27 Oktober 2015
Orang-orang Hutan
Hutan, untuk masa sekarang, hanya punya satu arti: kapital. Jika dahulu hutan dimaknai sebagai bagian dari kosmos, sekarang, hutan beralih fungsi menjadi komoditas.
Nampaknya peralihan hutan
dari bagian kosmos menjadi komoditas, adalah penanda bagaimana manusia begitu
cepat berubah.
Dimulai dari kebudayaan
awal, hutan selalu dipresentasikan sebagai mitra kehidupan. Dengan tindak
berpikir ini, hutan dijaga dan dilestarikan untuk menunjang jaringan ekosistem
yang terlibat di dalamnya. Bagi masyarakat kuno, hutan adalah teritori sakral,
sebab hutan merupakan bagian penting di dalam keyakinan-keyakinan tua.
Apabila ditelusuri, hutan
sebenarnya adalah rumah bagi masyarakat kuno. Dahulu belum ada dinding yang
secara imajiner membagi teritori antara manusia dengan alam. Manusia beserta
alam adalah kesatuan bulat, tanpa petak-petak teritori. Hutan
adalah manusia, dan sebaliknya pula manusia adalah hutan.
Artinya, kebudayaan yang
berarti totalitas dimensi kehidupan manusia, mengikutsertakan alam sebagai bagiannya.
Budaya dengan begitu adalah tatanan berpikir yang melihat kesatuan alam dan
manusia sebagai dua titik dalam satu koordinat.
Tapi, kebudayaan bergerak,
dan manusia berubah. Manusia pelan-pelan menemukan dirinya sebagai anak bumi
yang berbeda. Alam satu hal dan manusia lain hal. Maka, mulailah alam
didefenisi ulang: mulailah manusia membelah diri dari alam. Seketika dengan
begitu, manusia adalah makhluk yang begitu berbeda dari tatanan kosmos, di sana
memancang hirarki kekuasaan, lalu sang manusia menjadi satu-satunya subjek
dari suatu segala.
Semenjak kesadaran atas “aku” ditemukan, manusia mulai mengerahkan seluruh kehendaknya untuk menaklukkan alam. Modernisasi
di mana-mana, dan kapitalisme menjadi segala hal. Hingga akhirnya hutan yang
semula menopang kebudayaan manusia, menjadi obyek yang ditaklukkan demi akumulasi kapital.
Saya pernah menyaksikan
film The Burning Season, film yang bercerita tentang petani karet
yang melindungi hutan hujan Amazon dari pemalakan besar-besaran
perusahan-perusahaan kapital. Di sana, hutan hujan yang menjadi penyangga
kehidupan pelan-pelan diolah untuk menjadi lahan bisnis. Hutan dengan cara itu
tidak lagi diatur dengan nalar ekologis, melainkan dengan hukum-hukum kapital.
Di film itu kita bisa tahu,
bahwa betapa pentingnya hutan bagi komunitas-komunitas kecil yang hidup dari
pemanfaatan hutan. Hutan di mata komunitas-komunitas semacam itu, sebenarnya
punya tujuan besar dibanding harus dijual untuk perusahaan-perusahaan, yang hanya
melihat hutan dengan kaca mata material. Hutan bukanlah instrumen manusia,
melainkan paru-paru dunia.
Kenapa paru-paru dunia?
Sebab disitu ada ekosistem organik dengan jaringan kehidupan di dalamnya. Perspektif
ini menandai bahwa hutan adalah pusat dari berlangsungnya kesatuan kehidupan
di dalamnya, di mana hutan terkoneksi secara alamiah dengan alam sekitarnya.
Dengan begitu, hutan dipandang sebagai makhluk hidup yang tidak sekedar
obyek mati yang mudah ditaklukkan.
Di Indonesia, ada
orang-orang Dayak yang masih teguh hidup di dalam hutan. Ketika masyarakat
Indonesia berlomba-lomba pergi ke kota, orang-orang Dayak memilih bertahan
di dalam hutan. Kepercayaan mereka, hutan adalah amanah yang harus dipelihara
sebagaimana pesan leluhur. Bahkan hutan dianggapkan sebagai tubuh besar
yang harus dirawat, sebab keberlangsungannya ditandai dengan bergeraknya
perputaran aktivitas di dalamnya; berburu, meramu makanan, memelihara pohon,
upacara adat, membuat obat-obatan dlsb., adalah sub-sub kerja yang menopang
kesehatan tubuh rimba. Selanjutnya, dengan demikian, hutan tidak sekedar rumah
besar dengan subsistem kehidupan di dalamnya, melainkan adalah ruh kehidupan
yang sakral.
Naparanakkang
juku
Napaloliko
raung kaju
Nahambangiko
allo
Nabatuiko
ere bosi
Napalolo’rang
ere tua
Nakajariangko
tinanang
Begitulah larik pesan
tua dari Pasang Ri Kajang, kumpulan hikmat yang dipraktekkan masyarakat
hukum adat Kajang di Bulukumba. Di baliknya ada bangunan paradigma yang
menempatkan hutan sebagai pusat kosmik. Hutan bagi masyarakat hukum adat
Kajang, seperti komunitas hutan lainnya, adalah ruang material yang bermakna
transenden.
Masyarakat hukum adat Kajang, tentu berbeda dengan masyarakat yang dikelilingi hutan-hutan beton. Mereka punya prinsip hidup tallase kamase masea: etika hidup mengedepankan kesahajaan dan kesederhanaan. Melalui dua hal inilah orang Kajang, memahami tiga lapis dunia; dunia Tu ria ara’na. dunia Ammatoa, dan dunia tanah, dalam satu kesatuan kosmologis yang harus dihormati.
Masyarakat hukum adat Kajang, tentu berbeda dengan masyarakat yang dikelilingi hutan-hutan beton. Mereka punya prinsip hidup tallase kamase masea: etika hidup mengedepankan kesahajaan dan kesederhanaan. Melalui dua hal inilah orang Kajang, memahami tiga lapis dunia; dunia Tu ria ara’na. dunia Ammatoa, dan dunia tanah, dalam satu kesatuan kosmologis yang harus dihormati.
Masyarakat modern bukan
masyarakat Kajang. “Aku” dalam kesadaran modern adalah subjek yang angkuh dan
kukuh. Sehingga dari pusat “aku” dunia dipilah-pilah jadi barang taklukan. Atas
dalih kemajuan, “aku” orang-orang modern masuk dan membabat hutan demi modal
berlipat.
Barangkali itulah yang
terjadi di hutan-hutan Sumatera dan Kalimantan belakangan ini. Hutan dibakar
untuk membuka lahan baru, demi proyek pembangunan. Pohon-pohon ditebang,
hewan-hewan diburu, dan lahan-lahan dibabat. Isi hutan akhirnya dikuras tanpa
menimbang tujuan jangka panjang bagi keberlangsungan ekosistem. Dalam hutan yang
digunduli itu, nalar instrumental yang dipercakapkan generasi kedua Mazhab
Frankfurt asal Jerman, Jurgen Habermas, bekerja tanpa peduli sesama.
Dengan nalar instrumental,
hutan jadi sama dengan barang yang dipajang di etalase pusat perbelanjaan,
tidak jauh berbeda dengan produk yang terpampang lewat iklan. Singkatnya, hutan, jadi barang yang dipertukarkan dan diperdagangkan. Hutan
akhirnya jadi komoditas. Di situasi semacam inilah, yang organik dari hutan disisihkan:
tumbuhan hijau, kicau burung di udara petang, tepi-tepi sungai yang
becek, jejak hewan yang mengering, serta jalar akar pohon yang
menghujam, harus hilang tersapu bara api bertubi-Tubi.
Syahdan, jika sudah
demikian, di manakah orang-orang hutan sekarang?
--
Dimuat di harian Tempo Makassar, 23 Oktober 2015
13 Oktober 2015
Orang-orang Modern: Mengolektifkan Nalar
Modernisme, ide progresif dari akhir abad 19 itu memang dahsyat. Perubahan
yang semula adalah tabiat dari yang ilahiat, dijungkirbalikkan menjadi
kerjakerja manusia. Tuhan, yang dahulu adalah pusat, disingkirkan dari ruang
pemikiran. Tuhan, yang dipahami sebagai totalitas wujud, semenjak subjektifitas
ditemukan, menjelma sebagai wujud yang peripheri. Bahkan di dalam ideide
modernisme, Tuhan hanyalah sejarah silam yang harus ditilap senja.
Cogito ergo sum, begitulah ucapan Rene Descartes, bapak filsafat modern
yang menemukan ilham dalam terang kesadaran rasio. Melalui pemikiranya, manusia
menjadi otonom atas rasio yang dimilikinya. Dengan rasio sebagai pusat baru,
modernisme mengayunkan pendulum sejarahnya sebagai kekuatan penggerak,
menggantikan kehendak ilahi seperti yang dinabalkan agamaagama. Tuhan di dalam
modernisme adalah agen pasif, dan manusia adalah subjek sejarah yang
berkehendak atas pikirannya sendiri.
Namun kita tahu, rasio yang tegak di saat yang bersamaan juga berarti
lain; individualisme. Manusia modern berarti orangorang yang berdaulat atas
rasio, dan dengan demikian adalah orangorang yang bertindak mandiri. Ketika
memikirkan, merancang, dan bertindak atas sesuatu, individu menjadi
sumber. Dengan begitu, sesuatu pilihan didasarkan atas kehadiran individu,
bukan berasal dari kekuatan di luar dirinya.
Individualisme modernis inilah
yang kerap menjadi etika mayoritas. Supremasi atas yang individual didaulat
menjadi ukuran suatu segala. Ketika sumbersumber yang berbicara tentang
komunalisme, maka itu dihardik sebagai suatu pilihan yang tak menghargai hakhak
atas individu. Manusia, di alam modernisme, bukan lagi milik komunal atas nama
Tuhan ataupun kekuasaan politik tertentu, melainkan manusia itu sendiri.
Manusia adalah mahluk dengan dirinya yang pribadi.
Tapi, modernisme dengan semangat individualismenya jadi sumber petaka, jadi
biang bencana kemanusiaan, sebab manusia yang individual jadi manusia yang
rasional tanpa terhubung terhadap kehidupannya. "Apel" sebagai objek
yang dipikirkan, bukan lagi "apel" yang tumbuh di atas tanah dengan
musim tertentu, melainkan sebagai objek yang terputus dari eksistensi
organisnya. Apel di kepala orangorang modern adalah apel yang telah terlucuti
sampai pada tingkat yang rasionalistik.
Demikianlah akhirnya hakim sejarah punya cerita: atas nama semangat
individualisme, kebudayaan tercabikcabik, kekuasaan jadi tak terkontrol,
ekonomi jadi timpang, dan kehidupan kehilangan kepekaannya.
Margaret S. Archer, seorang sosiolog Inggris, mempercakapkan bahwa
modernitas, suatu situasi yang melaju cepat, telah menggeser sosialitas menjadi
rasionalitas sebagai kriterium demarkasi antara manusia dengan segenap
"ada" yang lain. Manusia dengan rasionya, menjadi subjek instrumental
yang hanya memuaskan kepentingan pribadinya, sementara "the others",
adaada yang lain hanyalah objekobjek yang disisihkan dari manusia sebagai
pusat. Melalui prinsipprinsip kapital, manusia modern tidak terbebani dengan
tanggung jawab kolektif, melainkan bekerja atas prinsip maksimalisasi
keuntungan. Sahabat misalnya, di mata orangorang modern, dapat saja
ditinggalkan selagi dia tak mendatangkan keuntungan.
Masyarakat dikehidupan seharihari, atas supremasi individu menjadi entitas
yang terpilahpilah, sebab"aku" yang mendasari manusia, adalah aku
yang angkuh. "Aku" yang bersikap adalah aku yang egoistik. Dan
"aku" yang berpikir adalah aku yang tak merasa. Demikian, berarti aku
dalam manusia modern adalah aku yang tidak toleran.
Maka tidak ada toleransi saat kolektifitas diucapkan oleh "aku"
di kehidupan bersama. Semangat saling menghargai atas hak individu di
saat yang bersamaan berarti pembiaran yang menyebabkan keacuhan. Emoh diamdiam
jadi sikap batin ketika kehidupan bersama menuntut perhatian, dan berpaling
adalah sikap paling praktis di saat bantuan dibutuhkan. Toh kalau ada
toleransi, perhatian yang diberikan selamanya selalu berawal dari perhitungan
untung maupun rugi.
Barangkali ada yang memang cacat dari aku di dalam modernisme.
"Aku" yang rasional sedari awal sudah menarik diri dari detak jantung
sejarah manusia. Aku yang berpikir adalah subjek yang soliter. Sendiri.
Menyendiri. Di dalam rasio. Itulah mengapa, "aku" modernisme
dihardik, dikritik, dan ditampik.
"Aku" seharusnya bukan "aku dan dunia," melainkan
"aku bersama dunia." Demikianlah daku Martin Heidegger, filsuf
kontemporer Jerman. "Aku" yang seharusnya adalah aku yang bergelut
dengan kerja, begitu pula ungkap marxisme, dan "aku" yang bekerja
adalah aku yang kolektif. Begitulah, kesadaran atas "aku" melibatkan
dirinya pada "the others," di mana di sana manusia menemukenali
relasinya terhadap sesama. Manusia, dengan relasinya yang sejajar berarti
mengandaikan hubungan yang komplementer. Itu berarti dengan sendirinya, manusia
menjadi mahluk yang sosial. Juga, manusia bukan lagi mahluk rasional yang
dingin, melainkan mahluk yang ada karena yang lain. Begitulah "aku bersama
dunia" dipercakapkan.
Di saat yang bersamaan, agamaagama yang pernah disapu fajar modernisme, di
hari ini, bangkit untuk memimpin arah sejarah manusia. Juga mengambil sikap
atas bopengbopeng yang dibuat modernisme. Namun, semangat kolektifisme yang
diajukan tak benarbenar menerima "the others." Agamaagama, akhirakhir
ini kerap bertindak keras terhadap yang lain di luar imannya. Iman, yang
berpusat dari theos, tanpa disadari, adalah batas itu sendiri. Dengan begitu,
kolektifisme di dalam iman yang demikian, adalah sikap toleran yang tertutup.
Agamaagama di masa sekarang memang berbicara semangat kolektif, namun
malangya kolektifitas yang diandaikannya hanya sampai pada dimensi eksoteris.
Kita sama, jika cara kita mengekspresikan ajaran agama itu sama. Kita seiman
jika ada penampilan yang bisa kita ukur dari apa yang tampak. Begitu kiranya iman
agama dipercakapkan akhirakhir ini. Di dalam agama ada kolektifisme, namun
sekali lagi malang, nalar yang benderang dianggap sebagai lawan dari iman
agama.
Di dua paras itulah kita harus mencari nalar yang toleran. Dari modernisme
ada pengajuan atas individu yang merdeka. Namun, di situ, nalar modernisme
adalah "aku" yang abai dari semangat kebersamaan. Sementara itu,
agamaagama, dengan percaya diri, mendaku memiliki semangat kolektif walau di
luar iman ada jurang untuk suatu batas. Aku dalam agama, pada akhirnya adalah
aku yang dipenjara kelompokkelompok. Bukan aku yang melebur bersama "the
other."
Akhirul kalam, bila nalar modernisme yang dipercakapkan Rene Descartes,
ditemukan di dalam diri yang sendiri, sedangkan kolektifisme agamaagama adalah
kolektifisme buta tanpa terang kesadaran, maka nalar kolektif merupakan
pelampauan atas nalar yang individualis modernisme dan kolektifisme buta
agamaagama. Nalar kolektif di sini barangkali harus berangkat dari sejenis
kesadaran bahwa manusia sesungguhnya adalah mahluk yang hanif dengan lapislapis
kekurangan. Manusia jika demikian, bukanlah pusat satusatunya, karena
itulah mesti ada kerja sama. Mesti ada ikatan yang bergerak diluar simpulsimpul
ikatan sempit agama. Orangorang kuno sering bilang; cinta
11 Oktober 2015
orangorang ujung tanah*
Bagaimana
kita mengucapkan kesejahteraan, jika kemiskinan begitu benderang ditemui.
Bagaimana kita memahami kemiskinan, jika itu dipercakapkan di selasela kekayaan
yang diamdiam kita tumpuk.
Kemarin,
Rabu, 7 Oktober, kemiskinan begitu terang saya temui pada masyarakat nelayan di
pinggiran kota Makassar. Di sana, tak ada penanda kesejahteraan ekonomi, budaya
apalagi politik. Kemiskinan di sana bukanlah wacana yang menjadi diskursus
intitusiinstitusi pendidikan dan pemerintahan, melainkan ihwal yang
terreproduksi pelanpelan atas kenyataan yang dialami seharihari.
Begitulah
yang saya candrai dari masyarakat kecamatan Ujung Tanah kelurahan Gusung.
Ketika saya memasuki kelurahan ini, tak ada kesan kawasan ini pernah dihinggapi
wacana "Makassar Tidak Rantasa" atau "Lihat Sampah Ambil."
Nampaknya tempat ini belum tersentuh rencana pembangunan kota yang bersih.
Apalagi menjadi tempat di mana kesadaran ekologis ditumbuhkembangkan. Akibat
daerahnya yang peripheri, wacana pemerintahan tak dapat banyak bekerja di sini.
09 Oktober 2015
27 September 2015
Sabtu Pagi dengan Eka Kurniawan
Eka Kurniawan lagilagi membuat saya
berdecak kagum. Sabtu pagi tanpa sengaja, saya menemukan cerpennya: Jimat
Sero. Kesengajaan yang menyenangkan. Seperti biasa, membaca cerita pria
ini membuat kita harus bersabar dengan ending yang tak didugaduga, sementara di
saat yang bersamaan kita tak tahu alur apa yang bakal terjadi. Membaca
cerpennya seperti mengetahui ada misteri yang menunggu di ujung cerita
tanpa diketahui seperti apa misteri yang di maksud.
Jimat Sero
by Eka Kurniawan, Suara Merdeka, 24 Januari 2010
Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku.
Satu hari tiga anak memukuliku, karena aku sengaja tidak membawa uang jajan. Nenek mengetahuinya. Seharusnya Nenek mendatangi Kepala Sekolah dan mengadukan kelakuan anak-anak itu. Atau mengembalikan aku ke rumah ibuku, seperti keinginanku.
Rupanya Nenek punya cara sendiri. Sore hari ia membawaku ke sebuah gubuk di tepi mata air. Kelak aku mengetahui, pekerjaan pemilik gubuk itu memang menjaga mata air tersebut. Gubuk itu mungil saja, dengan asap mengepul dari celah atap sirapnya. Barangkali penghuni rumah sedang memasak di tungku dapur. Nenek mengetuk dan tak lama kemudian pintu terbuka.
Di depan kami berdiri seorang lelaki tua yang langsung mempersilakan Nenek duduk. “Enggak usah, aku cuma mampir sebentar,” kata Nenek sambil menoleh ke belakang lelaki tua itu. Di sana berdiri seorang anak lelaki, lebih tua dariku, memerhatikan kami dengan penasaran. “Kelas berapa anakmu, si Rohman itu?” tanya Nenek.
“Kelas empat,” si lelaki tua menjawab sambil menoleh ke anaknya dan berkata kepada anak itu, “Suruh emakmu bawa teh.”
Tapi Nenek buru-buru memberi isyarat Rohman agar tidak pergi, dan menyuruh mendekat. Rohman menghampiri Nenek, dan tanpa mempedulikan lelaki tua itu, Nenek berkata kepada Rohman:
“Dengar, mulai besok, kamu belajar di kelas dua dan duduk satu bangku dengan cucuku ini. Jika seseorang mengganggunya, kau boleh menghajar mereka sesuka kamu.”
Dengan kebingungan, Rohman menoleh ke ayahnya. Si lelaki tua hanya tersenyum, kemudian berkata, “Jangan khawatir. Besok ia akan duduk di kelas dua.”
Begitulah cara Nenek menyelesaikan persoalanku. Sejak saat itu, Rohman turun kelas dua tingkat. Hebat juga anak itu, sejak ia duduk sebangku denganku, tak seorang pun berani menggangguku lagi. Sepatuku terbebas dari injakan kaki-kaki dekil. Ah ya, kadang-kadang di luar sekolah, masih ada anak yang tak tahu apa-apa menggangguku, dan esok harinya, Rohman bisa menghajarnya hingga babak-belur.
Tapi tak lama setelah itu, Ayah mengambilku kembali dari rumah Nenek. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ibu hanya pernah bercerita, aku menangis berhari-hari meminta pulang. Aku tak ingat apa yang membuatku menangis. Aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rohman: apakah ia kembali melompat dua kelas sebagaimana mestinya, atau tetap meneruskan tingkatannya saat itu. Di sekolah yang baru, kadang-kadang ada yang mengganggu, tapi aku bisa mengatasinya. Di SMP, aku punya banyak teman dan tak ada yang mengganggu. Di SMA aku mengencani beberapa gadis cantik dan pintar, dan karena “gadis cantik yang pintar” jarang jadi rebutan, aku nyaris tak punya saingan. Aku masuk universitas dan jadi kutu buku. Aku bahkan nyaris lupa pernah punya teman sebangku bernama Rohman. Kini aku bertunangan dengan anak gadis bosku, Raisa, dan tak seorang pun berani mengusik hubungan kami.
Kemudian, lebaran lalu aku mengunjungi Nenek dan berjumpa dengan si Rohman ini, dan pertanyaannya sungguh konyol: “Kamu masih suka dipukuli orang?”
Kami berdua duduk di beranda dan berbagi segala hal yang kami tidak ketahui selama perpisahan itu. Rohman berkata, “Setiap kali pulang kampung, aku selalu menemui nenekmu hanya untuk tahu kabar tentangmu.” Aku hanya tersenyum dan menepuk lututnya. Lalu ia menambahkan, “Sampai sekarang aku masih sering kuatir, ada orang memukulimu.”
Aku tertawa dan kembali menepuk lututnya. “Enggak usah berlebihan begitu.”
Tapi dengan tatapan serius ia memandangku dan kembali berkata, “Di mana kamu sekarang tinggal? Aku akan memberimu sebuah jimat.”
“Jimat?”
“Jimat. Kamu bakal tahan pukul dan kebal senjata.”
***
JIMAT itu sekarang berada di tanganku. Namanya jimat sero. Kata Rohman, yang sengaja datang ke apartemenku, itu memang terbuat dari ekor sero. Rubah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku bertanya apakah aku harus membayar? Berapa? Rohman hanya tertawa sambil menggeleng. Tidak, katanya, kamu tak perlu membayar sepeser pun. Ia memberikan jimat itu benar-benar karena ia mengkhawatirkanku. Ingat, katanya, dulu ia berjanji untuk menjagaku. Tapi ia tak mungkin menjagaku terus-menerus. Ia hanya bisa memberiku jimat itu.
Aku yang tak terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma mencoba bertanya mengenai pekerjaannya. Barangkali ia punya anak, dan seperti kebiasaan orang desa, barangkali ia mencoba menitipkan anaknya untuk dimasukkan ke perusahaan tempatku bekerja, atau ke kantor-kantor kenalanaku. Tapi jelas ia tak membutuhkan apa pun. Ia sudah jadi juragan kopra di Banten selatan dan anaknya yang paling tua masih berumur sebelas tahun. Ia benar-benar tak membutuhkan apa pun dariku.
Setelah memaksanya menginap semalam dan mengajaknya berkeliling Jakarta untuk sekadar bersantai, ia akhirnya pulang.
Dan jimat itu bersamaku. Jimat sero.
Selama beberapa hari aku mencoba menghiraukannya, tapi semakin aku mencoba melupakan bahwa aku memiliki jimat, semakin aku mengingatnya. Jimat itu tebungkus dalam kantung kain katun kecil, dengan tali untuk mencantelkan, sebesar gelang tangan. Aku sudah memeriksanya, dan memang itu tampak seperti ekor binatang yang sudah kering. Tak ada tanda-tanda benda itu memiliki kesaktian apa pun. Bahkan aku ragu ia bisa melindungi dirinya sendiri.
“Kamu harus membawanya jika ingin merasakan keampuhan jimat ini. Masukkan ke saku celana sudah cukup,” begitu kata Rohman sebelum pergi.
Aku malah menggeletakkannya di meja, di samping komputerku.
Sampai kemudian terpikir olehku bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan apakah benda itu berguna atau tidak adalah dengan menjajalnya. Tapi sebelum itu tentu saja aku harus memastikan sesuatu. Sepuluh hari selepas kunjungan Rohman, aku meneleponnya.
“Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya,” kataku. “Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?”
Rohman tertawa dan menggeleng, “Tak ada yang perlu kamu risaukan.”
***
SEUMUR hidup aku tak pernah berkelahi. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Apa pun yang terjadi, aku selalu mencoba mengakhiri setiap perselisihan dengan siapa pun tanpa berkelahi. Teman-temanku bilang, aku pandai dalam hal membuat musuh menjadi teman. Tapi sejujurnya, ada kalanya aku harus menghindar. Lebih tepatnya, mengalah.
Saat pertama kali kupikirkan untuk mencoba jimat sero, aku langsung membayangkan beberapa orang yang menyebalkan, yang seharusnya kuhajar: sopir taksi yang pernah mengajakku berkeliling sambil berpura-pura tersesat, lalu memaksaku membayar dengan harga argometer yang melambung ke langit; preman kecil yang pernah menodongku di Tanah Abang, bertahun-tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke Jakarta; dan barangkali seorang kolonel yang pernah aku lihat menabrak seorang perempuan tua di pinggir jalan, lalu pergi begitu saja seolah tak merasa bersalah.
Dengan sedikit was-was, kuambil jimat sero dari atas meja dan kutimang-timang sejenak di telapak tangan. Benarkah aku percaya omong-kosong mengenai jimat ini? Bukan hal yang aneh jika orang semacam Rohman bisa memiliki jimat, bahkan membuatnya. Aku tak tahu bagaimana seorang anak kecil tukang berkelahi menjelma seorang lelaki penuh klenik yang mampu menyediakan jimat. Tapi setelah kupikir-pikir, itu bukan hal yang aneh, sebenarnya.
Ayahnya, si tukang menjaga mata air, konon juga pemilik beragam ajian. Dan selama bertahun-tahun, ia merupakan orang kepercayaan Nenek dan Kakek. Ayah dan ibuku tak pernah menyinggung soal itu dan aku juga tak terlalu menaruh perhatian, tapi aku mengetahui hal itu.
Kumasukan jimat ke saku kiri celanaku. Itu tempat yang aman, sebab aku tak pernah menaruh apa pun di sana. Jimat itu tak akan jatuh secara tidak sengaja (misalnya karena aku mengambil uang receh atau telepon genggam). Dan untuk sejenak kucoba merasakan sekiranya ada tanda-tanda tertentu yang diberikan jimat itu kepadaku.
Tak ada apa-apa.
Rasanya aku jadi agak ragu-ragu. Benarkah ia membuatku kebal pukul dan senjata? Jangan-jangan jika aku mencobanya, aku malah babak-belur. Masih untung jika tidak langsung mati.
Aku bergidik dan kulirik pisau cukur.
“Tidak, kamu akan berdarah jika kamu lakukan sendiri. Jimat itu hanya bekerja jika seseorang memukulmu atau mencoba melukaimu dengan senjata.”
Tak ada cara lain untuk membuktikannya, pikirku. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, akhirnya aku pergi ke tempat kerjaku. Tak apa, toh sebenarnya tak ada keharusan untuk membuktikannya. Jika aku takut jimat itu ternyata tak bekerja sebagaimana yang dijanjikan, aku tak perlu berkelahi dengan siapa pun. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagaimana biasa, sebagaimana hari-hari ketika jimat sero belum ada.
Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.
***
AKU berjalan kaki ke apartemenku sambil menggigil. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Orang-orang melihatku dengan tatapan curiga. Aku tak peduli dan terus berjalan. Kulihat tanganku. Darah kering di mana-mana. Bahkan kemejaku juga berpelotan. Aku bisa melihat jemariku meregang satu sama lain dan aku tak yakin bisa menggerakkannya. Mereka bergerak sendiri. Ikut menggigil.
Terbayang olehku tubuh Nasrudin tersungkur ke pojok kamar mandi. Ada darah dari sudut bibirnya. Aku sangat senang melihat darah itu. Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah. Merah itu warna bendera dan darah tidak berwarna seperti bendera. Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin.
“Itu untuk mulut najismu,” kataku.
Aku membencinya sejak lama. Ia selalu mencari muka di depan bosku, dan selalu berupaya menjatuhkanku. Ia selalu punya cara untuk membantah gagasan-gagasanku, dan menjungkirkannya seolah-olah gagasanku merupakan gurauan orang bodoh. Aku tahu bosku termakan omongannya, tatapannya memandangku sedih. Hanya karena aku bertunangan dengan Raisa, tempatku di kantor tak tersentuh siapa pun. Meskipun begitu, sungguh, sesekali aku ingin menghajar Nasrudin.
Ingatan tersebut kembali membuatku menggigil.
Hari itu aku berhasil membuatnya marah dan aku menunggu apakah ia akan memukulku. Peristiwa itu terjadi di kamar mandi, setelah sebagian besar teman kerja kami pulang. Ia tidak memukulku, maka aku kembali memancingnya. Akhirnya ia menghampiriku, menyentuh pangkal kemejaku dan bertanya:
“Maumu apa?”
Aku meludahi mukanya.
Ia tercekat sejenak. Tentu saja ia tak akan percaya aku melakukan itu. Ia mengusap mukanya dengan lengan kemajanya, tanpa melepaskan genggamannya di pangkal kemejaku. Ia memandangku. Aku tersenyum mengejek. Ia masih memandangku. Kupandang kembali matanya. Itu saat-saat yang sangat menegangkan. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.
Lalu, bug, ia mengirimkan jotosannya ke rahangku. Aku terdorong beberapa langkah, tapi aku tak merasakan apa pun. Aku tersenyum dan menghampirinya.
Ia memukulku lagi. Aku tak merasakan pukulannya. Ia kembali memukul. Aku menerimanya bagaikan karung pasir. Ia memukuliku selama sekitar sepuluh menit, atau tiga puluh menit? Ia benar-benar kebingungan pukulannya tak berpengaruh apa-apa padaku. Hingga akhirnya aku melancarkan serangan balasan.
Satu pukulan mengirimnya ke samping pintu. Pukulan kedua membuat memar dahinya. Pukulan ketiga membuatnya terhuyung-huyung. Entah pukulan keberapa ia tersungkur di sudut kamar mandi dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.
“Ampun, ampun,” katanya.
Aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menggigil.
Aku masih menggigil tapi juga dilanda kesenangan ketika membuka kunci pintu apartemen. Ketika aku masuk ke dalam, aku merasa ada orang di dalam apartemenku. Tentu saja itu Raisa, pikirku. Raisa memiliki kunci apartemenku, dan ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang-kadang ia tidur di tempatku, dan saat-saat seperti itu tentu saja kami akan bercinta. Pagi hari ia akan pulang, kembali ke rumah orang tuanya.
Kunyalakan lampu dan kulihat Raisa di tempat tidur. Yang tidak biasa, ia di sana tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki. Aku hanya duduk di sofa, sambil memandang mereka melalui pintu kamar terbuka.
Aku mencopot sepatu, melepas kaus kaki. Kupandangi tanganku yang penuh noda darah. Kuintip kembali Raisa dengan lelaki itu. Kudengar desahan suara Raisa yang sangat kukenal.
Kemudian segalanya selesai.
Ia turun dari tempat tidur dan menghampiriku. “Hai, sudah pulang?” tanyanya. Suaranya kukenal baik. Rohman.
Aku tak menjawab. Aku tak tahu apakah aku tertidur atau tidak. Mungkin di antara itu.
***
KEMUDIAN aku teringat apa yang dulu membuatku menangis berhari-hari di rumah Nenek. Malam itu, aku melihat Nenek di atas tempat tidur bersama si penjaga mata air. Kakek hanya duduk di dipan rotan. Pemandangan itu menakutkanku, dan aku menangis sejak malam itu.
Entah bagaimana aku bisa melupakannya. Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur. Aku senang melihat Rohman berjalan telanjang ke arahku. Terutama aku senang memiliki jimat sero di saku kiri celanaku. (*)
“KAMU masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku, waktu kami berjumpa di rumah nenek, lebaran lalu. “Ya, enggak, lah,” jawabku sambil nyengir.
24 September 2015
Orangorang Tani
“Soal Agraria adalah soal
hidup dan penghidupan manusia, karena tanah adalah asal dan sumber makanan bagi
manusia. Perebutan tanah berarti perebutan makanan, perebutan tiang hidup
manusia. Untuk ini, orang rela menumpahkan darah, mengorbankan segala yang ada
demi mempertahankan hidup selanjutnya” (Mochamad Tauchid,
1952)
Dari sejarah peradaban manusia, petani adalah pekerjaan manusia paling tua. Petani di awal sejarah
manusia, merupakan pekerjaan adaptatif manusia terhadap alam. Petani menandai
suatu sistem pekerjaan yang meninggalkan polapola nomaden dengan cara hidup
menetap. Dimulai dari pola kerja memungut hasilhasil bumi, berburu, dan meramu,
bertani adalah jenis pekerjaan yang memungkinkan lahirnya kebudayaan awal
manusia.
Arnold Toynbee, melalui Mankind and Mother Earth, menabalkan bahwa dengan cara hidup agraris perabadan purba pertama tumbuh dengan pesat. Dia bilang bahwa sejarah orangorang Sumeria atau Mesir tua adalah bersumber dari pemanfaatan tanah dengan cara membangun drainase dan dan saluran irigasi dengan mengubah rawarawa menjadi lahan pertanian. Melalui mekanisme itu, orangorang Sumeria dapat hidup menetap dan membangun peradaban regional disekitar sungai Tigris dan Eufrat.
Itulah sebabnya, asal mula kata kebudayaan (cultura) diambil dari
konotasi yang sama dari makna bercocok tanam. Cultura dengan begitu mengandung
dua hal; ikatan organik masyarakat dengan tanah, dan adat kebiasaan yang
terbangun di atasnya.
Ikatan organik antara masyarakat dengan tanah, dapat dilihat dari terciptanya mitosmitos ataupun legenda yang menjadi ikatan kolektif di masyarakat. Di pulau Jawa dan Bali ada legenda ratu padi, yang menjadi perlambangan bersama dari masyarakat petani untuk menjaga ikatan kolektif di antara mereka. Legenda ratu padi adalah medium masyarakat petani dalam menempatkan pemanfaatan tanah sebagai moda produksinya. Ratu padi sebagai simbol kolektif di tatanan masyarakat petani, mengambil bentuk yang feminin untuk menandai bahwa tanah begitu erat dengan ibu sebagai tanda pengayom bagi masyarakat.
Legenda ratu padi di masyarakat Jawa
misalnya, telah menjadi kebiasaan seturut
tumbuhnya praktikpraktik
kulturalnya. Upacara sekaten yang acapkali disebut sebagai
upacara grebeg mulud, adalah penjelmaan syukur kolektif di
saat menjelang hari panen. Di masyarakat Sunda, ada upacara yang disebut seren
taun yang digelar tiap tahun untuk menghormati ratu padi.
Upacara ini digelar dengan melantunkan kidungkidung atau pantun dengan maksud
mengundang kedatangan ratu padi untuk memberikan berkah kepada bibit padi dan
kesuburan selama masa tanam hingga panen.
Tapi masamasa tanam berubah menjadi masamasa
kerja, tanah dialihfungsikan, pabrik di manamana berdiri.
Ketika kebudayaan bergerak, petani menjadi
kelompok yang tereksklusi pelanpelan dari penguasan atas tanah.
Industrialisasi sebagai tatanan baru, mengubah kerja tradisional menjadi
bentuk kerja baru yang disepuh dengan semangat individualisme. Kolektivisme
yang semula adalah semangat bersama yang mengikat, akhirnya terbelah atas
modernisme yang memperkenalkan etika baru untuk berproduksi;
individualisme.
James Scoot, mempercakapkan perubahan etika
itu dari yang disaksikannya di Asia Tenggara. Petani, seperti yang
dibilangkannya, merupakan suatu kesatuan yang memiliki sistem kebudayaan
tersendiri atas praktikpraktik kehidupan yang dialami dalam mengelola tanah.
Dari percakapannya, ia menyebut moral ekonomi petani berbeda dengan tatanan
moral baru yang digemboskan dari praktikpraktik ekonomi kapital. Petani, dengan
seluruh jaringan kerjanya memiliki ikatan yang diniatkan untuk mendorong
kerjasama antara mereka dengan ikatan patron-klien dibandingkan harus didorong
dengan semangat rasional kapitalisme.
Berdasarkan pengamatannya, perubahan yang dibawa oleh
inovasiinovasi teknologi, banyak merusak hubunganubungan produksi masyarakat
petani sehingga mendorong banyaknya perlawanan petani di Asia Tenggara. Selain
itu, moral ekonomi petani yang didasarkan pada ikatan subsisten, sangat
bertolak belakang dengan semangat individualisme yang menjadi moral dasar dari
tatanan baru.
Di Indonesia sendiri, perlawanan petani
terhadap kekuasaan tatanan baru direkam dalam pembukuan yang ditulis Sartono
Kartodirdjo; The Peasant Revolt of Banten in 1888. Dari
yang diliterasikannya, perlawanan petani terhadap bentukbentuk kolonialisasi
sudah bermula dari awal abad 19. Melalui politik tanam paksa, petanipetani
Nusantara dibajak dengan cara kekerasan untuk menaklukkan tanahtanah yang
dikuasainya. Bahkan melalui tanah, desadesa di Nusantara, menjadi titik mula
dari penjajahan orangorang Eropa terhadap pribumi.
Di desadesa, dibandingkan dari daerahdaerah
pusat lainnya. pertarungan kekuasaan politik dan perebutan sumbersumber
daya ekonomi begitu tampak. Perebutan tanah sampai detik ini masih di alami
oleh petanipetani pedalaman terhadap korporasikorporasi besar. Kasuskasus di
Rembang, Ujung Kulon Banten, Takalar, Bulukumba, Nusa Tenggara merupakan
persoalan yang sampai hari ini belum menemukan jalan keluarnya.
“Dalam 2014 sedikitnya
terjadi 472 konflik dengan luas mencapai 2.860.977 hektar. Konflik ini
melibatkan sekitar 105.887 keluarga. Dari jumlah itu, konflik agraria
menyangkut infrastruktur terkait MP3EI sekitar 1.215 (45,55%). Disusul
perkebunan 185 kasus (39,19%), sektor kehutanan 27 kasus (5,72%), pertanian 20
(4,24%), pertambangan 12 (2,97%), perairan dan kelautan empat kasus (0,85%, dan
lain-lain tuh konflik (1,48%). Jika dibandingkan dengan 2013, terjadi
peningkatan sebanyak 103 kasus (27,95). Catatan KPA, periode 2004-2014, terjadi
1.520 konflik, dengan luasan 6.541.951 hektar, melibatkan 977.103 keluarga.” (Konsorsium Pembaruan Agraria)
Begitulah yang dicatatkan Konsosrium
Pembaruan Agraria. Tanah dalam skema besar korporasikorporasi merupakan komoditi
dalam agenda perluasan kapital. Artinya dalam logika demikian, kapital yang
merupakan inti dari ekonomi modern adalah nafas yang menggerakkan
perekonomian masyarakat kapitalis yang berbasikan industrialisasi.
Industrialasi memang banyak mengubah wajah
peradaban, tapi peradaban tak selamanya berarti industrialisasi.
Bagaimanapun petani seperti yang dinukilkan
Karl Polanyi dalam The Great
Transformasion punya perspektif bahwa
“tanah dan kekayaan alam bukanlah komoditi atau barang dagangan, dan tidak
sepenuhnya bisa diperlakukan sebagai komoditi. Memperlakukan tanah (dan alam)
sebagai barang dagangan dengan memisahkannya dari ikatan hubungan-hubungan
sosial yang melekat padanya niscaya akan menghasilkan guncangan-guncangan yang
akan menghancurkan sendi-sendi keberlanjutan hidup masyarakat itu, dan kemudian
akan ada gerakan tandingan untuk melindungi masyarakat dari kerusakan yang
lebih parah”.
Itulah mengapa, orangorang tani begitu kuat
ikatan terhadap tanahnya, sebab di atas tanah tak ada hirarki kekuasaan yang
layak berdiri.
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...




