28 Oktober 2015

Dari Mana Mulai Mata Seorang Penulis?

Kalimat dimulai dari mata seorang penulis yang takjub, dan bukubuku jari yang gelisah.

Mata, indera yang bisa menangkap bendabenda dengan jutaan partikel foton itu, adalah alat tangkap yang penting bagi seorang penulis. Mata bukan sekedar alat biologis, tapi sebuah alat epistem. Melalui mata, suatu peristiwa ditangkap sebagai datadata yang ditampung di dalam pikiran. Mata menjadi jangkar yang mengaitkan objek di luar dan pikiran manusia. Melalui mata, suatu peristiwa jadi kata.

Mata seorang penulis tidak sekedar memfoto kopi peristiwa. Ketika ia melihat suatu kejadian, tugasnya bukan saja menggambarkan secara deskriptif, melainkan bergerak di sekitar setiap sudut pandang. Mata bagi penulis harus punya berjuta lensa untuk melihat lebih detail peristiwa yang dihadapinya. 

Dengan mata, suatu peristiwa jadi lebih transparan, suatu peristiwa disusunbangun kembali. Melalui mata suatu fenomena jadi istimewa.

Mengapa istimewa? Karena mata penulis ibarat mata kecil seorang anakanak. Mata kecil seorang anakanak ibarat keadaan asal di saat pertama kali berhadapan dengan suatu segala. Di dalam keadaan asal, suatu segala menjadi asing dan baru sehingga semuanya menjadi hal yang patut dipersoalkan. 

Keadaan asal adalah perspektif yang memungkinkan seorang anakanak untuk mau mengenal keadaan di hadapannya. Mau masuk di dalamnya dan terlibat di dalamnya.

Mata seorang penulis selalu terdorong untuk bertolak dari yang ada. Fenomena menjadi hal yang penting, karena penulis tidak berusaha menulis dari kekosongan. Tidak ada penulis yang bemula dari kekosongan. Semuanya bergerak dari dari faktafakta. Ia menyaksikan apa yang terjadi, menelusuri yang sudah berlangsung, dan memperkirakan yang bakal terjadi.

Fenomena dibedakan dari apa yang tampak dengan dari yang samarsamar. Suatu fenomena terjadi karena dua hal; ruang dan waktu. Ruang sebagai media fenomena terjadi, dan waktu sebagai ukuran keberlangsungannya. Dengan ruang "yang tampak" menjadi mungkin, dan melalui waktu "yang tampak" ditelusuri. Dengan dua dimensi inilah, seorang penulis terlibat di dalamnya. Ia mengalami waktu dan ruang sekaligus.

Keadaan yang samarsamar adalah fenomena yang belum terang. Pantang dari keadaan yang samar tulisan datang atasnya. Segegala yang samar bukanlah titik tolak dari suatu karya, melainkan tugas seorang penulislah untuk membuatnya terang. 

Di titik ini, seorang penulis adalah orang yang bekerja di perbatasan, antara yang samar dan yang terang, membuka gerbang segegala yang belum tersingkap. Seorang penulis karena itu memulai pekerjaannya dari yang tampak terdahulu sebelum memasuki ruang  yang semula masih kabur.

Itulah sebabnya tak ada penulis yang menulis di atas kertas yang kosong. Ia selalu menulis dari ruang dan waktu yang ada. Fenomena masyarakatnya; nasib masyarakatnya; sejarah masyarakatnya; kebiasaan masyarakatnya; dan kebudayaan masyarakatnya. Di atas semua itulah seorang penulis bekerja menyusun katakatanya. Memasang matanya tajamtajam ke segala penjuru. Mencatat dan menyimpan, kemudian menuliskannya.

Artinya, seorang penulis selalu menyusun karyanya di atas lapislapis kebudayaan sebelumnya. Mengulangnya dan memperbaikinya. Atas kebudayaan sebelumnya, seorang penulis mempunyai tanggung jawab untuk melestarikannya dengan cara menutup kekurangan yang ada dari kebudayaan sebelumnya. Di titik inilah, seorang penulis bertanggung jawab langsung  terhadap jatuh bangunnya kebudayaan yang menghidupi dan dihidupinya.

Tidak berlebihan jika seorang penulis dengan demikian disebut sebagai pekerja kebudayaan. Seorang penulis bekerja dengan katakata. Penyair, sastrawan, wartawan, esais, penulis drama, pujangga atau apapun namanya, selalu bergelut dengan katakata. Katakata bagi mereka semua adalah bahan dasar dalam membentuk kebudayaan. Melalui kata mereka membangun pengertianpengertian baru yang sesuai dengan zamannya, menafsirkan, dan memberikan nuansa baru. Dengan pengertianpengertian inilah, orangorang bergerak, berinteraksi dan membentuk kebiasaankebiasaan, dan tentu kebudayaannya.

Demikian juga, pekerja kebudayaan, seperti yang disebutkan Ignas Kleden adalah juga sekaligus public intelectual. Intelektual publik dinyatakan Kleden berbeda dengan akademisi dan pekerja profesional. Seorang akademisi memang bergelut dengan tugastugas intelektual, tapi ia tidak memiliki semangat “menerobos” lingkungan intelektual yang dimilikinya. Di sini berdasarkan kecenderungannya, akademisi hanya dituntun dan dituntut bekerja atas minat dan intelektual spherenya. Ia hanya berbicara sebatas ilmu yang menjadi basis pengetahuannya. Dengan demikian, seorang akademisi atau pekerja profesional dibatasi oleh batasbatas ilmu yang dipunyainya.

Sementara intelektual publik adalah golongan dengan visi yang melampaui batasbatas lingkungan intelektual tertentu.  Kecenderungannya mampu menerobos sekatsekat keilmuan yang dipahami secara konvensional. Seperti yang dicontohkan Ignas Kleden yakni Einstein yang tidak saja berbicara tentang ilmu matematika maupun fisika, melainkan perhatiannya ditunjukan juga kepada masalahmasalah yang lebih ultim semisal kemajuan peradaban, perang antar bangsa, isuisu rasial, dan masalahmasalah kebudayaan.

Tapi, intelektual publik bukan intelektual yang tidak memiliki kecenderungan yang tetap. Bukan berarti seorang intelektual publik yang berbicara segala hal lantas mengaburkan kecenderungan keilmuan yang digelutinya. Einstein misalnya, ketika berbicara tanggung jawab moral seorang ilmuan, tidak meninggalkan dasar ilmunya untuk melihat persoalan. Justru dengan itu, ia dapat meneropong segala hal melalui rumah pengetahuan yang dibangunnya selama pengembaraan intelektualnya.

Lantas apakah seorang penulis juga memiliki rumah pengetahuan? Tentu.  Seorang penulis punya alamat yang dapat ditunjuk. Dari sana ia berasal, dengan pertamatama lahir dan berkembang. Di sana, di mana ia memulai dari rumahnya, ia dibangun atas kebudayaan yang melingkupinya. 

Sebelum ia memperbaiki kebudayaan di luarnya, seorang penulis terbentuk dari kebudayaan yang melatarbelakangi perasaannya, pemikirannya. Di rumah itu ia beralamat, ia menemukan matanya, visinya. Visi yang ditemukannya melalui proses kebudayaannya, akhirnya menjadi mata bagaimana ia melihat sesuatu. Melalui mata itulah ia melihat, mendengar, dan merasakan kebudayannya; seluruh denyut kehidupan di sekitarnya.

Seorang intelektual publik dengan begitu seperti kurakura yang melintasi segala penjuru dengan membawa rumahnya kemana pun ia pergi. Seekor kurakura berbeda dengan binatang bercangkang lainnya yang kerap mengganti rumahnya, seekor kurakura justru setia dengan rumahnya. Melalui rumahnya itulah kurakura mengarungi segala hal, dan tidak pernah menginggalkannya  sedetik pun. Artinya seperti kurakura, seorang intelektual publik harus memiliki rumah di mana ia berpijak atas perasaan dan pemikiran yang dibawanya selalu, di mana ia mewakili tanggung jawabnya.

Syahdan, dari mana mata seorang penulis memulai? Maka ada dua hal; dirinya yang takjub dan dari beranda rumahnya ia berdiri. Diri yang takjub melihat suatu segegala yang asing, sementara dimulai dari rumahnya ia menyadari suatu pijakan visinya bermula. Dengan dua hal itu, seorang penulis bekerja dan tentu, dengan bukubuku jari yang gelisah.

Dari yang gelisah datang asa
dengan segegala yang terbilang asing
di mulai dari mata yang pisah yang takjub
semuanya tiada redup


27 Oktober 2015

Che Guevara



Orang-orang Hutan

 

Hutan, untuk masa sekarang, hanya punya satu arti: kapital. Jika dahulu hutan dimaknai sebagai bagian dari kosmos, sekarang, hutan beralih fungsi menjadi komoditas.

Nampaknya peralihan hutan dari bagian kosmos menjadi komoditas, adalah penanda bagaimana manusia begitu cepat berubah.

Dimulai dari kebudayaan awal, hutan selalu dipresentasikan sebagai mitra kehidupan. Dengan tindak berpikir ini, hutan dijaga dan dilestarikan untuk menunjang jaringan ekosistem yang terlibat di dalamnya. Bagi masyarakat kuno, hutan adalah teritori sakral, sebab hutan merupakan bagian penting di dalam keyakinan-keyakinan tua.

Apabila ditelusuri, hutan sebenarnya adalah rumah bagi masyarakat kuno. Dahulu belum ada dinding yang secara imajiner membagi teritori antara manusia dengan alam. Manusia beserta alam adalah kesatuan bulat, tanpa petak-petak teritori. Hutan adalah manusia, dan sebaliknya pula manusia adalah hutan.

Artinya, kebudayaan yang berarti totalitas dimensi kehidupan manusia, mengikutsertakan alam sebagai bagiannya.  Budaya dengan begitu adalah tatanan berpikir yang melihat kesatuan alam dan manusia sebagai dua titik dalam satu koordinat.

Tapi, kebudayaan bergerak, dan manusia berubah. Manusia pelan-pelan menemukan dirinya sebagai anak bumi yang berbeda. Alam satu hal dan manusia lain hal. Maka, mulailah alam didefenisi ulang: mulailah manusia membelah diri dari alam. Seketika dengan begitu, manusia adalah makhluk yang begitu berbeda dari tatanan kosmos, di sana memancang hirarki kekuasaan, lalu sang manusia menjadi satu-satunya subjek  dari suatu segala.

Semenjak kesadaran atas “aku” ditemukan, manusia mulai mengerahkan seluruh kehendaknya untuk menaklukkan alam. Modernisasi di mana-mana, dan kapitalisme menjadi segala hal. Hingga akhirnya hutan yang semula menopang kebudayaan manusia, menjadi obyek yang ditaklukkan demi akumulasi kapital.

Saya pernah menyaksikan film The Burning Season, film yang bercerita tentang petani karet yang melindungi hutan hujan Amazon dari pemalakan besar-besaran perusahan-perusahaan kapital. Di sana, hutan hujan yang menjadi penyangga kehidupan pelan-pelan diolah untuk menjadi lahan bisnis. Hutan dengan cara itu tidak lagi diatur dengan nalar ekologis, melainkan dengan hukum-hukum kapital.

Di film itu kita bisa tahu, bahwa betapa pentingnya hutan bagi komunitas-komunitas kecil yang hidup dari pemanfaatan hutan. Hutan di mata komunitas-komunitas semacam itu, sebenarnya punya tujuan besar dibanding harus dijual untuk perusahaan-perusahaan, yang hanya melihat hutan dengan kaca mata material. Hutan bukanlah instrumen manusia, melainkan paru-paru dunia.

Kenapa paru-paru dunia? Sebab disitu ada ekosistem organik dengan jaringan kehidupan di dalamnya. Perspektif ini menandai bahwa hutan adalah pusat dari berlangsungnya kesatuan kehidupan di dalamnya, di mana hutan terkoneksi secara alamiah dengan alam sekitarnya. Dengan begitu, hutan dipandang sebagai makhluk hidup yang tidak sekedar obyek mati yang mudah ditaklukkan.

Di Indonesia, ada orang-orang Dayak yang masih teguh hidup di dalam hutan. Ketika masyarakat Indonesia berlomba-lomba pergi ke kota, orang-orang Dayak memilih bertahan di dalam hutan. Kepercayaan mereka, hutan adalah amanah yang harus dipelihara sebagaimana pesan leluhur. Bahkan hutan dianggapkan sebagai tubuh besar yang harus dirawat, sebab keberlangsungannya ditandai dengan bergeraknya perputaran aktivitas di dalamnya; berburu, meramu makanan, memelihara pohon, upacara adat, membuat obat-obatan dlsb., adalah sub-sub kerja yang menopang kesehatan tubuh rimba. Selanjutnya, dengan demikian, hutan tidak sekedar rumah besar dengan subsistem kehidupan di dalamnya, melainkan adalah ruh kehidupan yang sakral.

Naparanakkang juku
Napaloliko raung kaju
Nahambangiko allo
Nabatuiko ere bosi
Napalolo’rang ere tua
Nakajariangko tinanang

Begitulah larik pesan tua  dari Pasang Ri Kajang, kumpulan hikmat yang dipraktekkan masyarakat hukum adat Kajang di Bulukumba. Di baliknya ada bangunan paradigma yang menempatkan hutan sebagai pusat kosmik. Hutan bagi masyarakat hukum adat Kajang, seperti komunitas hutan lainnya, adalah ruang material yang bermakna transenden.

Masyarakat hukum adat Kajang, tentu berbeda dengan masyarakat yang dikelilingi hutan-hutan beton. Mereka punya prinsip hidup tallase kamase masea: etika hidup mengedepankan kesahajaan dan kesederhanaan. Melalui dua hal inilah orang Kajang, memahami tiga lapis dunia; dunia Tu ria ara’na. dunia Ammatoa, dan  dunia tanah, dalam satu kesatuan kosmologis yang harus dihormati.

Masyarakat modern bukan masyarakat Kajang. “Aku” dalam kesadaran modern adalah subjek yang angkuh dan kukuh. Sehingga dari pusat “aku” dunia dipilah-pilah jadi barang taklukan. Atas dalih kemajuan, “aku” orang-orang modern masuk dan membabat hutan demi modal berlipat.

Barangkali itulah yang terjadi di hutan-hutan Sumatera dan Kalimantan belakangan ini. Hutan dibakar untuk membuka lahan baru, demi proyek pembangunan. Pohon-pohon ditebang, hewan-hewan diburu, dan lahan-lahan dibabat. Isi hutan akhirnya dikuras tanpa menimbang tujuan jangka panjang bagi keberlangsungan ekosistem. Dalam hutan yang digunduli itu, nalar instrumental yang dipercakapkan generasi kedua Mazhab Frankfurt asal Jerman, Jurgen Habermas, bekerja tanpa peduli sesama.

Dengan nalar instrumental, hutan jadi sama dengan barang yang dipajang di etalase pusat perbelanjaan, tidak jauh berbeda dengan produk yang terpampang lewat iklan. Singkatnya, hutan, jadi barang yang dipertukarkan dan diperdagangkan. Hutan akhirnya jadi komoditas. Di situasi semacam inilah, yang organik dari hutan disisihkan: tumbuhan hijau, kicau burung di udara petang, tepi-tepi sungai yang becek, jejak hewan yang mengering, serta jalar akar pohon yang menghujam, harus hilang tersapu bara api bertubi-Tubi.

Syahdan, jika sudah demikian, di manakah orang-orang hutan sekarang?

--

Dimuat di harian Tempo Makassar, 23 Oktober 2015


13 Oktober 2015

Orang-orang Modern: Mengolektifkan Nalar

Modernisme, ide progresif dari akhir abad 19 itu memang dahsyat. Perubahan yang semula adalah tabiat dari yang ilahiat, dijungkirbalikkan menjadi kerjakerja manusia. Tuhan, yang dahulu adalah pusat, disingkirkan dari ruang pemikiran. Tuhan, yang dipahami sebagai totalitas wujud, semenjak subjektifitas ditemukan, menjelma sebagai wujud yang peripheri. Bahkan di dalam ideide modernisme, Tuhan hanyalah sejarah silam yang harus ditilap senja.

Cogito ergo sum, begitulah ucapan Rene Descartes, bapak filsafat modern yang menemukan ilham dalam terang kesadaran rasio. Melalui pemikiranya, manusia menjadi otonom atas rasio yang dimilikinya. Dengan rasio sebagai pusat baru, modernisme mengayunkan pendulum sejarahnya sebagai kekuatan penggerak, menggantikan kehendak ilahi seperti yang dinabalkan agamaagama. Tuhan di dalam modernisme adalah agen pasif, dan manusia adalah subjek sejarah yang berkehendak atas pikirannya sendiri.

Namun kita tahu, rasio yang tegak  di saat yang bersamaan juga berarti lain; individualisme. Manusia modern berarti orangorang yang berdaulat atas rasio, dan dengan demikian adalah orangorang yang bertindak mandiri. Ketika memikirkan, merancang, dan bertindak  atas sesuatu, individu menjadi sumber. Dengan begitu, sesuatu pilihan didasarkan atas kehadiran individu, bukan berasal dari kekuatan di luar dirinya.

Individualisme modernis inilah yang kerap menjadi etika mayoritas. Supremasi atas yang individual didaulat menjadi ukuran suatu segala. Ketika sumbersumber yang berbicara tentang komunalisme, maka itu dihardik sebagai suatu pilihan yang tak menghargai hakhak atas individu. Manusia, di alam modernisme, bukan lagi milik komunal atas nama Tuhan ataupun kekuasaan politik tertentu, melainkan manusia itu sendiri. Manusia adalah mahluk dengan dirinya yang pribadi.

Tapi, modernisme dengan semangat individualismenya jadi sumber petaka, jadi biang bencana kemanusiaan, sebab manusia yang individual jadi manusia yang rasional tanpa terhubung terhadap kehidupannya. "Apel" sebagai objek yang dipikirkan, bukan lagi "apel" yang tumbuh di atas tanah dengan musim tertentu, melainkan sebagai objek yang terputus dari eksistensi organisnya. Apel di kepala orangorang modern adalah apel yang telah terlucuti sampai pada tingkat yang rasionalistik.

Demikianlah akhirnya hakim sejarah punya cerita: atas nama semangat individualisme, kebudayaan tercabikcabik, kekuasaan jadi tak terkontrol, ekonomi jadi timpang, dan kehidupan kehilangan kepekaannya.

Margaret S. Archer, seorang sosiolog Inggris, mempercakapkan bahwa modernitas, suatu situasi yang melaju cepat, telah menggeser sosialitas menjadi rasionalitas sebagai kriterium demarkasi antara manusia dengan segenap "ada" yang lain. Manusia dengan rasionya, menjadi subjek instrumental yang hanya memuaskan kepentingan pribadinya, sementara "the others", adaada yang lain hanyalah objekobjek yang disisihkan dari manusia sebagai pusat. Melalui prinsipprinsip kapital, manusia modern tidak terbebani dengan tanggung jawab kolektif, melainkan bekerja atas prinsip maksimalisasi keuntungan. Sahabat misalnya, di mata orangorang modern, dapat saja ditinggalkan selagi dia tak mendatangkan keuntungan.

Masyarakat dikehidupan seharihari, atas supremasi individu menjadi entitas yang terpilahpilah, sebab"aku" yang mendasari manusia, adalah aku yang angkuh. "Aku" yang bersikap adalah aku yang egoistik. Dan "aku" yang berpikir adalah aku yang tak merasa. Demikian, berarti aku dalam manusia modern adalah aku yang tidak toleran.

Maka tidak ada toleransi saat kolektifitas diucapkan oleh "aku" di kehidupan bersama. Semangat saling menghargai atas hak  individu di saat yang bersamaan berarti pembiaran yang menyebabkan keacuhan. Emoh diamdiam jadi sikap batin ketika kehidupan bersama menuntut perhatian, dan berpaling adalah sikap paling praktis di saat bantuan dibutuhkan. Toh kalau ada toleransi, perhatian yang diberikan selamanya selalu berawal dari perhitungan untung maupun rugi.

Barangkali ada yang memang cacat dari aku di dalam modernisme. "Aku" yang rasional sedari awal sudah menarik diri dari detak jantung sejarah manusia. Aku yang berpikir adalah subjek yang soliter. Sendiri. Menyendiri. Di dalam rasio. Itulah mengapa, "aku" modernisme dihardik, dikritik, dan ditampik.

"Aku" seharusnya bukan "aku dan dunia," melainkan "aku bersama dunia." Demikianlah daku Martin Heidegger, filsuf kontemporer Jerman. "Aku" yang seharusnya adalah aku yang bergelut dengan kerja, begitu pula ungkap marxisme, dan "aku" yang bekerja adalah aku yang kolektif. Begitulah, kesadaran atas "aku" melibatkan dirinya pada "the others," di mana di sana manusia menemukenali relasinya terhadap sesama. Manusia, dengan relasinya yang sejajar berarti mengandaikan hubungan yang komplementer. Itu berarti dengan sendirinya, manusia menjadi mahluk yang sosial. Juga, manusia bukan lagi mahluk rasional yang dingin, melainkan mahluk yang ada karena yang lain. Begitulah "aku bersama dunia" dipercakapkan.

Di saat yang bersamaan, agamaagama yang pernah disapu fajar modernisme, di hari ini, bangkit untuk memimpin arah sejarah manusia. Juga mengambil sikap atas bopengbopeng yang dibuat modernisme. Namun, semangat kolektifisme yang diajukan tak benarbenar menerima "the others." Agamaagama, akhirakhir ini kerap bertindak keras terhadap yang lain di luar imannya. Iman, yang berpusat dari theos, tanpa disadari, adalah batas itu sendiri. Dengan begitu, kolektifisme di dalam iman yang demikian, adalah sikap toleran yang tertutup.

Agamaagama di masa sekarang memang berbicara semangat kolektif, namun malangya kolektifitas yang diandaikannya hanya sampai pada dimensi eksoteris. Kita sama, jika cara kita mengekspresikan ajaran agama itu sama. Kita seiman jika ada penampilan yang bisa kita ukur dari apa yang tampak. Begitu kiranya iman agama dipercakapkan akhirakhir ini. Di dalam agama ada kolektifisme, namun sekali lagi malang, nalar yang benderang dianggap sebagai lawan dari iman agama.

Di dua paras itulah kita harus mencari nalar yang toleran. Dari modernisme ada pengajuan atas individu yang merdeka. Namun, di situ, nalar modernisme adalah "aku" yang abai dari semangat kebersamaan. Sementara itu, agamaagama, dengan percaya diri, mendaku memiliki semangat kolektif walau di luar iman ada jurang untuk suatu batas. Aku dalam agama, pada akhirnya adalah aku yang dipenjara kelompokkelompok. Bukan aku yang melebur bersama "the other."

Akhirul kalam, bila nalar modernisme yang dipercakapkan Rene Descartes, ditemukan di dalam diri yang sendiri, sedangkan kolektifisme agamaagama adalah kolektifisme buta tanpa terang kesadaran, maka nalar kolektif merupakan pelampauan atas nalar yang individualis modernisme dan kolektifisme buta agamaagama. Nalar kolektif di sini barangkali harus berangkat dari sejenis kesadaran bahwa manusia sesungguhnya adalah mahluk yang hanif dengan lapislapis kekurangan.  Manusia jika demikian, bukanlah pusat satusatunya, karena itulah mesti ada kerja sama. Mesti ada ikatan yang bergerak diluar simpulsimpul ikatan sempit agama. Orangorang kuno sering bilang; cinta

11 Oktober 2015

orangorang ujung tanah*

Bagaimana kita mengucapkan kesejahteraan, jika kemiskinan begitu benderang ditemui. Bagaimana kita memahami kemiskinan, jika itu dipercakapkan di selasela kekayaan yang diamdiam kita tumpuk.

Kemarin, Rabu, 7 Oktober, kemiskinan begitu terang saya temui pada masyarakat nelayan di pinggiran kota Makassar. Di sana, tak ada penanda kesejahteraan ekonomi, budaya apalagi politik. Kemiskinan di sana bukanlah wacana yang menjadi diskursus intitusiinstitusi pendidikan dan pemerintahan, melainkan ihwal yang terreproduksi pelanpelan atas kenyataan yang dialami seharihari.

Begitulah yang saya candrai dari masyarakat kecamatan Ujung Tanah kelurahan Gusung. Ketika saya memasuki kelurahan ini, tak ada kesan kawasan ini pernah dihinggapi wacana "Makassar Tidak Rantasa" atau "Lihat Sampah Ambil." Nampaknya tempat ini belum tersentuh rencana pembangunan kota yang bersih. Apalagi menjadi tempat di mana kesadaran ekologis ditumbuhkembangkan. Akibat daerahnya yang peripheri, wacana pemerintahan tak dapat banyak bekerja di sini.

27 September 2015

Sabtu Pagi dengan Eka Kurniawan

Eka Kurniawan lagilagi membuat saya berdecak kagum. Sabtu pagi tanpa sengaja, saya menemukan cerpennya: Jimat Sero.  Kesengajaan yang menyenangkan. Seperti biasa, membaca cerita pria ini membuat kita harus bersabar dengan ending yang tak didugaduga, sementara di saat yang bersamaan kita tak tahu alur apa yang bakal terjadi.  Membaca cerpennya seperti mengetahui ada misteri yang menunggu di ujung cerita  tanpa diketahui seperti apa misteri yang di maksud. 


Jimat Sero 
by Eka Kurniawan, Suara Merdeka, 24 Januari 2010
Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku.
Satu hari tiga anak memukuliku, karena aku sengaja tidak membawa uang jajan. Nenek mengetahuinya. Seharusnya Nenek mendatangi Kepala Sekolah dan mengadukan kelakuan anak-anak itu. Atau mengembalikan aku ke rumah ibuku, seperti keinginanku.
Rupanya Nenek punya cara sendiri. Sore hari ia membawaku ke sebuah gubuk di tepi mata air. Kelak aku mengetahui, pekerjaan pemilik gubuk itu memang menjaga mata air tersebut. Gubuk itu mungil saja, dengan asap mengepul dari celah atap sirapnya. Barangkali penghuni rumah sedang memasak di tungku dapur. Nenek mengetuk dan tak lama kemudian pintu terbuka.
Di depan kami berdiri seorang lelaki tua yang langsung mempersilakan Nenek duduk. “Enggak usah, aku cuma mampir sebentar,” kata Nenek sambil menoleh ke belakang lelaki tua itu. Di sana berdiri seorang anak lelaki, lebih tua dariku, memerhatikan kami dengan penasaran. “Kelas berapa anakmu, si Rohman itu?” tanya Nenek.
“Kelas empat,” si lelaki tua menjawab sambil menoleh ke anaknya dan berkata kepada anak itu, “Suruh emakmu bawa teh.”
Tapi Nenek buru-buru memberi isyarat Rohman agar tidak pergi, dan menyuruh mendekat. Rohman menghampiri Nenek, dan tanpa mempedulikan lelaki tua itu, Nenek berkata kepada Rohman:
“Dengar, mulai besok, kamu belajar di kelas dua dan duduk satu bangku dengan cucuku ini. Jika seseorang mengganggunya, kau boleh menghajar mereka sesuka kamu.”
Dengan kebingungan, Rohman menoleh ke ayahnya. Si lelaki tua hanya tersenyum, kemudian berkata, “Jangan khawatir. Besok ia akan duduk di kelas dua.”
Begitulah cara Nenek menyelesaikan persoalanku. Sejak saat itu, Rohman turun kelas dua tingkat. Hebat juga anak itu, sejak ia duduk sebangku denganku, tak seorang pun berani menggangguku lagi. Sepatuku terbebas dari injakan kaki-kaki dekil. Ah ya, kadang-kadang di luar sekolah, masih ada anak yang tak tahu apa-apa menggangguku, dan esok harinya, Rohman bisa menghajarnya hingga babak-belur.
Tapi tak lama setelah itu, Ayah mengambilku kembali dari rumah Nenek. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ibu hanya pernah bercerita, aku menangis berhari-hari meminta pulang. Aku tak ingat apa yang membuatku menangis. Aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rohman: apakah ia kembali melompat dua kelas sebagaimana mestinya, atau tetap meneruskan tingkatannya saat itu. Di sekolah yang baru, kadang-kadang ada yang mengganggu, tapi aku bisa mengatasinya. Di SMP, aku punya banyak teman dan tak ada yang mengganggu. Di SMA aku mengencani beberapa gadis cantik dan pintar, dan karena “gadis cantik yang pintar” jarang jadi rebutan, aku nyaris tak punya saingan. Aku masuk universitas dan jadi kutu buku. Aku bahkan nyaris lupa pernah punya teman sebangku bernama Rohman. Kini aku bertunangan dengan anak gadis bosku, Raisa, dan tak seorang pun berani mengusik hubungan kami.
Kemudian, lebaran lalu aku mengunjungi Nenek dan berjumpa dengan si Rohman ini, dan pertanyaannya sungguh konyol: “Kamu masih suka dipukuli orang?”
Kami berdua duduk di beranda dan berbagi segala hal yang kami tidak ketahui selama perpisahan itu. Rohman berkata, “Setiap kali pulang kampung, aku selalu menemui nenekmu hanya untuk tahu kabar tentangmu.” Aku hanya tersenyum dan menepuk lututnya. Lalu ia menambahkan, “Sampai sekarang aku masih sering kuatir, ada orang memukulimu.”
Aku tertawa dan kembali menepuk lututnya. “Enggak usah berlebihan begitu.”
Tapi dengan tatapan serius ia memandangku dan kembali berkata, “Di mana kamu sekarang tinggal? Aku akan memberimu sebuah jimat.”
“Jimat?”
“Jimat. Kamu bakal tahan pukul dan kebal senjata.”
***
JIMAT itu sekarang berada di tanganku. Namanya jimat sero. Kata Rohman, yang sengaja datang ke apartemenku, itu memang terbuat dari ekor sero. Rubah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku bertanya apakah aku harus membayar? Berapa? Rohman hanya tertawa sambil menggeleng. Tidak, katanya, kamu tak perlu membayar sepeser pun. Ia memberikan jimat itu benar-benar karena ia mengkhawatirkanku. Ingat, katanya, dulu ia berjanji untuk menjagaku. Tapi ia tak mungkin menjagaku terus-menerus. Ia hanya bisa memberiku jimat itu.
Aku yang tak terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma mencoba bertanya mengenai pekerjaannya. Barangkali ia punya anak, dan seperti kebiasaan orang desa, barangkali ia mencoba menitipkan anaknya untuk dimasukkan ke perusahaan tempatku bekerja, atau ke kantor-kantor kenalanaku. Tapi jelas ia tak membutuhkan apa pun. Ia sudah jadi juragan kopra di Banten selatan dan anaknya yang paling tua masih berumur sebelas tahun. Ia benar-benar tak membutuhkan apa pun dariku.
Setelah memaksanya menginap semalam dan mengajaknya berkeliling Jakarta untuk sekadar bersantai, ia akhirnya pulang.
Dan jimat itu bersamaku. Jimat sero.
Selama beberapa hari aku mencoba menghiraukannya, tapi semakin aku mencoba melupakan bahwa aku memiliki jimat, semakin aku mengingatnya. Jimat itu tebungkus dalam kantung kain katun kecil, dengan tali untuk mencantelkan, sebesar gelang tangan. Aku sudah memeriksanya, dan memang itu tampak seperti ekor binatang yang sudah kering. Tak ada tanda-tanda benda itu memiliki kesaktian apa pun. Bahkan aku ragu ia bisa melindungi dirinya sendiri.
“Kamu harus membawanya jika ingin merasakan keampuhan jimat ini. Masukkan ke saku celana sudah cukup,” begitu kata Rohman sebelum pergi.
Aku malah menggeletakkannya di meja, di samping komputerku.
Sampai kemudian terpikir olehku bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan apakah benda itu berguna atau tidak adalah dengan menjajalnya. Tapi sebelum itu tentu saja aku harus memastikan sesuatu. Sepuluh hari selepas kunjungan Rohman, aku meneleponnya.
“Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya,” kataku. “Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?”
Rohman tertawa dan menggeleng, “Tak ada yang perlu kamu risaukan.”
***
SEUMUR hidup aku tak pernah berkelahi. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Apa pun yang terjadi, aku selalu mencoba mengakhiri setiap perselisihan dengan siapa pun tanpa berkelahi. Teman-temanku bilang, aku pandai dalam hal membuat musuh menjadi teman. Tapi sejujurnya, ada kalanya aku harus menghindar. Lebih tepatnya, mengalah.
Saat pertama kali kupikirkan untuk mencoba jimat sero, aku langsung membayangkan beberapa orang yang menyebalkan, yang seharusnya kuhajar: sopir taksi yang pernah mengajakku berkeliling sambil berpura-pura tersesat, lalu memaksaku membayar dengan harga argometer yang melambung ke langit; preman kecil yang pernah menodongku di Tanah Abang, bertahun-tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke Jakarta; dan barangkali seorang kolonel yang pernah aku lihat menabrak seorang perempuan tua di pinggir jalan, lalu pergi begitu saja seolah tak merasa bersalah.
Dengan sedikit was-was, kuambil jimat sero dari atas meja dan kutimang-timang sejenak di telapak tangan. Benarkah aku percaya omong-kosong mengenai jimat ini? Bukan hal yang aneh jika orang semacam Rohman bisa memiliki jimat, bahkan membuatnya. Aku tak tahu bagaimana seorang anak kecil tukang berkelahi menjelma seorang lelaki penuh klenik yang mampu menyediakan jimat. Tapi setelah kupikir-pikir, itu bukan hal yang aneh, sebenarnya.
Ayahnya, si tukang menjaga mata air, konon juga pemilik beragam ajian. Dan selama bertahun-tahun, ia merupakan orang kepercayaan Nenek dan Kakek. Ayah dan ibuku tak pernah menyinggung soal itu dan aku juga tak terlalu menaruh perhatian, tapi aku mengetahui hal itu.
Kumasukan jimat ke saku kiri celanaku. Itu tempat yang aman, sebab aku tak pernah menaruh apa pun di sana. Jimat itu tak akan jatuh secara tidak sengaja (misalnya karena aku mengambil uang receh atau telepon genggam). Dan untuk sejenak kucoba merasakan sekiranya ada tanda-tanda tertentu yang diberikan jimat itu kepadaku.
Tak ada apa-apa.
Rasanya aku jadi agak ragu-ragu. Benarkah ia membuatku kebal pukul dan senjata? Jangan-jangan jika aku mencobanya, aku malah babak-belur. Masih untung jika tidak langsung mati.
Aku bergidik dan kulirik pisau cukur.
“Tidak, kamu akan berdarah jika kamu lakukan sendiri. Jimat itu hanya bekerja jika seseorang memukulmu atau mencoba melukaimu dengan senjata.”
Tak ada cara lain untuk membuktikannya, pikirku. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, akhirnya aku pergi ke tempat kerjaku. Tak apa, toh sebenarnya tak ada keharusan untuk membuktikannya. Jika aku takut jimat itu ternyata tak bekerja sebagaimana yang dijanjikan, aku tak perlu berkelahi dengan siapa pun. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagaimana biasa, sebagaimana hari-hari ketika jimat sero belum ada.
Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.
***
AKU berjalan kaki ke apartemenku sambil menggigil. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Orang-orang melihatku dengan tatapan curiga. Aku tak peduli dan terus berjalan. Kulihat tanganku. Darah kering di mana-mana. Bahkan kemejaku juga berpelotan. Aku bisa melihat jemariku meregang satu sama lain dan aku tak yakin bisa menggerakkannya. Mereka bergerak sendiri. Ikut menggigil.
Terbayang olehku tubuh Nasrudin tersungkur ke pojok kamar mandi. Ada darah dari sudut bibirnya. Aku sangat senang melihat darah itu. Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah. Merah itu warna bendera dan darah tidak berwarna seperti bendera. Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin.
“Itu untuk mulut najismu,” kataku.
Aku membencinya sejak lama. Ia selalu mencari muka di depan bosku, dan selalu berupaya menjatuhkanku. Ia selalu punya cara untuk membantah gagasan-gagasanku, dan menjungkirkannya seolah-olah gagasanku merupakan gurauan orang bodoh. Aku tahu bosku termakan omongannya, tatapannya memandangku sedih. Hanya karena aku bertunangan dengan Raisa, tempatku di kantor tak tersentuh siapa pun. Meskipun begitu, sungguh, sesekali aku ingin menghajar Nasrudin.
Ingatan tersebut kembali membuatku menggigil.
Hari itu aku berhasil membuatnya marah dan aku menunggu apakah ia akan memukulku. Peristiwa itu terjadi di kamar mandi, setelah sebagian besar teman kerja kami pulang. Ia tidak memukulku, maka aku kembali memancingnya. Akhirnya ia menghampiriku, menyentuh pangkal kemejaku dan bertanya:
“Maumu apa?”
Aku meludahi mukanya.
Ia tercekat sejenak. Tentu saja ia tak akan percaya aku melakukan itu. Ia mengusap mukanya dengan lengan kemajanya, tanpa melepaskan genggamannya di pangkal kemejaku. Ia memandangku. Aku tersenyum mengejek. Ia masih memandangku. Kupandang kembali matanya. Itu saat-saat yang sangat menegangkan. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.
Lalu, bug, ia mengirimkan jotosannya ke rahangku. Aku terdorong beberapa langkah, tapi aku tak merasakan apa pun. Aku tersenyum dan menghampirinya.
Ia memukulku lagi. Aku tak merasakan pukulannya. Ia kembali memukul. Aku menerimanya bagaikan karung pasir. Ia memukuliku selama sekitar sepuluh menit, atau tiga puluh menit? Ia benar-benar kebingungan pukulannya tak berpengaruh apa-apa padaku. Hingga akhirnya aku melancarkan serangan balasan.
Satu pukulan mengirimnya ke samping pintu. Pukulan kedua membuat memar dahinya. Pukulan ketiga membuatnya terhuyung-huyung. Entah pukulan keberapa ia tersungkur di sudut kamar mandi dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.
“Ampun, ampun,” katanya.
Aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menggigil.
Aku masih menggigil tapi juga dilanda kesenangan ketika membuka kunci pintu apartemen. Ketika aku masuk ke dalam, aku merasa ada orang di dalam apartemenku. Tentu saja itu Raisa, pikirku. Raisa memiliki kunci apartemenku, dan ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang-kadang ia tidur di tempatku, dan saat-saat seperti itu tentu saja kami akan bercinta. Pagi hari ia akan pulang, kembali ke rumah orang tuanya.
Kunyalakan lampu dan kulihat Raisa di tempat tidur. Yang tidak biasa, ia di sana tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki. Aku hanya duduk di sofa, sambil memandang mereka melalui pintu kamar terbuka.
Aku mencopot sepatu, melepas kaus kaki. Kupandangi tanganku yang penuh noda darah. Kuintip kembali Raisa dengan lelaki itu. Kudengar desahan suara Raisa yang sangat kukenal.
Kemudian segalanya selesai.
Ia turun dari tempat tidur dan menghampiriku. “Hai, sudah pulang?” tanyanya. Suaranya kukenal baik. Rohman.
Aku tak menjawab. Aku tak tahu apakah aku tertidur atau tidak. Mungkin di antara itu.
***
KEMUDIAN aku teringat apa yang dulu membuatku menangis berhari-hari di rumah Nenek. Malam itu, aku melihat Nenek di atas tempat tidur bersama si penjaga mata air. Kakek hanya duduk di dipan rotan. Pemandangan itu menakutkanku, dan aku menangis sejak malam itu.
Entah bagaimana aku bisa melupakannya. Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur. Aku senang melihat Rohman berjalan telanjang ke arahku. Terutama aku senang memiliki jimat sero di saku kiri celanaku. (*)
“KAMU masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku, waktu kami berjumpa di rumah nenek, lebaran lalu. “Ya, enggak, lah,” jawabku sambil nyengir.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...