21 September 2015
17 September 2015
Orang-orang di Persimpangan Jalan
Di kota-kota besar, terutama di
jalan raya, kemacetan merupakan masalah yang bikin geram. Apa lagi jika
kemacetan terjadi tepat di jam-jam sibuk, sudah pasti banyak orang menggerutu
kesal. Anak sekolahan jadi was-was mesti tepat waktu. Para
polisi jadi pusing mengurusi ugal-ugalan
pengendara. Sopir angkutan umum sudah pasti dibuat jengkel. Pekerja kantoran
yang biasanya memulai kerja di pagi hari, bukannya tiba di kantor tepat waktu,
malah bisa telat pasal kemacetan. Tapi bos-bos direktur, tak
ambil pusing. Toh bila macet dan telat, siapa bakal marah!?
Di jalan raya kota-kota besar,
demi mengatasi macet, seringkali ditemui orang-orang di persimpangan
jalan. Orang-orang ini biasanya masih berusia muda, adakalanya masih kanak-kanak.
Umumnya mereka anak-anak yang besar di jalanan. Dan biasanya anak-anak yang tak
bersekolah. Pun jika bersekolah, mereka tak sampai khatam. Sementara orang-orang
muda adalah pengangguran dengan usia produktif. Orang-orang semacam ini adalah
mereka yang datang dari pemukiman-pemukiman kumuh. Besar di gang-gang
perkotaan, tumbuh tanpa orientasi kerja yang pasti. Karena tereliminasi dalam
dunia kerja, akhirnya berhamburan di persimpangan jalan.
Kemunculan orang-orang di
persimpangan jalan adalah penanda kesimpangsiuran jalan raya. Mereka yang tumbuh dari pemukiman kumuh akhirnya
datang di tiap persimpangan dengan maksud tak muluk; membantu warga
kota yang terjebak macet. Di jam
produktif, mereka berdiri dengan cara membawa sempritan membantu tiap
kendaraan di saat berganti arah.
Adakalanya cara yang mereka gunakan membutuhkan keberanian dengan masuk
di tengah jalan untuk memperlambat laju kendaraan. Dengan cara begitu kendaraan
yang ingin bertukar arah dipermudahkan.
Orang-orang di persimpangan jalan
suka atau tidak suka, sudah hampir seperti polisi lalu lintas. Mereka punya
semacam wewenang mengatur kapan berjalan dan berhentinya pengendara.
Wewenang yang mereka miliki jika dipikir-pikir punya juga manfaatnya, sebab
tidak semua bapak polisi menjaga setiap persimpangan. Akibat peran mereka, polisi
yang punya tugas mengawasi kemacetan punya sejenis asisten nonformal. Tapi
sayang mereka tak berseragam. Dan karena tak berseragam mereka tak dibayar
negara.
Maksud tak muluk membantu
warga kota yang terjebak macet, sebenarnya juga tak betul-betul ikhlas. Sebab tak dibayar negara,
mereka memasang ongkos atas jasanya; dua ribu rupiah. Tapi toh tarif yang
mereka berikan kalau dihitung-hitung tak ada ruginya jika dibanding ongkos
perbaikan apabila kendaraan mengalami kemacetan. Atau kendaraan tiba-tiba
diserempet oleh ugal-ugalan pengendara lain. Maka dua ribu rupiah bagi dompet
warga kelas menengah perkotaan, masih lebih rendah dengan risiko mereka
bertahan di jalan raya padat kendaraan. Tidak main-main, bisa jadi nyawa
taruhannya.
Risiko itu mereka ambil karena
banyak hal. Perkotaan adalah sarang pengangguran. Di kota persaingan kerja
sangat tinggi. Bahkan tiap pekerjaan membutuhkan skill khusus.
Dan untuk memiliki skill khusus, tiap profesi membutuhkan banyak kursus dan
pelatihan. Sementara orang-orang di persimpangan jalan, adalah masyarakat
lapisan bawah yang minim akses. Sekolah, pekerjaan, rumah sakit, pusat
perbelanjaan, perpustakaan adalah pusat kebudayaan yang jauh dari kehidupan
mereka. Akhirnya dari keterbatasan akses, membuat mereka tumbuh tanpa asupan
kebudayaan yang sehat. Syahdan, jadilah mereka pengangguran tanpa masa depan.
Kemiskinan juga salah satu ciri
perkotaan. Hampir di semua kota besar bertebaran pemukiman masyarakat kota.
Akibat pertukaran kapital yang timpang, maka menyebabkan kemiskinan struktural. Jika karena keterbatasan akses membuat orang-orang persimpangan
jalan mengalami kemiskinan kultural, maka kapital yang berputar timpang membuat
mereka terjebak ke dalam kemiskinan struktural.
Akibat kemiskinan struktural yang mereka alami, persimpangan menjadi kawasan ekonomi untuk mendulang “emas.”
Atau di luar dari dua sebab
sebelumnya, bisa saja ada problem teknis yang membuat mereka berhamburan di
persimpangan jalan. Misalnya adalah semakin bertambahnya pengendara dan
kendaraan. Semakin tak memadainya jalan raya menampung populasi pengendara. Tak
dilengkapinya jalan-jalan utama dengan rambu jalan. Juga barangkali tidak
adanya tranportasi publik. Atau memang bapak polisi yang tak banyak
berperan di jalan raya.
Walaupun demikian, orang-orang di
persimpangan jalan kian hari semakin banyak dijumpai. Bukan saja di jalan-jalan
utama, tetapi di jalan alternatif juga mereka ditemui. Biasanya mereka datang
bergerombol, tua ataupun muda, pria ataupun perempuan. Mereka setia berlama-lama
di tengah bising kendaraan, di bawah terik matahari hingga rela menghirup
gas karbon kendaraan.
Biasanya mereka membagi teritori
tempat yang sudah dikapling berdasarkan kelompok, persimpangan per
persimpangan, waktu per waktu. Singkatnya mereka juga punya manajemen, tapi
tidak secanggih orang-orang kantoran yang berkendara. Tak secerdas anak-anak usia
sekolah. Apalagi menyerupai cara berpikir bos-bos tukang boros. Orang-orang
persimpangan jalan membagi keuntungannya
atas dasar komunalisme. Orang-orang persimpangan jalan demikian, barangkali
hanya tak ingin dikatakan pengemis yang tak memiliki jasa untuk mereka
pertukarkan.
11 September 2015
Orang-Orang Berparas Ganda
Mitos di alaf kebudayaan, selalu difungsikan dengan
maksud perayaan. Di dalamnya pujapuji dipanjatkan melalui ritual untuk
menceritakan kebesaran dewadewa. Mitos, di sejarah awal peradaban, biasa diolah
menjadi drama untuk mewantiwanti sang manusia.
Mitos melalui drama, juga ingin
membangun satu hirarki antara dunia dewata dengan dunia ata. Melalui drama,
mitos ingin meletakkan manusia dalam horison superioritas dewadewa. Dengan
demikian, di dalam drama, manusia selalu disimbolkan sebagai mahluk yang mungil.
Manusia di dalam drama, selain mungil, juga sering
digambarkan dengan paras yang kejam. Niat dasarnya adalah bahwa manusia secara
diametris berlawanan dengan idealitas dewadewa. Di atas cara demikian, manusia
dibulatkan dengan defenisi yang buruk.
Drama juga sebenarnya adalah tempat tragedi dipertunjukkan.
Tragedi di dalam drama, barangkali adalah cara untuk menyadarkan bahwa manusia
sungguh rentan dari nasib yang sial. Sebab kehidupan yang ideal hanya dimiliki
oleh dewadewa di atas khayangan. Itulah mengapa, hampir semua ceritacerita di
masa Yunani purba, drama menceritakan kisahkisah sang manusia yang tak utuh
untuk meraih harapan.
Di Yunani, mitos yang didramakan menjadi mekanisme publik untuk mempertontonkan pelbagai macam watak manusia. Mulai dari watak yang humanistik sampai narsistik. Dari dua kutub paras ini, entah baik dan jahat, keji atau bajik, manusiawi atau hewani, manusia selalu berpulang kepada tragedi.
Itulah sebab di dalam kebudayaan, manusia selalu ditempatkan
di dalam koordinat yang jauh dari purnawatak. Mitos dalam drama, telah
mengintrodusir kesadaran manusia menjadi orangorang yang inferior. Lugwig Feurbach, seorang filsuf cum antropolog agama, dengan melihat keadaan itu, akhirnya menangkap satu
pengertian dari optik yang lain; manusia memang selalu mengasingkan dirinya
dalam kebudayaan yang dibuatnya. Maksudnya, kenapa manusia selalu berparas
lemah dan tragis, sebab manusia hanya melihat idealitas jauh di atas
khayangankhayangan, sementara dirinya selalu diartikan sebagai mahluk yang
penuh kelemahan.
Di dalam maksud sebenarnya, khayangankhayangan itu disebut
Feurbach berasal dari agama. Di dalam agama manusia mengasingkan dirinya dengan
membangun satu dunia imajinasi kebaikan; tuhan, malaikat, surga, maupun alam
kebahagiaan, dan kehidupan manusia sejatinya hanyalah tragedi.
Orangorang yang anti agama sering menyebut agama adalah sumber
tragedi. Barang siapa beragama, berarti dia adalah agen aktif yang bisa memulai
tragedi. Orangorang beragama adalah orangorang yang memikul beban spiritual
hingga bebal. Dan tragedi yang datangnya dari agama adalah tragedi yang paling
purba; peperangan.
Agama sebagai perang nampaknya menjadi kode penting tentang
kebudayaan religi sang manusia. Banyak orangorang yang kerap mengucapkan agama
dengan intonasi yang antagonistik. Agama dengan cara yang demikian, adalah dunia
imajinasi yang mengasingkan sang manusia dari dirinya sebab yang ideal telah
dilukiskan ke dalam khayangan dewadewa. Sementara yang tersisa pada manusia
adalah kekejian yang berkebalikan dari apa yang dilukiskannya.
Orangorang beragama sudah seperti yang dipercakapkan Erving Goffman --sosiolog Amerika, yakni orangorang yang sering bermain peran. Goffman mengandaikan dua
sisi peran manusia dalam melakoni kehidupannya. Permainan peran manusia di atas
panggung kehidupan disebutnya sebagai dramaturgi.
Di dalam dramaturgi, peran
kebaikan selalu diperlihatkan di atas panggung depan dengan adegan yang disorot
cahaya panggung, sementara peran kejahatan, selalu disembunyikan di belakang panggung gelap yang jauh dari sorotan. Baik di atas dan di belakang panggung itulah manusia senantiasa bermain peran, entah di bawah
sorot cahaya panggung dengan menampakkan kebaikan dan sebaliknya, menjadi kejam di belakang panggung.
Orangorang beragama adalah orang yang bermain lakon. Jika
berperilaku baik, itu hanyalah lakon yang diperagakan di atas panggung. Apabila
ia bersikap manusiawi, itu hanya karena disoroti cahaya lampu orangorang. Tapi
jika lampu tak lagi menyorotnya, maka dia akan menunjukkan watak dasarnya di
balik panggung. Jadi bisa jadi, orangorang beragama adalah orangorang yang pandai
bermain peran, dia baik hanya di atas panggung, tetapi tidak di belakangnya.
Feurbach dan deretan orangorang anti agama bisa bersuara
dengan pesimistik atas perilaku orangorang beragama. Tapi kenyataan juga punya
jawabannya. Feurbach dan orangorang anti agama tidak selamanya salah.
Belakangan ini banyak orangorang beragama berperan dengan paras antagonistik.
Fenomena dengan terang menunjukkan betapa berbahayanya agama jika diajukan
sebagai problem solving dari kehidupan yang timpang. Agama, ketika
dipercakapkan dengan paras yang berbeda dari sekelilingnya, justru dengan niat
sebagai pemecah masalah, malah menjadi sumber masalah baru.
Kiwari, betapa banyaknya kelompok orangorang beragama berhimpun
diri, mengorganisir, dan menggunakan agama sebagai suatu kesadaran kolektif.
Dari itu, agama menjadi optik untuk mempersepsi dan merasai kenyataan, dan
bahkan dengan agama sebagai satusatunya jalan keluar atas segala soal. Tapi
anehnya, orangorang beragama, seperti kita sering saksikan, adalah
orangorang yang pandai bermain lakon. Di atas panggung seolaholah menjadi the good
man, tapi tidak sebaliknya di belakang panggung.
05 September 2015
Sang Aku dalam Cermin
Cermin adalah benda ajaib.
Bagi manusia, cermin bertugas membantu keterbatasan penglihatan. Melalui
cermin seorang model dapat melihat pantulan rias parasnya. Cantik, tampan,
ataukah jelek, cermin banyak membantu memberikan penilaian utuh. Di
jalan raya, bagi pengendara, cermin menjadi perlengkapan penting kendaraan.
Bayangkan jika kendaraan tak memiliki cermin, si pengendara pasti sulit
berkendara. Jika sudah begitu, polisi punya alasan tepat menjerat
pengendara: ditilang.
Di kehidupan sehari-hari, kita
sangat tergantung kepada cermin. Keberadaan cermin sunguh penting untuk menjaga
penampilan. Bisa dibilang, di saat memulai beraktivitas, cermin menjadi
perangkat pertama yang digunakan untuk melihat tampilan luar kita. Itulah sebabnya,
ketika memulai hari, di setiap kamar tidur disediakan cermin untuk kita
gunakan. Maka dari itu cermin juga menentukan rasa percaya diri untuk memulai
beraktivitas.
Sebenarnya yang membuat cermin
dibutuhkan adalah sifatnya yang dapat menangkap objek di depannya. Sifat inilah
yang membuat cermin menjadi ajaib. Ia bisa merefleksikan objekobjek sesuai yang
dipantulkannya. Ia bisa meniru persis objek yang di hadapannya. Juga, ia
“jujur” dalam memantulkan gambaran yang ditangkapnya.
Bagi orangorang yang berhamba kepada mode, cermin adalah barang wajib untuk dimiliki. Dan kalau perlu bisa dibawa ke manamana. Bagi perempuan era sekarang, sebagaimana bendabenda kosmetik lainnya, cermin adalah benda yang paling dibutuhkan. Dengan cermin, paras yang sering menjadi “arena mode” dapat dipoles kembali apabila ada “kejelekkan” yang melekat. Tapi tidak saja perempuan, zaman sekarang banyak juga pria yang berkelakuan seperti perempuan; pesolek.
Tapi ada cermin yang bisa mengubah
citra objek menjadi berbeda dari objek aslinya. Cermin seperti ini punya
kemampuan untuk memperbesar atau memperkecil objekobjek di hadapannya. Kita
mengenal cermin seperti ini dengan sebutan cermin cembung dan cermin cekung.
Dua cermin ini sangat jarang digunakan, sebab tak “jujur” dalam menangkap
objekobjek yang di dicitrakannya. Cermin semacam ini biasanya hanya ditemukan
pada arena bermain yang di gunakan untuk ajang hiburan semata.
***
Cermin yang menipu atau cermin yang
tak jujur merefleksikan objeknya dalam ilmu psikolog imutakhir digunakan
psikolanalis Prancis Jascues Lacan untuk mempercakapkan “aku” yang salah dalam
mengenal dirinya. Menurut Lacan, dalam teori subjeknya, manusia sedari awal
adalah mahluk yang tak pernah mengenal siapa “aku” yang sebenarnya. Peristiwa
ini, dinyatakannya dimulai di saat pertama kali manusia mengenal dirinya
melalui fase cermin. Di fase ini, usaha manusia untuk mengenal dirinya melalui
pencitraan cermin, sebenarnya adalah pantulan yang sesunguhnya salah. Jadi dari
yang dipercakapkannya, jika manusia ingin mengenal siapa “aku” sebenarnya,
sebaliknya yang dikenalnya adalah “aku” yang lain.
Secara metafora, Lacan menggunakan
cermin sebagai perangkat argumentasi bahwa manusia adalah mahluk yang tak
pernah mengenal siapa “aku” yang sebenarnya. Dari perjalanan panjang peradaban,
sang “aku” yang dipertukartangkapkan untuk saling mengidentifikasi satu sama
lain, mengacu dari teori cermin Lacan adalah diri yang ilutif. Dalam bertukar
sapa, usaha manusia membangun relasi diatas identitas “aku” bisa jadi adalah
usaha yang tak bermakna. Sebab ketika kita saling mengenal satu sama lain,
sesungguhnya adalah identitas yang sudah ilutif dari awal.
Lalu di manakah “aku” yang
sebenarnya? Itulah sebabnya barangkali manusia senang bercermin untuk mencari
“aku” yang hilang. “Aku” yang hilang adalah dua tubuh yang semula tiada;
tubuh psike dan tubuh socius. Tapi malangnya,
tubuh psike seringkali dilupakan untuk ditemukan. Justru tubuh sociuslah yang
kerap kali dicari melalui cermin. Tubuh sociuslah yang menjadi perhatian utama.
Dengan cermin di sekeliling kita, tubuh socius selalu dipertahankan dengan
menjaga intensitas untuk menghadap ke dalam cermin. Seringkali kita menghadap
cermin, maka sebanyak itulah tubuh socius diteguhkan.
Dan memang cermin adalah benda yang
ajaib. Di dalamnya “aku” tubuh socius ditemukan untuk menunjang kepercayaan
diri. Dengan cermin tubuh socius disusun, dimulai dari paras, organ badan
hingga ujung kaki untuk dimaksimalkan seideal mungkin. Dari cerminlah tubuh
socius ditemukenali. Dari cerminlah tubuh socius direfleksikan.
Akhirakhir ini kecenderungan bercermin sudah jadi rutin. Bercermin bukan lagi kegiatan di awal waktu melalui ruang privat yang intim di kamar tidur, melainkan hampir tiap waktu di medan publik. Bisa benar bisa salah, bercermin bisa menjadi indikasi hilangnya “sang aku” dari sekalian kita. Atau bisa saja bercermin adalah usaha untuk mengkonversi kekurangan “sang aku” dari diri yang memang tak lengkap, sebab di dalam cerminlah sang pesolek menemukan semacam “keyakinan” yang menenangkan.
Syahdan, Sapardi Djoko Damono punya
puisi tentang cermin, dia bilang begini: mendadak kau mengabut dalam
kamar, mencari dalam cermin// tapi cermin buram kalau kau entah di mana, kalau
kau mengembun dan menempel di kaca, kalau kau mendadak menetes dan terpecik ke
mana-mana// dan cermin menangkapmu siasia.
Dimuat di Koran Tempo Makassar,
Sabtu 5 September 2015
01 September 2015
Orangorang Pembenci Kata
Aktivitas menulis sudah
sepurba keberadaan manusia. Dalam sejarah peradaban, manusia sering menulis
dalam banyak ragam; simbol, gambar, ataupun motifmotif. Dengan begitu menulis
menjadi sifat sejarah manusia; ketika ia lahir, tumbuh dan berkembang. Bahkan
aktivitas menulis adalah penanda terakhir dari manusia yang ditilap sangkar
waktu; di atas nisan, aksara menjadi penyambung manusia antara ada dan tiada.
Manusia dimulai dari aksara, tapi
menulis adalah permulaan peradaban. Di awal narasi penciptaan manusia, kun adalah
aksara yang menandai titik mula kehidupan, sementara tulisan adalah cikal bakal
kebudayaan manusia. Begitu kirakira permulaan dan perkembangan manusia. Bermula
dengan aksara dan berkembang melalui tulisan.
Itulah sebabnya manusia mengolah
kata. Itulah mengapa manusia mengukir aksara. Dengan begitu, manusia
bertukartangkap untuk saling bertukarsapa, berkomunikasi melalui jejaring
makna, dan mengembangkan kehidupan melalui kesalingpengertian.
Melalui aksara dan tulisan, membuat
manusia akhirnya membangun jarak dengan mahluk lain. Aksara dan tulisan menjadi
ciri sekaligus pembeda dari mahlukmahluk di sekelilingnya. Dengan itu manusia
membangun ciri kebudayaannya, melalui kata melalui tata. Kata sebagai simbol
dan alat tukar pemahaman, sedangkan tata adalah kemampuan teknis manusia untuk mencipta
bendabenda beserta pengaturan dan pengelolahannya.
Maka itu manusia disebut mahluk
yang bertutur, sebab melalui tuturan manusia menukar maksud dan pesan. Juga
dengan kemampuan tata manusia disebut homo faber, mahluk pekerja. Sebagai homo faber
manusia punya kekuatan mengubah nature (alam) menjadi kulture (budaya), merekayasa alam buas
menjadi alam kehidupan. Dengan kata lain, melalui kata manusia membangun konsep,
dengan tata manusia mengerjakan konsep.
Tapi manusia tidak selamanya
menyukai kata dan malas menata. Banyak orangorang yang tidak ingin berkerja
dengan kata, sebab kata diartikan ihwal yang tak punya sumbangsih kongkrit.
Bergelut dengan kata disebutnya pengecut, dikarenakan kata tak bisa mengubah
dunia.
Orangorang seperti ini biasanya dengan sendirinya malas menata, dan
sering kali jika menata maka tak sanggup rapi dan apik. Kenapa demikian? Karena
bekerja dengan kata itu berarti kita harus sering menyusun tata bahasa, tata
pikir dan jalan pikir untuk membangun maksud yang terang.
Dengan menyusun kata
berarti ada jejaring hubungan makna yang sistemik tersusun rapi di tiap
relasinya. Itu mengapa, orangorang tak menyukai kata akan sulit membangun katakata
dengan susunan pikiran yang baik.
Lalu siapakah orangorang yang
selalu bekerja dengan kata? Di dalam sejarah peradabanperadaban, orangorang
yang bekerja dengan kata selalu menjadi pusat dari lahirnya peradaban.
Di
Yunani purba, ada dua macam yang selalu bekerja dengan katakata; filsuf dan
Sastrawan. Sang filsuf, membangun konsepkonsep filsafatnya melalui katakata
yang direnungkan dan dipraxiskannya. Sementara sastrawan bergelut dengan kata
untuk menguak tabirtabir makna yang dikandung di dalamnya. Melalui kata yang
direnungkan, sang filsuf menyusun dasardasar filsafat, sedangkan dari kata yang
dikuak, sang sastrawan mengasah dunia pemaknaan manusia. Akhirnya dari
orangorang semisal Homer, Socrates, Plato, Aristoteles, peradaban Yunani purba
bermula.
Walaupun begitu, ada juga orang
yang senang bekerja dengan kata tapi punya maksud yang lain. Tidak seperti
filsuf maupun sastrawan, kaum sophis barangkali adalah model orang yang sering
memutar balikkan kata. Di tangan orangorang shopis, kata menjadi tak menentu
sehingga makna sering kali disalahartikan.
Apabila demikian, maka kebenaran
yang dapat terungkap melalui kata, justru tertimbun jauh di balik maksud lain
orangorang sophis. Ketika Socrates menyebut orangorang ini dengan sebutan
orangorang yang tak bijak, kaum sophis malah emoh dan seringkali mengunjungi
orangorang kaya untuk mencari uang dengan menjual katakata.
Buku sebagai sangkar katakata,
peradaban sebagai tugu tata adalah dua hal yang berkaitsambut. Melalui buku
peradaban dirawat, dengan peradaban buku dipertahankan. Peradaban manusia bisa
dibilang dimulai dari keberadaan bukubuku. Eropa bisa terang benderang sebab
buku menjadi benda yang menyebar secara massif. Kita tahu, di Eropa kuno, buku
masih barang privat, hanya kepunyaan padripadri gereja, kaum bangsawan dan
rajaraja. Tapi mesin cetak Gutenberg-lah yang mengubah jalan peradaban dari
pusatpusat gereja, pusatpusat kerajaan menjadi milik banyak orang. Akhirnya
dengan mesin cetak terjadi liberalisasi ilmu pengetahuan yang menyebar melalui
cetakancetakan buku mesin Gutenberg. Dan Eropa akhirnya melek aksara.
Sementara atas peradaban buku
dipertahankan dan dijaga. Sebab buku bukan saja peninggalan peradaban, tapi
juga adalah benda yang mencirikan peradaban. Tak bisa dibayangkan tanpa buku
peradaban bisa bertahan lama, di mana dalam konteks ilmu pengetahuan, buku
memang bendabenda peradaban. Atas asumsi inilah, dari alaf sejarah, tak ada
bangsa yang mampu membangun peradabannya tanpa mensyaratkan keberadaan ilmu dan
pustaka bukubuku.
Walupun demikian, sejarah tak
selamanya jernih dari noda peradaban. Jika ada orang yang benci dengan
katakata, maka bisa saja paralel dengan sikapnya terhadap peradaban. Artinya
bila katakata sudah dibenci, dengan demikian peradaban juga dibencinya.
Orangorang semacam ini ditimbangtimbang jauh lebih kejam dari kaum sophis. Kaum
sophis masih menggunakan kata walaupun punya motif ekonomik di balik maksud ia
bekerja, sementara orangorang pembenci peradaban biasanya adalah orangorang
yang bekerja dengan aksiaksi kekerasan.
Kekerasan dalam lorong gelap
sejarah biasanya dilakukan oleh para penguasa otoriter. Di hadapan
penguasa, katakata tak punya tempat, karena bila kata diterima, berarti ada
ruang dialog di dalamnya. Sementara dialog berarti cara bawahan
untuk mempertanyakan keputusankeputusan penguasa. Sebab kata adalah asal mula
negoisasi.
Itulah mengapa banyak penguasa tak ingin dialog, karena mereka
membenci katakata, karena mereka membenci pikiranpikiran. Maka di sepanjang
sejarah, di mana ada pusatpusat kata berkembang, di mana ada tempattempat
pemikiran bersemai, dan itu dapat membuka dialog bagi penguasa, maka kekerasan
adalah tradisi yang diambil penguasa untuk memberangus.
Sampai di sini, orangorang yang
membenci katakata, biasanya punya satu hal; malas bertukar pendapat.
10 Juni 2015
Hikayat Jalan Raya
Di kotakota besar, jalan raya
adalah tempat perebutan dan penaklukan. Di jalan raya, orangorang dari beragam
profesi berjibaku; polisi, pengendara kendaraan, anak jalanan, penjual koran,
pengamen, supir angkutan, pedagang asongan, pengedar brosur, para demonstran,
pejalan kaki dsb., menggunakan jalan raya dengan beragam kepentingan.
Polisi misalnya, sebagai
representasi hukum harus hadir di jalan raya dengan maksud mengatur ketertiban
umum. Para pengamen memanfaatkan setiap perempatan trafic light untuk
mendulang untung. Para pengendara apalagi, adalah orangorang yang paling
berhasrat menguasai jalan dengan dalih efisiensi waktu.
Begitu juga mahasiswamahasiswa
demonstran, memandang jalan raya sebagai ruang publik yang paling mungkin
digunakan di dalam sistem demokrasi yang mandeg. Singkatnya, jalan raya adalah
ruang publik tempat kontestasi dari beragam kepentingan dan perebutan
berlangsung.
Sejarah jalan raya barangkali
sepurba peradaban manusia. Semenjak dahulu manusia senantiasa mengkondisikan
perkembangan hidupnya dengan alam. Di peradaban Mesir tua misalnya, jalan
selalu dibangun seiring dengan keberadaan daerahdaerah subur semisal sungai,
rawarawa dan ladangladang pertanian.
Bahkan kehidupan kota akhirnya harus
disesuaikan dengan keberadaan daerahdaerah subur sebagai tempat penghidupan.
Dengan hidup yang demikian, jalan dibangun untuk mengakses sumbersumber alam
yang menunjang kebutuhan dasar hidup manusia.
Tetapi ketika peradabanperadaban
besar menemukan tempattempat baru untuk ditaklukkan, jalan akhirnya dirumuskan
berdasarkan logika militer.
Jika sebelumnya di peradabanperadaban yang subur
tanahnya menyesuaikan jalan raya dengan hewanhewan pengangkut bahanbahan
makanan, di peradaban yang memandang perang sebagai sarana penaklukkan,
menandai jalan raya sebagai akses transportasi alatalat perang. Tujuannya tiada
lain memudahkan sarana militer dengan efisien dapat dipindahkan dari pusatpusat
pelatihan menuju medan perang.
Seperti yang diperlihatkan memang, sejak
dulu jalan raya selalu ditandai dengan dua hal; sumbersumber alam dan perang.
Di abad modern, sejarah
transportasi adalah sejarah modernisasi itu sendiri, di mana perang dan pemanfaatan
sumbersumber alam malangnya adalah cara modernisasi bekerja.
Di tanah air, bila kita ingin
menandai permulaan modernisasi, justru ditandai dengan pembangunan jalan rel
kereta api. Dengan rel kereta api, modernisasi punya maksud
kolonialisasi.
Dari pembangunan jalur rel kereta
api Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta, daerah
perkebunan yang subur) yang dilaksanakan oleh
Nederlandsch Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS) misalnya,
dibangun untuk mengangkut hasilhasil bumi berupa gula, kopi dan nila yang
dikerjakan melalui sistem tanam paksa (Cultuur Stelsel).
Kita juga mengenal jalan raya pos (de Groothe Postweg) yang merupakan proyek penaklukkan di
Hindia-Belanda. Di mulai dari Anyer hingga ujung Jawa, Banyuwangi, adalah
peninggalan bagaimana jalan raya yang dibangun selain alasan perdagangan, juga
digunakan sebagai strategi militer Hindia-Belanda untuk mengontrol pergerakan
pribumipribumi melalui patrolipatroli militer.
Selain
itu melalui jalan raya pos, Hindia Belanda menjalankan strateginya untuk
mengontrol ruang pergerakan pribumi dengan penggunaan akses informasi yang
cepat.
Jalan
raya sebagai ruang penaklukan memang ditandai dengan kekuasaan yang intim di
dalamnya.
Sebagai
ruang publik, kekuasaan atas jalan raya bisa muncul dengan beragam bentuk
sesuai situasi yang menyertainya. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, sejarah
jalan raya adalah medan penaklukan yang merupakan bagian dari modernisasi.
Melalui jalan raya, modernisasi bekerja dengan cepat untuk mengakses tempattempat terpencil agar mudah ditaklukkan. Urbanisasi sebagai bagian dari modernisasi dalam hal, ini adalah nama lain yang kerap kali menjadi dalil untuk menundukkan suatu kawasan.
Melalui jalan raya, modernisasi bekerja dengan cepat untuk mengakses tempattempat terpencil agar mudah ditaklukkan. Urbanisasi sebagai bagian dari modernisasi dalam hal, ini adalah nama lain yang kerap kali menjadi dalil untuk menundukkan suatu kawasan.
Sebab
itulah jalan raya senantiasa diperebutkan. Seperti yang dimadahkan filsuf kiri
Prancis, Henri Lefevbre, bahwa ruang selalu diperebutkan untuk memungkinkan
suatu relasi sosial dapat diberlangsungkan. Dari analisisnya tentang ruang,
jalan raya dapat kita pahami sebagai medan yang senantiasa direbut dan
didominasi. Dengan dasar itu, di era yang didominasi kapital, jalan raya
menjadi bagian integral untuk memberlangsungkan praktikpraktik pertukaran
ekonomi.
Itulah
mengapa, hampir disepanjang jalan raya, dengan urbanisasi selalu berdiri
pusatpusat keramaian, perbelanjaan, hiburan, kebugaran dan diskotik sebagai
arena transaksional.
Setua
manusia, jalan raya juga adalah cermin sebuah kebudayaan. Hampir setiap waktu
kita tak pernah lepas dari jalan raya. Sebab itulah banyak waktu kita habiskan
di jalan raya. Di jalan raya hasrat kekuasaan tidak saja ditunjukkan dari
sejarah yang berlangsung, melainkan juga adalah kita yang terlibat langsung di
sana.
Di
jalan raya, hasrat kekuasaan misalnya, ditampilkan dari betapa seringnya
melanggar lampu merah. Para mahasiswa yang mentransformasikan kekuasaannya
melalui aksi demonstrasi. Atau politisi yang tak tahu malu memasang baliho
besarbesar di tengahtengah jalan. Dan yang paling memuakkan adalah betapa sesak
dan semrawutnya jalan raya ketika macet; betulbetul cermin dari budaya kita.
Akhirnya di jalan raya, orangorang
dari beragam kepentingan tumpah ruah. Dan memang barangkali di jalan raya hanya
ada dua hal: perebutan dan kekuasaan.
07 Juni 2015
perempuanperempuan bergincu merah
Apa yang paling mencolok dari cara
berpenampilan perempuanperempuan generasi dulu dengan perempuan masa sekarang?
Tentu banyak hal, tapi yang paling mencolok adalah bibir dengan gincu merah.
Itu adalah mode, tapi barangkali
mode juga bisa berarti suatu yang politis.
Seperti yang dibilangkan teoriteori
kebudayaan, tubuh selalu menjadi arena kekuasaan. Tubuh yang semula bagian
pribadi yang intim, akhirnya harus direnggut dari kekuasaan sang aku. Tubuh
menjadi iconik, tubuh menjadi pasar, di mana di situ yang ideologis bekerja
untuk mengontrol dan mendominasi. Di saat itulah sesuatu yang politis bekerja.
Foucault misalnya, mengurai selaput
tipis yang implisit antara dominasi pengetahuan dan kekuasaan, bahwa di mana
setiap wacana yang menjadi diskursus selalu terselubung kekuasaan di dalamnya.
Maksudnya, tubuh yang didominasi tak dapat bermula dari pewacanaan tentang
tubuh. Artinya, tubuh yang menjadi dominasi kekuasaan selalu sebelumnya
ditopang perangkat pengetahuan yang menjadi acuan bagi suatu kepentingan. Di
sini, mengapa tubuh menjadi ihwal yang penting, sebab hampir di sepanjang waktu,
tubuh senantiasa dinarasikan dalam konteksnya yang ideal.
Dan, tubuh ideal juga menjadi
iconik adalah tubuhtubuh yang diperagakan dalam media massa. Di media massa,
kita bisa takjub bagaimana tubuh dibentuk untuk mencapai bentuk yang ideal,
namun sudah merupakan hal yang patut dicurigai bahwa yang ideal di masa
sekarang sesungguhnya adalah sesuatu yang sarat kepentingan.
Mary Douglas adalah orang yang
membagi tubuh menjadi dua anasir. Pertama tubuh sebagai individual body, dan
yang kedua adalah the body politic. Dari pendakuannya, tubuh adalah
lantai kaca yang mendasari sebuah kebudayaan tampak di atasnya, yakni pada
anasir yang ke dua, tubuh sebagai the body politic adalah tubuh yang dibentuk
oleh kebudayaannya. Artinya, tubuh dalam konstelasi media massa, adalah tubuh
yang disesuaikan dengan kategorikategori kebudayaan massa itu sendiri.
Tubuh sebagai The body politic
itulah yang mengandung visualisasi tentang tubuh yang ideal. Dan tubuh dalam
konteks ini adalah tubuh yang harus mengcover tigal kategori sosial; kemudaan,
kecantikan, dan kebugaran.
Itulah mengapa tubuh mesti
dirawat, dijaga dan dipercantik. Perempuanperempuan muda punya semacam
keharusan moral untuk bisa memperagakan ketiga kategori itu, di mana tubuh
harus dikemas dalam citra visual yang menarik. Di mana salah satunya adalah
bibir dengan gincu merah itu, yang menjadi penanda kemudaan dan kecantikan yang
sebenarnya bisa jadi adalah sesuatu yang politis.
Warna merah secara simbolik memang
bisa menandai suatu perlawanan terhadap kekuasaan tertentu, namun bibir dengan
gincu merah justru adalah tanda yang lain.
Dewasa sekarang, bibir dengan gincu
merah adalah social code untuk mendefenisikan ideal
type tentang kecantikan. Perempuanperempuan muda, selain dengan
tatanan pikirannya yang telah terlucuti oleh media massa, juga mengalami
“pendisiplinan” tanpa sadar melalui wacana kecantikan yang dipolitisir. Di sini
kecantikan adalah sesuatu yang bermakna konvensi, sehingga karena itulah ia
politis, sesuatu yang diimajinasikan menurut kepentingan tertentu.
Lewat imajinasi kecantikan itulah,
perempuanperempuan muda mengambil bentuk tubuh sosialnya, yakni tubuh yang
dipresentasikan secara simbolik untuk tampil ideal. Di mana, dari itu kita
barangkali menyadari bahwa gincu tebal yang berwarna merah adalah salah satu
syarat dari ideal type itu sendiri. Jadi bila di dalam dunia politik merah
secara sinonim ditandai dengan perlawanan dan keberanian, maka bibir dengan
gincu merah adalah bentuk perempuanperempuan yang memiliki kesan modis dan
sensual.
Imajinasi yang modis dan sensual,
seperti yang dibilangkan Yasraf sebenarnya adalah bagian dari pop
culture yang dipraktikkan di dalam budaya konsumen. Melalui imajinasi
yang telah dilokalisir menjadi populer, akan disusul dengan sendirinya kepada
aktivitas konsumsi. Itulah mengapa perlu iklan, karena di sanalah dibangun
imajinasi untuk mendorong tindak konsumtif.
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
