20 Januari 2016

Agora a la Cafe Dialektika

Singkat saja. Malam ini saya menyambangi Cafe Dialektika. Lumayan jauh saya ke sini, kirakira hampir sepuluh kilo lebih dari tempat saya mangkal. Aktifitas saya belakangan ini hanya berputarputar di sekitar kampus UNM, tapi lantaran ada bedah film, maka saya kemari.

Cafe Dialektika sepengetahuan saya digagas oleh anakanak muda yang senang menghabiskan waktu dengan berdiskusi. Mereka kalau saya tidak salah duga adalah mahasiswamahasiswa Stimik Dipa dan Unhas yang berkomitmen untuk menghadirkan wadah diskusi yang nyaman. Makanya sudah sering saya melihat kegiatankegiatan mereka yang diupload di dunia maya. Bagi saya, merekamereka ini memiliki kepekaan untuk menjemput kebutuhan intelektualisme anakanak muda dengan menyediakan tempat yang mereka sediakan.

Beberapa waktu silam, ketika pertama kali saya kemari, salah satu orang menyebut bahwa tempat ini dirancang tidak sebagaimana cafe umumnya. Perlu diingat kata kafe hanya mengacu kepada beberapa meja kursi yang mereka sediakan bagi pengunjung yang datang untuk menikmati kopinya. Kopi yang umumnya disediakan di cafe, tidak disediakan di tempat ini. Nyatanya kopi dan beberapa menu yang disediakan hanya berupa suguhan ala kadarnya tanpa barista khusus.


Walaupun seduhan kopi yang disediakan masih mengandalkan eksperimen, branding yang ditonjolkan tempat ini terletak pada setting suasananya. Dengan memanfaatkan pojok rumah dan garasi, anakanak muda ini menyulap ruang apa adanya jadi tempat yang nyaman untuk berdiskusi. Selain itu mereka juga menyulap bagian dalam rumah seperti perpustakaan mini. Banyak buku yang bisa kalian temukan di sini, walaupun tidak mencapai ribuan buku di dalamnya.

Konsep intelektualismelah yang jadi jualan kafe ini. Dari namanya saja, kita bakalan menyimpulkan bahwa penggagas tempat ini adalah orangorang yang bergelut dengan ilmupengetahuan. Makanya, mereka tidak menjual selera atas kopi, melainkan menciptakan ruang belajar yang nyaman bagi mahasiswamahasiswa. Didukung dengan akses wifì, tempat ini saya pikir lumayan asik untuk dijadikan tempat bercengkrama membincang apa saja.

Malam ini Cafe Dialektika membedah film Agora. Pembedahnya teman ngopi saya, Muhajir. Film ini sudah dua kali saya tonton. Yang saya ingat, film ini berusaha menarasikan tiga keyakinan (Pagan, Yahudi, dan Kristen) yang hidup dalam satu masa dan tempat yang sama. Kalau tidak salah setting film ini sekitar tiga abad pasca kelahiran Yesus di Alexandria. Hypatia seorang perempuan filsuf yang menjadi tokoh sentral dalam film garapan Alejandro Amenábar ini, diceritakan mendapatkan rintanganrintangan akibat semakin kuatnya pengaruh kristiani. Di tengahtengah kecamuk tiga keyakinan, Hypatia teguh berpendirian tetap mengikuti filsafat sebagai jalan hidupnya. Sampai akhirnya dia harus mati akibat keyakinan yang dipegangnya.

Kirakira begitulah jalan cerita Agora. Film ini saya fikir masih layak disaksikan bersamaan dengan menguatnya fundamentalisme keyakinan yang banyak membahayakan kehidupan bermasyarakat akhirakhir ini. Konflik yang dikandung dalam film ini, tidak jauhjauh dari situasi belakangan yang juga menguatkan segregasi akibat keyakinankeyakinan sempit beragama. Singkatnya, Agora bisa menjadi film untuk meninjau kembali polapola hubungan antar keyakinan di masyarakat.

Saya pikir komunitas semacam Cafe Dialektika ini, patut diapresiasi sebagai wadah baru bagi ruang bersama berbagi informasi. Kuat dugaan saya, asumsi inilah yang juga mendasari sebab berdirinya tempat ini. Visi yang mereka bangun inilah yang menjadikan Cafe Dialektika berbeda dengan tempat lain. Sejauh pengamatan saya, selain tempat ini, juga sudah berdiri Be Smart Cafe yang beroperasi di sekitar jalan Talasalapang. Sedikit berbeda dengan Cafe Dialektika,  Be Smart Cafe juga membuka kelas bahasa inggris bagi anakanak usia sekolah. Yang menyamakan kedua tempat ini adalah kemasan suasana yang diset dengan interior intelektual, juga menawarkan programprogram kelas menarik yang bisa kita ikuti.

Baiklah tulisan ini harus segera berakhir, film Agora juga baru saja berakhir. Saatnya Muhajir akan membedah Agora dari macammacam pendekatan dan perspektif. Saya datang jauhjauh ke sini hanya untuk melihat Muhajir membedah film ini. Apalagi saya sudah diingatkan oleh salah satu pengelolah Cafe Dialektika untuk datang kemari. Banyak yang datang kemari. Hitungan saya hampir tigapuluh orang. Saya pikir ini suatu yang membahagiakan. Muhajir sudah memulai persentase. Saya sudahi dulu.


Literasi Berbasis Kelas

Masihkah marxisme dibutuhkan? Entahlah. Pertanyaan ini saya pikir sudah pernah diajukan intelektual kiri manapun. Tapi, saya merasa duduk bersama adikadik mahasiswa ini, membuat gairah baru tentang marxisme.

Sore ini jelang magrib yang datang, kami mengakhiri perbincangan tentang marxisme. Kami tak tahu betul apa gunanya membincang marxisme dari apatisme mahasiswa. Namun, kami belajar berkomitmen, mereka datang menyediakan segelas kopi dan forum, dan saya datang membawa serpihserpih ingatan tentang Marx dan pikirannya.

Hari ini pertemuan kedua. Kami menghabiskan waktu hampir dua jam di kantin yang ditinggal libur mahasiswa. Seperti biasa saya membawa paper untuk melengkapi diskusi. Kali ini untuk menjaga agar tidak kesanakemari, persentase saya niatkan berdasarkan tulisan yang saya sediakan.

Mustahil meringkas kebesaran pemikiran Marx dalam dua jam. Tapi, dialog tetap berlanjut. Dua jam membahas pengantar, dan tiga hari pertemuan lanjutan yang masih tersisa. Kedepan kami bersepakat, masih bertemu di tempat yang sama, tentu dengan beberapa gelas kopi yang disuguh.

Pertemuan ini tak mungkin terlaksana tanpa Aam Ahmad, mahasiswa antropologi yang seringkali datang lebih awal. Dia juga yang kerap mengorbankan pulsanya untuk menghubungi kawankawannya yang lain. Yunasri Ridho yang kerap menghubungi saya untuk mengingatkan jadwal diskusi. Dia mahasiswa pendidikan kewarganegaraan yang memiliki bakat menentang pancasila. Kali ini dia tak datang, padahal dia sering menginisiasi pertemuan macam begini. Info yang saya dapat dia pergi mengikuti kuliah umum di daerah jauh dari kota.

Kemudian ada Herman dan Adiyat, dua mahasiswa yang setia nongkrong berlamalama di dalam kampus. Akhirakhir ini saya sangat jarang bertemu mahasiswa macam mereka. Yang mau hidup a la proletar tanpa makanan berjamjam. Mereka tipe mahasiwa yang bisa lama berbicara kalau sudah menghidu asap rokok. Juga mereka selalu punya pertanyaanpertanyaan canggih kalau diskusi.

Sebelumnya sudah ada Heri Sitakka dan Hirdjayadi. Heri ini adalah komando salah satu organisasi intra di kampus orange. Semangatnya membuat programprogram kajian seringkali mempertemukan saya sebagai pembicaranya. Hirdjayadi adalah senior Adiyat, dia mahasiswa angkatan tua entah semester berapa. Saya curiga dia berlamalama dikampus karena masih betah dengan suasana kebebasan kampus. Makanya dia begitu bebas menetukan nasibnya di kampus.

Yang terakhir Muh. Asrul. Sekarang dia diamanahi organisasi hijau hitam. Barubaru ia secara demokratis ditunjuk menjadi ketua umum. Itulah mengapa belakangan ini Asrul sibuk pulangpergi mengkonsolidasikan orangorang sebagai pengurusnya. Sibuk sanasini menyambangi mukim senior mengharap masukan. Di rumah kosnyalah saya sering menginap.

Saya sudah cukup lama tidak bergelut dengan wacana marxisme. Dulu di masa mahasiswa, marxisme menjadi salah satu arus utama wacana kampus. Bahkan saya bernah bergabung di salah satu organisasi yang begitu memuja marxisme-leninisme sebagai panduannya. Ada anekdot ketika saya menjadi mahasiswa, kalau belum akrab dengan marxisme, maka belum afdol disebut aktivis mahasiswa. Ini jadi semacam kebanggaan kalau MDH dapat dikunyah tiap hari di dalam kampus.

Saya belum yakin apakah mereka sudah sempat membaca Das Capital. Atau paham betul MDH sebagai basis filsafat marxisme. Atau memahami konsep perjuangn kelas yang dianjurkan Marx. Juga pentingnya membangun organisasi revolusioner seperti yang diwajibkan Lenin. Tapi, dari duduk bercengkrama bersama mahasiswamahasiswa macam mereka, saya kira suatu awal yang baik mengenal kembali marxisme.

Apakah marxisme masih penting? Saya kira iya. Kalau tidak, mana mungkin saya mau duduk bersama mereka. Menghabiskan suatu sore di pojok kantin kampus yang ditinggal libur. Saya kira dari sini, literasi berbasis kelas bisa mulai dirumuskan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...