02 Mei 2020

Cara Pendidikan Diktator Menciptakan Homo Academicus





TAK ada pendidikan yang baik tanpa melibatkan dialog di dalamnya. Kira-kira 300-400 tahun silam sebelum masehi, dialog sudah didudukkan sebagai bagian penting pendidikan.

Konon di masa itu, Aristoteles, senang berjalan berkeliling mengitari murid-muridnya sambil bercakap-cakap. Di akademia yang dia bangun itu, Aristoteles yang berjalan ibarat putaran jam itu kelak menginspirasi suatu pendekatan yang khas dalam wacana ilmu filsafat.

Akademianya, tempat dia mengajar, dalam sejarah, menjadi cikal bakal berdirinya universitas-universitas. Juga, sebelum Aristoteles, Socrates malah memakai dialog sebagai metode mengungkap pemahaman.

Sampai-sampai karena metodenya ia malah disebut sebagai sang bidan. Ibarat "dukun beranak" Socrates hanya bertugas membantu orang-orang melahirkan sendiri pemahamannya. Pengetahuan hanya bisa dilahirkan dari rahim orang-orang bersangkutan.

Tidak ada anak yang lahir di luar dari rahim ibunya. Begitu kira-kira maksud dari metode bidan Socrates. Itulah sebabnya pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang lahir dari rahim pikiran sendiri. Bukan dari rahim siapa-siapa. Bahkan dalam pendidikan, dialog adalah kunci.

Tapi, bagaimana mungkin menempatkan pendidikan yang ideal dalam konteks masyarakat seperti sekarang, sementara sekolah, atau bahkan intitusi pendidikan tinggi, hanyalah ruang publik yang minim dialog? Institusi yang lebih tepat disebut rezim fasis! Bukankah dialog mengandaikan hubungan yang setara? Suatu relasi yang disebut sepadan, yang memungkinkan pentingnya pertukaran pemahaman di dalamnya? Tapi fasis tetaplah fasis! Suatu mekanisme pemerintahan yang bukan saja berlaku dalam sistem politik, tapi juga dalam pendidikan. '

Dengan apik, banyak kritikus pendidikan yang mendakukan bahwa dunia pendidikan adalah refleksi masyarakatnya. Era sekarang, ketika kapitalisme mutakhir menjadi momok tak terhindarkan, pendidikan yang memiliki tujuan yang luhur itu pada akhirnya didudukkan berdasarkan skema masyarakat kapitalistik.

Menurut pendakuan Jean Anyon, seorang sosiolog pendidikan marxis, relasi pengetahuan yang berlaku dalam institusi pendidikan, hanyalah mereplika sistem transaksional jual beli masyarakat kapitalistik.

Dengan kata lain, proses sosial, hubungan sosial, dan kedudukan sosial dalam dunia pendidikan, merupakan bentuk lain dari sistem kelas masyarakat yang mensubordinasi kelas pekerja melalui ilmu pengetahuan.

Dari penelitiannya juga, Anyon menyatakan institusi-intitusi pendidikan selama ini banyak menggunakan logika pasar di dalam mengelola intitusinya.

Dimulai dari kebijakan pengembangan intitusi, sampai kepada pengelolahan kurikulum dan praktek belajar mengajar, didasarkan kepada akumulasi kapital dengan cara membentuk sistem stratifikasi kelas masyarakat berdasarkan satuan-satuan dan tingkatan-tingkatan kemampuan ekonomi.

Itulah mengapa sampai hari ini, terutama dalam institusi pendidikan tinggi banyak sekat-sekat yang membagi secara kategoris satuan belajar berdasarkan tingkat ekonominya. Kata Ivan Illich, proses pendidikan yang dikonfigurasikan atas sistem ekonomi, hanya menghasilkan out put yang tak bermutu.

Di saat itulah ilmu pengetahuan menjadi komoditi. Seperti benda-benda yang terpampang dalam etalase pertokoan. Atau bukan saja ibarat sistem jual beli, pengetahuan yang sejatinya bersifat dinamis dan berkembang hanya menjadi tanah kering yang mudah kaku akibat fasisnya sistem belajar mengajar selama di kelas-kelas. Kenapa bisa disebut fasis? Sederhana saja! Sejauh di dalam praktik-praktik berpengetahuan, nilai dan sumber-sumber pemahaman hanya diasalkan melalui satu sumber.

Dan, ini ciri yang kedua, ketika tidak ada satupun ruang terbuka untuk menyoal sesuatu, atau bahkan memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat. Proses diseminasi yang demikian, malah mengartikan ilmu pengetahuan ibarat dogma.

Kendati dikatakan sebagai proses transformasi, bentuk dan isi pengetahuan dalam situasi demikian hanya didudukkan dalam pengertian statis dan fixed. Ilmu akhirnya menjadi barang baku yang sama ketika diajarkan dan sama ketika diungkapkan kembali. Ada istilah yang khas dari Pierre Bourdieu, filsuf cum sosiolog pendidikan Perancis: homo academicus.

Dengan sinis, Bourdieu merumuskan istilah ini untuk menunjukkan betapa pragmatisnya motivasi dunia intelektual yang mengejar kedudukan akademis dengan meninggalkan hasrat pencarian ilmu pengetahuan.

Banyak di antaranya para ilmuwan dalam institusi pendidikan tinggi, hanya mementingkan gelar akademik yang mentereng tanpa benar-benar mengindahkan aspek intelektual dari karir akademiknya. Bahkan, gelar akademik hanya dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu, semisal memperdalam dan memperluas gengsi kekuasaan.

Dengan kata lain, aristokrasi akademis menjadi satu-satunya tujuan seorang ilmuwan untuk meningkatkan kekuasaan simboliknya dalam stratifikasi ilmu pengetahuan dan masyarakat ilmiah.

Dari pengamatan yang lain, Michel Foucault lebih surut ke belakang melihat kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan. Menurutnya, pengetahuan selalu menyatakan diskursusnya dalam rangka mempertahankan posisi dominan kaum tertentu. Atau sebaliknya, kekuasaan seringkali menciptakan diskursus pengetahuannya dengan tujuan menopang secara ideologis kekuasaan itu sendiri.

Pengetahuan yang dikendalikan melalui normatifitas, dengan sendirinya akan menciptakan pendisiplinan dan pengontrolan tentang apa yang layak dipikirkan, diwacanakan, dan dilakukan. Dalam situasi demikianlah, dalam konteks pendidikan, subjek terdidik mengalami pelucutan dari kebebasannya sendiri. Pengetahuan dengan begitu, dengan kata lain hanyalah kata ganti dari kekuasaan.

Kembali ke soal dialog.

Apabila relasi pengetahuan diartikan secara sepihak, maka tidak mungkin ada dialog. Mustahil ruang diskursif sebagai wahana pertemuan gagasan dimungkinkan.

Dialog hanya mungkin jika ada posisi yang dibuat setara, ada titik-titik yang dibuat seimbang, dan hilangnya sekat-sekat yang menggambarkan keseimbangan antara posisi dominan dan posisi yang subordinat. Jika tidak, seperti kata Foucault, hubungan yang berpotensi menjadi relasi hirarkis akan menyubordinasi yang lain dengan kekuasaanya. Kalau begitu, fasis tetaplah fasis, pendidikan sekalipun!

Selamat hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020


21 April 2020

Baltazar: Si Beruang Kutub, Juru Bicara Kebebasan dari Jeruji Valle Central


Judul: Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
Penulis: Claudio Orrego Vicuna
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
ISBN: 978-979-1260-82-4
Tebal: 68 halaman




“Barangsiapa sanggup membaca apa yang ada di balik mata seseorang, atau membaca spektrum sinar mentari di lembah, atau membaca bayang pertama di atas salju putih pegunungan, ia akan bebas selamanya” (hal.66).


TIDAK seperti George Orwell melalui alegori politiknya, yang menggunakan banyak hewan-hewan dalam Animal Farm. Fabel politik Claudio Orrego Vicuna ini cuman butuh satu hewan untuk menyampaikan suasana atau gagasan mengenai kediktatoran kekuasaan politik.

Memang, dalam novelet 68 halaman ini tidak ada satupun kata politik dituliskan untuk mencerminkan bahwa ini karya berbicara fakta itu.

Tapi, jika pembaca mempertimbangkan faktor biografis, dan melihat novelet ini dari bayang-bayang penulisnya, maka tersirat dengan cara samar-samar bahwa karya ini juga implisit berbicara banyak berkaitan dengan kekuasaan.

Akan sangat berbeda ketika kebebasan sebagai esensi keutamaan manusia dibincangkan dalam spektrum politik melalui karya sastra. Apalagi jika itu dimasukkan ke dalam kehidupan binatang yang sarat perbedaan dengan manusia.

Dalam rangka itu, Claudio Orrego Vicuna hanya membutuhkan satu saja penanda untuk membenarkan hal ini: kandang binatang.

Apa boleh dikata, sepertinya hanya kandang,
 ilustrasi paling pas untuk menggambarkan makna kebebasan. Bukankah kehidupan manusia juga demikian? Hidup dalam kandang yang ia ciptakan sendiri sambil sembunyi-sembunyi mengharapkan kebebasan?

Dan, dari dunia kandang inilah, sekotak besi jeruji seekor beruang kutub, Claudio membentangkan sejumlah paradoks kemanusiaan, terutama jika itu menyangkut hal ihwal yang dialami manusia.

Ya, novelet ini bercerita tentang seekor beruang yang diberi nama Baltazar, yang namanya diberikan cuma-cuma oleh penjaga kandang. Nama itu diambil dari nama seorang majusi berkulit hitam kelak ditahbis menjadi santo, yang mengunjungi Yesus beberapa saat setelah ia lahir.

Satu-satunya yang menghubungkan Baltazar dengan namanya adalah kulit bulunya yang berlahan berubah menjadi lebih gelap setelah ia lama tinggal di dalam kandang di sebuah kawasan bernama Valle Central, Cile.

Baltazar awalnya berbulu putih bersih seputih pasir es Artik tempat ia berasal.

Suatu pagi, seperti dikisahkan Baltazar sendiri, tiba mahkluk aneh dan jahat yang datang melalui suatu ekspedisi di Artik, suatu kawasan sabana es di daerah kutub. Mereka datang demi satu misi yang kelak diketahui dilakukan untuk menghibur orang-orang dengan cara memamerkan hewan-hewan eksotik di suatu tempat yang disebut kebun binatang.

”Mereka memecah keheningan dengan seruan-seruan mereka. Ledakan mereka dibalas dengan gema yang mengerikan dari es. Segala yang ada pada mereka terlihat di mata kami sebagai penjelmaan iblis” (hal.5).

Itulah kontradiktifnya manusia, yang disebut Baltazar mahkluk aneh penjelmaan iblis. Demi menghibur banyak orang melalui kebun binatang, mereka lalui dengan cara yang ganjil. Meledakkan gunung-gunung es dan menangkap hewan liar yang hidup tentram di habitatnya.

Perlu diterangkan di sini kata liar, mengingat seluruh kisah dalam novelet ini lahir dari kenang-kenangan yang diceritakan Baltazar sendiri. Ya, Baltzarlah sang narator dalam kisah ini. Beruang yang dapat berbicara dan menceritakan kisahnya dari dalam jeruji kandangnya.

Peradaban seringkali mengonseptualisasikan kehidupan di luar dari dirinya sebagai kehidupan liar. Peradaban yang juga berarti telah beradabnya pikiran dan perbuatan manusia, utamanya mendikotomikan dua dunia dari ukuran dirinya sendiri.

Itulah sebabnya, ketika bangsa Barat melalukan ekspedisi ke tanah jauh, yang belakangan disebut dunia Timur, dan melihat pola hidup yang berbeda dari kebiasaan masyarakat Eropa, kehidupan macam itu disebut tidak beradab. Kehidupan tanpa konsensus, dan lebih mirip kehidupan binatang.

Ini persis seperti adegan pasukan Kaizar Hirohito dalam film The Last Samurai, yang berdiri di atas suatu bukit, dan memandang kehidupan masyarakat tradisional Jepang di bawahnya, yang mengatakan akan kita bangun peradaban di atas tanah ini melalui rel kereta api.

Saat itu atas nama Barat, sang jenderal sedang mengimajinasikan negerinya akan tumbuh sama seperti saat Barat membangun kehidupannya. Atas nama, apa yang diistilahkan secara akademik sebagai civilization.

Atas logika semacam itulah Baltazar kemudian ditangkap dan dibawa pergi meninggalkan kampung halaman. Ia dipisahkan jauh sampai ke tempat para manusia tinggal berbondong-bondong. Tidak seperti padang es yang maha luas, hening, dan selalu menyediakan keterpukauan oleh sebab hari-hari baru yang terus berubah.

”Masa-masa itu, hidup begitu merdeka, dan mudah. Jangan kira ini hanya karena kami masih muda, sekalipun itu bisa jadi salah satu bagian cerita. Namun juga karena lanskap putih yang mahaluas itu sungguh indah” (hal.4).

Atas nama peradaban, si beruang Baltazar dengan sepihak mesti melayani kebutuhan umat manusia. Dalam hal ini, ia seolah-olah berada di lapangan bundar dalam tenda besar sepasukan badut sirkus, menjadi objek tontonan demi menyenangkan hati manusia.

Semua pandangan itu—dan juga stigma dalam kehidupan manusia—lahir dari bias kehidupan antroposentris yang menganggap manusia sebagai titik gravitasi kehidupan alam semesta. Di luar dari itu, seluruh eksistensi hanyalah realitas sekunder yang berfungsi sebagai faktor penunjang. Dari kehidupan mickrowujud hingga manusia, semua itu mengalami pelapisan secara hirarkis yang mendudukkan manusia di atas puncaknya.

Lalu bagaimana dengan kebebasan?

Baltazar berkisah: ”Untuk menjadi bebas tidaklah cukup dengan hanya bisa bergerak di atas dunia ini atau di antara orang-orangnya. Bebas bergerak hanya sarana untuk menemukan makna yang lebih dalam dari hal ihwal. Tapi itu sendiri belum berarti apa-apa” (hal.62).

Suatu refleksikah ini?

Yang jelas, dari balik jerujinya, Baltazar dapat berkesimpulan demikian ketika melihat muka-muka orang yang ia katakan berwajah kelabu, suatu warna yang ia kontraskan dengan warna putih, warna yang mewakili dunianya.

Di atas serbuk-serbuk es, Baltazar, bersama teman-temanya, dan juga anjing-anjig laut, bisa melakukan apa saja: berburu ikan, menyelam, atau berseluncur di atas bukit-bukit es padat. Di tempat ini, malam dan siang sama saja, kemana pun Baltazar mendongakkan kepalanya hanyalah horizon berwarna putih maha luas.

Dalam konteks ini, seperti Luis Sepulveda, pengarang Cile penulis Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, Claudio Orrego Vicuna juga menjadi musuh Augusto Pinochet, yang  menyublim suara protesnya kedalam renungan-renungan reflektif selama kediktatoran Pinochet berdiri. Satu tema yang mencolok dari karyanya ini sudah tentu kebebasan.

Baltazar, si beruang sekalipun mengatakan, untuk menjadi bebas tidak cukup hanya bisa bergerak di atas dunia dan antara orang-orang, itupun dikatakan belum ada apa-apanya.

Toh pada akhirnya, kebebasan bukan soal tempat, atau bahkan seperti kehidupan maha luas di atas hamparan salju seperti di kutub utara. Baltazar menemukannya, melalui wadah yang juga menjadi senjata satu-satunya dari orang seperti penulisnya: pikiran dalam benaknya.

”Aku takkan pernah benar-benar bebas, tapi aku telah menaklukkan dunia sekelilingku ke dalam benakku… Apa yang bisa diperbuat si pengurung terhadap pikiranku” (hal.62).

“Sebelum itu terjadi, tak ada gunanya mengurung kami di balik jeruji. Orang lebih bebas di balik jeruji ini ketimbang di luarnya, di kota-kota kelabu yang tak mengenal riangnya terang..., bahwa kuperoleh kebebasanku saat berada di balik jeruji penjara dan bahkan aku menganggap diriku lebih tinggi dibanding para pengurungku” (hal. 66).

Demikianlah, di titik ini novelet berjudul asli Las sorprendentes memorias de Baltazar: cuento, gamblang menyorot kebebasan ke dalam pemilahan yang kadang kabur antara makna ”di dalam kandang” dan ”di luar kandang”.

Tentu, bukan kabur di mata seekor Baltazar, tapi kehidupan manusia yang kiwari demikian sulit keluar dari jeruji rutinitasnya, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam. Terjebak di dalam gelembung ideologi, pasar bebas, dan juga agama.

Semua itu kian kesini makin  mirip kandang jeruji Baltazar. Semakin hari makin sesak saja.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...