17 Mei 2020

Utopia Kuburan Kapitalisme di Hari Buruh Sedunia


Gambar pamflet peringatan Hari Buruh
Sumber gambar di sini

BURUH atau kelas yang tertindas itu memang tragis. Tak memiliki apa-apa selain tenaga. Tak memiliki apa-apa selain otot. Dalam sistem pemuja kapital, tenaga dan otot mereka dikuras dan diisap. Mereka mengalami keterasingan, dari mesin-mesin, dari barang-barang, juga dari masyarakat.

Alienasi itu memang ajaib mengubah manusia. Kerja satu-satunya milik buruh berubah menjadi milik tuan pemodal. Dengan upah, tuan-tuan modal memiliki semacam mukjizat, semacam kelebihan: menyulap buruh jadi alat kekayaan.

Maka dari itu buruh jadi manusia yang kerdil. Di dalam sistem kapitalistik, buruh bukan berarti pribadi individualistik. Di dalam roda industrialisasi, buruh jadi kelas, buruh jadi kaum.

Sebab itulah di balik sistem kapitalistik, ada penjajahan massal. Di dalam urat nadi industrialisasi kaum buruh menjadi seperti atom di dalam tatanan akbar kapitalisme. Ia kecil tapi signifikan justru bukan bagi kelasnya. Di dalam tatanan akbar itu, buruh kian dirundung masalah.

Kapitalisme, yang diriwayatkan tamat oleh Karl Marx itu nyatanya bertransformasi. Ia berkembang berjilid-jilid. Dari kapitalisme tua, pramodern, modern, hingga kapitalisme lanjut. Semula, buruh adalah kaum pekerja yang dikuasai tuan pemodal di dalam pabrik-pabrik.

Tapi itu tadi, zaman berubah, dan kapitalisme juga berubah: sekarang struktur berubah, juga pasar, dan kapitalisme tidak sekedar sistem tunggal, melainkan jamak menjadi struktur kekuasaan yang berlapis dan bersusun.

Di dalam sistem yang berubah itulah buruh berubah dari pekerja menjadi profesi yang luas. Dalam arti inilah seorang guru juga seorang buruh, seorang dokter juga berarti proletar, seorang polisi berarti pekerja, seorang pegawai berarti budak. Juga yang lain, di dalam pasar, hampir semuanya menjadi alat kekayaan tuan-tuan kapital.

Sebuah penghisapan massalkah ini?

Sepertinya tak ada yang absen dari logika kapital. Kerja dalam arti kapitalistik sama halnya menjual jasa pada sistem yang belum tamat ini. Kerja di abad kiwari, bukan lagi persis seperti di abad lalu yang mesti bersentuhan langsung dengan alat produksi berupa mesin di pabrik-pabrik.

Kerja, dengan semangat zaman yang baru, adalah pertukaran tenaga dan keahlian menjadi keuntungan kapital bagi nama baik perusahaan, rating tinggi media, citra baik pemerintah, atau bahkan nilai sempurna akreditasi perguruan tinggi. Abad kiwari, setiap tetes keringat akan ditransformasikan menjadi kapital baru. Dari tenaga menjadi keahlian. Dari otot diganti otak.

Tiada yang abadi di dalam kapitalisme selain kerja. Kerja atau mekanisme menggerakkan modal dari cukup menjadi berlipat ganda adalah inti sistem global saat ini. Siapa pun mau tidak mau, atas nama apa pun bakal disedot masuk mengisi satu slot ruang pekerja. Entah menggunakan seragam, helm pengaman, atau stetoskop. Dipaksa atau terpaksa.

Karl Marx sudah jauh hari mewaspadai, di dalam sistem masyarakat kapitalistik, kerja yang dilakukan tanpa gairah dan kebebasan akan menjadi petaka.  Akan menjadi alienatif. Kerja  macam inilah yang disebut mengkerdilkan kemanusiaan. Menciutkan arti hakikat manusia seolah-olah seperti binatang.

Kerja, bagi Marx adalah modus sejarah. Kerja adalah cara manusia mengelola apa yang awalnya nature menjadi culture. Dari kerjalah manusia mengubah alam yang asing menjadi ruang yang akrab. Marx mengyakini, kerja adalah aspek manusiawi dari manusia. Kerja adalah upaya meneguhkan ekspresi hidup manusia. Dengan begitu, kerja berarti memanusiakan manusia.

Tapi sekali lagi, di dalam cara bereproduksi, kekejaman kapitalisme mampu mendesak kerja yang manusiawi menjadi nonmanusiawi. Mau tidak mau buruh yang tak memiliki apa-apa menjual jasanya. Dengan menjual tenaganya berarti buruh menjual dirinya. Dengan tangan kosong buruh menggadai kebebasannya. Sebab itulah kerja menjadi tidak manusiawi. Karena itulah kerja menjadi alienatif.

Sulit ditampik bagaimana Marx begitu mencela kapitalisme. Dia mungkin kecewa. Dia mungkin risau. Tapi mungkin juga geram. Itulah barangkali mengapa ia menulis manifesto yang terkenal itu. Mengajak siapapun di bawah sistem tunggal kapitalisme. “Wahai kaum buruh sedunia, bersatulah!” Dan kita tahu, tulisan yang diawali frase itu, banyak menginspirasi hampir banyak orang.

Buruh hari ini sudah tidak segeram Marx menghardik sistem yang tak mati-mati itu. Tapi juga bukan lapisan kelas yang gampang dikibuli tuan-tuan pemodal. Mereka punya taktik melawan kapitalisme. Mereka punya front perjuangan atau bahkan punya partai perjuangan. Mereka bersatu dalam satu keyakinan yang pasti: di manapun, bagi buruh, kapitalisme harus tumbang.

Dengan itu sepertinya buruh yakin atas ramalan Marx. Kapitalisme akan menggali kuburannya sendiri. Sistem kapitalisme akan terjerat pertarungannya sendiri. Marx menyebutnya kontradiksi internal: iman yang pasti akan keruntuhan dengan sendirinya kapitalisme. Meski itu bakal lama terjadi. Meski bisa sebaliknya, itu bakal tidak mungkin terjadi.

Adakah yang salah dengan itu? Adakah yang mesti dibuktikan di situ? Saya pikir ramalan bukan berarti urusan keyakinan yang harus dibuktikan. Justru sebaliknya, karena tidak pernah terbukti, sesuatu itu semakin menjadi keyakinan. Sesuatu utopiakah ini? Rasa-rasanya optimisme itu penting: karena suatu cita-cita jadi utopia, maka ia mesti terus diperjuangkan. Juga buruh yang jadi alat kekayaan pemodal itu, semakin diisap semakin melawan. Ini memang mirip pegas.
Selamat hari Buruh Internasional. 1 Mei 2020

===

Telah tayang di Kalaliterasi.com

10 Mei 2020

Tubuh al Insan, Kebajikan Badani saat lulus PSBB


Nurhidayat “Images dévorantes” (2017). 150 cm x 150 cm, cat akrilik di atas kanvas. 
FOTO: Nurhidayat. Sumber: https://artspace.id/


SELAMA ramadan kali ini, tubuh dan jiwa mengalami ujian dua kali lipat dari biasanya. Masa PSBB membuat jiwa, terutama tubuh mengalami pembatasan radikal dan ekstrem. Tubuh seketika tidak dapat bergerak kemana-mana. Pengalaman spasialnya otomatis menyempit untuk tidak mengatakannya hilang sama sekali.

Tubuh, berkat PSBB mau tidak mau mesti menerima rumah sebagai satu-satunya wahana tempat ia bergerak.

Agak unik melihat fenomena ini, oleh sebab seolah-olah secara sosial tubuh mengalami obesitas. Ia sulit bergerak berpindah dari satu ruang ke ruang lain, walaupun tidak sama sekali kelebihan serat daging.

Meski tubuh fisik secara fungsional mampu mengatasi ruang yang maha melimpah,  namun tetap saja, di luar, ruang sosial yang lebih luas, tubuh mengalami penyempitan kehilangan kemampuan bergeraknya seperti saat kelebihan beban.

Obesitas tubuh sosial ini bukan tidak mungkin akan berdampak terhadap tubuh fisik ini. Dengan kata lain, semakin lama kita terkurung di dalam rumah, akan semakin cepat tubuh kita mengalami pembengkakan akibat kehilangan setengah ruang geraknya.

Dalam momen ini, agaknya hikmah Ramadan dalam suasana PSBB ini adalah menjadi alat timbang yang mengontrol tubuh agar tidak mengalami obesitas. Ruang gerak yang minim akan ditransformasikan menjadi lebih sepadan saat tubuh mengalami pengurangan asupan melalui puasa.

Walaupun demikian, meski tubuh saat ini mengalami diet sosial, ia senantiasa memanfaatkan jiwa untuk mengoperasikan dirinya agar dapat bergerak lebih bebas.

Di saat inilah jiwa mengalami dua kali lipat ujian. Di samping ia ditimpa beban keinginan tubuh agar ingin terus bergerak, ia sendiri juga mengalami godaan dari dalam berkat kemampuannya melakukan proses imajinasi secara bebas.

Kiwari, tubuh lebih fleksibel bergerak ketika ia dibantu melalui device canggih berupa smartphone. Teknologi smartphone dalam hal ini selain menjadi alat bantu indera, sebenarnya juga menjadi kepanjangan tubuh.

Tubuh, dengan kata lain, di saat mengalami hambatan gerak saat PSBB, tidak serta merta terpenjara sama sekali. Selama ia dibantu melalui identitas maya melalui akun-akun virtual, ia dapat bergerak dari satu situs wilayah ke situs wilayah lain dengan menggunakan tubuh maya yang dibuat sebelumnya.

Di satu sisi keadaan ini akan sama dengan situasi ketika PSBB belum diberlakukan. Selama ini tubuh memanfaatkan pasar sebagai arena bermainnya. Di mal, toko pakaian, pub, restoran siap saji, adalah wilayah-wilayah penting tempat tubuh selama ini memenuhi kebutuhan hasratnya.

Sekarang, saat tubuh mengalami pembatasan berskala besar, ia memanfaatkan dunia maya sebagai medan petualangan barunya. Ini dalam pengertian tertentu, merupakan kompensasi dari situasi yang sudah diakrabi tubuh sebelumnya.

Bahkan, pergerakan tubuh maya di saat ini lebih bebas merambah dunia yang tak pernah dijamah tubuh fisik. Dengan aturan sosial yang lebih bebas, tubuh maya bisa melakukan apa saja dengan cara apa pun jika ia ditopang unsur genetik berupa byte-byte yang tak terhitung jumlahnya.

Itu artinya ketika tubuh kehilangan medium gerak dalam ranah spasial-sosialnya, ia bakal mencari medium baru agar ia dapat terus bergerak dan menyalurkan keinginan terpendamnya di ranah yang lebih aktual.

Interaksi kelas online, kajian online, belanja online, dan grup-grup maya yang lebih ramai dari masa sebelum PSBB merupakan contoh konkret bagaimana tubuh susah ditundukkan oleh aturan yang membatasi ruang bergeraknya. Positif atau negatifkah ia, terlepas dari motivasi apa pun itu, tubuh liat mencari cela dan ruang baru untuk mempertahankan eksistensinya.

Bagaimana dengan jiwa? Jiwa lebih dahsyat lagi. Selama tubuh bergerak bebas melalui interaksi maya, di saat bersamaan jiwa juga melakukan gerak imajinatif di dalam dunia imajinary.

Bukan saja jiwa dapat menyambangi dunia fantasi yang dibentuk realitas imajiner, bahkan ia sendiri bisa menduplikasi dengan cara membentuk sendiri dunia fantasi yang ia inginkan.

Dibandingkan tubuh, imajinasi jauh lebih berbahaya jika dibiarkan bebas bergerak. Jika tubuh menemukan momentum aktusnya di dalam dunia maya, jiwa justru dapat menciptakan aktus di dalam dunia kemungkinan yang tidak dapat ditemukan di dalam dunia maya tempat tubuh beroperasi.

Itu artinya, jiwa yang tidak dikendalikan dengan bajik, akan membuat suatu dunia imajiner yang melanggar nilai normatifitas yang selama ini diakui.

Dalam terminologi Islam, tubuh dikategorisasi menjadi tiga tipe. Al Qur'an membaginya menjadi tiga berupa al insan, al nas, dan al basyar. Pemakaian tiga terma tubuh dalam al Quran ini berbeda-beda dari segi makna dan tujuannya.

Al Insan adalah lapisan subtantif yang mengakomodasi dinamika transendental manusia berupa kemampuan intelektual dan merasanya. Insan adalah pribadi yang unik. Tubuh dari sisi insan, tidak bisa disamakan walaupun diperhadapkan kepada dua anak kembar sekalipun.

Al Nas sering dipakai al-Qur'an untuk menunjuk tubuh sosial manusia. Nas adalah kualifikasi interaktif tubuh ketika berhubungan dengan sejarah dan kebudayaannya. Ia bakal langgeng ketika tubuh mengalami ”perbauran” dan ”persatuan” bersama tubuh lain di masyarakat.

Sementara al basyar adalah unsur fisikalitas manusia. Tanpa unsur ini, tubuh tidak mungkin tersusun berdasarkan urutan dan fungsi biologisnya. Basyar merupakan kulit paling terdepan manusia yang membentuk anatomi khusus dari organ-organ pembentuknya. Basyar sering dirujuk al Qur'an ketika menarasikan tubuh yang berkaitan dengan perkembangan dan kebutuhan biologisnya.

Melihat tubuh dari tiga tipe di atas, nampaknya hanya dua yang berhasil ditundukkan melalui aturan PSBB. Tubuh dalam pengertian nas dan basyar adalah dua tipe tubuh yang mengalami perumahan. Ia praktis dalam masa PSBB mengalami pendisiplinan ketat untuk menghalau penyebaran penyakit yang saat ini sedang dihadapi.

Sementara, insan adalah tubuh yang menjadi golden goal selama puasa. Jika PSBB bertujuan menundukkan tubuh nas dan basyar sekaligus secara bersamaan, maka selama Ramadan, dua tubuh ini mesti mencapai tubuh insan sebagai tujuan utamanya. Al Qur’an menyebutnya taqwa sebagai puncak keberhasilan jika dua tipe tubuh sebelumnya berhasil dididik selama menjalani masa karantina puasa ini.

Kelak jika kualitas al Insan dapat diraih, jiwa akan merdeka dan suci setelah selama 30 hari menjalani karantina dari godaan gejolak tubuh, hasrat, dan imajinasi yang selama ini menjadi lawan terberatnya.

===

Telah tayang di Kalaliterasi.com dengan judul Al Insan, Kebajikan Tubuh Saat Lulus PSBB

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...