13 April 2020

Revolusi Senyap Covid-19: Ia Ada dan Berlipat Ganda


Ilustrasi grafis Corona.
Corona berasal dari
bahasa Latin yang berarti mahkota


SAMPAI saat ini, hanya dua ideologi pemikiran yang berhasil menciptakan revolusi sosial politik di dunia: Komunisme, dan Syiah 12 Imam. Sekarang, dunia sedang mengalami devaluasi besar-besaran.

Tatanan ekonomi dunia terancam resesi, percaturan politik ambruk, interaksi masyarakat macet, wahana kebudayaan dan pendidikan seret. Suatu disrupsi sedang mengancam kemapanan peradaban umat manusia.

Pelan namun pasti, disrupsi berskala global ini digerakkan paksa suatu revolusi sunyi bernama… SARS-COV-2, yang menyebabkan pandemi Covid-19.

Dari namanya, Covid-19 bukan istilah yang lahir dari abad 19, seperti komunisme, apalagi Syiah yang sudah ada jauh sebelumnya. Ia revolusi ala abad 21, lahir di tengah-tengah menguatnya konservatisme kanan, dan terberainya ideologi kiri tandingannya.

Itu sebab tidak seperti pemikiran yang berasal dari abad 19, Covid-19 lebih up to date dan lebih milenial dari tonggak-tonggak pemikiran revolusioner lawas.

Jika ada tesis matinya ideologi, hal ini tidak berlaku bagi Covid-19. Covid-19 melampaui ideologi. Ia dunia pasca ideologi. Tidak berbasis kelas apalagi gender. Gerakan Covid-19 menerobos sekat kebangsaan, negara, kelas ekonomi, ras, dan agama.

Jika ada ungkapan Samuel Huntington berupa benturan antara peradaban, Covid-19 malah keluar dari basis konteks semacam itu. Revolusi ala Covid-19 malah membuat peradaban bangsa-bangsa saling mengenyampingkan kepentingan negara, regional, atau kongsi politiknya. Covid-19 malah membuat Timur dan Barat jadi keok, dan bersatu membuatnya jadi musuh bersama.

Covid-19 tidak pandang bulu menerjang korbannya. Barang siapa pasang badan seketika ia dicap kontrarevolusioner dan, tunggu saja! Tidak lebih 14 hari operasi serbu senyapnya bikin korban berjatuhan.

Covid-19 banyak diberitakan muncul kali pertama di negeri Tiongkok. Sebelum RRC menguasai perekenomian dunia, Covid-19 lebih awal menjalankan operasinya di kota Wuhan pusat industrialisasi negeri Tirai Bambu itu. Sebelum ramalan-ramalan memprediksi Cina bakal memimpin dunia, semenjak itu Covid-19 menyadari di mana ia mesti melakukan serbuan vitalnya.

Tidak dengan senjata, tidak ada pamflet peringatan, barisan massa, apalagi pekik suara toa. Bukan di alun-alun kota, jalan raya, apalagi di dunia virtual. Selama 24 jam revolusi senyap Covid-19 menjalar bak akar beringin. Di Cina memakan waktu tidak lebih tiga bulan membuat kehancuran vital. Ribuan korban dipukul masuk rumah rawat inap. Cina kolaps.

Setelah berhasil melumpuhkan Cina, Covid-19 mengekspor revolusinya ke negeri-negeri tetangga. Seolah-olah belajar dari revolusi Kuba, ekspor revolusi Covid-19 berhasil menembus palang pintu negara-negara lain.

Ke wilayah barat ia menyeberang lautan ke Korea Selatan sebelum masuk ke negeri matahari terbit, Jepang. Tanpa publikasi dan dokumen tertulis, kesenyapan Covid-19 menarik garis panjangnya sampai ke Italia. Okupasi tak terduga ini bahkan membuat penyelenggaraan sepak bola di negeri Pizza berhenti.

Ke sebelah timur, pergerakan Covid-19 memiliki banyak alternatif. Sebelum tiba di negeri para Mullah, Iran, ia bisa menduduki negara-negara pecahan Uni Soviet yang belum berumur 50 tahun. Ada Kirgistan, Turkmeinistan, naik ke utara menuju Uzbezkistan, dan terus ke Kazakhstan sebelum tiba di induk negeri Komunisme pernah berjaya.

Iran adalah palang pintu bagi revolusi Covid-19 menuju negeri-negeri sabana luas. Dari negeri pengikut Syiah terbesar ini, dan seolah-olah ingin mengkooptasi revolusi Islam Iran 1979, tidak memakan waktu lama bagi ekspor impor revolusi Covid-19 menancapkan pengaruhnya di negeri Arab.

Covid-19 spring, walaupun tidak menimbulkan korban banyak, tapi lumayan efektif menggelindingkan bolanya di negeri Arab. Terbukti, misalnya, Arab Saudi, mesti mengisolasi dirinya dari interaksi global dengan menutup Mekkah dari penyelenggaraan haji dan umrah.

Setelah menyasar bangsa-bangsa Asia, dan menjadikan Italia sebagai basis terbesar revolusinya, di Eropa, Covid-19 bermunculan bak cendawan di musim hujan. Kesenyapannya berkelit dari intel-intel dan rezim medis internasional, berhasil tiba tanpa jejak di Austria, Azerbaijan, Belarus, Belgia, Kroasia, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Georgia, Jerman, Yunani, Lithuania, Luxemburg, Belanda, Makedonia Utara, Norwegia, Rumania, Rusia, San Marino, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Irlandia.

Bagaimana dengan benua Amerika?  Nama negara Amerika Serikat muncul sebagai sarang pandemi di luar Eropa dan Asia. Di negeri Paman Sam ini, revolusi Covid-19 mendulang kemenangan gemilang. Grafik korban di negeri kapitalis ini terus meningkat mengungguli Cina.

Sampai sekarang, Covid-19 masih terus dianalisis pergerakannya. Epidemolog masih berkutat mencari tahu cara membekuk pergerakannya. Farmakolog dibuat siaga 24 mencari rumusan anti vaksinnya. Para dokter bertaruh nyawa berjibaku menyelamatkan pasien. Ekonom, budayawan, agamawan, dan politisi, tidak satu pun di antaranya dibuat santai demi merumuskan suatu pola kebiasaan masyarakat demi mengurung pergerakan dinamis virus ini.

Berkat daya dobraknya yang seketika dan sistemik, membuat setiap keputusan strategis mesti diputuskan holistik. Salah ambil keputusan di satu bidang bakal berdampak di bidang lain.

Covid-19 saking revolusionernya, tidak saja menggebrak infrakstruktur vital berupa ekonomi, dan politik negara bangsa, tapi melangkah jauh meneror tokoh-tokoh pentingnya. Pangeran Alberti II dari Monako menjadi pemimpin kerajaan pertama yang positif Covid-19. Di Amerika Serikat, ada Rand Paul menjadi senator pertama di AS yang terkena virus corona.

Dua wakil menteri kesehatan Iran dan Inggris, Iraj Harir-chi dan Nadine Dorries, dan wakil presiden Iran Masoumeh Ebtekar, juga menjadi korban serangan senyap Covid-19.

Tercatat pula perdana menteri Jepang Shinzo Abe positif corona setelah berkeringat batuk-batuk, dan terlihat menyeka cairan liur yang keluar dari mulutnya saat pidato di Gedung Parlemen Jepang pada Selasa, 3 Maret 2020 lalu.  

Masih ada? Keterangan resmi yang diberikan Istana Buckingham mengumumkan pada 25 Maret 2020, Putra Ratu Elizabeth II, Pangeran Charles, telah dikonfirmasi positif corona Covid-19.

Di luar dari arena pemerintahan, tercatat nama-nama beken seperti aktor Hollywood Tom Hanks, pemain belakang Juventus Daniele Rugani, ujung tombak Fiorentina Patrick Cutrone, dan pelatih Arsenal Mikel Arteta, beberapa nama yang tercatat dari sekian banyak olahragawan terjangkit Covid-19.

Di Indonesia, Covid-19 juga banyak menyerang benteng pertahanan di kubu tim medis. Seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (23/3) pekan lalu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia merilis 6 dokter yang disebutnya menjadi korban virus corona. Masing-masing tercatat: dr Hadio Ali SpS, IDI Cabang Jakarta Selatan, dr Djoko Judodjoko, SpB, IDI Cabaing Kota Bogor, dr Laurentius P, SpKJ, IDI Cabang Jakarta Timur, dr Adi Mirsaputra SpTHT, IDI Cabang Kota Bekasi, dr Ucok Martin SpP, IDI Cabang Medan, dr Toni Daniel Silitonga, IDI Cabang Bandung Barat.

Revolusi ala Covid-19 mengerikan. Ia berpotensi menumbangkan rezim pasar ekstraktif sekaligus mengancam tatanan tandingannya berupa menyerang negara-negara nonkapitalistik. Dia mengancam peradaban berhenti bergerak dan menyudutkannya sampai ke skala terkecil, yakni rumah-rumah. Menghentikan roda ekonomi, transformasi pengetahuan, dan mengindividualisasi peribadatan keagamaan.   

Revolusi Covid-19, hingga detik ini masih menghantui langit-langit negara bangsa. Ia ada dan berlipat ganda!

====

Telah tayang di Dialektikareview.org




12 April 2020

Kekuatan dan Ketakutan



Lukisan The Scream karya Edward Munch. 
Sumber: wikipedia.org


TAHUN 1883 perut gunung Krakatau meledakkan lahar panas ke udara. Dentumannya terdengar sampai di Colombo dan Sri Lanka, Afrika.

Seketika langit ditutupi debu panas berwarna merah menyala. Binatang-binatang berlarian tak karuan, apalagi manusia di bawahnya, tunggang langgang mencari perlindungan kesana kemari.

Efek 27 kali ledakan bom atom itu berefek tsunami yang memusnahkan 165 desa, dan para nelayan di Afrika mengenang peristiwa itu dengan mayat-mayat yang mengapung di lautan berhari-hari setelahnya.

Tragedi mencengangkan itu tidak saja meluluhlantakkan Nusantara, tapi juga membuat masyarakat dunia terutama benua Eropa ketakutan.

Langit dan matahari sekonyong-konyong berubah menjadi berwarna merah gelap. Saking dahsyatnya ledakan itu, efek debu ledakkan Krakatau bertahan di atas langit Eropa sampai berbulan-bulan lamanya.

Fenomena alam ini mengilhami pelukis Norwegia Edvard Munch melahirkan lukisannya yang legendaris: The Scream (jeritan), lukisan dengan tokoh seseorang yang tercengang dengan wajah menjerit ketakutan sementara di belakangnya menggelantung cakrawala berwarna merah darah.

"Saya berjalan menyusuri jalan setapak bersama dua sahabat. Matahari bersinar, tiba-tiba langit berubah menjadi merah darah. Saya berhenti, kelelahan dan bersandar pada sebuah pagar. Di atas fjord dan kota yang biru kehitaman tampak darah dan lidah-lidah api,” ungkap Munch, dikutip dari wikipedia, menerangkan keadaan yang mengilhami The Scream dalam buku hariannya.

The Scream jika dilihat sepintas nampak ganjil berkat goresan kuas yang kelihatan sembrono memainkan warna-warna gelap secara horizontal. Si manusia dilukiskan berkepala botak dengan muka seperti melongo. Walaupun demikian, lukisan ini menjadi tonggak pendekatan ekpresionis dalam seni lukis.

Sebagian ahli menafsirkan jeritan tokoh lukisan ini bercerita tentang kecemasan manusia modern dalam menghadapi angst (kecemasan eksistensial), yang disimbolkan Munch ke dalam langit Norwegia berwarna merah.

Jadi muka menjerit yang seolah-olah kehilangan kata-kata itu merupakan simbol universal bagaimana manusia senantiasa dirundung perasaan ketakutan terhadap situasi mahadahsyat yang mencemaskan. Suatu keadaan di luar kendali perhitungan, dan di luar akal sehat manusia.

Dalam pendakuan filsafat Martin Heidegger, ketakutan (furcht) dan kecemasan (angst) merupakan dua suasana hati yang demikian berbeda. Perbedaan ini secara ontologis ditentukan dari keberadaan objeknya.

Ketakutan, walaupun dikatakan Heidegger dapat mengguncang kesadaran dan pengalaman hidup seseorang, masih kurang derajatnya dari kecemasan.

Ketakutan sering terjadi karena objeknya ada, terlihat, dan jelas. Ketakutan terhadap ledakan gunung, misalnya, sekalipun itu besar pengaruhnya, sangat berbeda dengan rasa cemas atas ketidakpastian masa depan yang tidak dapat diamati, diprediksi, dan serba mungkin.

Heidegger dalam Mistik Kesehariannya Budi F. Hardiman, mengatakan kecemasan melampaui objek-objek keseharian manusia yang ditengarai motif-motif praktis.

Kecemasan bukan persoalan pertautan manusia dengan masalah sehari-hari, semisal defisit keuangan, kekuasaan otoritarian, atau kehilangan pekerjaan, melainkan ketika manusia menemukan dan menghadapi dirinya sendiri sebagai sumur anonimitas tanpa dasar.

Itu artinya, kecemasan berarti perasaan yang lahir dari ”kenyataan” asing, dalam, dan jauh dari pusat eksistensi manusia, yang sulit dikalkulasikan melalui hitung-hitungan matematis sehari-hari.

Abad 21 disebut Harari sebagai masa transisi besar-besaran dikarenakan keadaan-keadaan semisal perubahan iklim, pemanasan global, perang antar bangsa, temuan genetika, masyarakat cyber, senjata pemusnah massal, hingga penyakit, yang merupakan tantangan peradaban saat ini, yang mesti dihadapi umat manusia.

Umat manusia setiap waktu diperhadapkan kepada keadaan ketika insting bertahan hidupnya diuji oleh alam. Bukan saja alam, temuan-temuan di bidang sains, teknologi informasi, dan kebudayaan, yang telah digapai umat manusia juga menjadi batu ujian bagi kemampuan beradaptasinya.

Beberapa bulan terakhir, dunia global dihentakkan oleh pandemi corona. Penyebarannya serba cepat tidak mengenal bangsa, ras, agama, dan derajat. Di satu sisi, corona masih misteri. Watak, ciri-ciri, dan vaksinnya masih terus dicari tahu.

Kemapanan tatanan ekonomi, keputusan-keputusan politik, interaksi budaya, dan praktik agama seketika mengalami guncangan. Sekali lagi umat manusia diperhadapkan kepada ketidakpastian.

Ini membuka lebar mata dunia, revolusi sunyi corona saat ini sedang mengevaluasi capaian-capaian peradaban umat manusia. Itu artinya, kemajuan peradaban manusia sedang dipertaruhkan seperti zaman sebelumnya.

Dalam tulisan terbaru Yuval Noah Harari, yang diterjemahkan Siti Raisyah berjudul Dunia Setelah Virus Corona, tersirat mengenai perlawanan utama manusia saat ini, selain menebak bagaimanakah kehidupan bakal berubah setelah diporakkan corona, adalah bagaimana mengendalikan kecemasan itu sendiri.

Umat manusia saat ini cemas tentang tatanan dunia seperti apa yang bakal mereka hadapi di masa akan datang. Corona sekalipun merupakan masalah epidemi, berefek domino kepada keputusan-keputusan politik, ekonomi, dan juga agama.

Ini berarti tatatanan kehidupan yang selama ini dijalani bakal berubah seratus delapan puluh derajat di masa akan datang. Keputusan-keputusan hari ini bakal menentukan kehidupan macam apa setelah pandemi ini mereda.

Sebelum sampai ke tatanan baru itu, hari ini saja kita sudah disuguhkan perubahan-perubahan yang menjadi transisi besar-besaran ke suatu kemungkinan masa depan. ”Social distancing”, ”lockdown”, ”herd community”, ”sekolah online”, ”nilai tukar uang”, merupakan beberapa istilah-istilah yang mereset ulang model kehidupan saat ini.

Berkat semua itu, interaksi sosial kita belakang menjadi ganjil. Belum pernah ada dalam sejarah umat manusia, hidup terpisah sama artinya bersolidaritas untuk sesama. Kita belakangan dituntut berjarak untuk sesuatu yang bernama masyarakat.

Ini semacam kehidupan individualisme yang janggal, demi dapat mempertahankan kehidupan komunalisme yang menjadi ciri masyarakat kita.

Dalam situasi itu, ketika komunalisme kita dipecah untuk hidup sendiri, di saat bersamaan kecemasan semakin hari kian menumpuk. Kita didesak oleh suatu keadaan yang membatasi ”komunalisme” sebagai modal sosial ketika menghadapi bencana.

Tidak ada lagi pertemuan-pertemuan ala komunitas yang menjadi kekuatan bersama saat anggota-anggotanya mengalami masalah. Kapan semua ini berakhir? Sudah sejauh mana pekerjaan ilmuwan menemukan vaksinnya? Sampai kapan masjid ditutup? Bagaimana kesiapan tenaga medis? Infrastruktur rumah sakit? Sampai kapan korban berjatuhan? Pertanyaan ini hanya diiringi kecemasan tanpa memberikan peluang secercah harapan.  

Dampak revolusi senyap corona sampai saat ini belum akan diketahui. Yang kita tahu sekarang hanyalah jumlah kekalahan demi kekalahan, korban demi korban, yang semakin hari kian bertambah. Sekarang ini ia sedang bekerja dan entah sampai kapan akan berhenti. Di keadaan saat ini setiap informasi demikian berharga, walaupun kita diombangambingkan di antara ”was-was”, ”takut”, ”khawatir”, ”ragu”, ”marah”, ”jengkel”…

Kita ketakutan. Kita cemas. Tapi kita tahu, kita memiliki kekuatan, meski itu belum terlambat.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...