26 Mei 2020

Nama-nama yang Mesti Dikenang di Hari Pendidikan Nasional


Di hari pendidikan ini, ingin saya tulis nama-nama guru-guru yang telah berjasa bagi pendidikan saya selama ini. Tentu tidak semua dikarenakan tidak semua guru membuat kesan kuat dalam ingatan saya:
  1. Guru dan wali kelas SD kelas 1. Bertahun-tahun setelah saya dewasa, saya kesulitan mengingat nama-nama guru terutama saat duduk di bangku sekolah dasar tahap awal. Nama wali kelas saat itu juga tidak saya ingat, apalagi wajahnya. Mungkin, suka duka para guru-guru SD terutama di kelas-kelas awal, adalah betapa sulitnya mereka diingat oleh murid-muridnya kelak. Meskipun demikian, merekalah para pelopor pendidikan di periode awal pertumbuhan seorang anak. Tanpa mereka apa jadinya kita ini.
  2. Ibu Bene dan Ibu Mince. Dua nama ini paling saya ingat selain Ibu Jum, guru agama saya saat bersekolah di SD N 1 Bonipoi Kupang, NTT. Ibu Bene adalah wali kelas saat saya duduk di kelas 6, dan Ibu Mince merupakah guru olahraga sekolah yang berpenampilan tegas, bersuara lantang, dan tomboi. Ibu Bene guru yang baik, dan sulit saya lupakan jika ia bermuka ketus mengembalikan buku pekerjaan tugas saya pasca ia memeriksanya. Ibu Mince, seperti saya bilang, suaranya lantang dan memotong pendek rambutnya menyerupai laki-laki. Untuk ukuran saat itu, Ibu Mince tergolong guru yang ”galak”. Naik ke SMP, saya hanya berhasil menyelamatkan beberapa nama-nama guru. Saya menjalani satu tahun sekolah menengah pertama di kota Kupang. Kerusuhan 98 di Kupang membuat bapak mengambil langkah pulang kampung ke Bulukumba (bandingkan dengan pengertian mudik yang sempat heboh itu). Praktis sejak saat itu saya pindah sekolah, menemukan kehidupan baru, dan juga guru-guru baru.
  3. Ibu Syarwana. Belio saya ingat karena dialah guru bahasa daerah saat saya menjadi murid baru di SMPN 2 Bulukumba.  Saya selalu kesusahan mengikuti pelajarannya untuk mengingat huruf-huruf asing yang kelak saya tahu sebagai aksara bugis. Belio saat itu sudah lumayan tua, dan mungkin mendekati masa pensiunnya. Ketika sering saya mendengar anak-anak muda Bugis yang tidak mengetahui aksara lokalnya, terlintas Ibu Syarwana ini.
  4. Pak Nurdin dan Pak Syahrir. Dua guru ini saya ingat karena hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran berbau teknis. Pak Nurdin guru teknik saat saya duduk di kelas 3, yang memperkenalkan kami kepada benda-benda kecil bernama transistor dan sejenisnya. Ia suka menggambar garis-garis pendek berbentuk seperti denah rumah yang dalam ilmu teknik elektro sebagai rangkaian listrik. Belio ini tergolong guru yang sering membuat kami takut, apalagi jika belio yang mengambil alih urusan yang berhubungan dengan murid-murid nakal. Pak Syahrir guru muatan lokal kami yang sering membawa kami keluar kelas di halaman sekolah untuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh berantakan. Kadang kami harus mencangkul, mengecat pagar, sampai merapikan penataan bunga-bunga sebagai  bagian dari mata pelajarannya.
  5. Guru-guru yang hanya saya ingat wajahnya tapi tidak (lagi) namanya. Pertama guru pendidikan kewarganegaran, seorang ibu bertubuh pendek saja, yang ternyata nenek dari seorang teman bernama Adi Zulhikam. Adi penggemar Jamrud, band rock yang sedang naik daun saat itu, dan memiliki ruas-ruas goresan silet di lengannya yang selalu ia sembunyikan dari guru-guru. Kedua, dua orang ibu guru Matematika dan bahasa Indonesia di kelas tiga. Seorang bapak guru fisika, dan bapak guru mata pelajaran kewarganegaraan.
  6. Seharusnya guru-guru semasa SMA jauh lebih mudah diingat karena masih dekat dengan kehidupan kita saat ini. Tapi apa bloeh buat, saya adalah orang dengan kemampuan ingatan yang buruk. Berikut nama-nama guru di tingkat pendidikan yang disebut-sebut paling indah itu: Ibu Harwati dan Pak Djabar. Yang pertama adalah wali kelas saya ketika kelas 1 empat. Belio ini suka berkomentar lucu-lucu dan mengampu pelajaran fisika. Suami belio guru bahasa indonesia bernama Pak Djabar. Ya mereka berdua pasangan suami istri, dan keduanya merupakan om dan tante saya. Berturut-turut Ibu Hartanti, guru bahasa Inggris yang lumayan judes, ibu Ragwan yang sering dipanggil Ibu Rage dan sering mengeluarkan humor lucu saat mengajar, guru agama. Ibu Darmawati guru PPKN, Pak Karim, Pak Safar, guru sejarah dan guru olahraga. Pak Yasin guru BP. Belio ini salah satu guru angker di sekolah kami. Dia pernah memiting kakak kelas mirip dipertandingan smackdown. Pak Hadis guru geografi, dan… sampai di sini saya mulai lupa nama-nama dan hanya mampu mengingat muka-muka tulus guru-guru saya mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Mereka semua ikut andil dalam membentuk paras pendidikan saya.

 Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020

25 Mei 2020

Riwayat Kepunahan Sapiens: Dari Wadah menjadi Wabah



Creation of Ai


SEJARAH makhluk hidup berupa hewan purba yang sering saya lihat melalui layar kaca lebih satu dekade lalu, memperlihatkan bahwa hewan-hewan bertubuh besar, punah oleh benda-benda raksasa.

Sekitar dua ratus juta tahun lalu, batu-batu panas berukuran raksasa turun seperti hujan, dan  membuat kelompok hewan eksotik bernama dinosaurus seketika punah. Saat itu setengah isi bumi meleleh, dan sisanya tenggelam sekaligus membentuk gugusan pulau-pulau baru.

Sekarang, hujan batu-batu itu sering diabadikan dan dipertontonkan untuk mengingatkan, kelak peristiwa yang sama akan juga kita alami.

Di saat malam hari, kadang peristiwa hujan batu yang lain membuat orang melayangkan doa seolah-olah benda itu jatuh dapat mengubah jalan hidup seseorang.

Di lain waktu, bintang jatuh meninggalkan ekor panjang berwarna orange, sehingga banyak orang menganggap kejadian itu sebagai pengalaman yang mengagumkan.

Di balik kekaguman kita terhadap benda angkasa berukuran jumbo yang bisa melayang itu, justru banyak kehidupan benda-benda superkecil yang tidak kalah mengagumkan.

Di atas punggung kerbau  di sawah, siapa menduga hidup ratusan kutu yang kerap jadi sasaran burung pemangsa. Di sudut-sudut rumah dan di bawahnya, bisa jadi hidup koloni semut berbaris panjang berpusat sampai kepada ratunya. Di sela-sela almari, siapa pernah memerhatikan, hidup bersembunyi ribuan rayap yang menggerogoti pagina buku seperti orang kelaparan.

Siapa juga bakal menyadari, di kaki kaki atau tubuh lalat, hidup hewan kecil bernama tungau yang menumpang pula di beberapa jenis kumbang. Jauh di bawah tanah, lebih kecil dari semut dan rayap,  hidup mikroorganisme yang dijuluki ”hewan pertama” bernama protozoa, yang juga banyak hidup di dalam air.

Hewan-hewan ”mini” ini hidup tanpa sekalipun kita sadari keberadaannya.  Meraka dianggap tidak signifikan bagi kehdupan manusia. Meski demikian, mereka bergerak dalam jumlah jutaan di hampir semua permukaan bumi, dan sebagiannya melayang-layang bebas di udara.

Belakangan, ketika ilmu pengetahuan semakin maju, dan alat indera buatan semakin mutakhir, ditemukan kehidupan lain jauh lebih spektakuler dari hewan-hewan mini di atas.

Hewan supermini ini, tidak bisa lagi diderivasi kedalam taksonomi kehidupan hewan. Bahkan oleh para ilmuwan, keberadaan kategori makhluk ini berada pada jenjang batas antara hidup atau mati. Ia sulit dikatakan makhluk hidup, tapi tidak bisa juga disebut benda mati.  

Dengan alat khusus yang menciptakan cahaya untuk melihatnya, para ahli baru pertama kali ”menemukannya” dua abad lalu. Mereka bersepakat makhluk ini disebut dengan sebutan virus.

Melalui alat-alat canggih, kehidupan makhluk hidup supernano ini dicari tahu dan ditelisik lebih jauh. Apakah mereka berjenis kelamin? Apakah mereka beranak pinak? apakah mereka makan dan minum? Apakah mereka berusia panjang? Apakah mereka bisa dikendalikan?

Seperti juga hewan-hewan mini lainnya, virus hidup berpindah-pindah dalam satuan dengan jumlah besar. Bermigrasi dengan cara mereplika dirinya dari satu wadah ke wadah lain sebagai inangnya. Dari tumbuhan ke tumbuhan, dari binatang ke binatang, dan bahkan, tanpa dirasakan tidak sedikit yang hidup berpindah-pindah dari satu tubuh manusia ke tubuh manusia lainnya.

Pernah pada suatu alaf sejarah kehidupan umat manusia, masyarakat hidup berbaur dengan kepercayaan takhayul, dan menganggap penyakit sebagai respon tubuh atas gangguan roh jahat. Demam, atau cacar, misalnya, saat itu akan dianggap sebagai tanda tubuh sedang didiami makhluk jahat yang berniat memberikan pelajaran terhadap suatu komunitas.

Sekarang,   tidak semua tubuh demam bagian dari interaksi tubuh dengan alam gaib. Dibantu alat teknologi medis, umat manusia sudah memiliki jenis pengetahuan yang lebih maju dari dua atau tiga abad lalu, sehingga bukan lagi gangguan makhluk halus manusia mengalami kelainan panas tubuh. 

Ternyata demam menjadi tanda bagi tubuh yang telah menjadi wadah bagi kehidupan makhluk supernano bernama virus ini, yang berkemampuan merusak sistem daya tahan tubuh manusia.

Daya serang makhluk supernano ini, meskipun berwujud sangat kecil, sampai hari ini telah mencatat sejarah panjang mengenai wabah yang mengguncang kehidupan umat manusia. Flu Spanyol, Cacar, Campak, Sampar, HIV AIDS, Ebola, dan kini Covid-19 adalah nama-nama penyakit hasil dari daya dobrak virus superkecil itu.

Dari satu jenis penyakit ke jenis penyakit lainnya, virus ini juga berevolusi melewati seleksi alam, bergerak meningkatkan kualitas eksistensinya, bergerak dari satu wadah ke wadah lainnya.
Dan, jika mereka menemukan wadah terbaik, tanpa persetubuhan, bukan dengan kesadaran, tidak juga dengan menggunakan organ lainnya, apalagi memanfaatkan sel yang mustahil mereka miliki, cukup ”mereplika” diri dari satu inang protein, mampu berlipat ganda menghasilkan wabah berkepanjangan.   

Antara wabah dan wadah, di abad 21 kini, di dalam tubuh inangnya,  ia bermutasi di antara kesenyapan suara dan gemerlap ingar bingar lampu-lampu gedung pencakar langit, di antara migrasi tubuh manusia dan hilir mudik transportasi super  jet,  di antara keheningan rumah-rumah ibadah dan dentuman musik diskotik, di antara kaki-kaki penjual pedagang kali lima hingga ruangan dingin pejabat negara.

Ia hidup dan bertahan di antara gerak super cepat peradaban, mati atau tidak,  selama ia mendiami satu inang, toh ia memiliki kemampuan bertahan yang spektakuler, jauh di ujung mata peradaban.  Tepat jika ia dikatakan oleh para ahli virologi sebagai makhluk ”organisme di ujung kehidupan”.  Sesuatu yang jauh di belakang kehidupan manusia. Ada, tapi tidak sama sekali diketahui pasti.

Syahdan, jika  ratusan juta tahun lalu  hewan-hewan raksasa punah karena benda-benda berukuran besar,  kelak dan mungkin kini, umat manusia, bakal punah hanya karena ”sentuhan kecil” makhluk supermini ini.

===

Sudah dimuat di Dialektikareview.org dengan judul Dari Wabah ke Wadah Manusia dan Riwayat Kepunahannya 


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...