01 Juni 2020

Tiga Lapis Kejahatan Aburrahman Ibn Muljam: Kepincut Perempuan, si Penghafal Al-Qur’an Pembunuh Khalifah Ali Ibn Abu Thalib

Sosok seperti Abdurrahman Ibn Muljam, dalam tarikh Islam merupakan figur kemerosotan akidah sekaligus moral manusia. Sekalipun ia hafiz al-Qur’an, taat beribadah, dan kelihatan baik, di sisa hidupnya, jangankan berakhlak seperti anjuran al-Qur’an, ia pada akhirnya mati dengan tidak sama sekali mendapatkan berkah al-Qur’an.

Ia tamat sebagai manusia, tapi dengan cara su’ul khatimah.

Keperawakan Ibn Muljam, nyaris menyerupai iblis dalam narasi al-Qur’an mengenai kisah penciptaan Adam.

Sekali masa, setelah Allah menciptakan Adam dan mengimbau seluruh alam untuk bersujud kepadanya, ada sesosok iblis ogah melakukannya.

Dari segi usia penciptaan, ia jauh lebih tua dari umur Adam yang belum “sehari” itu. Ia telah hidup lama sepanjang lebih 80.000 tahun. Ia telah banyak makan asam garam di alam semesta tak terpemanai ini.

Dari segi kuantitas ibadah, kurang lebih di sepanjang usianya itu, tiada tempat di alam semesta yang belum ia jadikan tempat bersujud. Belum sekalipun sedetik dari semua waktu usianya ia palingkan wajahnya dari beribadah kepada Allah.

Tapi, pasca penciptaan Adam, di hari itu, karena melihat usia,  lamanya ia beribadah, dan menyatakan substansi dirinya lebih tinggi dari Adam, mahkluk ini menunjukkan sikap ganjil yang paradoksal.

Ia tidak rela bersujud.

Perintah Allah ia tolak, tapi sekaligus ingin menunjukkan sikapnya itu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

”Tiada zat yang patut aku sujud kepadanya selain kepadaMu, ya Allah. Adam bukanlah zat tempat aku bersujud”.

Ia beralasan. Ia enggan.

Dengan dalih hanya ingin bersujud kepada Allah semata, ia tolak juga perintah Allah.

Ia dengan kata lain, menolak ibadah demi “ibadah” yang lain.

Seperti diketahui, kisah ini menunjukkan iblis lebih mengutamakan egonya. Ia tidak rela bersujud kepada Adam. Ia menjadi sombong karena merasa lebih senior dan ahli ibadah dari Adam yang belum sama sekali hidup lama, walaupun itu diperintahkan Tuhan kepadanya.

Ia lebih mau beribadah (bersujud) kepada Allah, dengan tidak mau mentaati satu ibadah yang baru saja diperintahkan kepadanya, yakni bersujud kepada Adam.

Di peristiwa itu, ada dua jenis perintah ibadah sebenarnya. Yang pertama ibadah yang menyeru untuk menyembah kepada Allah, dan yang kedua adalah perintah ibadah untuk bersujud kepada Adam. Iblis bersikukuh mengikuti ibadah pertama dengan mengingkari ibadah kedua. Ia, dengan kata lain, menolak ibadah yang berpangkal dari tauhid penciptaan.

Itu artinya, si iblis di satu sisi, memang telah menjadi sosok alabid (ahli ibadah) semasa hidupnya, yang masyur seantero alam penciptaan saat itu, tapi di waktu bersamaan, menjadi satu-satunya makhluk yang tidak berhasil menjadi al-abd (hamba) untuk taat kepada perintah penciptaan.

Inilah kata kuncinya, figur ini tiada lain adalah si ahli ibadah yang arogan, yang belum mampu mengamalkan inti sari semua bentuk ibadah, yakni menjadi pribadi setaat-taatnya kepada Allah. Menjadi hamba sahaya, sekalipun mesti didudukkan bersama makhluk yang belum ada apa-apanya.

Ibnu Muljam tidak selama usia iblis ketika beribadah. Meski dalam catatan sejarah, ia salah satu sahabat yang kuat beribadah, kuat berpuasa, dan kuat merekam al-Qur’an di benaknya. Ia karena itu menyandang alabid, orang yang ahli beribadah.

Tapi, di malam yang ganjil, waktu di saat-saat beberapa tahun sebelumnya al-Qur’an “turun” di kalbu Rasulullah, ia menjelma laiknya iblis, berani dan dengan sombong menebas tengkuk khalifah saat itu.

Ia terdorong dendam kesumat pasca perang Shiffin dan Nahrawan. Ia menolak keputusan Ali sebagai khalifah yang memilih jalan tengah saat mengakhiri peristiwa tahkim dengan kubu Muawiyah.

Menurut riwayat dari Ibn Sa’ad, selain dendam kekalahan pemberontak Khawarij di perang Nahrawan, Ibn Muljam terdorong membunuh Imam Ali karena kepincut seorang perempuan Kufah bernama Qatham binti Syajnah, anak pembesar Khawarij yang jadi korban perang Nahrawan, yang dijanjikan akan menjadi istrinya jika berhasil menghabisi nyawa Imam Ali.

Kelompok khawarij adalah kelompok pemberontak yang keluar dari konsensus saat itu, dan memilih jalur politik kekuasaan yang memicu perdebatan teologis menyangkut isu kekafiran. Ditinjau dari Ibn Khaldun, sejarawan cum sosiolog, kelompok khawarij rata-rata pendatang yang merupakan kluster masyarakat nomadik dan udik, yang diikat solidaritas golongan (asabiyyah) sebagai bagian suku-suku pengelana yang berwatak keras dan fanatik buta (ta’ashub; akar kata istilah asabiyyah yang dipakai Ibn Khaldun).

Kefanatikan golongan khas khawarij yang mendasari paradigma keagamaan Ibn Muljam, melihat  dua kubu ini tidak amanah berdasarkan hukum Allah. La hukmillah, tiada hukum selain kekuasaan Allah. Ali dan Muawiyah, dua orang yang telah kafir setelah memutuskan kesepakatan bukan berdasar kepada al-Qur’an.

Imam Ali tersungkur dari sujudnya. Suatu posisi paling sempurna untuk menjukkan kehambaan total dan paripurna. Dalam keadaan salat, yang juga merupakan ibadah paling baik menunjukkan kehambaan, ia berujar, “demi Allah sang pemilik Ka’bah, sungguh aku telah menang.”

Darah mengalir sampai ke janggutnya, sementara di belakangnya, Ibn Muljam, yang sesegera mungkin diringkus jemaah salat subuh, seketika menjadi pribadi kalah.

Ibn Muljam kalah bukan dari siapa pun, melainkan kalah dari amal ibadah yang ia kerjakan selama hidupnya. Ia kalah lantaran tidak mampu mengelola egonya, lebih-lebih menekannya demi memenuhi ambisi sektariannya.

Ibn Muljam dengan kata lain, kalah dari ekpektasi dirinya untuk menjadi pribadi yang taat sebagai hamba Allah.

Peristiwa bersejarah di malam-malam lailatul qadr itu, kelak memberikan suatu gambaran klasik mengenai dua kepribadian, atau malah dua simbol agama berkaitan seperti apa orientasi menjadi mukmin sebenarnya.

Ibn Muljam, praktis setelah kejadian pemberontakan sepihak itu, sebenarnya menjadi pribadi yang melecehkan dan mengingkari setidaknya tiga hal sekaligus.

Pertama, sebagai warga negara yang hidup di dalam kepemimpinan ulil amrinya, ia sama sekali tidak mencerminkan menjadi ”warga negara” yang baik. Justru ia  menjadi warga yang khianat terhadap negara yang datang dari kelompok pemberontak Khawarij. Kelompok ini awalnya merupakan mantan pasukan Imam Ali yang membelot dan membentuk kubu perlawanan di suatu tempat sebelum Kufah bernama Harura.

Saat pertama kali ia memiliki niat untuk menebas kepala khalifah saat itu, saat itu pula ia dikategorikan sebagai ”warga negara” pemberontak yang melenceng dari kewajibannya mematuhi kepala negara (agama). Dalam konteks kehidupan saat itu, melawan ”negara” sama artinya melawan hukum agama.

Kedua, karena mengangkangi salat untuk membunuh Imam Ali, otomatis Ibn Muljam sedang menghina agamanya sendiri. Ia telah memanfaatkan medium agama demi memenuhi ambisi pribadinya. Ia jadikan salat sebagai sarana perilaku kejamnya.

Saat itu, ia mirip fenomena selama ini, yakni banyak orang yang memanfaatkan agama demi akses kepada kehidupan yang lebih sejahtera. Rela menjual agama untuk kepentingan pribadi, atau kelompoknya. Tidak bisa dibayangkan, kejahatan macam apa yang lebih keji selain dilakukan bersamaan di dalam salatnya?

Ketiga, percobaan pembunuhan dilakukan Ibn Muljam, adalah jenis kejahatan tingkat tinggi karena bertujuan menghilangkan nyawa sesama umat muslim, apalagi dalam hal ini adalah Imam Ali yang menjabat sebagai khalifah saat itu. Motif kejadian dilakukan di saat sedang melaksanakan salat, dan terjadi di dalam masjid, tempat suci yang dipakai beribadah bagi umat muslim, adalah dua alasan lain mengapa tindakan Ibn Muljam ini mesti dihukum berat.

Selain dilakukan di dalam masjid, semua kejahatan Ibn Muljam ia lakukan dalam keadaan mabuk setelah menenggak khamr, dan terjadi di jelang sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Coba perhatikan dengan saksama, itu menandai betapa Ibn Muljam hanyalah pribadi tanpa ilmu (jahil) dan beragama hanya karena dorongan nafsu semata, sehingga hanya mementingkan kepentingan kelompok politiknya (ta’ashub). Ia mewakili figur orang beragama yang asbun (asal bunyi). Si abid yang merasa benar sendiri dan merasa paling mewakili kebenaran al-Qur’an.

Dalam suatu perjalanan menuju negeri-negeri pelosok, Ibn Batutah, seorang traveler muslim di Abad Pertengahan, menemukan suatu kawasan tanah hitam yang berbeda dari tanah di sekitarnya, di Kufah bagian barat saat ia meneliti di kawasan itu. Menurut masyarakat Kufah, itulah kuburan Ibn Muljam si pembunuh Imam Ali, yang setiap tahunnya dijadikan tempat membakar kayu  selama tujuh hari tujuh malam di atasnya. Catatan ini diabadikan di dalam kitab Batutah yang terkenal berjudul Tufatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amār wa ʿAjāʾibil Asfār (Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib).

Ibnu Muljam. Ia tamat, tapi dengan cara su’ul khatimah.

26 Mei 2020

Nama-nama yang Mesti Dikenang di Hari Pendidikan Nasional


Di hari pendidikan ini, ingin saya tulis nama-nama guru-guru yang telah berjasa bagi pendidikan saya selama ini. Tentu tidak semua dikarenakan tidak semua guru membuat kesan kuat dalam ingatan saya:
  1. Guru dan wali kelas SD kelas 1. Bertahun-tahun setelah saya dewasa, saya kesulitan mengingat nama-nama guru terutama saat duduk di bangku sekolah dasar tahap awal. Nama wali kelas saat itu juga tidak saya ingat, apalagi wajahnya. Mungkin, suka duka para guru-guru SD terutama di kelas-kelas awal, adalah betapa sulitnya mereka diingat oleh murid-muridnya kelak. Meskipun demikian, merekalah para pelopor pendidikan di periode awal pertumbuhan seorang anak. Tanpa mereka apa jadinya kita ini.
  2. Ibu Bene dan Ibu Mince. Dua nama ini paling saya ingat selain Ibu Jum, guru agama saya saat bersekolah di SD N 1 Bonipoi Kupang, NTT. Ibu Bene adalah wali kelas saat saya duduk di kelas 6, dan Ibu Mince merupakah guru olahraga sekolah yang berpenampilan tegas, bersuara lantang, dan tomboi. Ibu Bene guru yang baik, dan sulit saya lupakan jika ia bermuka ketus mengembalikan buku pekerjaan tugas saya pasca ia memeriksanya. Ibu Mince, seperti saya bilang, suaranya lantang dan memotong pendek rambutnya menyerupai laki-laki. Untuk ukuran saat itu, Ibu Mince tergolong guru yang ”galak”. Naik ke SMP, saya hanya berhasil menyelamatkan beberapa nama-nama guru. Saya menjalani satu tahun sekolah menengah pertama di kota Kupang. Kerusuhan 98 di Kupang membuat bapak mengambil langkah pulang kampung ke Bulukumba (bandingkan dengan pengertian mudik yang sempat heboh itu). Praktis sejak saat itu saya pindah sekolah, menemukan kehidupan baru, dan juga guru-guru baru.
  3. Ibu Syarwana. Belio saya ingat karena dialah guru bahasa daerah saat saya menjadi murid baru di SMPN 2 Bulukumba.  Saya selalu kesusahan mengikuti pelajarannya untuk mengingat huruf-huruf asing yang kelak saya tahu sebagai aksara bugis. Belio saat itu sudah lumayan tua, dan mungkin mendekati masa pensiunnya. Ketika sering saya mendengar anak-anak muda Bugis yang tidak mengetahui aksara lokalnya, terlintas Ibu Syarwana ini.
  4. Pak Nurdin dan Pak Syahrir. Dua guru ini saya ingat karena hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran berbau teknis. Pak Nurdin guru teknik saat saya duduk di kelas 3, yang memperkenalkan kami kepada benda-benda kecil bernama transistor dan sejenisnya. Ia suka menggambar garis-garis pendek berbentuk seperti denah rumah yang dalam ilmu teknik elektro sebagai rangkaian listrik. Belio ini tergolong guru yang sering membuat kami takut, apalagi jika belio yang mengambil alih urusan yang berhubungan dengan murid-murid nakal. Pak Syahrir guru muatan lokal kami yang sering membawa kami keluar kelas di halaman sekolah untuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh berantakan. Kadang kami harus mencangkul, mengecat pagar, sampai merapikan penataan bunga-bunga sebagai  bagian dari mata pelajarannya.
  5. Guru-guru yang hanya saya ingat wajahnya tapi tidak (lagi) namanya. Pertama guru pendidikan kewarganegaran, seorang ibu bertubuh pendek saja, yang ternyata nenek dari seorang teman bernama Adi Zulhikam. Adi penggemar Jamrud, band rock yang sedang naik daun saat itu, dan memiliki ruas-ruas goresan silet di lengannya yang selalu ia sembunyikan dari guru-guru. Kedua, dua orang ibu guru Matematika dan bahasa Indonesia di kelas tiga. Seorang bapak guru fisika, dan bapak guru mata pelajaran kewarganegaraan.
  6. Seharusnya guru-guru semasa SMA jauh lebih mudah diingat karena masih dekat dengan kehidupan kita saat ini. Tapi apa bloeh buat, saya adalah orang dengan kemampuan ingatan yang buruk. Berikut nama-nama guru di tingkat pendidikan yang disebut-sebut paling indah itu: Ibu Harwati dan Pak Djabar. Yang pertama adalah wali kelas saya ketika kelas 1 empat. Belio ini suka berkomentar lucu-lucu dan mengampu pelajaran fisika. Suami belio guru bahasa indonesia bernama Pak Djabar. Ya mereka berdua pasangan suami istri, dan keduanya merupakan om dan tante saya. Berturut-turut Ibu Hartanti, guru bahasa Inggris yang lumayan judes, ibu Ragwan yang sering dipanggil Ibu Rage dan sering mengeluarkan humor lucu saat mengajar, guru agama. Ibu Darmawati guru PPKN, Pak Karim, Pak Safar, guru sejarah dan guru olahraga. Pak Yasin guru BP. Belio ini salah satu guru angker di sekolah kami. Dia pernah memiting kakak kelas mirip dipertandingan smackdown. Pak Hadis guru geografi, dan… sampai di sini saya mulai lupa nama-nama dan hanya mampu mengingat muka-muka tulus guru-guru saya mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Mereka semua ikut andil dalam membentuk paras pendidikan saya.

 Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...