04 Februari 2020

Ketika Saya Mengutarakan Keinginan untuk Memelihara Burung



A.S Laksana
Sastrawan dan esais asal Semarang
Mantan wartawan Detik sebelum dibredel Orba

SETIAP benda dapat menyampaikan sesuatu. Laptop, meja, tisu, apel, kolam renang, teleskop, dll., dapat berbicara banyak dan beberapa di antaranya mampu membangkitkan kenangan. Tidak semua benda-benda di sekitar kita mengingatkan sekelumit pengalaman, walaupun tidak sedikit juga ada benda-benda yang terkait dengan masa lalu kita dan itu menarik untuk dituliskan karena mengingatkan kita kepada seseorang, ide, atau pengalaman-pengalaman unik. Jika Anda kehilangan ide menulis, seperti dikatakan AS. Laksana, benda-benda di sekitar Anda dapat menyampaikan sesuatu untuk mengilhami Anda agar dapat segera menulis. Setelah membaca esai Mas Sulak, saya segera teringat dan membuka file tulisan ini: Banu selalu antusias melihat ayam semenjak kali pertama ia diperlihatkan oleh Bapak. Kali pertama ia melihat ayam dengan jarak tertentu membuatnya seolah-olah menyadari ia bukanlah satu-satunya mahluk hidup di dunia ini yang mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Di rumah, kakek Banu memelihara Ayam sebagaimana ia pernah menjadikan burung perkutut sebagai peliharaannya. Dua puluh dua tahun lalu, setelah pulang sekolah seringkali saya duduk berjongkok menatap lama-lama perkutut-perkutut di dalam kandang demi melihat gerak-gerik mereka ketika saya lempari jagung. Saya agak lupa apakah di waktu ini saya sudah mengetahui bahwa perkutut dan merpati adalah dua jenis burung yang berbeda walaupun seringkali sulit saya bedakan. Di saat itu belum sekalipun saya melihat burung merpati dan hanya mengetahui perkutut memiliki bunyi yang khas dan hanya diam ketika saya mengamatinya. Saya pernah dibuat takjub ketika suatu siang sepulang dari kantor Bapak membawa seekor burung kakatua berjambul kuning dengan paruh berwarna hitam. Seketika burung perkutut yang dipelihara lebih dulu di dalam kandang di dekat pohon pisang menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan burung ini. Tingkah pendiam burung perkutut membuat saya bosan dan mau tidak mau membuat saya tidak mampu menolak mendengarkan suara khasnya ketika berbunyi. Tubuh burung kakatua dibawa Bapak lebih besar dari burung perkutut. Selain suka bergerak dan pandai bergantungan, bulunya putihnya demikian bersih dengan kaki hitam bersisik seperti sisik ikan. Saya belum pernah melihat burung kakatua sedekat itu kecuali seekor burung elang yang dipelihara oleh entah siapa di rumah sakit W. Z Johannes, Kupang, sekitar dua dekade lalu. ”Matamu mesti  diperiksa di rumah sakit,” kata Bapak saat saya diduga mempunyai kelainan mata. Saat itu saya masih duduk di sekolah dasar dan tidak ingin hidup selamanya menggunakan kaca mata seperti Ibu Bene, guru kelas 6 yang terkenal galak. Saat itu saya kira setiap orang menggunakan kacamata adalah orang yang galak.  Mamak kerap marah-marah menggunakan kacamata di rumah dengan menggunakan bahasa daerah yang sulit saya mengerti di usia sekecil itu. Setelah sepulang dari rumah sakit, mata saya dinyatakan sehat. Kesimpulan itu diambil  setelah saya diuji dan disuruh melihat beragam bentuk huruf dari jarak tertentu menggunakan kacamata khusus yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Sejak itu dan ketika mesti mendatangi rumah sakit W. Z Johannes, burung pemakan daging itu benar-benar nyata yang membuat saya seolah-olah akan segera sembuh pasca melihatnya. Setelah melewati gerbang dari atas tangki motor Suzuki saya melihat burung itu begitu tenang seolah-olah ia diinstruksikan untuk berdiri diam bagai patung. Warna bulunya yang kecokelatan dan ujung cakarnya yang melengkung membuat burung itu bagai penjaga yang siap menerkam jika ada seseorang yang berbuat usil. Dulu saya mengira lambang negara Indonesia diambil dari burung elang ini, dan bukannya burung garuda yang ternyata hanya sebagai burung legenda. Burung kakatua Bapak tidak lama dipelihara. Suatu hari ia seketika dapat lolos dari ikatannya dan membuat kami merelakannya hilang di balik pepohonan setelah kelimpungan mengejarnya sampai ke hutan di belakang rumah. Saat dipelihara saya sering memberikan apa saja kepadanya untuk menguji seberapa kuat kekuatan paruhnya, dan percaya kekuatan menggigitnya mampu memutuskan jari kelingking orang dewasa jika ia mau. Semenjak tinggal terpisah dari orangtua, ada masa saya ingin menjadi seperti Bapak dengan memelihara beberapa ekor burung perkutut. Sekarang saya sedang mempertimbangkan memelihara ayam setelah istri saya sama sekali tidak menggubris ketika saya mengutarakan keinginan untuk memelihara burung. Saya meyakini memelihara burung dapat menjadi alternatif membuat jiwa ini agak sedikit plong. Setelah Banu menyukai ayam, saya kira keinginan saya bisa sedikit terobati dengan menggantinya menjadi ayam saja, dengan catatan menganggapnya seakan-akan itu merupakan burung elang yang sedang malas saja utuk terbang di udara.

03 Februari 2020

Bagaimana Jika Tidak Pandai Merawat Gigi


PECAHAN TERAKHIR. Saya bukan orang yang pandai merawat gigi. Di umur sekarang banyak gigi saya keropos akibat jarang dibersihkan. Sikat gigi bukan perangai alamiah saya walaupun istri saya rajin membeli dan mendorong mengganti sikat gigi tiap tiga bulan sekali. Sejak menikah beberapa tahun lalu, salah satu kebiasaan inilah paling mencolok. Rasa-rasanya belum pernah saya temukan orang seperti Lola yang gemar mengganti sikat gigi. Dibandingkan dengannya, saya bisa menggunakan sikat gigi yang sama berbulan-bulan sampai sikatnya seperti rumput layu sementara istri saya mudah saja menggantinya setiap dua bulan atau tiga bulan sekali. Di kamar mandi cukup mudah menandai sikat giginya dibandingkan punya saya dengan melihat warna dan kualitas bulunya. Sikat gigi Lola nyaris menyerupai sikat gigi baru tanpa ada bekas sedikitpun odol mengering di sela-sela bulu sikatnya. Sementara saya, tidak usah dibayangkan. Cukup Anda menengok sikat gigi Anda dan membawanya beberapa tahun ke depan. Jika Anda melihatnya menyerupai sikat pembersih kloset, nyaris menyerupai itulah penampakan sikat gigi saya. “Pergiki bersihkan karang gigita”, ucap Lola ketika kami saling memamerkan kebersihan gigi. “Lain kalipi”, jawab saya sekenanya hanya untuk menghentikan percakapan dari jawaban yang sebenarnya sudah ia tahu. Lola paling getol menyuruh saya membersihkan karang gigi. Gigi istri saya nyaris tidak memiliki karang gigi oleh karena ia begitu rajin membersihkan setiap malam dan setiap pagi. Saya justru malah khawatir jika membersihkan karang gigi malah membuat gigi saya semakin renggang satu sama lain. Karang gigi seolah seperti batu karang di pesisir pantai yang kokoh menahan gempuran ombak. Semakin besar ombak yang datang semakin kokohlah ia menyerap unsur-unsur zat yang membuatnya semakin keras. Beberapa kali saya ingin memaksakan diri membersihkan karang gigi yang menumpuk bertahun-tahun akibat kebiasaan merokok dan minum kopi, tapi seketika saja saya urungkan karena meyakini berurusan dengan dokter gigi di negeri ini sama seperti saat Anda dipalak preman pasar saat Anda tidak sengaja bertemu di gang sempit di malam hari. Dompet Anda tiba-tiba raib yang membuat hati seketika mencelos dan putus asa menyerupai kulit kering kurma. Kemarin sepulang dari toko serba ada, Lola membeli sekantung kacang goreng bawang yang menjadi cemilan kegemaran kami berdua. Baru malam tadi ia membuka dan menyimpannya di toples plastik agar lebih mudah diambil menggunakan tangan. Sejak pagi kemarin hingga siang ini saya bersusah payah bisa menyelesaikan satu tulisan agar bisa segera selesai. Semalam saya dan Lola saling mencuri waktu ketika Banu telah lelap tertidur. Lola mesti menyelesaikan beberapa laporan mengenai asessment anak sekolah yang ia tangani dari minggu kemarin, dan saya dengan esai yang entah enak dibaca atau tidak. Baru siang ini lah sambil menulis saya imbangi dengan mengemil kacang yang dibeli Lola yang tanpa saya sadari ada yang bergerak-gerak aneh di dalam mulut saya ketika belum lama saya nikmati. Kopi sudah hampir tandas. Nampaknya ada gigi saya yang copot tanpa diminta. Gigi geraham saya pecah dan pecahan terakhir itulah yang jatuh menyerupai gilingan kacang. Kekhawatiran saya selama ini akan semakin menjadi-jadi, belum genap berusia setengah abad gigi saya tanggal satu demi satu.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...