23 Desember 2019

Agnes, Bissu, dan Rezim Pengetahuan




Seorang Bissu sedang
melakukan ritual adat lengkap
menggunakan pakaian adatnya



DI BULUKUMBA, Agnes menjadi nama favorit di lingkungan waria. Sudah menjadi kebiasan para waria mencantol nama-nama artis beken sebagai tanda ”hijrah” mereka.

”Hijrah” di lingkungan waria bukan penanda perubahan di bidang agama, melainkan fenomena khas para waria ketika memilih hidup atau berpenampilan perempuan dengan mengubah identitas sehari-hari menggunakan nama-nama perempuan. Kebetulan, demi sensasi, nama-nama artis diambil sebagai pilihannya.

Selain Agnes, jangan tertawakan jika Anda menemukan seorang waria bernama Santi, atau nama-nama semisal Bela, Syahrini, Claudia, atau bahkan Manohara, sementara tak satupun paras mereka menyerupai artis bersangkutan.

Pemilihan nama ini bukan tanpa sebab. Kadang dipilih berdasarkan ketenaran artis terkait. Manohara misalnya, banyak dipilih berkat pernah mengguncang dunia hiburan. Selain cantik, Manohara dipandang mewakili sisi ”seksi” yang kerap menjadi tingkah dandan para waria.

Agnes, saya duga menjadi beken dipakai para waria setelah dia sukses membintangi Pernikahan Dini, sinetron kisaran tahun 2000-an dibintangi bersama artis awet muda, Sahrul. Sebab lain Agnes dipakai sebagai nama pergaulan para waria, karena Agnes artis segudang prestasi yang cukup mewakili spirit ”pemberontakan” kaum waria.

Umumnya di Bulukumba, waria lahir dari keluarga kelas bawah. Jadi bisa dipahami mengapa Agnes dipilih mewakili nama mereka. Kecenderungan jiwa feminin dalam diri waria sulit dimengerti komunitas terdekat mereka, yakni keluarga. Itulah sebabnya, sebelum hijrah tidak sedikit waria mengalami konflik dalam lingkungan mereka sendiri. Dalam konteks ini keadaan demikian sudah bisa menjelaskan pemberontakan apa yang dilakukan para waria ketika memilih meninggalkan keluarga dan memulai hidup mandiri bersama komunitas mereka.

Di dunia waria, terkhusus di Bulukumba, para waria mengembangkan pola hidup khas. Mereka menciptakan komunitas mandiri. Menciptakan dan menggunakan bahasa pergaulan sendiri yang unik dan terdengar aneh. Bekerja membuka salon-salon. Bekerja menjadi tukang make-up perkawinan, sering menjadi biduan di panggung-panggung pernikahan, dan tidak jarang menjadi ”kupu-kupu” malam.

Pola kehidupan di atas pelan tapi pasti menjadi kebudayaan tersendiri. Sebagai kaum marginal, pola ini secara tidak langsung menciptakan keadaan psikologi yang kokoh berkat saling menopang satu sama lain. Mereka sering terlihat saling mengunjungi berkumpul bersama di hari-hari tertentu. Sesekali mereka menggelar  festival sendiri sebagai ajang sosialisasi. Keadaan ini mendorong suatu eksosistem dan strategi adaptasi bagi kaum waria menghadapi stigma buruk di masyarakat.

Dalam konteks sosial, waria sering mendapatkan perundungan. Di Bulukumba, mereka dianggap sumber tulah. Nasib sial bakal dialami seseorang ketika bergaul bersama waria. Mereka sering dipandang jijik dan rendah bagi sebagian orang.

Tapi, pernah ada masa bagi sebagian anak muda SMA memiliki hubungan khusus dengan seorang waria. Bagi anak SMA semacam ini waria tidak sama sekali berbahaya. Mereka malah dianggap sebagai pihak yang mendatangkan untung. Itulah sebab, sering kali para waria di Bulukumba memiliki ”anak kesayangan” yang ia perhatikan layaknya seorang kekasih.

Bagi anak SMA yang ”berpacaran” dengan seorang waria, perhatian dari mereka sering ditranformasikan menjadi keuntungan membeli barang-barang dan diberikan uang saku.

Sekarang, dari amatan sederhana saya, apa yang saya tuliskan di atas nampak sedikit banyak berubah. Terutama ketika Bulukumba mencanangkan perda syariat Islam beberapa dekade lalu--mengakibatkan tidak ada lagi panggung ”elekton” yang dinyanyikan biduan waria.

Apalagi seiring diberlakukan perda Islam, Bulukumba menjadi lahan subur pertumbuhan kelompok Islam tertentu yang memiliki pandangan kemanusiaan monolitik mendeskreditkan keberadaan mereka.

Di tambah lagi, ada beberapa spot publik di Bulukumba yang berubah yang otomatis mengubah pola interaksi dan pergaulan para waria. Di tempat-tempat yang dahulu banyak ditemukan waria, sekarang berubah menjadi ruang publik yang lebih terbuka dan sepi.

Toh sekarang, ketika banyak anak-anak muda mencari penghidupan menjadi penata rias profesional—lengkap dengan alat make up berharga mahal, kursus kecantikan, seminar, dan komunitas penata rias—mempengaruhi ladang pencarian para waria yang lebih dahulu bekerja sebagai penata rias. Praktis pengaruh ini ikut menyudutkan waria hanya menjadi pekerja salon sebagai tukang cukur belaka.



DALAM arena sastra, eksistensi perempuan bertubuh lelaki apik dinarasikan Pepy Al Bayqunie melalui Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki. Novel ini mengetengahkan pergolakan batin seorang bissu bernama Saidi. Ia sejak kecil mengalami transformasi pergolakan batin akibat tersisihkan dari keramaian masyarakat. Dari mata agama dan kehidupan sehari-hari, Saidi menjadi sosok terbelah. Ia terasing dan merasa tidak berharga sebagai manusia.

Identitas gender yang mendua, membuat Saidi tersingkir dari lingkungan terdekatnya. Ia tertolak dari lingkungan keluarga, dikecam agama, dan dihardik masyarakat. Saidi, dalam kisahnya bakal bertemu komunitas calabai, yang akan memberikannya warna dan identitas baru sebagai seorang bissu.

Faisal Oddang  melalui Sawerigading Datang dari Laut, sedikit banyak mengangkat eksistensi kaum minoritas tidak terkecuali bissu yang mulai kehilangan panggung di masyarakat. Di bawah judul Jangan Tanyakan Tentang Mereka yang Memotong Lidahku, Oddang mengangkat kisah percintaan dan pengkhianatan di antara dua bissu bernama Aku dan Upe.

Yang membuat cerpen ini berbeda dari kisah percintaan umumnya –suka sama suka antara bissu adalah tabu dan terlarang—adalah latar belakang sejarah Sulawesi Selatan ketika setelah era 50-an. Di masa itu terjadi ”pemberontakan” PKI dan bissu menjadi kaum minoritas ikut terseret pembantaian massal masa itu.

Bissu di cerita itu, walaupun memiliki kedudukan khusus dalam masyarakat Bugis kuno, tiba-tiba menerima kenyataan berbeda setelah rezim masyarakat berganti.  Aku dan Upe di cerpen itu dikisahkan menjadi korban dari narasi kekerasan berbasis negara.  Mereka dinilai kaum tidak beragama dan merupakan bagian dari golongan komunisme.

Bissu adalah sekaum padri ”keagamaan” dalam tradisi lokal Bugis kuno yang memiliki tugas khusus di masa kerajaan Sulawesi Selatan.  Bissu diyakini suci dan mampu ”membaca” pesan langit yang berasal dari Dewata. Di masa kerajaan, bissu bertugas melayani raja sebagai penasihat yang dimintai pandangan ketika raja mengambil keputusan. Karena fungsinya ini bissu bukanlah orang sembarangan, dan memiliki prosesi khusus bagi seseorang saat terpilih menjadi bissu.

Bissu adalah gender kelima dalam kebudayaan Bugis kuno. Bissu bukan laki-laki (urane), dan bukan pula perempuan (makunrai). Bissu juga bukan laki-laki berperawakan perempuan (calabai), atau sebaliknya perempuan berperawakan laki-laki (calalai). Bissu walaupun memiliki kemiripan dengan calabai, ia tetap memiliki perbedaan khusus dengannya.

Bissu bukanlah waria walaupun sekilas mirip. Berbeda dari waria kerap berbusana rias mencolok, bissu memiliki busana khusus yang khas saat upacara-upacara adat.

Sharyn Graham menulis esai menarik mengenai pengalamannya mengikuti upacara adat seorang calon jamaah haji dipimpin bissu. Dalam esai berjudul Sulawesi's Fifth Gender (2007), ia menulis walaupun Ibu Qadri beragama Islam, ia masih mengikuti kebiasaan lokal melakukan upacara mengambil berkat di sebuah goa. Dalam esai itu, upacara adat yang diperuntukan bagi kepergian haji ibu Qadri bukan dipimpin seorang ulama atau kiai, tapi malah sekelompok bissu.

Kini eksistensi bissu tidak lebih dari sisa-sisa peninggalan kebudayaan Bugis kuno. Fungsinya hanya merawat benda-benda pusaka peninggalan kerajaan di rumah khusus penyimpanan. Mereka di mata umum, tidak jauh berbeda dari kaum waria. Sering dicibir  dan didesas-desuskan sebagai biang kerok nasib buruk dan orang musyrik. 



BAIK waria maupun bissu adalah korban pertautan rezim pengetahuan dan kekuasaan.  Adalah Michele Foucault yang menemukan bahwa di balik pengetahuan  menyangkut wacana terpatri praktik kekuasaan di dalamnya. Atau dengan kata lain, setiap wacana pengetahuan (ilmiah/diskursus) adalah bentuk dari beroperasinya kekuasaan.

Hubungan ini diteliti Foucault merentang jauh di belakang  di era sebelum abad pencerahan. Ia mendaku setiap era ataupun setiap zaman memiliki sistem berpikir sendiri yang disebutnya episteme.

Episteme inilah yang bakal menentukan cara berpikir masyarakat walaupun dihadapkan kepada kasus yang sama. Menurut  Foucault, lantaran tiap zaman mempunyai dasar sistem engetahun yang berbeda, maka kebenaran di tiap zaman adalah unik dan tidak memiliki kesamaan dengan zamanya.

Sebagai pakar sejarah, penelitian Foucault menemukan ekses negatif dari relasi pengetahuan dan kekuasaan. Ekses negatif ini berupa pembelahan sistem pengetahuan mengenai apa yang benar dan yang salah, apa yang normal dan tidak normal, dan apa yang sehat dan yang sakit menurut rezim wacana kekuasaan saat itu. Dalam tinjuannya, pemilahan ini bukan berarti tanpa tendensi selain dalam rangka mengokohkan rezim kekuasaan saat itu. 

Kekuasaan menurut Foucault bersifat produktif dan positif alih-alih negatif, menekan, dan menindas. Artinya, karena wujud kekuasaan tidak nampak, ia tidak bisa dipahami serta merta dirasakan. Padahal menurut Foucault kekuasaan melalui rezim pengetahuan bekerja melalui mekanisme kontrol dan pendisplinan tubuh.

Itu artinya, ketika Foucault turut berbicara seksualitas dan kekuasaan, ikut di dalamnya pula rezim wacana yang memproduksi pengetahuan mengenai apa atau siapa yang normal dan tidak normal, siapa yang sehat dan tidak sehat, dan siapa yang benar dan tidak benar.

Kategori pengetahuan macam demikian dapat dilihat ke dalam bidang yang lebih luas semisal bagaimana ilmu psikiatri mendefenisikan mental yang mengubah penanganan orang gila. Defenisi penyakit menurut dunia kedokteran mengubah pendekatan manusia terhadap pasien dengan isolasi, pengasingan, dan mengubah kelekatan sosial. 

Konsep sekolah mengubah arti terpelajar tidak terpelajar. Konsep kesehatan mengubah makna tubuh, konsep kecantikan mengubah dan menghadirkan salon, pola makan, diet, dan kursus olahraga. Defenisi agama mengubah makna perbedaan, iman, kafir, dan melahirkan taklid buta.

Sebagaimana penelusuran Foucault menyangkut praktik seksualitas di abad pertengahan, waria atau bissu  juga diketengahkan di dalam formasi wacana sebagai kaum yang layak dilecehkan, diisolasi, dan dibiarkan tanpa ada hubungan interaksi. Mereka menjadi golongan dilabelisasi berdasarkan defenisi-defenisi yang diberikan kekuasaan atasnya. 

Konsep seksualitas dan keimanan yang  secara monolitik hasil diskursus kekuasaan, menjadi cara pandang masyarakat di dalam menerima kehadiran mereka. Intinya, kelompok waria ataupun bissu, sulit keluar dari objektivikasi kekuasaan. Mereka senantiasa dipandang rendah, menyimpang, dan layak dikendalikan. Mereka tidak akan pernah diberlakukan layaknya manusia, yang punya hak sama seperti golongan masyarakat lain.


--sudah tayang di Kalaliterasi.com

16 Desember 2019

Teori Sosial Animal Farm


Judul : Animal Farm
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi: Pertama,Pertama,  Januari 2015
Tebal: 140 halaman
ISBN: 978-602-291-070-1



BINATANG Inggris, binatang Irlandia
Binatang di setiap negeri dan musim
Dengarkan kabar gembiraku
Tentang masa keemasan di hari mendatang

Cepat atau lambat saatnya akan tiba
Tirani manusia akan ditumbangkan
Dan ladang subur Inggris
Akan ditapaki oleh binatang saja

Kutipan lagu perlawanan di atas datang dari mimpi si Mayor, si babi Putih-Tengah Terhormat dalam novel klasik Animal Farm, karangan George Orwell. Si babi Mayor adalah pimpinan sekawanan binatang peternakan Manor milik Pak Jones yang meletupkan api revolusi demi melawan penindasan manusia.

Dalam pidato politiknya, si Babi Mayor menyebarkan propaganda kepada para binatang peternakan Manor, sekaligus menyampaikan mimpi dan pesan terakhirnya sebelum wafat.

Isi pidatonya mencengangkan! Ia, walaupun babi, pandai berargumen dan beretorika. Para binatang semula tidak menyadari keadaan apa-apa, seketika bergemuruh meneriakkan yel-yel pemberontakan. Di ujung pidato politik itulah, si Mayor memperdengarkan dan mengajarkan lagu di atas.

Di sesi pembukaan novel ini, pembaca akan menangkap kelugasaan maksud Orwell. Ini adalah novel satir. Orwell menggunakan karakter binatang demi menyindir tabiat manusia.

Bebauan politik demikian menyengat ketika kisah dibuka dengan orasi politik si babi Mayor. Politik, seperti isi pidato si babi Mayor, digambarkan Orwell sebagai wahana pendongrak kesadaran. Tanpa diduga-duga isi mimpi si Mayor mampu mengubah keadaan peternakan semula adem ayem menjadi penuh prasangka, saling curiga, dan saling serang, terutama kepada umat manusia.

Animal Farm dengan kata lain merupakan fabel politik yang sampai sekarang masih dibaca banyak orang, dan relevan diketengahkan. Cerita olok-olok Orwell kepada politik kekuasaan memperlihatkan tabiat manusia ibarat permainan. Ketika bersinggungan dengan kekuasaan, karakter manusia demikian mudah berubah-ubah sesuai kepentingan iklim politik.  

Dalam Animal Farm, akibat pidato Mayor si inspirator pemberontakan, peternakan berubah menjadi bukan seperti peternakan biasa. Di dalamnya agenda-agenda perlawanan disusun dan direncakan. Suatu kehidupan dengan suhu tinggi politik sedang berlangsung—yang tidak diketahui si pemilik peternakan, Tuan Jones.

Kelak pasca si Mayor wafat, imbauan politiknya dipatenkan jadi ajaran disebut binatangisme. Oleh babi pelanjut bernama Snowball dan Napoleon, binatangisme diaplikasikan menjadi paradigma kehidupan binatang. Inti ajaran ini berbunyi: ”semua mahluk berkaki empat dan bersayap adalah kawan. Semua mahluk berkaki dua adalah musuh”.

Tepat di bagian cerita ini, agaknya Orwell implisit menyitir ideologi komunisme. Lebih tepatnya Orwell sedang berkisah jalan cerita ideologi komunisme dari peralihan pemikiran Marx menjadi ajaran marxisme. Dari Uni Soviet berdiri hingga runtuh kembali.

Menariknya, tidak sekadar menjadi ajaran perlawanan, marxisme seolah-olah jatuh menjadi semata-mata dogma. Dari figur babi Snowball dan Napoleon, marxisme diejek hanya sekadar ambisi kekuasaan semata—seperti kelakuan Snowball dan Napoleon yang kelak memberikan penafsiran baku dan tunggal atas imbauan si Mayor (Ibarat Lenin dan kelak Stalin yang menafsirkan pikiran Marx semata-mata menurut mereka).

Walaupun begitu, terbuka kemungkinan Orwell tidak sekadar menyinggung-nyinggung komunisme. Anasir perubahan dari semangat pembebasan penindasan menjadi nafsu birokratisme juga banyak dialami ideologi-ideologi dunia.

Dengan kata lain, Animal Farm banyak menunjukkan ideologi apa pun bakal berubah dari bermaksud luhur menjadi kubur selama dikuasai dan dijalankan pribadi-pribadi seperti Snowball dan si Napoleon.

Peternakan Manor diisi beragam jenis karakter binatang. Selain pimpinan si babi Mayor, berturut-turut yang ada tiga ekor anjing bernama Bluebell, Jessie, dan Pitcher, sekumpulan babi-babi, burung dara, sekelompok ayam, dua kuda penarik kereta bernama Boxer dan Clover, Mauriel dan Benjamin, seekor kambing putih dan seekor keledai. Si kucing pemalas, seekor itik, Molie, si tolol, biri-biri, sapi, dan terakhir seekor gagak bernama Moses.

Bukan tanpa maksud Orwell menggunakan binatang demi meunjukkan gerak-gerik manusia. Karena ini adalah fabel, Orwell mengimposisikan karakter Animal Farm tidak sebatas corong cerita. Lebih jauh lagi adalah bagaimana Orwell bertindak ibarat sosiolog dalam membahas hirarki kekuasaan dalam masyarakat.

Tarik menarik kelas masyarakat

Kelas dalam khasanah ilmu sosiologi menjadi terma bersaing ketika dibicarakan dalam diskursus struktual fungsional dan struktural konflik. Dua paradigma ini memiliki perspektif  sama-sama khas mendudukkan posisi kelas masyarakat.

Paradigma struktural fungsional mengandaikan kelas sosial hasil alamiah  dari perbedaan posisi dan peran individu dalam masyarakat. Setiap individu akan menemukan peran dan posisinya seiring interaksinya di tengah kehidupan sosial.

Kekuatan sosial berupa modal ekonomi, pendidikan, budaya, dan simbolik menjadi faktor determinan pembentuk kelas masyarakat. Itu artinya, posisi seseorang dalam hirarki masyarakat tidak terlepas dari usahanya dalam mengelola sejumlah modal sosial di atas. Perbedaan strategi mengelola modal sosial inilah secara alami menimbulkan tingkatan sosial masyarakat.

Berbeda dari struktural fungsional, menurut struktur konflik kelas masyarakat justru terjadi karena intervensi kekuasaan. Bagi paradigma ini, kelas terjadi akibat dominasi golongan tertentu mengusai sejumlah modal sosial. Bahkan, kelas diciptakan demi melanggengkan kekuasaan kelas dominan atas kelas subordinat. Semakin banyak suatu golongan menguasi modal sosial, semakin berjenjang pula stratifikasi masyarakat terbentuk.

Kehidupan para binatang di peternakan Manor dimungkinkan dibaca melalui dua paradigma di atas. Bahkan, cerita gencatan senjata melawan pemilik peternakan dapat ditelusuri dari kedua paradigma ini, terkhusus paradigma konflik.

Semula, kehidupan para binatang peternakan Jones baik-baik saja, tapi berubah seketika saat si babi tua Mayor menyerukan kesadaran kelas. Keadaan sosial kehidupan para binatang semula harmonis. Setiap binatang bekerja berdasarkan peran masing-masing.

Menurut paradigma struktural fungsional, kehidupan peternakan Manor sudah mencapai apa yang diistilahkan sebagai titik keseimbangan (equiblirium). Keharmonisan ini bertahan lama sampai datang si Mayor mengutarakan isi mimpi dan pidato politiknya.

Dari tilikan paradigma konflik, peristiwa ini menandai suatu keadaan disebut sebagai kesadaran palsu. Keharmonisan hanyalah dalih kelas penguasa untuk melanggengkan status quo. Dalil ini walaupun diciptakan melalui prinsip-prinsip kerja sama, demokratis, dan keadilan, tidak serta merta dapat menutupi hakikat kenyataan sebenarnya, yang dalam paradigma konflik merupakan kontradiksi sistem kasta masyarakat.

Isi pidato si Mayor kian cepat mengubah stuktur kesadaran seluruh binatang peternakan. Kesadaran para binatang yang semula naif dinaikkan tarafnya menjadi kritis berkat orasi politik si babi tua Mayor.

Akhirnya, mereka menemukan makna baru dari realitas kehidupan mereka. Kenyataan yang selama ini dijalani tidak sesederhana apa yang mereka bayangkan. Di balik kenyamanan mereka sebagai hewan ternak sekonyong-konyong diartikan bagian penindasan tuan manusia pemilik peternakan.


--
Pos sebelumnya di komunitaslemolemo.blogspot.com


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...