28 Juli 2020

Palestina dan Google Map

APALAH arti sebuah nama suatu bangsa dibandingkan suatu museum sejarah yang beralihfungsi menjadi masjid. Sebuah nama, sebuah identitas, yang menandai sesuatu yang hidup, berkembang, dan memiliki takdirnya sendiri.

Apa jadinya jika suatu nama hilang, atau dihilangkan? Itu artinya hilang pula suatu kehidupan, diberhentikannya pula suatu yang sedang berkembang. Dengan kata lain, maka hilang tanpa bekas itu yang namanya takdir hidupnya.

Palestina, kini hilang—atau tepatnya dihilangkan. Pelan-pelan dan bertahap. Awalnya orang Yahudi datang, berkabilah, berduyun-duyun, kemudian mengisi tanah-tanah di hampir segala penjuru. Mereka hidup dan beranak pinak di sana, dan tibalah suatu waktu di tingkatan global, berkumpul orang-orang elite mereka, yang memikirkan kaumnya dan berinisiatif membentuk suatu negara, bukan bangsa.

Negara itu diberi lambang Bintang Sulaiman, suatu simbol dari masa lalu yang bersisi enam sudut menandai enam penjuru. Kini, lambang itu kian hari jadi makin agresif dan politis menyerobot tanah-tanah yang masih lapang, atau pemukiman-pemukiman tidak bertenaga, dilemahkan, tapi enggan menyerah.  

Sampai sekarang, dan ketika dunia saling terhubung dalam lalu lintas informasi yang kian cepat, nama Palestina dihapus. Bukan dalam benak, tapi dalam peta dunia, tepatnya dunia maya. Meski hal ini adalah tanda, Palestina akan dihapuskan dari peta dunia yang sesungguhnya.

Itu artinya, kelak Palestina akan hilang dalam ilmu pengetahuan; pertama-tama hilang dalam ilmu geografi, ilmu sosiologi, dan ilmu ekonomi. Kemudian, masyarakat dunia tidak akan berbicara tentang Palestina di dalam ilmu politik, karena kedaulatan negara dan kekuasaan tidak relevan bagi mereka, yang artinya  ia juga tidak akan diberikan tempat dalam sejarah dunia.

Palestina hilang dalam ilmu pengetahuan, yang tidak akan dipelajari, dipikirkan, apalagi dibicarakan.

Semua itu berarti hanya satu, Palestina lenyap di dunia  selama-lamanya.

Saya ingat suatu bacaan tentang aktivis pendidikan bernama Jane, yang beberapa waktu hidup bersama-sama anak Palestina, dalam gejolak perang dan mayat yang tiap hari bagai pelangi yang muncul pasca hujan. Akrab tapi sekaligus, akan pergi.

Jane bersaksi, suatu waktu bangsa Palestina akan merdeka, entah dengan kegigihannya berjuang, dan atau tekanan internasional—yang sebagian negara masih hitung-hitungan memperjuangkannya—tapi, di waktu itu, bangsa Palestina akan menghadapi kenyataan pahit berupa anak-anak mereka yang dinilai lebih mencintai perang daripada hal lainnya.

Jane, dalam penilaiannya menggunakan analisis Erich Fromm mengenai gejala nekrofilia—fenomena menyenangi yang berbau kematian—yang bakal timbul akibat hidup di tengah peperangan dan kekerasan, dan kematian yang jadi pemandangan sehari-hari, yang lamat-lamat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan harapan anak-anak Palestina.

Mereka, kata Jane, enggan bersekolah dan lebih senang diberikan senjata atau jika mesti bersekolah di tenda-tenda pengungsian, mesti diajari cara merakit bom, strategi taktik perang, teknik sabotase, atau latihan para-militer. Mereka lebih mudah diajak berjuang, daripada duduk manis di kelas mendengarkan pelajaran tentang puisi, matematika, atau astronomi.

Mereka menurut Jane, hidup secara tidak normal dibandingkan anak-anak lainnya di dunia. Mereka tumbuh dengan kehilangan masa anak-anak yang mestinya tumbuh riang gembira, bermain, dan bernyanyi selayaknya anak-anak tumbuh.

Kata Jane lagi, coba bayangkan apa yang bakal terjadi jika anak-anak tumbuh tanpa kehangatan keluarga, ketulusan, kasih sayang, dan persahabatan, yang dari kecil tidak pernah sama sekali mempercayai suatu itukad baik selain dari golongan mereka sendiri? Apa jadinya suatu bangsa, yang kelak diisi oleh anak yang tumbuh dari keadaan semacam ini?

Itu pertanyaan retoris dari Jane yang tidak bermaksud untuk ia jawab, walaupun mendengarnya otomatis kita sendiri tahu jawabannya meski tidak pernah diucapkan.

Apalah arti sebuah nama kata Shakespeare, yang nampak puitis diucapkan di atas panggung drama, di taman-taman atau di festival sastra, tapi tidak bagi Palestina setelah mereka kehilangan anak-anak, orang tua, kedaulatan, dan masa depan.

Dulu, saat Adam kali pertama dicipta, ia diajarkan nama-nama, yang kelak berlapis-lapis generasi setelah pembunuhan pertama Qabil membunuh Habil, anak-anaknya meneruskan tradisi kekerasan Qabil melalui spiral yang tiada ujung. Yang dominan menghilangkan yang tertindas, dibinasakan demi supremasi ras, agama, dan entah apa lagi. 

Sebelumnya suatu bangsa saling membinasakan, dengan pedang, bom dan meriam, kini, saat  progresivitas zaman ditentukan dari penguasaan ilmu pengetahuan, suatu bangsa bisa hilang dan dihilangkan dimulai dalam lalu lintas pengetahuan umat manusia.


23 Juli 2020

Masjid dan Politik

MASJID, kiwari bukan sekadar tempat suci yang terpaut dengan Tuhan belaka, melainkan ikut diseret-seret dan terperosok ke dalam kepentingan politis. Jika dulu peruntukkan masjid utamanya untuk melakukan ibadah kepada Tuhan, di masa ketika dunia jadi runcing dan saling kancing, masjid kadang tidak lebih seperti podium-podium politik.

Memang tidak seharfiah itu, tapi begitulah bagi sebagian kelompok umat muslim. Mendiami masjid sama artinya dengan kekuasaan untuk mengkapling jamaah. Pertama-tama menjadi marbot, jadi takmir, dan ujung-ujungnya jadi imam dan pengurus masjid.  Di saat itu, masjid jadi juru bicara mazhab, jadi tempat kampanye ideologi keagamaan.

Ada suatu masa, dalam sejarah Islam, masjid jadi bagian kekuasaan kekhalifahan, yang berarti apa yang sah dan absah dilakukan dalam masjid menjadi kewenangan sepenuhnya bagi kekuasaan saat itu. Coba telusuri cek-cok dan pertikaian antar mazhab dalam Islam, masjid alih-laih jadi tempat reproduksi peradaban, sebaliknya, ia malah jadi tempat ajang kafir-mengkafirkan.

Bahkan dalam sejarah kekhalifahan Islam, masjid jadi tempat saling bantai membantai.

Tidak sepenuhnya negatif, saat masjid jadi salah satu pusat-pusat barak atau pertahanan ketika Islam melakukan ekspansi besar-besaran setelah sukses mengubah kawasan Arab menjadi pusat penyebaran Islam. Saat itu, meskipun terjadi pergeseran pola dakwah Islam dari dialog persuasif menjadi metoda ujung pedang, masjid tidak tergantikan sebagai penanda kekuatan Islam. Di mana-mana ketika Islam datang mewakili suatu keyakinan baru bagi kota-kota yang diekspansi, masjid segera dibangun dan menjadi simbol pendudukkan.

Mungkin saja, pola dakwah semacam itulah yang dipakai jamaah tertentu saat ini. Menguasai masjid menjadi cara strategis untuk menduduki suatu pemukiman. Tidak selamanya baik memang, dikarenakan paradigma dakwah yang dianut tidak jauh berbeda dengan suatu masa ketika agama-agama saling ekspor dan impor kepentingan lewat cara perang dengan berang. Perbedaannya hanya satu, kini perangnya berubah menjadi perang untuk meng-gol-kan kepentingan kelompoknya, alih-alih membangun perdamaian antara mazhab yang kadung direspon secara parsial dan negatif di negeri ini.

Masjid, kiwari bukan sekadar tempat suci yang terpaut dengan Tuhan saja, tidak saja dikooptasi oleh tujuan-tujuan politik belaka, tapi karena era berganti, juga ikut diseret-seret dan terperosok ke dalam pemujaan ekonomis. 

Sebagai suatu bangunan, masjid pada akhirnya tidak selamanya seperti dugaan banyak orang, menjadi tempat pemujaan Tuhan, tapi jadi kontruksi yang profan; ia dirancang di dalam suatu kebudaayaan, dipengaruhi perkembangan bentuk-bentuk arsitektur, dinilai untung ruginya, dan juga dipertimbangkan megah tidaknya. 

Di titik ini, masjid menjadi satu di antara deret-deretan bangunan di sekelilingnya; menjadi simbol kekayaan, simbol prestise, yang sudah tentu ia malah berubah menjadi simbol kelas tertentu.

Masjid, karena itu, dengan kata lain, tidak sepenuhnya menjadi ruang kudus dikarenakan sudah menjadi teater kebanggaan kelas masyarakat; jadi tempat pemujaan berhala-berhala kekayaan.

Itu sebabnya, masjid-masjid sekarang bisa dibilang terisolasi dari tujuannya sendiri. Ia megah di tengah-tengah kemiskinan. Tinggi menjulang di tengah-tengah keterpurukan kaum marginal. Ia pongah di balik suara spiritual yang sering dikumandangkannya. 

Atap-atap masjid dibentuk menjadi kerucut yang naik ke atas dalam arti sebagai simbol yang mewakili ketinggian jiwa luhur manusia. Di bangun menyerupai mangkuk terbalik dengan maksud mengayomi, menjadi payung teduh menandai ketinggian spiritualitas. Secara simbolik ia menyerupai misykat—ilustrasi al-Qur’an tentang ”mangkuk” dalam jiwa yang memancarkan cahaya ilahi.

Namun sayang, kubah-kubah masjid tidak sama sekali, atau lebih banyak tidak memberikan inspirasi bagi orang yang bersujud di bawahnya.

Orang-orang berdoa di bawahnya, sembari di lain kesempatan membuat dalil dan dalih untuk melegetimasi dan mencari pembenaran. Orang-orang korup, jumawa, sombong, dan penimpun, berbaur bersama si arif, si dermawan, orang-orang penyabar, orang tertindas, ke dalam satu saf yang sama, satu tempat sujud yang sama.

Tidak bisa ditampik saat doa jadi dalih, permohonan jadi desakan, dan aniaya jadi tangisan kepada yang Maha Gaib, mereka merasakan dekat dengan Tuhannya, tapi tidak sedikit di antara itu, sebagiannya sedang  memutus hubungan dengan lingkungannya, teman-temannya, saudara-saudaranya.

Sesungguhnya dihitung lalai salatnya jika ia masih melihat keluarga miskin, anak-anak putus sekolah, orang tua renta, anak-anak kekurangan gizi, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, tanpa simpati, apalagi empati. Tanpa keberpihakan kepada mustad’afin, dan golongan yang dilemahkan dan dipinggirkan.

Di masa pandemi ini, masjid tidak seheroik saat Nabi menjadikannya sebagai simbol keperpihakan umat. Kini ia jadi bangunan bisu dan dingin. Kiwari, mana ada masjid yang berubah jadi barak-barak bantuan, jadi pusat-pusat bantuan kemanusiaan?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...