18 September 2013

Budaya dan Bahasa Kita

Beberapa waktu yang lalu kita di hebohkan oleh hiruk pikuk pemberitaan media massa dari tayangan yang tak biasa. Tayangan yang dapat di unduh di youtube ini memutar rekaman video Vicky terkait dengan pertunangannya dengan artis papan atas Zaskia Gotik, penyanyi dangdut yang dikenal dengan goyang itiknya. Dalam video yang berdurasi hampir satu menit itu memuat bahasa Vicky yang  terdengar janggal dan aneh.

Video yang banyak menyedot perhatian masyarakat itu, nampak Vicky mencampuradukkan kosa kata inggris dan Indonesia tanpa memperhatikan struktur atau kaidah bahasa formal yang sering di gunakan. Dalam video itu kata-kata semisal kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisisasi, statusisasi kemakmuran, dan labil ekonomi digunakan Vicky tanpa di dahului mengenal konteks pembicaraannya. Bahasa-bahasa demikian dicampur adukkan begitu saja sehingga terkesan intelektual dan cerdas.

Goenawan Mohammad, seorang budayawan, menyebutkan dalam akun twitternya bahwa gejala bahasa yang tampak dari video Vicky dan Zaskia gotik adalah gumpalan gunung es yang mengendap dari faktor kemalasan bahasa dalam menelaah dan menerjemahkan kata asing. Sehingga dari apa yang di katakan oleh GM membukakan sebuah fenomena kebudayaan yang hari ini sering menjadi mode kehidupan masyarakat kita; budaya latah. Namun dalam apa yang di maktubkan oleh Deleuze dan Guattari, filsuf kontemporer Prancis, dalam fenomena seperti yang ditampilkan dalam video Vicky disebut dengan gejala skizofrenia. Gejala kebudayaan yang kehilangan penandaan dan simpang siurnya makna untuk terpahami dikarenakan abnormalitas dan pelanggaran terhadap apa yang menjadi aturannya terutama pemutarbalikan bahasa.

Cermin Kebudayaan

Ada yang menarik dalam tulisan Marwan Mas Guru Besar Ilmu Hukum 45 beberapa waktu yang lalu yang termuat di harian Tribun Timur Makassar(12 september 2013),. Tulisan yang menyoroti bahasa-bahasa sandi dalam kasus korupsi “dagang sapi” yang sampai hari ini masih dalam tahap penyelidikan. Dan juga beberapa kasus serupa yang kerap kali mendatangkan kesalahan analisis di akibatkan oleh penggunaan bahasa yang simpang siur. Sementara bahasa kita ketahui adalah salah satu matra kebudayaan yang begitu fundamental untuk membentuk struktur pengetahuan. Di mana dalam jaman keterbukaan seperti sekarang penggunaan bahasa demikian menjadi cermin sejauh mana kebudayaan kita bergerak.

Penggunaan bahasa Skizofrenik seperti apa yang di soroti oleh Marwan Mas dimana menggejala pada bidang hukum, juga di alami pada bidang politik. Banyak contoh yang bisa kita angkat dalam fenomena perpolitikan yang mana diketahui bersama sering kali menggunakan teknik pemutarbalikkan bahasa untuk mengangkat citra dari orang-orang yang bergelut dalam dinamika politik. Tetapi sesungguhnya dua elemen kehidupan seperti bidang hukum dan politik sebenaranya adalah tolok ukur kebudayaan kita dalam mengapresiasi bahasa sebagai bahan baku komunikasi yang mengedepankan etika komunikasi.  Pertanyaannya sekarang apakah bahasa yang selama ini kita pakai adalah fenomena kebudayaan yang mencerminkan sejauh mana kita memaknai tingkat penghayatan etika komunikasi ataukah jauh dari itu kita justru terjebak pada gejala kebudayaan skizofrenik yang mengalami pendangkalan makna bahasa.

Gejala seperti ini juga dapat kita temukan pada level grassroot  terutama pada kehidupan anak-anak muda sekarang. Bahasa slang semisal cemungud, kepo, cius dsb, adalah gejala kebudayaan kita yang tengah mengalami proses pendangkalan. Fenomena seperti ini bisa jadi menjadi indikator bahasa Indonesia mengalami kemandegkan dalam merespon kemajuan zaman yang serba cepat dan kompleks. Sehingga bisa saja bahasa seperti demikian mengacaukan konstalasi pengetahuan  yang menjadi isi dalam komunikasi.

Hilangnya Ontentisitas

Apa yang sebenarnya terjadi dalam alam bahasa kita, sebenarnya adalah gejala yang dipengaruhi oleh alam kebudayaan kontemporer seperti sekarang ini. Penggunaan bahasa yang tumpang tindih secara pemaknaan (skizofrenik) merupakan dampak dari budaya populer yang marak kita saksikan.

Budaya populer sederhananya bisa kita maknai dalam pengertian gejala kebudayaan yang menjadikan pasar sebagai ukurannya. Atau kepopuleran sebagai asasnya. Fenomena Miss World yang ditolak oleh sebahagian kalangan bisa jadi karena efek populer yang diberikan oleh penyelenggaraan perempuan sejagad ini. Dengan hadirnya pegelaran seperti Miss Word, maka makna otentik dari sebuah nilai kebudayaan bisa saja akan hilang.

Misalnya makna cantik dimata seorang bisa saja di visualisasikan berdasarkan kecantikan yang disuguhkan oleh apa yang dimunculkan dari pegelaran Miss World. Sementara kecantikan versi budaya lokal tak selama harus dimaknai sebagai orang-orang yang pandai berpose di layar kaca.

Bahasa dan kebudayaan memanglah dua matra yang mencerminkan sejauh mana tingkat otentisitas masyarakat dalam mempertahankan identitas local widom-nya. Yang mana kita ketahui salah satu indikator kebudayaan adalah intelektualitas masyarakatnya dalam penggunaan bahasa sebagai media komunikasinya. Sebab bagaimanapun bahasa adalah cermin dari keseluruhan pengalaman si pemakainya. Sehingga fenomena kebahasaan yang di bahasakan sebelumnya bisa berdampak pada hilangnya budaya lokal yang menjadi identitas sebuah masyarakat. Maka benarlah statement yang sering kita dengarkan bahwa bahasa sebenarnya adalah tolok ukur dunia kebudayaan sebuah masyarakat. Bahwa bahasa sesungguhnya adalah cermin dunia .[]

17 September 2013

Hingar Bingar Politik

Apa yang marak terjadi jika kita berada di tengah-tengah sebuah parade sirkus? Ilustrasi yang dimungkinkan untuk kita bayangkan pada situasi seperti itu adalah pemandangan tentang hewan-hewan yang mangut pada pawang, aktraksi-aktraksi ekstrim, loncatan-loncatan akrobatik, serta polah badut-badut gemuk yang mengundang tawa. Lebih dari padanya kita dibawa pada suasana yang melampaui: decak kagum penonton, kembang api yang semarak serta gemerlap hingar bingar.

Sirkus adalah tontonan yang memang menghibur. Namun apa jadinya jika suasana perpolitikan selayaknya penyelenggaraan sirkus, tetapi bukannya menghibur, melainkan justru  tontonan yang sungguh membosankan. 

Politik sejatinya adalah penyelenggraan kekuasaan publik dalam rangka untuk menetapkan tujuan dari suatu kebijakan. Dengan tujuan untuk mengikat kepentingan bersama untuk memenuhi hak-hak dari seluruh masyarakat. Dalam hal ini, selama politik dijalankan atas etika pemenuhan hak-hak publik, maka suatu pemerintahan telah menyelenggarakan kekuasaannya dengan baik.

Namun kenyataan empirik berkata lain. Apalagi jika kita berada pada momen-momen pilwalkot seperti sekarang ini. Dalam rentang waktu inilah politik menjadi penyelenggaraan yang semarak. Setidaknya itu yang dialami oleh warga Makassar beberapa waktu belakangangan dan yang akan datang. Simbol-simbol politik seakan tampil dengan rakus untuk mengatasi ruang publik yang notabene adalah media yang netral. Simbol-simbol politik telah mengambil alih ruang publik yang bebas, anti hierarkis, anti sistem untuk dijadikan ruang privat yang berbau kepentingan. Seperti sebuah parade sirkus, ada situasi yang dipertontonkan dan diperlihatkan pada konstituen masing-masing.

Sirkus Politik

Secara etimologi sirkus dialihbahasakan dari kata circus yang berarti melingkar. Dalam sejarahnya memang atraksi sirkus selalu diselenggarakan pada ruang yang melingkar. Di masa romawi kuno, sirkus dikenal dengan sebutan circus maximum. Kata maximum di sini berarti ukuran yang hebat dalam pengertian orang-orang yang melakukan atraksi sirkus memiliki keahlian di atas orang kebanyakan. Tujuan dari sirkus setidaknya bisa dimaknai sebagai hiburan semata. Maka dari itu sirkus selalu dinanti-nanti.

Seperti apa yang dibahasakan sebelumnya, di mana penyelenggaraan politik biasanya menggunakan simbol-simbol berupa pamflet undangan untuk mengahadiri sebuah sirkus. Symbol-simbol yang dimaksudkan disini bisa tampil berupa tanda, jargon, tag line, gambar, maupun tulisan, yang mana dalam konsep politik dijadikan sebagai branding untuk menarik simpatisan.

Sebagaimana kita mafhum dalam penyelanggaran politik diperlukan gerak yang dinamis. Untuk itu muncullah jejaring kepentingan yang marak berupa istilah lingkaran inti, ring inti, tim pemenangan, komunitas, simpatisan dan lain sebagainya. Dengan beragam akronim yang gampang dihapal terbentuklah jejaring kepentingan yang melingkar di mana tak jarang saling sikut. Situasi ini tak jarang pula membantai garis-garis kekeluargaan, toleransi, kesukuan maupun agama.

Sementara kita tahu ongkos politik tidaklah sedikit. Semisal penyelenggaran pemilihan pemimpin daerah yang melibatkan sepuluh kandidat. Bisa kita bayangkan betapa besarnya cost yang dikeluarkan dalam rangka pemenangan calon pemimpin. Jika kita perluas pembahasan kita, berapa ongkos yang harus dikeluarkan demi penegakan perpolitkan yang demokratis. Mulai dari perkenalan calon, pengusulan saat kampanye, sampai bagaimana seorang tokoh bisa mendapatkan elektabilitas yang diinginkan.

Apalagi dalam suasana kampanye seperti sekarang ini, atraksi sirkus politik yang paling berbahaya dalam kancah pemilihan adalah money politic. Walaupun belum ada aturan yang jelas untuk mengatur dana-dana kampanye, tetapi trias politik antara pengusaha, elit partai dan birokrasi, bisa memungkinkan kejadian-kejadian yang dikhawatirkan dapat terjadi. Maka dari itu tentang politik yang menjunjung integritas, jujur, dan bersih, seharusnya bukan sekedar ungkapan kosong semata melainkan amanah demokrasi yang harus dijunjung tinggi.

Seperti sulap

Saat seperti ini, di mana kita memasuki masa-masa kampanye pemimpin daerah, banyak program-program yang diperkenalkan dari kandidat untuk menarik konstituen sebanyak-banyaknya. Bila kita merunut semua program yang ada, maka segmentasi yang paling banyak difokuskan oleh para kandidat adalah bagaimana kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan pengelolahan birokrasi yang bersih. Namun term-term yang terpakai semisal pendidikan dan kesehatan gratis, penyediaan dana bergulir, pelayanan publik yang efesien, maupun bantuan-bantuan lainnya, adalah term-term politik yang sudah usang dan ketinggalan. Namun hanya dalam kemasan yang berbeda sehingga nampak merupakan program yang orisinil.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...