Bitelbitelans" waktu itu adalah musuh budaya nasional yang bisa  merangsek masuk dari luar. Musik di zaman Soekarno adalah masamasa emas saat suara John Lenon melintasi batas Inggris. Saat gambar Marelyn Monroe jadi posterposter dibioskopbioskop.

Di zamannya, Soekarno menolak musik yang berbau Barat. Terutama yang lahir dari rahim budaya kapitalisme. Sebab itulah mengapa ia melarang anakanak muda terpengaruh bandband semacam The Beatles. Karena barangkali bapak revolusi itu sadar, kolonialisme juga punya strategi selain perang, yakni melalui genderang telinga yang  gandrung segala bebunyian yang western.

Tapi apa sebenarnya arti "Barat" dan "Timur" sekarang sebenarnya juga adalah ihwal yang mudah retak. Apalagi jika kita ingin menunjuk dengan tepat apa sebenarnya identitas budaya yang asli dan origin. Sebab di zaman sekarang, jika kita menunjuk "Barat," maka di sana tak ada yang sebenarnya betulbetul Barat. Juga "Timur" adalah yang hari ini sepertinya bukan lagi timur.

Identitas memang bukan medan yang pejal. Justru Lacan menyebutnya sebagai sesuatu kesalahan pasca fase cermin, sehingga identitas yang dianggap real adalah sesuatu yang sedari awal sudah rusak. Sebab itulah tak ada yang otentik pada identitas selain merupakan rangkaian panjang untuk mengisi kekosongan. Jika sudah demikian, maka identitas adalah sesuatu yang merupakan hasil interaksi dan aksi. Hasil meminjam dan meneguhkan yang diproses menjadi sesuatu yang ingin kita sebut origin.

Lantas siapakah yang dimaksud Barat di zaman revolusi Soekarno? Atau apa yang betulbetul Barat di zaman itu? Nampaknya tak mudah menangkap jelas batas "Timur" dan "Barat". Tapi, di mata Soekarno, "Barat" adalah orangorang yang datang masuk ingin menguasai segala yang dimiliki bangsa ini.  

Barangkali budaya memang ruang terbuka untuk didialogkan. Tapi kita juga mesti sadar, ada yang hilang jika di layar kaca, apa yang kita tonton adalah canoncanon budaya yang importir. Sementara di balik itu, akhirnya kita juga akan sulit menemukan sejarah identitas diri yang sebenarnya bersamaan dengan tumbuhnya halhal baru yang bukan berasal dari perut kebudayaan kita.

Syahdan, apa yang sebenarnya membuat kita waswas, saya pikir oleh sebab yang origin hari ini sudah banyak dibajak. Tapi jauh dari itu, pertanyaannya masih sama, apa yang sebenarnya origin dari kita?

23 Februari 2015

madah tigapuluhlima

Tak semua pendidikan itu bermaksud luhur. Juga tak semua kaum terdidik itu berbudi baik.

Barangkali jika pendidikan diartikan sebagai diskursus wacana yang tak sepi dari kekuasaan, maka pendidikan sudah persis seperti kancah politik. Foucault, seorang poststrukturalis, melihatnya sebagai medan yang selalu dibentuk dan diarahkan berdasarkan hasrat kekuasaan yang inheren di dalamnya. Di mana ada keinginan untuk berpengetahuan, maka di sana juga ada hasrat atas kekuasaan.

Saat demikian, yang luhur jadi lumpur. Yang bermaksud menciptakan manusia yang bermartabat justru menyisihkan budi dan pekerti. Kekuasaan memang merusak yang agung, sebab di alam manusia, yang agung adalah sebaliknya; hasrat kekuasaan.

Orang yang paham betul dengan praktik pendidikan semacam itu barangkali adalah Paulo Friere, seorang filsuf pendidikan. Dari pengamatannya di Brazil, pendidikan yang identik dengan kekuasaan jamak diresahkan. Tetapi keresahan yang jamak bagi Friere sama halnya sebagai masalah yang fatal. Keresahan, di saat pendidikan tumpul membacanya adalah aib kemanusiaan yang harus segera diselesaikan.

Sebab itulah keresahan harus diterjemahkan menjadi kesadaran. Di mana-mana, juga di Brazil, kesadaran merupakan batu pijak pertama untuk membuka selubung soal. Maka Friere menguak lapisan kesadaran berdasarkan kepekaan masyarakat terhadap kenyataan yang melingkupi.

Diperkenalkanlah tiga lapis kesadaran itu; mistikal, naif dan kritis. Yang fatal bagi Friere adalah kesadaran yang menganggap keadaan adalah suatu yang kodrati. Situasi yang kosong dari kehendak manusia, sebab semuanya telah diatur dan bekerja dengan sendirinya. Kesadaran macam ini juga menganggap alam dan keadaan manusia adalah cosmos yang natural, serta jernih atas hasrat penguasaan. Itulah mengapa ia disebut kesadaran mistis dan juga naif.

Tapi ternyata tidak. Alam manusia bukanlah cosmos yang sunyi dari hiruk pikuk. Kebudayaan dicipta, kehidupan bersama dibentuk, sampai akhirnya sebuah sistem bersama berlanjut berlamalama. Tanpa disadari, berkat kemampuan manusia, cosmos yang natural akhirnya berubah cultural. Ini berarti di dalamnya silih berkelindan kepentingan. Mencipta, menata dan mempertahankan adalah tiga hal yang menjadi motifnya. Dan kekuasaan adalah alat paling ampuh untuk mencapai itu.

Saat demikian, di dalam pendidikan, kekuasaan menjadi alat yang diamdiam merangsek kesadaran menjadi tabiat yang bisa dijinakkan. Louis Althusser menyebut ihwal itu sebagai gejala yang ditimbulkan ideological state apparatus, yang membajak kesadaran melalui institusi pendidikan. Tujuannya adalah menyisihkan kesadaran kritis, sebab di mata kekuasaan kesadaran kritis bisa mendatangkan krisis.

Di negeri kita, yang krisis itu jika perbedaan atas pandangan dominan muncul dan menggebrak tatanan yang mayor. Perbedaan selalu dianggap aib untuk membangun pemahaman. Perbedaan jika demikian adalah cemar yang merusak keadaan yang stabil. Di negeri ini, yang stabil berarti pendidikan yang membangun keseragaman yang tunggal. Sikap demikian disebut Friere sebagai sikap yang intoleran, ”Ada suatu kecenderungan kuat yang mendorong kita untuk menyatakan bahwa apa yang berbeda adalah inferior. Inilah sikap tidak toleran, yakni kecenderungan menentang perbedaan.” Ungkapnya di suatu waktu.

Intoleran itulah sebenarnya yang kerap akut bagi kaum terdidik. Juga kaum pendidik. Dua pelaku itu sebenarnya adalah titik koordinat kritik Friere. Yakni di kelaskelaslah intoleransi itu ternyata bersemai subur. Di sekolahsekolahlah penyeragaman itu bermula. Dan di kampuskampuslah pembungkaman itu dirawat. Hingga akhirnya, pendidikan yang bagi Friere adalah alat membaca keadaan, menjadi tumpul dan mandul mencipta perubahan.

Pendidikan bagi Friere adalah harus sekaligus tindakan politis. Yang politis bagi Friere adalah humanisme. Semangat humanisme dalam pendidikan disebutnya sebagai usaha untuk mencapai manusia yang seutuhnya. Dan menjadi manusia seutuhnya adalah membebaskan manusia dari tipu daya kekuasaan. Itulah mengapa pendidikan harus membebaskan. Itulah sebabnya pendidikan harus mau diajak membincang perubahan.

Tapi sudah dikatakan tidak semua pendidikan bermaksud luhur. Juga tak semua kaum terdidik berperingai baik.

Pendidikan yang tak bermaksud luhur di negeri ini adalah pendidikan yang menganut filosofi tukang pembuat meubel. Taruhlah sebangun almari. Tukang, bagaimanapun sudah punya rencana. Yang dihadapinya sudah merupakan benda mati yang siap dikonstruksi berdasarkan keinginan. Melalui proses tertentu, material kayu diolahnya atas bayangan almari dalam benaknya. Syahdan, jelang akhir, almari, yang ada dalam benaknya juga menjelma di hadapannya. Almari di dalam benak tukang meubel adalah sudah selalu keinginannya yang ingin direalisasi.


Galibnya, pendidikan akan lebih humanis jika seandainya seperti seorang petani. Di sawah, seorang petani menghadapi alam yang tumbuh. Padi yang ia tanam mau tak mau adalah tumbuhan yang tak mampu ia paksa untuk segera tumbuh dan berkembang. Seorang petani harus sabar terhadap padi dihadapannya. Di depannya padi adalah tumbuhan yang punya masa dan musim. Sebab itu ia tak bisa memaksa kehendaknya untuk segera melawan musim. Maka, satusatunya jalan, di dalam kesabarannya, yang ia lakukan adalah membersihkan penghalangpenghalang dan memberikan pupuk yang dapat membuat padi tumbuh dengan subur. Sebab ia sadar, padi, tak bisa dipaksa, apalagi dibentuk.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...