28 Januari 2015

madah sepuluh

“Agama adalah suara keluhan orangorang tertindas, jiwa dan dunia yang tak berperasaan, semangat dari kemandegan yang tak berjiwa. Agama adalah candu masyarakat.” (Karl Marx-Enggels, Works)

Agama itu satu dan yang lainnya hanyalah penafsiran. Dan dari tafsir inilah kita membangun keyakinan hingga iman. Dengan kata lain, iman adalah urusan yang tidak sematamata teologis tetapi juga sosiologis. Di dalam yang sosiologis inilah agama yang satu berkelindan dan membangun diri. Dari yang satu menjadi padu.

Padu berarti ada dialog, berarti ada pertukaran antara perbedaan dari yang banyak. Padu mirip dengan sebuah iringan musik; bebunyian yang saling timbul tenggelam, ganti bergantian dari alat musik yang berbeda, tetapi justru di dalamnya membangun keselarasan.  Berpadu berarti harus tahu di mana batasbatas, kapan harus membunyikan alat musik, kapan harus dinaikkan nadanya, dan kapan harus berhenti. Dengan begitulah berpadu berarti mengikutkan yang lain dalam sebuah irama. Ini berarti padu adalah sebuah sikap atas keberadaan yang lain untuk diterima sebagai bagian.

Agama yang padu adalah agama yang sosiologis. Keimanan yang dibangun atas keberagaman yang lain. Agama yang sosiologis adalah agama yang diimani bersamaan diantara iman yang lain. Sebab di dalam tubuh masyarakat, kejamakan adalah wajah yang kerap kita hadapi, dunia yang tak mungkin bisa sama.

Tetapi di waktu yang lain, di luar yang padu selalu muncul hasrat untuk murni. Saat inilah yang murni adalah sikap yang membangun tapal batas. Dengan tapal yang telah berdiri, yang murni siap untuk sigap terhadap yang berbeda. Itulah sebabnya, yang murni identik dengan sikap yang antik: kukuh atas iman yang tunggal.

Ada yang sepertinya jadi soal: manakah agama yang otentik? Dari pertanyaan yang demikian, yang murni menyeleksi iman yang beragam. Agama yang sosiologis dirusak untuk memadatkannya menjadi yang teologis. Mereka barangkali lupa, bahwa memadatkan berarti membikin jadi satu, bukan padu. Itulah mengapa yang murni tak menginginkan perbedaan, sebab yang jamak sama artinya mengaburkan kesatuan. Tetapi apakah itulah yang benar?

Yang murni sepertinya lupa, dunia tak selamanya bisa ditekuk oleh sebait pemahaman. Dunia adalah budaya yang berbeda, kehidupan yang purnaragam, tradisi yang berlainan, sejarah yang tidak sama, atau dengan kata lain, dunia adalah kehidupan yang sulit kita masukkan dalam satu batas defenisi. Disinilah biasanya justru gerakan yang murni, dalam membangun agama yang otentik justru malah membangun yang identik.

Barangkali ada yang salah dari keinginan untuk murni, bahwa agama yang identik tak selamanya otentik. Begitu juga sebaliknya agama yang otentik bisa jadi hanya identik, tidak murni, bukan sejati.  Dan biasanya sesiapa yang menghendaki pemurnian selalu tampil dengan mengeyahkan dialog; membangun monolog. Saat ituah, iman akhirnya menjadi keyakinan yang berdiri di atas tepi dan juga sepi. Iman semacam itulah sebenarnya iman yang ingin aman, iman yang tanpa menyertakan pendapat yang berbeda.  Sebuah iman yang selalu murung dan gusar, sebuah iman yang emosional. Itulah mengapa agama yang demikian dianggap berbahaya, sebabnya dia persis candu. Maka Marx bisa benar; agama adalah candu masyarakat. Sesuatu yang mandeg, sesuatu yang merusak tatanan.


27 Januari 2015

madah sembilan

Manusia bisa saja bebas dan bertindak merdeka, tetapi sepertinya juga tidak sepenuhnya benar betul. Manusia dengan segala supremasinya harus juga tahu, bahwa dunia tak sepenuhnya bisa ditaklukkan. Dunia punya hukum objektif, dunia punya semacam mekanisme yang sulit ditebak, dan di luar sana, dunia memang begitu cepat berubah.

Nasib atau takdir memang objektif tetapi bagaimana nasib dan juga takdir bekerja adalah perkara yang subjektif.

Dalam keyakinan agama, takdir sudah dinisbahkan kukuh dan tak tersentuh perubahan. Tak ada pergantian apalagi perubahan rencana. Teos sudah sedari awal membangun skenario, hingga telos juga sudah merupakan bagian yang tak bisa diganggu gugat. Segala peristiwa memang sudah terprediksi. Ini berarti sejarah, apa yang telah sudah terjadi, atau bagaimana hari depan di alami, merupakan garis yang telah ditetapkan. Manusia jika sudah hidup, maka hanya tinggal bekerja dan berperilaku seperti peran yang telah disuratkan. Dan di saat demikianlah, takdir memang iman yang sudah selalu diterima tanpa sanksi.

Lantas bagaimanakah “yang subjektif” itu kita tempatkan dihadapan nasib yang determinis? Bagaimanakah kita dapat bersikap? Atau bagaimana mungkin kita keluar dari takdir yang telah lurus didepan sejarah?

Disinilah barangkali manusia bukan lagi sebagai human being, tetapi dalam bahasa eksitensialis adalah human becoming. Manusia sebagai human being adalah keberadaan yang biologis, ditentukan sosiologis dan dibentuk historis. Inilah manusia yang ditentukan keadaankeadaan eksternalitas. Dibentuk dan diolah oleh kekuatan di luar, juga nasib. Maka manusia yang sekedar berada hanyalah keadaan yang tanpa tujuan dan maksud. Mahluk yang pasif dihadapan nasib.

Human becoming sebagai modus eksistensi adalah modus yang diluar nasib. Keadaan yang berkelit dari rangkuman yang diberikan keadaan. Keinginan yang berusaha keluar dari batasanbatasan yang dimiliki. Keadaan ini adalah situasi yang disulut dorongan internal; kehendak. Dengan kehendaklah manusia tidak sekedar being, tetapi juga menjadi. Manusia yang menjadi adalah manusia yang membentuk situasi, sejarahnya dan juga nasibnya.

Human is becoming seperti yang dibilang Syariati adalah manusia yang melampaui empat penjaranya; sejarah, masyarakat, alam dan ego. Di luar dari itulah kehendak berusaha berperan untuk menjadi. Di dalam sejarah, masyarakat, alam dan ego, kita berusaha untuk keluar dari apa yang telah menjadi hukum besi yang kukuh agar keluar dari tembok yang tegak berdiri.

Tetapi benarkah nasib dapat diubah dengan kekuatan kehendak? Perbincangan ini bisa panjang. Barangkali suatu saat dapat saya tulis di sini. Tetapi setidaknya saya telah berupaya untuk menembusi keadaan di luar rutin saya. Seperti malammalam sebelumnya dan selanjutnya; kehendak untuk menulis.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...