24 Oktober 2014

Jokowi dan Kepemimpinan Tanpa Tabu

Sampul Times, majalah yang terkenal di Amerika Serikat itu, pada terbitan tanggal 16 Oktober 2014. menyebut Jokowi sebagai “the new hope” Barangkali agak berlebihan ekpektasi yang dibangun Times dengan menyebut Jokowi sebagai harapan baru. Pasalnya, “The New Hope” harapan baru, mengandung standar ganda. Pertama, Jokowi di mata internasional harus membuktikan kapasitasnya dalam skema politik luar negeri yang cenderung menguntungkan pihak asing untuk menyeimbangkan kebijakan-kebijakan internasional dengan kepentingan kedaulatan dalam negeri. Kedua, harapan baru di maknai sebagai metafora bagi rakyat indonesia untuk keluar dari pemerintahan yang selama ini terlampau birokratis.

Saya membayangkan “the new hope” oleh majalah Times itu di saat Jokowi masih sebagai gubernur Jakarta saat acara puncak kirab budaya pagelaran agung keraton sedunia 2013 silam. Dengan pakaiannya yang persis seperti seorang pendekar dan diarak oleh banyak orang dengan menaiki kuda, merupakan metafora bagi situasi kepemimpinan pasca era SBY saat ini. Pendekar, dalam cerita manapun bukanlah pemimpin politik, namun kemunculannya sesungguhnya adalah keinginan mayoritas untuk keluar dari tirani orde. Keberadaannya merupakan serba antitesa dari model dan gaya kepemimpinan tirani. Jika kepemimpinan orde mengandung tatakrama, gerak yang kaku, bebal dan lamban, maka pendekar adalah personifikasi dari tatakreasi, gerak yang dinamis, cair dan cekatan. Dan mengapa kuda, bukan panggung singgasana yang dipikul budak, kuda pendekar adalah simbol kendaraan rakyat serba bisa. Kuda adalah penanda masyarakat bawah.

Merawat Komunitas

Hermann Borch  melalui A Study on Mass Hysteria-nya memberikan anasir model kepemimpinan politik dalam konteks kepemimpinan massa. Broch memaksudkan bahwa politik sebenarnya memiliki tugas misioner merawat komunitas. Dalam arti ini, merawat komunitas berarti perlibatan edukasi dan kontinyuitas visi dalam kepemimpinan jangka panjang berbasis massa. Dimaksudkan pula oleh Broch, tugas merawat komunitas merupakan kanalisasi untuk melawan penyimpangan-penyimpangan massa.

Kaitannya dengan kepemimpinan Jokowi selama ini adalah betapa besarnya arus grassroot yang ikut tersedot dalam arus kekuasaan politik Jokowi. Logika relawan selama ini adalah indikasi yang mesti diperhatikan bagaimana konteks merawat massa ini bekerja. Jarak makna antara massa dengan komunitas mesti diterjemahkan melalui model kepemimpinan yang fleksibel dan dinamis. Sebab massa bukanlah komunitas yang di dalammnya kepemimpinan politik bekerja.

Massa dalam pengertian sosiologis hanyalah crowd (gerombolan) yang tidak terikat oleh ikatan-ikatan yang berorientasi visi. Urgensi pembedahan ini yakni betapa seringnya hasrat politik massa dikonfigurasikan berdasarkan logika kekuasan politik tertentu. Politik dengannya hanyalah kumpulan crowd-crowd yang bergerak tanpa arah. Melalui proses inilah grassroot sewajarnya harus diberdayakan dalam konteks menjaga keberlangsungan komunitas.

Lantas seperti bagaimanakah keberlangsungan komunitas dapat berlangsung? Arnold Toynbee kiranya memiliki pandangan terkait seperti bagaimanakah kepemimpinan kreatif  berperan dalam merawat komunitas. Dalam siklus perubahan, kepemimpinan kreatif sangatlah menentukan respon situasi yang dihadapi. Maka dalam konteks inilah metafora kepemimpinan pendekar Jokowi diterjemahkan. Gaya cekatan, gesit dan fleksibel adalah simptom kepemimpinan kreatifitas yang dinantikan bagi komunitas besar Indonesia.

Jokowi dengan citra kerakyatan yang dibangunnya diharapkan menjadi penanda sosial maupun kepemimpinannya untuk mengatasi ekspektasi yang terlampau besar terhadap dirinya. Apalagi bersama dengan kabinetnya di dalam kepungan parlemen membutuhkan gaya kepemiminan tanpa tabu sebagaimana sikap seorang pendekar. Melalui gaya komunikasinya yang fleksibel, tidak banyak bicara, enteng dan merakyat merupakan tatanan semantik antikrama yang cenderung diatur rapi, kaku dan berat sehingga memudahkan membangun gaya kepemimpinan yang tanpa malu-malu.

Barangkali melalui konteks demikianlah “the new hope” oleh Times dapat kita maksudkan. Yakni dimulai dari lapisan sipil hingga menembus tatanan elit, Jokowi menjelma menjadi fajar baru bagi harapan berjuta hati Indonesia. Bukan dalam pengertian kepentingan dunia barat seperti yang barangkali diharapkan oleh negara asing. Justru bisa jadi Jokowi seperti lakon Arok dalam naskah Arok Dedes sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Di mana kemunculannya merupakan jawaban dari temaram nasib yang dialami. Fajar harapan yang dinanti-nanti.

Apalagi mengingat pidato Jokowi yang berkelekar untuk mengembalikan kejayaan maritim nusantara pada 20 oktober lalu. Yakni misi untuk membangun mental manusia maritim yang bevisi terbuka, kedepan, pekerja keras dan menyukai tantangan. Dengannya layar dibentang kemudian seperti Nietzche dalam puisinya; tak ada jalan kembali, sebab telah kita bakar labuhan dibelakang sana.

Pernah dimuat pada harian Fajar terbitan 23 Oktober 2014.


08 Oktober 2014

Agama Teologis Agama Sosiologis

Tulisan ini mengacu kepada pendekatan yang digunakan Emile Durkheim, seorang sosiolog Perancis, berkenaan dengan agama sebagai fakta sosial. Pengertian ini ingin mengutarakan agama, dalam penilaian tertentu, tidak memiliki perbedaan dengan nilai-nilai tertentuyang tumbuh di masyarakat. 

Ini berarti agama yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dapat disejajarkan sebagaimana aturan main yang menjadi acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Di dalam posisi yang demikian, dan dalam pengertian agama sebagai fakta sosial, memberikan indikasi bahwa agama juga bisa diverifikasi menjadi bahan amatan yang empiris.

Dalam konteks perubahan sosial, agama dalam pengertiannya yang sakral, harus rela berbaur dengan segala perubahan yang menjadi karakter dasar masyarakat. Ini berarti agama yang selama ini diyakini mengandung nilai teologis, mau tak mau di dalam pendekatan empiris, akhirnya  menjadi seperangkat keyakinan yang sosiologis. 

Melalui cara ini, agama menjadi kajian yang tidak terlepas dari unsur-unsur perubahan. Mengingat hal ini, persentuhan dengan alam sosiologis, agama dimungkinkan untuk mengalami perubahan.

Agama sebagai suatu sistem juga mencakup individu dan masyarakat, seperti yang ditampilkan dalam keyakinan terhadap paham, ritus, maupun upacara keagamaan atau kesatuan kolektif. Agama dan masyarakat dapat pula mengacu pada sistem simbol yang dimantapkan sebagai fungsi untuk mengatasi masyarakat. Dalam sejarah kebudayaan, agama acap kali digambarkan sebagai keyakinan lokal yang banyak berperan dalam mengintrodusir makna-makna maupun simbol sebagai way of life.

Sebagai acuan dasar dan juga sebagai pembanding, tulisan ini juga bertolak dari argumentasi filosofis yang melihat jika agama tak mengandung unsur perubahan, maka dalam realitasnya tidak mungkin bermunculan bentuk-bentuk keyakinan yang berbeda satu dengan lainnya. Mustahil agama dengan wajah yang monolit, melahirkan purnaragam rupa-rupa agama. 

Atau dengan bahasa lain, jika agama hanya ditafsirkan sebagai wajah yang tunggal, maka beragamnya kemungkinan “wajah-wajah” agama yang berbeda mustahil dapat terjadi.

Mengingat agama yang memiliki kemungkinan mengalami perubahan, maka kecenderungan tulisan ini, berusaha mengikuti kerangka pengertian yang dibilangkan Macionis berkenaan dengan perubahan sosial. Menurutnya perubahan sosial dapat mengacu pada transformasi di dalam organisasi masyarakat, dalam pola berpikir, dan dalam perilaku di waktu tertentu. Hal ini diperlukan agar menjadi dasar penilaian untuk melihat kecenderungan perubahan dalam agama dengan pembacaan sosiologis.

Agar lebih memudahkan penilaian dalam segi apa agama mengalami perubahan, maka secara operasional, agama dalam tulisan ini akan dipecah menjadi beberapa aspek untuk memudahkan pembacaan kita menyangkut perubahan yang dimaksudkan.

Pertama, aspek ideologis. Berdasarkan apek ini, dalam setiap agama ataupun keberagamaan, agama manapun memiliki seperangkat kepercayaan (belief) yang memberikan premis eksistensial terhadap kebermaknaan hidup. Biasanya dalam pengertian ini, mengandung asumsi-asumsi teologis yang disakralkan dan tak dapat diganggu gugat. 

Kedua adalah aspek ritual, di mana pada level ini aspek ideologis dilaksanakan. Pengamalan dari kepercayaan ideologis disebut ibadah. 

Ketiga,  aspek ekperiensial, yang dimaksudkan bahwa agama juga memiliki keterlibatan emosional dan sentimental di dalam pengamalan ritual atau ibadah keagamaan. Sebagai bahan perbandingan dalam aspek ini, termuati pengertian yang diberikan William James menyangkut perjumpaan dengan tuhan.

Keempat berupa aspek intelektual yang menjadi semacam rasional eksplanation. Berkenaan dengan apek ini, setiap agama harus memiliki sistem penjelas untuk menerangkan dirinya agar dapat diterima secara logis dan metodelogik. Tanpa ini agama hanya menjadi sekumpulan dogma tanpa kejelasan sedikitpun.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...