25 Maret 2015

madah limapuluhsatu

Tahun 1984, suatu tempat di Jerman Timur.

Rumah Dreyman disusupi. Hampir setiap sudut rumahnya penuh kabelkabel tersembunyi di balik dinding. Di vas bunga, di balik pintu, terminal listrik, belakang lemari, di bawah tempat tidur, bahkan di dalam kamar mandi. Praktis setiap sudut jadi suatu proyek pengintaian. Ruang tempat tinggal Dreyman jadi pusat perhatian negara. Di bawah pengintaian, Dreyman jadi manusia yang transparan. Gerak geriknya jadi bahan amatan dari objek kekuasaan. Tapi ia tak tahu.

Sementara di suatu sudut rumah, di mana kabelkabel itu berpusat, empat sampai lima monitor tak pernah padam. Alat rekam suara juga tak berhenti menangkap setiap bunyi. Dan seseorang dengan taat mengawasi gerakgerik Dreyman dari ruang kotak itu. Mencatat setiap detil yang mencurigakan. Memasukkannya dalam laporanlaporan setiap hal yang dialami Dreyman. Pria yang taat itu akhirnya mulai mempelajari Dreyman dengan membangun jadwal aktivitasnya. Dengan telaten, setiap gerak, juga setiap bunyi.

Dosa Dreyman hanya satu, ia terlahir sebagai seorang penulis.

Di negerinya Jerman Timur, yang berhaluan komunisme, setiap huruf harus mengikuti intruksi negara. Negara tempat Dreyman tinggal punya kebijakan, bahwa setiap proyek pencerahan harus memuati maksud seperti yang dikehendaki negara. Seluruh proses pembudayaan mesti selaras dengan semangat revolusi komunisme. Ini berarti, setiap tulisan yang lahir dari lidah setiap penulis, harus berbicara tentang hal ihwal revolusi; semangat kaum proletar, pandangan realism, kemajuan partai, pabrikpabrik yang dinasionalisasikan, dan tentu komunisme sebagai pandangan universal.  

Sebelumnya diintai, ia adalah seorang sastrawan dan penulis naskah teater yang tak begitu dicurigai negara. Pentas teater yang sering kali ditulisnya tak mengandung unsurunsur seni borjuis yang dibenci negara. Bahkan ia di mata petinggipetinggi partai adalah salah satu seniman yang menjadi garda depan untuk mendorong kebudayaan negara jadi lebih maju. Sebab itulah ia dipandang sebagai salah satu seniman yang diberikan kebebasan untuk berkarya sesuai dengan pandanganpandangan komunisme.

Tapi semenjak kedatangan Gerd Wiesler, agen matamata Jerman Timur, di suatu pertunjukannya, semuanya berubah. Dari atas balkon pertunjukan,  Gerd Wiesler mengamati dengan teliti Dreyman di tempatnya ia menyaksikan teater yang merupakan hasil garapan tulisannya. Dari pengamatan Wiesler di atas balkon, Dreyman disimpulkan sebagai orang yang tak sepenuhnya bersih.  Dari gerak tubuh, mimik wajah, bahkan setiap detil yang dimiliki Dreyman  yang di amati Wiesler, kesimpulannya adalah Dreyman adalah orang yang mesti dicurigai sebagai tersangka yang berbahaya. Dia bukan seniman yang lurus, melainkan ada sesuatu yang selama ini disembunyikan.

 Tapi Wiesler perlu bukti yang menguatkan kecurigaannya. Biar bagaimanapun kecurigaan tak bisa dijadikan modal untuk menuntut orang tanpa datadata yang jelas dan akurat. Sebab itulah Dreyman disadap. Rumahnya dijebol dan diselipkan alatalat yang merekam semua tindakannya. Di bawah pengawasan Wiesler, mulailah ia dicurigai sebagai musuh negara.

Akhirnya tiap detik dari Dreyman adalah jadi bahan amatan negara. Setiap yang dilakukannya jadi catatan terperinci Wiesler berdasarkan waktu dan tempat di mana itu terjadi. Wiesler harus bisa mengajukan bukti kepada petinggi partai bahwa Dreyman sebenarnya adalah seniman yang diamdiam mengkritisi komunisme. Tapi Wiesler butuh waktu untuk suatu bukti yang gamblang.

Sampai di sini saya tak tahu apakah di negeri ini ada orang yang mengalami hal yang sama seperti Georg Dreyman. Seorang penulis naskah yang dimatamatai negara oleh sebab dicurigai memiliki maksud tersembunyi yang tak sesuai dengan paham negara.

Di film itu ada dua hal yang akhirnya menjadi genting; kebebasan berekspresi dan kontrol negara. Dua hal ini yang menjadi sisi antagonis di film drama Jerman itu. Kebebasan berekspresi yang menjadi pilihan Dreyman dan kontrol negara yang merupakan bagian dari kekuasaan yang terlampau besar. Dua hal ini, dalam konteks negara dan kebebasan berekspresi menjadi dua anasir yang seringkali berhadaphadapan. Tapi jika dilema dapat kita temukan di film itu, barangkali adalah Wiesler itu sendiri, seorang yang telaten mematamatai Dreyman.

Wiesler, di kehidupan seharihari seperti yang kita alami, tak jauh berbeda dengan pekerja pemerintah yang memiliki pengabdian total terhadap negaranya. Taat dan setia menjalankan tugas. Di Film itu, Wiesler ditokohkan sebagai agen matamata yang berdedikasi tinggi dan idealis menjalankan tugasnya. Orangnya tepat waktu dan jernih mengamati halhal detail. Dan selama mematamatai Dreyman sang penulis drama, ia juga menulis laporan pengamatannya tanpa unsurunsur dramatik.

Ia mengamati, mendengar setiap bunyi. Menulis setiap dialog.

Tapi Wiesler juga manusia, punya rasa punya asih. Selama pengamatannya, justru ia tersentuh dengan peristiwa yang dialami Dreyman. Akhirnya batinnya jebol, apalagi semenjak ia membaca buku kepunyaan Dreyman yang dicurinya tanpa sepengetahuan. Ia ingin tahu lewat buku, bagaimana karakter asli Dreyman. Tapi apa daya, melalui buku yang ia baca, ia paham siapa sesungguhnya orang yang dimatamatainya. Kekuatan sebuah buku memang bisa mengubah seluruh pandangan seseorang, begitu juga Weisler terhadap Dreyman. Syahdan, Weisler mulai melindungi Dreyman dari atasannya. Ia menulis laporan palsu tentang aktivitas pengarang itu. Begitu seterusnya.

Das Leben der Anderen barangkali film yang ingin menyitir sejarah Jerman dengan menggunakan cara yang bisa dibilang melankolik; drama. Tapi itu sepertinya pembacaan yang terlalu jauh, sebab tak ada kesan dalam film itu yang mengarahkan kepada pengertian yang mengungkapungkap sejarah. Sebab pula di film itu tak menyebut cerita yang pasti dengan alur yang semacam itu. Toh jika ingin disebut demikian, film itu hanya bicara plot orangorang yang hidup di situasi yang cekam dan kontrol negara yang terlampau totaliter.

Dan Dreyman merasakan, juga barangkali orangorang yang terbiasa hidup dengan kemerdekaan berpikir dan berpendapat, bahwa biar bagaimanapun, kontrol negara tak bisa merebut hal yang paling intim dari mahluk bernama manusia; kebebasan berperasaan. Di film itu, kebebasan adalah suara bungkam yang justru jadi senjata manusia. Di film itu Dreyman tahu untuk apa ia menulis.


21 Maret 2015

Airmatadarah dalam Tekad

Saya sebenarnya tak mengerti betul sastra, apalagi puisi. Puisi, yang kental dengan simbolisme itu seringkali membuat saya bingung. Sebab, dengan material katakatanya yang simbolis juga metafor tak pernah stabil merujuk pada satu pengertian yang pasti. Puisi, dengan gaya penuturan yang demikian, akhirnya hanya menjadi katakata yang pias makna di hadapan saya.

Puisi, dengan katakatanya yang metafor, sepengetahuan saya adalah cara untuk menangkap kenyataan yang tanpa tirai. Dengan kata, puisi ingin merekam apaapa yang murni. Puisi, jika disebut sebagai potret kemurnian, adalah media yang mengungkapkan katakata menjadi baitbait yang gamit.

Tapi justru kata tanpa tirai bisa bikin kenyataan jadi asing. Sastrawan menurut saya adalah orang yang punya semacam kemampuan membuat bahasa jadi lain. Katakata di tangan sastrawan menjadi bahan yang dilucuti dari penggunaan yang sudah umum. Di tangan sastrawan, katakata dibersihkan dari ruang tuturan umum yang sering membuat kata jadi banal. Katakata, di tangan sastrawan, seperti ditasbihkan kembali untuk dipakai seperti pertama kali dipergunakan menjadi kata yang perawan, kata yang binal.

Dengan kemampuan itulah sastrawan jadi orangorang yang punya kekuatan seperti al kheimist, yakni orangorang yang punya kemampuan khusus untuk merubah sampah jadi emas. Melalui kemampuan khusus itulah, katakata yang sudah digunakan di tengah umum, yang kerap dipakai berulangulang hingga rombeng, jadi kata yang murni dan baru.

Sebab itu barangkali, katakata puitis seorang sastrawan bisa membikin sesuatu nampak jernih. Dengannya, kita dihadapan teks jadi orang baru yang lahir kembali. Di dalam filsafat, terutama fenomenologi, kita disebut menjadi seorang pemula.

Dengan menjadi seorang pemulalah kenyataan jadi nampak baru. Dunia jadi bendabenda yang tak ternamai dan transparan sehingga tak ada yang lain selain ketakjuban. Dari ketakjuban itulah lewat kata puitik sisi primordial disentuh.

Lewat katakata puisi, seorang sastrawan punya misi yang subtil, misi yang primordial. Dengan katakata, sisi afeksi setiap kita disepur dan dimurnikan kembali. Ini seperti mirip kata Lenin, yakni sastrawan memiliki tugas mengarsitekturi untuk membangun jiwa.

Kamis kemarin saya diberikan hadiah buku sehimpun puisi. Lengkap dengan tandatangan penulisnya. Buku yang tak sepenuhnya saya mengerti itu diberi judul airmatadarah. Saya tak tahu apa takdir buku itu diberi judul yang menurut saya tragedik. Yang mana airmata jika umum dipahami adalah serangkaian dari tindak kejiwaan yang misterium: sedih, bahagia, rindu, benci, marah, gundah dsb, adalah sisi dunia yang tak tembus. Airmata, dari takdir judul buku ini, adalah frasa misterius yang sulit saya tembus untuk menangkap maksud yang dikandungnya.

Dan di judul itu, darahlah yang jadi sisi paling sulit saya tebak. Dengan satu kata airmatadarah, saya menjadi orang yang nampak asing dihadapan kata itu. Darah, yang biologis dari tubuh kita, justru jadi sesuatu yang lain di judul itu. Darah yang identik dengan warna merah gelap itu, barangkali bisa jadi lambang suatu arti: pengorbanan.

Tapi sudah saya katakan airmatadarah adalah kata puitis yang jadi asing, makanya ia jadi frasa yang tragedik bagi saya. Juga kata itu menurut saya sudah dilucuti jadi suatu yang baru, maka itulah ia memang seperti kata yang baru pertama kali digunakan untuk merujuk kepada suatu pengertian, tetapi apa?

Dan biarlah itu jadi ruang kosong yang tak bertuan. Dengan begitu makna judul airmatadarah bebas untuk diberikan maksud oleh sesiapa pun. Bahkan sang penulis tak punya kuasa untuk membangun jalur rel makna di situ. Makna, ataupun maksud, dengan begitu jadi bebas tak bertuan. Dengan iman seperti ini, sang penulis memang sudah mati seperti didaku Roland Barthes. 

Dari tulisan ini jika saya diberikan pilihan untuk menunjuk satu pusi yang saya senangi, maka saya akan memilih Tekad sebagai puisi pilihan saya. Di puisi itu, seperti ada sebuah pertaruhan tentang sebuah akhir dari masa kini yang jadi titik permulaan. Ini seperti dua orang yang terlibat perjanjian untuk sebuah bukti di masa depan. Ini persis hukum kontradiksi Gramsci, bersamasama sekaligus menentang. Ini seperti dua anak manusia yang membusung dada di mana mereka saling menentang di saat kebersamaan kian mengental, tentang suatu akhir yang disebut masa depan.

Kutunggu wartamu di masa datang

Joloklah bulan
Genggamlah surya
Lukisilah pelangi
Cungkillah gunung

Barulah kau tergolong:
Pemahat masa depan

Di puisi ini, jika ini sebuah tafsir, ada sebuah kabar yang bermakna penantian untuk dapat dibuktikan. Tapi di hamparan waktu yang panjang, ketika suatu ruang pertaruhan di mulai, ada beberapa hal yang mesti dapat diatasi. Bulan, surya, pelangi dan gunung, adalah diksi yang dipilih untuk menunjuk suatu hal yang mesti ditaklukkan, yang sekaligus menunjuk pada bendabenda yang tinggi dan besar. Dan sebelum diksi itu diletakkan, katakata joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, adalah pilihan kata yang menunjuk kepada suatu sikap yang mencerminkan kehendak penaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar itu.

Joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, sebenarnya adalah katakata yang akrab ditelinga kita seharihari. Banyak pekerjaan seharihari yang menggunakan katakata itu untuk mencerminkan usaha dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Dari katakata kerja itu, kita bisa mengerti bahwa dari pekerjaan yang dinamai dengan kata itu, manusia membutuhkan suatu modalitas untuk memulai usahanya. Dan barangkali judul puisi itu; tekad, adalah modalitas yang dimaksudkan itu.

Dari sinilah saya menyenangi puisi ini. Tekad, tanpa menyebut kehendak, adalah unsur awal dari terciptanya sesuatu yang lahir dari cipta manusia. Dengan tekad, manusia merealisasikan dirinya untuk hidup kongkrit. Dengan tekad, jika meminjam Hegel ataupun Marx adalah awal dari perealisasian diri atas kerja.

Tekad, seperti mengajak sesiapa untuk berjudi dengan waktu. Di puisi itu, waktu jadi satusatunya yang tetap, yang tak berubah dari nasib yang dipertaruhkan. Di ujung puisi itu, dengan tekad, dengan usaha yang telah menaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar, barulah seseorang disebut pemahat masa depan. Di sini kata pemahat, adalah cermin yang mengamit makna kerja, suatu tindak yang sama dengan jolok, genggam, lukis dan cungkil. Artinya, jika ini layak disebut tafsir, adalah suatu usaha yang tak pernah selesai. Yakni tindakan terus menerus untuk memahat masa yang akan datang.

Sehimpun airmatadarah adalah buku sekumpulan puisi pertama dari Sulhan Yusuf. Tapi di dalamnya, seratus tiga puisi adalah puisipuisi yang bukan pertama kali ditulisnya. Jika bisa dibilang, dari kumpulan puisi yang sebanyak itu, adalah juga cermin yang memantulkan gejolak kejiwaan yang sedang dihadapi dari peristiwaperistiwa sehariharinya. Saya tak tahu puisi apa yang ditulis pertama kali oleh Sulhan Yusuf yang mencerminkan pergulatan batin yang sangat. Tapi kita berharap puisipuisinya akan terus lahir seiring banyaknya pengalaman hidup yang dilaluinya

Dengan maksud yang tragedik, jika masa yang datang dalam Tekad itu dihadapkan kembali kepada Sulhan Yusuf, maka orang yang seharihari dinisbahkan sebagai mentor oleh saya itu, telah dikutuk untuk dapat terus menulis. Dan kutukan menjadi seorang penulis yang akrab dengan aksara, adalah pekerjaan yang getir sekaligus murung. Melalui dua hal inilah, masa depan diukir dan diabadikan. Namun mudahmudahan, getir dan kemurungan itu hanyalah hal yang nampak di dalam tulisantulisannya.

Syahdan, airmatadarah adalah buku puisi yang layak untuk dimiliki. Setidaknya dengan puisi, lewat buku ini kita diantar untuk menjadi seorang pemula. Orangorang yang kembali menengok dunia keseharian dengan cara yang berbeda.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...