31 Oktober 2018

Tauhid dan Tuhan-Tuhan Jauh


Ibnu Arabi dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. 
Dikenal dengan konsep Wihdatul Wujud



TAUHID. Alkisah, di bukit Sinai, di semak-semak yang menyala, Tuhan menghadirkan dirinya di hadapan Musa. Tuhan yang ia saksikan kemudian memerintahkan Musa menghadapi Firaun untuk membebaskan bangsa Israel dari raja yang zalim itu.

 

Lalu, Musa bertanya, ”dengan nama apakah Engkau disebut?”

 

Dalam Bibel Tuhan berucap: ”Ehyeh asyer Ehyeh.”

 

”Aku adalah Aku.”

 

Kemudian Musa diingatkan agar jangan sekali-kali bertanya tentang diri Tuhan. Dia adalah Dia. Zat yang hanya diketahui diri-Nya sendiri.

 

Disebutkan ketika Musa ingin melihat wajah Tuhan, sekali lagi ia diperingatkan: ”Engkau tidak bisa memandang wajah-Ku, karena tidak ada yang bisa memandang wajah-Ku dan bisa hidup.”

 

Di kisah itu, ketika Musa dipaksa umatnya agar Tuhan menampakkan diri-Nya, gunung tempat Tuhan menunjukkan dirinya hancur lebur. Musa terperanjat, gemetar ia dan seketika pingsan.

 

Tuhan, yang maha perkasa di peristiwa itu membuktikan: ”Tak ada yang bisa memandang diri-Ku.”

 

Ibn Arabi, ahli gnostik dan tasawuf mengecam orang-orang yang melanggar suatu kaidah pikiran yang disebut al-khawdl (pikiran spekulatif dan serampangan) tentang Tuhan. Tuhan biar bagaimana pun usaha agar mengetahuinya adalah sesuatu yang mustahil. Usaha yang sia-sia belaka.

 

Dengan kata lain, Tuhan bukanlah konsep yang sanggup dibatasi pikiran.

 

Tuhan dalam pemikiran Ibn Arabi disebut ”al illah al haq”, Tuhan yang Sebenarnya. Tuhan yang misterium. “Al illah al Majhul”, Tuhan yang Tak Dapat Diketahui.

 

Melalui Al-Qur'an surat Al-Syurah ayat 11, Dia dikatakan ”Tidak sesuatu pun serupa dengan-Nya”.

 

”Penglihatan tidak dapat mempersepsi-Nya, tapi Dia mempersepsi semua penglihatan”. Begitu dalam Al-An'am ayat 103.

 

Lalu, yang bagaimanakah tauhid itu? Suatu tonggak pikiran yang mempersepsi Tuhan?

 

Bagaimanakah Tuhan dalam kalimat yang seringkali dilafaskan: la ilaha ilallah...

 

Jangan-jangan, tuhan yang selama ini diketahui adalah jenis tuhan dalam "la ilaha". Jenis tuhan yang dilarang dan kalau perlu dienyahkan. Jenis tuhan yang dikatakan ”tidak ada tuhan” seperti persepsi kita, tangkapan kita, kemauan kita. Bahkan mungkin kepentingan kita.

 

Tuhan yang dilarang, kata Ibn Arabi adalah tuhan dalam pikiran. Tuhan yang dibatasi berdasarkan pemahaman manusia. Tuhan yang diciptakan makhluknya.

 

Dalam teori atheis, Ludwig Feuerbach, seorang filsuf cum antropolog Jerman menyebut tuhan pikiran sebagai realisasi harapan tertekan dari manusia.

 

Tuhan dengan kata lain, hanyalah proses rekayasa imajinatif manusia untuk menutupi keterbatasan dirinya. Suatu proyeksi pikirannya sendiri.

 

Kalau demikian siapakah yang dibela selama ini? Bisa jadi Dia yang maha besar, Dia yang maha tak bisa diwakili dalam defenisi apapun, pada akhirnya berubah menjadi tuhan-tuhan pikiran. Tuhan-tuhan konsep. Sesuatu yang belakangan dibela mati-matian.

 

Barangkali karena itulah, tuhan yang dibela selama ini sering menimbulkan suara gaduh dari pada suluh. Tuhan yang diringsek kepentingan pikiran. Tuhan yang ditunggangi ego kelompok, bahkan politik.

 

Maka, alih-alih menjadi suluh, tuhan-pikiran yang dibela tidak mampu membuat teduh dan justru rusuh.

 

La ilaha ilallah, justru adalah tuhan yang ”hudur”. Kata ahli suluk tuhan yang hadir dalam batin sang makhluk. Tuhan yang begitu dekat dari pada jarak tuhan-konsep.

 

Tuhan yang hadir dengan begitu adalah tuhan hasil perjalanan dari tuhan-konsep menuju kedalaman penghayatan sang makhluk. Tuhan yang berjarak menjadi tuhan yang hadir bersama sang makhluk. Tuhan yang telah membunuh tuhan-tuhan dalam ”la ilaha” menuju dan menjadi ”ilallah”. Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan.

 

Tuhan lebih dekat dari urat lehermu. Begitu kata agama.

 

Bagi tubuh, urat leher begitu saja ”ada” tanpa pernah dipikirkan. Ia ada tapi sangat jarang disadari. Ia, saking dekatnya, tidak pernah dipikirkan.

 

Tapi justru, karena itu ia malah menunjang hidup matinya seseorang. Tanpa urat leher, barangkali tak ada manusia yang dapat hidup.

 

Sebaliknya dikatakan, Tuhan, bahkan saking dekatnya dengan manusia, lebih dekat lagi dari dekatnya urat leher manusia.

 

Namun apa boleh buat, urat leher yang dekat seringkali dirasakan jauh. Malah ia sering kali tidak dihiraukan. Lebih malang lagi, Tuhan sebenarnya yang dinyatakan lebih dekat dari urat leher, justru dirasakan lebih jauh lagi dari pada urat leher. Lebih-lebih kehadirannya, nyaris tidak pernah terasa.

 

Walaupun demikian, di masa sekarang, justru yang dipahami, yang diperjuangkan bukan saja tuhan-tuhan konsep, melainkan juga tuhan-tuhan jauh: tuhan-tuhan yang menjelma kekuasaan, jabatan, kata-kata, tuhan-tuhan ormas, juga mungkin sekaligus secarik bendera.

 

30 Oktober 2018

90 Tahun Sumpah Pemuda


PEMUDA. Barangkali dari sekian banyak negeri hanya di Indonesia yang bangsa, tanah airnya, dan bahasanya sungguh-sungguh diikat dalam satu sumpah. Dan bukan orangtua, bukan kelas ningrat, bukan kelas bangsawan, apalagi kelas penguasa yang bersungguh-sungguh mengucapkan ikrar.

Pemuda, ya hanya pemuda, rentang masa usia yang seringkali dianggap minim makan asam garam nasib, miskin pengalaman.

Tapi, karena itulah ia masih bersih dan bebas dari ikatan-ikatan kelas, tradisi, atau bahkan kebiasaan yang bersifat koersif. Pemuda adalah rentang usia batas antara semangat menempuh cita-cita dengan suatu kehidupan yang mapan.

Tidak bisa dibayangkan jika 90 tahun lalu justru kelas ningrat-lah, misalnya, yang meneguhkan sumpah tanah air, bangsa, dan bahasanya. Mungkin saat itu tanah airnya bukan Indonesia sekarang, barangkali bangsanya malah mewakili trah darah biru saja. Dan kemungkinannya bahasa yang dipakai sekarang malah bahasa etnis tertentu saja.

Dengan kata lain, sumpahnya justru datang dari tekad atas kepentingan trah darah ningratnya.

Pemuda juga adalah elemen masyarakat yang paling terbuka dengan gagasan perubahan. Dia elemen yang memiliki daya imajinatif yang fleksibel dan lentur. Mudah berkembang didorong dengan cita-cita ideal.

Sulit rasanya jika melihat sejarah bangsa Indonesia tanpa keterlibatan generasi mudanya di masa lalu. Bahkan, negeri ini awalnya, fondasi kebangsaannya, malah digagas oleh kaum mudanya.

Melalui kongres ke kongres, gagasan demi gagasan, dari perkumpulan menuju perkumpulan, dari semua itu siapa menduga cikal bakal kemerdekaan Indonesia sudah ditanam sejak jauh hari.

Puncaknya, dalam sejarah bukan sekelompok orangtua, tapi anak-anak muda-lah yang mendesak kaum tua untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Tidak tanggung-tanggung anak-anak muda yang dimotori kelompok Menteng 31 malah berani "menculik" presiden RI saat itu.

Hasilnya: 17 Agustus 1945 Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka.

Itulah sebabnya, seorang Pram, menyingkat sejarah Indonesia sebagai sejarah kaum muda Indonesia.

Meminjam penjelasan Benedict Anderson, sumpah bangsa, tanah air, dan bahasa adalah perangkat imajinasi yang terbayangkan bersama mengenai satu komunitas yang sebagian besarnya tidak pernah saling bertatap muka dan berinteraksi.

Melalui ikrar bersama lahir afinitas yang tarik menarik sekaligus menerbitkan rasa percaya untuk menyongsong suatu komunitas bersama. Hal inilah yang melenyapkan sekat-sekat kedaerahan yang masih bercokol dalam pribadi-pribadi kelompok kepemudaan saat itu.

Dua hal ini, yakni afinitas yang saling mengikat dan kepercayaan yang saling bersetia, menjadikan sumpah pemuda sebagai tonggak bersama. Sebagai ikrar abadi untuk menempuh suatu cita-cita mulia bernama Indonesia.

Singkatnya, rasa-rasanya tanpa generasi muda kecil kemungkinan lahir proses imajiner yang membentuk cikal bakal Indonesia. Tanpa itu semua barangkali Indonesia hari ini hanyalah sekat-sekat teritori yang terpisah satu dengan lainnya. Suatu kawasan dengan sejarahnya masing-masing.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...