06 Maret 2015

madah empatpuluhempat

| |
Dari yang ditayangkan, tentang Gus Dur, Lukman Hakim, mengungkapkan bahwa hal pertama yang diingatnya saat dilantik menjadi menteri agama adalah guyon presiden RI ke 4 yang sering "ngelantur" itu. Di Mata Najwa edisi 4 Maret, Lukman Hakim menceritakan kembali guyon Gus Dur. Dalam guyon itu, Gus Dur menyampaikan bahwa Departemen Agama sebenarnya sama halnya dengan pasar. Semua lengkap tersedia, banyak orang lalu lalang termasuk transaksi pertukaran jual beli, kecuali satu hal yang tidak ada. "Apa Gus?" Tanya Menteri Agama menyelidik. "Agama" Ungkap Gus Dur.

Bukankah itu juga sebenarnya Satir. Suatu yang paradoks dengan maksud menyinggung.

Dari guyon itu, ada maksud yang bisa kita tangkap: intitusi agama tak selamanya sudah agamamis, bahkan lenyap. Di guyon itu, humor menjadi visualisasi membangun imajinasi. Dan Gus Dur lewat guyonnya tentang "yang hilang di departemen agama adalah agama" telah membangun sebuah pesan imajinatif: ada yang mesti di perbaiki di intitusi keagamaan itu.

Dari sini kita patut menyebut Gus Dur sebagai tokoh besar. Tapi sesungguhnya ia besar bukan karena guyonnya. Di Mata Najwa, yang akbar dari Gus Dur di beri tajuk "Belajar Dari Gus Dur." Yang besar dari Gus Dur adalah sikap terbuka dan toleransinya. Di Mata Najwa edisi 4 Maret itu kita diajak belajar yang akbar dari Gus Dus itu.

Barangkali memang itulah yang kita butuhkan untuk membangun hidup yang selaras, yakni menyatakan sikap penghargaan atas yang berbeda. Gus Dur besar sebab ia bisa melihat hal yang abai dari sikap kita yang kurang sreg jika tak sama. Toleransi sebagai sebuah sikap, bukanlah membiarkan sesuatu bisa terjadi dengan melepaskan keikutsertaan, melainkan sikap yang menerima dengan ikut terlibat di dalam lingkungan yang memang sudah berbeda.

Dengan kata lain suatu sikap koeksistensi. Sebab itulah Gus Dur dijuluki bapak pluralisme.
Pluralisme memang kata dengan konsep yang justru juga perlu dijaga. Di negeri ini, pluralisme adalah konsep yang galibnya jadi haram untuk dikonsumsi atau apalagi dijadikan akidah. Bagi sebahagian orang, konsep itu sama halnya dengan pengakuan atas kebenaran yang jamak, sebab kebenaran semula hanya satu. Dan sebab itulah mesti dijaga agar tak mendua.

Di sini ada yang sepertinya luput: pluralisme sebenarnya adalah terma yang mengakui kejamakan, bukan sekaligus adanya penyamaan kebenaran. Yakni realitas yang plural dan tak mungkin sama, adalah keadaan yang sui generis. Sebab justru pengakuan terhadap perbedaan, berarti di saat yang sama memang ada yang tak mungkin dapat disepadankan atau disamakan. Di saat inilah pluralisme sungguh berbeda dengan sinkretisme.

Sebabnyalah banyak yang mungkin salah menduga, bahwa pluralisme sebenaranya bukanlah terma yang punya misi penyatuan memaknai kebenaran. Justru, pluralisme jika disebut sebagai misi, sebenarnya adalah cara melihat kebenaran, entah itu agama, ras, etnis maupun budaya. Pluralisme lebih pantas jika disebut pengakuan sosiologis dibandingkan akidah sebagai kosa kata penghubung perbedaan.

Rasarasanya konsep inilah yang sebenarnya penting dibangun. Sebab di luar sana, betapa sesaknya pandanganpandangan tertentu yang memilin perbedaan menjadi satu jenis dan bentuk. Mungkin hidup dengan cara yang teologik mesti ditinjau kembali di era yang menghendaki keterbukaan pemikiran. Karena dunia dengan kemajuannya memang banyak berubah, dan di saat demikianlah bagaimana cara pandang terhadap sesuatu harus terus direnovasi dan diperbaharui.

Dalam hal ini Soroush pemikir Iran memiliki ca ra pandang tentang kebenaran: dari banyaknya kebenarankebenaran yang terserak, mustahil mereka bertentangan. Dan cara Gus Dur mengatasi pertentangan yang kerap dihadapi adalah melalui guyon.

Guyon biar bagaimanapun tak selalu berarti tanpa keseriusan. Juga tak selamanya tanpa maksud yang lugas.

Gus Dur pasti punya banyak cara menyampaikan maksud pembicaraan dengan cara normal dan bijak. Sebagai seorang pemikir, akalnya bisa runut membangun pembicaraan yang pantas. Tapi ia memilih humor. Ia memilih guyon. Bentuk komunikasi yang sebenarnya adalah model sederhana dalam membuka apa yang sudah terlanjur serius.

Sebab itulah dengan guyon, di negeri sendiri, yang seriusserius tapi tak diurus mesti digetarkan. Barangkali ini sikap akbar Gus Dur yang lain. Cara bersikap di antara keadaan yang purapura serius tapi kurus dari kebenaran. Dan Gus Dur tahu cara membongkarnya; humor.

Saya sebenarnya tak menonton lengkap tayangan yang dibawakan Najwa di 4 Maret itu. Tapi dari pengakuan menteri agama memang ada yang satire dari guyon Gus Dur. Bukan saja Kementerian Agama yang hilang agamanya, tetapi juga barangkali justru di tengahtengah kehidupan kita. Di sini saya bisa mengerti bagaimana guyon sebenarnya punya maksud yang serius.


Almanak