12 Februari 2020

Bagaimana Cara Menikah dan Membuat Orang Lain Terkesan


CEMILAN cokelat belum habis separuh dan itu membuat saya asik membaca komentar diskusi di grup whatsapp alamamater yang sedang ramai oleh tingkah mantan rektor mereka.

”Sesuai prosedurji. Mereka punya surat izin untuk penggunaan jalan.”

”Mantappp.”

”Piko protes kalo bisako!” Segera seseorang menimpali.  

”Keren memang rektornya kita, karena seluruh rektor se Indonesia dia undang.”

Diskusi ini masih terus berlanjut dan membuat saya seperti orang yang kehilangan informasi penting sehingga saya terdorong men-scrool informasi naik turun agar tidak di ping-pong komentar-komentar mereka.  

Seperti dikebanyakan grup maya, keinginan ikut nimbrung berkomentar meramaikan perbincangan tidak sama seperti saat saya bersemangat membalas komentar-komentar kali pertama aplikasi-aplikasi chatingan diciptakan.

Kadang saya berpikir saat dunia makin riuh dan kehilangan moment-moment reflektif, pepatah diam adalah emas merupakan himbauan yang patut dicoba siapa saja. Saya mencurigai pepatah ini dicetuskan saat si bijaksana menemukan suatu kondisi saat semua orang menggunakan mulut lebih sering daripada otaknya.  

Tapi, saya juga percaya kebanyakan orang membuat grup bukan demi membela mulut mereka, melainkan bagaimana keyakinan-keyakinan seseorang dapat diuji di ranah yang lebih luas.   

Tadi malam, di atas moda penyebrangan perahu yang melintas di atas sungai Jeneberang, informasi tentang rektor UNM menutup jalan karena hajatan perkawinan anaknya jadi makanan empuk media-media lokal. Saya membacanya sekilas dan menutupnya sambil mengumpat. Seorang kawan memberi tagline tautan tentang polah rektor ini agak keras juga: “Beginilah karakter penguasa, bukan pemimpin.” 

Pagi hari seorang teman sehari-hari bekerja sebagai wartawan memasang status WA hasil jepretan layar sebuah media nasional yang menempati urutan pertama di mesin pencari google, bahwa berita ini telah naik statusnya menjadi berita nasional.  

”Sudah lihat berita di facebook, rektor UNM jadi pembicaraan.”  

”Oo, tadi sedang ramai di grup.” 

Saat malam sebelumnya Istri saya hanya menanggapinya sambil lalu tanpa melepas pandangannya dari layar laptop seakan-akan berita itu tidak sama sekali membuatnya bergairah untuk dibicarakan. Ia menjelaskan pernikahan itu merupakan seseorang yang ia katakan yunior di bekas jurusannya. 

”Itu loh, yang calon bupati Barru.” 

Saya tiba-tiba mengingat spanduk seorang anak muda dengan muka memajang senyum seperti elit politik di negeri ini, yang pernah saya pandangi dipaku di pohon-pohon sepanjang jalan poros Pangkep-Barru melalui kaca mobil tumpangan saya tempo lalu. Itu gambar yang sederhana saja pikir saya.  

Kebanyakan orang di kampung saya seringkali menggunakan halaman rumahnya sebagai tempat hajatan. Tanah di kampung-kampung masih lebih mudah ditemukan dibanding di perkotaan, yang banyak dialihfungsikan menjadi area perumahan atau pertokoan.  

Itu juga saya kira sebabnya, seiring semakin mahalnya harga rumah dengan halaman yang minim membuat bisnis properti makin menjamur. Di Makassar sendiri, Anda akan mudah menemukan lokasi-lokasi khusus yang diciptakan untuk menggelar hajatan pernikahan. Jika Anda sedikit gengsi, hotel-hotel besar sudah mengetahui keinginan Anda dengan menyediakan promo khusus jika hotel dipakai tempat menikah daripada menginap.

Waktu menikah, keluarga dekat masih sulit percaya keadaan geografis kampung istri saya, yang membutuhkan perjalanan panjang dengan jalanan  berlumpur tanpa aspal. Sisa dari perjalanan itu masih harus melewati jalan yang tidak semua mobil mampu menembusnya. Di kanan-kirinya jurang demikian menganga dengan dasar sungai yang hanya bisa didengarkan bunyi gemerciknya. 

”Cukup sudah, tobat ma!” celetuk adik mamak ketika melewati bukit-bukit pegunungan yang beralas lumpur berpasir. ”Pantat saya sakit”.  

Sepulang dari hajatan, tidak ada yang paling sering diingat dari saya dan istri kecuali perjalanan panjang saat saya pergi menikahi seorang gadis di pelosok Sulawesi Barat.  

Di Youtube banyak hal membuat saya tak mampu menahan tawa semisal gelaran pernikahan yang tiba-tiba panggung biduannya ambruk, si suami yang duduk di pelaminan sambil bermain game, bahkan baru tempo hari saya melihat pernikahan yang terancam gagal lantaran si mantan datang mencak-mencak dan mengamuk seperti kuda liar.

Tentu saat ini Anda mengingat acara pernikahan dari tanah Sulawesi Selatan yang membuat decak kaget hanya karena ongkos perjamuan yang mencapai miliaran rupiah, atau si kakek-kakek tua yang berhasil mempersunting gadis belia ketika ia di saat bersamaan telah banyak melahirkan cucu-cucu dari anak keturunannya.

Setiap orang memiliki peristiwa berkesan yang membuat semua orang mengingatnya. Saya bagi beberapa orang, bakal sulit melupakan prosesi pernikahan ketika arak-arakan beberapa mobil bertolak dari Bulukumba menuju suatu kampung pelosok demi mengikat sehidup semati gadis pilihan saya.

04 Februari 2020

Ketika Saya Mengutarakan Keinginan untuk Memelihara Burung



A.S Laksana
Sastrawan dan esais asal Semarang
Mantan wartawan Detik sebelum dibredel Orba

SETIAP benda dapat menyampaikan sesuatu. Laptop, meja, tisu, apel, kolam renang, teleskop, dll., dapat berbicara banyak dan beberapa di antaranya mampu membangkitkan kenangan. Tidak semua benda-benda di sekitar kita mengingatkan sekelumit pengalaman, walaupun tidak sedikit juga ada benda-benda yang terkait dengan masa lalu kita dan itu menarik untuk dituliskan karena mengingatkan kita kepada seseorang, ide, atau pengalaman-pengalaman unik. Jika Anda kehilangan ide menulis, seperti dikatakan AS. Laksana, benda-benda di sekitar Anda dapat menyampaikan sesuatu untuk mengilhami Anda agar dapat segera menulis. Setelah membaca esai Mas Sulak, saya segera teringat dan membuka file tulisan ini: Banu selalu antusias melihat ayam semenjak kali pertama ia diperlihatkan oleh Bapak. Kali pertama ia melihat ayam dengan jarak tertentu membuatnya seolah-olah menyadari ia bukanlah satu-satunya mahluk hidup di dunia ini yang mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Di rumah, kakek Banu memelihara Ayam sebagaimana ia pernah menjadikan burung perkutut sebagai peliharaannya. Dua puluh dua tahun lalu, setelah pulang sekolah seringkali saya duduk berjongkok menatap lama-lama perkutut-perkutut di dalam kandang demi melihat gerak-gerik mereka ketika saya lempari jagung. Saya agak lupa apakah di waktu ini saya sudah mengetahui bahwa perkutut dan merpati adalah dua jenis burung yang berbeda walaupun seringkali sulit saya bedakan. Di saat itu belum sekalipun saya melihat burung merpati dan hanya mengetahui perkutut memiliki bunyi yang khas dan hanya diam ketika saya mengamatinya. Saya pernah dibuat takjub ketika suatu siang sepulang dari kantor Bapak membawa seekor burung kakatua berjambul kuning dengan paruh berwarna hitam. Seketika burung perkutut yang dipelihara lebih dulu di dalam kandang di dekat pohon pisang menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan burung ini. Tingkah pendiam burung perkutut membuat saya bosan dan mau tidak mau membuat saya tidak mampu menolak mendengarkan suara khasnya ketika berbunyi. Tubuh burung kakatua dibawa Bapak lebih besar dari burung perkutut. Selain suka bergerak dan pandai bergantungan, bulunya putihnya demikian bersih dengan kaki hitam bersisik seperti sisik ikan. Saya belum pernah melihat burung kakatua sedekat itu kecuali seekor burung elang yang dipelihara oleh entah siapa di rumah sakit W. Z Johannes, Kupang, sekitar dua dekade lalu. ”Matamu mesti  diperiksa di rumah sakit,” kata Bapak saat saya diduga mempunyai kelainan mata. Saat itu saya masih duduk di sekolah dasar dan tidak ingin hidup selamanya menggunakan kaca mata seperti Ibu Bene, guru kelas 6 yang terkenal galak. Saat itu saya kira setiap orang menggunakan kacamata adalah orang yang galak.  Mamak kerap marah-marah menggunakan kacamata di rumah dengan menggunakan bahasa daerah yang sulit saya mengerti di usia sekecil itu. Setelah sepulang dari rumah sakit, mata saya dinyatakan sehat. Kesimpulan itu diambil  setelah saya diuji dan disuruh melihat beragam bentuk huruf dari jarak tertentu menggunakan kacamata khusus yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Sejak itu dan ketika mesti mendatangi rumah sakit W. Z Johannes, burung pemakan daging itu benar-benar nyata yang membuat saya seolah-olah akan segera sembuh pasca melihatnya. Setelah melewati gerbang dari atas tangki motor Suzuki saya melihat burung itu begitu tenang seolah-olah ia diinstruksikan untuk berdiri diam bagai patung. Warna bulunya yang kecokelatan dan ujung cakarnya yang melengkung membuat burung itu bagai penjaga yang siap menerkam jika ada seseorang yang berbuat usil. Dulu saya mengira lambang negara Indonesia diambil dari burung elang ini, dan bukannya burung garuda yang ternyata hanya sebagai burung legenda. Burung kakatua Bapak tidak lama dipelihara. Suatu hari ia seketika dapat lolos dari ikatannya dan membuat kami merelakannya hilang di balik pepohonan setelah kelimpungan mengejarnya sampai ke hutan di belakang rumah. Saat dipelihara saya sering memberikan apa saja kepadanya untuk menguji seberapa kuat kekuatan paruhnya, dan percaya kekuatan menggigitnya mampu memutuskan jari kelingking orang dewasa jika ia mau. Semenjak tinggal terpisah dari orangtua, ada masa saya ingin menjadi seperti Bapak dengan memelihara beberapa ekor burung perkutut. Sekarang saya sedang mempertimbangkan memelihara ayam setelah istri saya sama sekali tidak menggubris ketika saya mengutarakan keinginan untuk memelihara burung. Saya meyakini memelihara burung dapat menjadi alternatif membuat jiwa ini agak sedikit plong. Setelah Banu menyukai ayam, saya kira keinginan saya bisa sedikit terobati dengan menggantinya menjadi ayam saja, dengan catatan menganggapnya seakan-akan itu merupakan burung elang yang sedang malas saja utuk terbang di udara.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...