26 Februari 2015

madah tigapuluhtujuh

| |
"Masalah manusia adalah yang paling penting dari segala masalah"

Begitulah Ali Syariati memandang sebuah persoalan. Dimulai dari manusia dan menuju manusia. Sebab "agamaagama di masa lalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya di atas dunia, dan memaksanya agar mengorbankan dirinya di hadapan para dewa atau tuhan." Jika ia pernah mengatakan "dari mana kita mesti mulai?", maka soal utamanya bisa jadi adalah manusia.

Nampaknya humanisme tidak selamanya milik barat. Ali Syariati, kawan karib Sartre ini, juga punya cara membilangkan humanismenya dengan daya yang meletupletup. Humanismenya, yang meletupletup itu, ia sebut sebagai "mahluk bidimensional, rekan Allah, sahabatNya, pemegang amanatNya dan murid utamaNya... yang dikaruniai misi agung agar dilaksanakannya di muka bumi."

Dengan begitu, manusia yang bidimensional diyakininya sebagai orangorang yang punya misi khusus, orangorang yang datang di muka bumi untuk menyelenggarakan suatu adab hidup. Suatu yang ia sebut misi agung.

Tapi, misi agung, di abad dua puluh satu, adalah misi yang bisa jadi soal sebenarnya. Agama, yang juga punya semangat humanisme, nampaknya seperti yang dibilang Syariati, justru adalah "agama-agama yang merendahkan manusia." Manusia bukan titik koordinat semua garis bermula. Ia hanyalah satu garis dari titik yang berpusat dari tuhan.

Di abadabad yang lalu, di hadapan keyakinan dominan gereja, pusat itu dirubuhkan. Dan hingga kini, pusat telah berbeda. Manusia menjadi poros, sehingga dari sanalah semua soal dan jawaban disusun.

Tapi, sekali lagi ini abad dua puluh satu. Agama punya jawaban yang juga tak pernah surut. Semangat yang tak surut itu muncul dengan wajah yang tak ingin kusam di abad kemajuan ini: fundamentalisme.

Dengan itulah misi agung dipandang memang mesti agung. Tak ada yang boleh mencemari yang asal dan dasar, itulah sebabnya tak ada campur tangan manusia di dalamnya. Manusia, mahluk yang memang sumber kesalahan itu, tak punya hak untuk membangun sebuah dunia. Apalagi menjamin segala isinya.

Maka itulah kita tak pernah salah memahami Will Durant, agama memang punya seribu nyawa. Dengan nyawa yang tak kurangkurang, sebuah keyakinan dipupuk diladang yang semakin luas. Dunia harus kembali kepada asal di mana agama pertama kali datang. Segala yang berubah bisa jadi ikhtiar yang melenceng dari rencana awal. Sejarah harus disusun kembali. Agama harus menjadi panglima di segala yang telah melenceng.

Walaupun kita juga tahu, di dalam narasi sejarah, agama dengan semangat yang ingin kembali ke asal, malah juga harus menilap nyawa yang lain: manusia.

Itulah mengapa Ali Syariati yakin, masalah yang sebenarnya bukanlah soalsoal metafisis di atas kepala manusia, melainkan apa yang ada dalam benak manusia itu sendiri. Ini artinya, apa yang menjadi soal sebenarnya adalah benak yang mudah muncul di dalamnya prasangka atas dunia yang jamak.

Dan agama, yang sebenarnya bermula dari yang sunyi, di abad dua puluh satu, tak bisa juga memandang "misi agung di muka bumi," sebagai perjuangan santun di bentang  lalu lalang orangorang. Nampaknya, agama yang sunyi, seperti wahyu pertama kali turun di gua hira, visi yang turun di pohon bodhi, juga drama kesunyian nabinabi tak sempat menyentuh, seperti  yang A.N. Whitehead bilang: Tuhan Sang Sahabat.

Whitehead, filsuf yang menulis buku Religion in the Making, menyebut agama, adalah pergumulan manusia dengan kesendiriannya (solitariness). Tiada yang religius tanpa sebelumnya sendiri. Tapi, sendiri, sesungguhnya bukanlah istilah yang sebenarnya tepat. Sendiri dari arti soliter barangkali akan lebih tepat jika berarti sunyi. Di sanalah, berbeda dengan arti kesunyian,  kesendirian seringkali tak lebih dari arti yang janggal dan berbahaya.

Kesendirian dan kesunyian sesungguhnya dua hal yang berbeda. Kesendirian seringkali adalah situasi yang ditinggal keramaian. Dan di dalam yang tertinggal ada yang masai dan cemas dari hilangnya sesuatu. Atau jauh di dalam yang cemas sesungguhnya adalah kecemburuan yang tak sanggup. 

Sementara kesunyian adalah keadaan jiwa yang tenang. Suatu sikap sanepa, kontemplatif. Sikap ini tidak ada hubungannya dengan inggar bingarnya keadaan. Dia bukan yang materil dan sekaligus bukan kuantitatif. 

Kesunyian dengan begitu adalah usaha seseorang yang berjuang tanpa sorotan mata. Yakni, usaha yang ingin membangun iman atas sesuatu dengan hati-hati tanpa risih terganggu dari yang mengusiknya.

Itulah mengapa ada orangorang yang janggal meyakini suatu yang kukuh dengan ingin menyisihkan yang lain. Ingin sendiri menguasai serambi yang tak mungkin kosong. Ingin berdiri tanpa yang lain pada garis lurus saf yang tak mungkin sendiri. Sebab itulah mereka tak pernah sampai ke Tuhan Sang Sahabat, mereka tak pernah melewati microcosmik yang bersuara tanpa resonansi: bilik kontemplasi.

Tapi, ini sudah abad dua puluh satu. Humanisme seperti yang diinginkan Syariati adalah humanisme yang sama sekali berbeda. Dalam agama, humanisme yang menurut Syariati adalah agama yang membebaskan dari tirani yang membelenggu, justru adalah sebuah rencana yang ingin membangun institusi yang tiran. Barangkali  memang betul, orangorang semacam itu adalah orang yang tak pernah sampai pada Tuhan Sang Sahabat,  atau memang tak ada yang disebut sahabat. Sebab sesungguhnya di luar yang “kita” adalah musuh.

Dan memang Whitehead menyebut juga tuhan lain; Tuhan Sang Musuh. Syahdan, Syariati tak juga bisa disalahkan, bahwa masalah kita adalah masalah tentang manusia. Sebab, kita samasama tahu, tuhan tak mungkin memiliki musuh.