30 Desember 2013

Kaum Digital Natives

Di zaman modern seperti sekarang, dengan penggunaan media komunikasi dan teknologi secara massif, terutama di kota-kota besar saat ini, hadir golongan muda yang disebut sebagai kaum digital Natives. Istilah ini merujuk pada lapisan muda masyarakat yang semenjak kecil dididik dan dibesarkan serta terbiasa dengan alat teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital. Seperti lapisan masyarakat di berbagai dunia lain, kaum digital natives lebih peka dengan konsep kemajuan yang di tawarkan oleh era informasi seperti sekarang ini. Mereka bermain games, mengoleksi lagu-lagu dalam format mp3, duduk berjam-jam di depan laptop, sebagian sibuk ber-BBM-an, dan tentu saja sebagaian besarnya mahir dan pandai berselancar dalam dunia maya.

Kaum Digital Natives secara karakter berbeda dengan golongan yang secara umur di atas mereka. Anak-anak muda yang dibesarkan di dalam era digital lebih peka dan cekatan dalam merespon kemajuan teknologi dibandingkan dengan golongan yang disebut dengan  digital immigrant. Sementara yang tua cenderung lebih lamban  dan secara kebudayaan masih dalam tinggkatan yang berorientasi kebelakang.  Lebih jauh, kaum digital natives lebih mendahulukan “citra” dibandingkan “teks”, lebih senang “bermain” daripada “serius” serta lebih mengedepankan “aksi” daripada “pengetahuan”.

Ledakan Informasi

Konsekuensi secara kebudayaan dari kemunculan generasi digital natives akhirnya akan berdampak pada gejala budaya yang bertentangan dengan budaya adihulung. Yang mana gejala kebudayaan yang dimaksudkan disini adalah apa yang dalam kajian cultural studies disebut dengan budaya populer. Kebudayaan populer atau pop culture adalah nampakan budaya kontemporer yang dibentuk berdasarkan logika media yang cenderung mengandalkan massa sebagai sokongannya. Contoh yang paling memungkinkan untuk melacak gejala kebudayaan generasi digital natives adalah kegandrungan terhadap alat komunikasi elektronik yang sudah identik dengan mode of life sehari-hari. Dimana hampir secara massal kita jumpai pada keseharian,  bagaimana dalam pergaulan sehari-hari generasi digital natives banyak menggunakan alat-alat super canggih dalam menunjang aktivitasnya.

Memang tak bisa kita tolak banyak manfaat dari penggunaan alat-alat super canggih yang dalam kenyataan hidup memudahkan kita dalam seluruh aktivitas kehidupan saat ini. Tak bisa kita bayangkan kehidupan ini, jika alat-alat canggih yang sering digunakan hilang dari pengalaman sehari-hari. Tak bisa kita sangsikan alat-alat demikian memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi dengan super cepat, dimana jarak tak lagi relevan untuk dijadikan ukuran. Pun juga hal demikian membuat masyarakat bisa dengan cepat mengetahui perkembangan dunia hanya dengan sekali berselancar dengan alat komunikasi yang dimiliki.

Namun dari semua kemajuan yang di rasakan oleh pengguna alat-alat canggih seperti smartphonegadgetI padtablet, laptop dsb, di tengah perkembangan informasi yang melimpah ruah serta dinamika jaman yang semakin cepat, membuat orang-orang yang demikian menjadi serba dangkal. Memang jaman tak bisa ditolak bahwa telah terjadi pergeseran menyikapi masalah-masalah yang dihadapi. Masyarakat dituntut untuk selaras dengan kemajuan jaman yang serba canggih dan serba cepat. Namun  keadaan yang memprihatinkan adalah masyarakat kehilangan ruang refleksvitas untuk mendaur secara seksama masalah-masalah hidup yang dialami.

Minimnya atau hilangnya ruang intropeksi ini pada akhirnya akan berdampak pada penumpukan informasi yang tak sanggup untuk dikelola. Begitu banyak dari sekeliling masyarakat bertebaran pengetahuan dan informasi yang diterima dari seluruh penjuru. Bahkan dengan bantuan alat-alat canggih yang dapat mengakses informasi dengan cepat pada akhirnya membuat masyarakat tak lagi memiliki waktu untuk mendaur ulang informasi yang diterimanya untuk dimanfaatkan pada kehidupan nyata. Akibat dari situasi seperti ini berdampak pada gejala depresi yang menekan kondisi psikologis masyarakat. Dalam bahasa Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, gejala demikian disebut dengan implosive, yakni meledaknya secara internal seluruh informasi yang ada pada sistem memori seseorang, yang mana efek ledakannya bukan mengarah keluar sebagaimana ledakan eksplosive, melainkan jauh masuk pada sistem diri manusia diakibatkan menumpuknya informasi yang tertanam pada seseorang.

Dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat menjadi sekumpulan orang yang cepat menanggapi persoalan hidup dengan cara reaksioner. Di mana dalam merespon perubahan sosio kebudayaan, masyarakat kehilangan daya sublimasi terhadap kemajuan yang mendadak di hadapi. Akhirnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat maju dengan aksesoris alat-alat canggih tetapi secara psikis mengalami regresi akibat ketidakmampuan dalam mengelolah seluruh informasi yang diterimanya.

Apa yang kita hadapi sekarang sudah sepatutnya disadari sebagai gejala kebudayaan yang bisa membawa kondisi masyarakat kepada hal-hal yang tidak kita kehendaki. Salah satunya adalah kecenderungan masyarakat yang kehilangan ruang edukasi oleh sebab telah habis dilahap oleh seluruh yang berbau entertainment.

Pernah terbit dalam kolom opini Harian Fajar 261213


22 November 2013

Menulis Kembang Api

Menulis barangkali adalah pekerjaan yang berat. Dalam aktivitas itu ada situasi yang mengharuskan kita untuk membayangkan sesuatu. Di sana ada usaha untuk membangun, menyusun ataupun menata sebuah ide, gagasan. Oleh sebab itulah akhirakhir ini saya kerap kali gagal dalam usaha untuk menulis tentang sesuatu. Dan inilah faktanya; saya belakangan ini mengalami regresi dalam minat maupun menemukan gagasan. Dalam bahasa yang sering saya pakai; saya kehilangan gagasan yang mirip kembang api, kejutan percik api seperti dalam ledakan.

Bagaimana saya harus menyebutnya; kejutan percik api dalam ledakan. Di mana kembang api selalu punya daya gugah, memukau dan barang tentu mengagetkan. Kembang  api, kita mafhum, selalu diawali dengan letusan dan diakhiri dengan ledakan. Kembang api, pasca ledakan pertama selalu disusul dengan ledakan yang kedua, ketiga, keempat, dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya padam, lenggang kemudian disusul dengan sunyi.

Kejutan dalam ledakan. Dan kembang api punya itu, daya kejut yang mirip pegas. Menghentak. Dan di sana selalu ada kontinyuitas. Ledakan yang saling bersusulan dengan pola ledakan yang berbeda, sementara pada setiap ledakannya selalu punya jedah; renggang waktu kosong  sepersekian detik untuk disusul dengan ledakan selanjutnya. Dengan begitu pada kembang api, yang biasa membuat saya terkagetkaget punya dua hal; kontinyuitas dan ruang jedah.

Dan itulah sebabnya saya mengandaikan  menulis adalah pekerjaan yang berat. Karena menulis berarti menjadi seperti kembang api. Di sana saya butuh daya pijarpijar ide yang berjalin, situasi merangkai antara ledakan satu gagasan dengan gagasan lain. Rangkaian yang berkelanjutan.  Yang mana dalam situasi yang eksplosif itu selalu mengantarkan pada situasi yang saling susul menyusul; ruang jedah. Dan dua hal ini yang akhirakhir ini tak saya alami.

Tentang perihal yang dialami; pengalaman, adalah peristiwa yang mensyaratkan adanya situasi yang sadar dalam sesuatu. Yaitu situasi yang  dengan kenyataan, antara kita dengan alam kenyataan, tentang diri yang berkesadaran dengan dunia semesta. Barangkali pengalaman yang saya andaikan  di sini dekat dengan pengertian yang bermakna eksitensialis. Yakni pengalaman akan diri atas kenyataan, dengan turut serta kesadaran yang bergumul di dalamnya. Sehingga harus saya katakan di sini, pengalaman jenis ini, di saatsaat belakangan ini, juga jarang saya alami.

Menulis juga menurut saya adalah tindak aktif dalam kesunyian. Dalam menulis, yang saya sebut laku kembang api itu, yang mengharuskan dua hal; kontinyuitas dan ruang untuk jedah, bisa berarti juga adalah laku sebagaimana seorang pesuluk. Yang berjalan di atas jalan kesunyian dalam tata ruang yang ramai. Sunyi bukan selamanya bermakna sepi. Sebab kesepian adalah keadaan yang tragis, sebab kesepian berarti segalanya hilang menanggalkan kita dalam kesendirian. 

Sedangkan sunyi adalah kesendirian yang bermakna sesuatu yang memiliki kendali, yang mana kitalah yang memilih untuk menanggalkan segalanya. Maka kesunyian adalah peristiwa yang dahsyat di mana dunia hanyalah kenyataan yang bisa saja kita tanggalkan sewaktu waktu. Maka menulis adalah laku yang memilih untuk masuk dalam keadaan yang subtil, tata galaksi yang hening di antara hiruk pikuk untuk sunyi. Dan pada titik inilah menulis bisa berarti tempuh jalan suluk yang berima antara kesunyian dan keramaian.

Menulis dalam pengalaman saya juga berarti adalah agama. Sebagaimana yang dibilangkan oleh Alfred North Whitehead, agama selalu bermula dari kesunyian. Gauthama, seorang budhis diawali dengan kesunyian di bawah pohon bodhi, dan di sanalah ajaran budha bermula. Ibrahim, seorang rasul yang hanif, mengawali agamanya dalam kesunyian dikala bulan menggelantung. Dalam sunyilah Ibrahim mencari tuhannya. 

Dan Islam, jikalau Sang Rasul Muhammad bin Abdullah tidak melakukan laku sunyi di Gua Hira, bisa jadi Islam akan tiada besar hingga sekarang. Maka barangkali tepat jika saya katakan bahwa menulis adalah agama. Sebab dalam menulis seseorang harus mampu memasuki ruang yang saya sebutkan tadi; ruang sunyi.


Seperti awal bahasa saya, menulis berarti menjadi kembang api; di dalamnya ada konstruksi, ledakan yang susul menyusul, ruang jedah, kemudian kepukauan kemudian akhirnya adalah hening. Dan memang kembang api adalah kejadian tentang ledakan dan kejutan; semuanya pasti takjub. Dalam keheningan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...