02 Februari 2020

Scientific Temper, Fantasi Mayoritas, dan Ku Klux Klan



Poster film Mississippi Burning (1988)
Film dokumenter yang berkisah
tentang pengadilan pembunuhan
tiga aktivis Mississippi.
Di film ini memperlihatkan kekejaman
Ku Klux Klan sebagai perkumpulan kulit putih
paling rasis di Amerika Serikat


INI waktu yang tepat untuk menyeduh kopi setelah beberapa jam bermain bersama Banu yang belum lama pulas sambil menetek. Ia pelan-pelan mulai menutup mata tanpa sedikitpun melepas hisapan mulutnya dari payudara ibunya sampai akhirnya membuatnya benar-benar tandas bersama hujan yang menggantung di atas mega seolah-olah tertutup kapas berwarna abu-abu. Tadi pagi hujan benar-benar membuat kami bertiga seperti beruang kutub yang kandas di atas dipan. Seolah-olah kami bertiga baru saja pulang berburu dan menghabiskan tiga ton ikan salmon saat mereka bermigrasi kembali dari laut ke sungai untuk beranakpinak. Kami jatuh tertidur setelah subuh mulai ikut bergerak bersama jarum jam dan tiba-tiba di depan rumah terdengar bunyi klakson mobil. ”Itu mobil sampah”, telinga saya menangkap suara Lola yang saya yakin tidak sekalipun ia membuka mata saat mengucapkan kalimat itu. Bunyi klakson itu membangunkan kami bertiga. Banu bersuara lirih dan saya bergegas menuju ruang dapur mengambil sisa-sisa makanan yang membuat hidung menangkap udara pesing dari dua tempat sampah tidak jauh dari kamar mandi. Di rumah kami sengaja memisahkan sampah sehari-hari dengan popok banu yang bertumpuk bagai roti berisi kacang giling. Saya percepat langkah dan di saat itulah saya menyadari, mobil sampah itu membangunkan kami tepat pada pukul sembilan lewat setelah saya melihat jam dinding saat mengangkut sampah ke depan rumah, mengambil kunci pagar, dan kemudian membukanya. Hujan masih terus turun dan saya kaget melihat penampilan menyeramkan tukang sampah yang lebih mirip pembunuh psikopat ala film-film Hollywood dari pada penampilan tukang sampah umumnya. Bukannya menggunakan seragam warna jeruk, ia justru menggunakan mantel hujan berwarna hitam dengan tudung kepala yang nyaris menyembunyikan wajah aslinya. Jika saja saat ia berdiri membatu menunggu seseorang membuka pagar menyodorkan sampah diiringi petir berkilat-kilat di balik punggungnya, lengkaplah ia menyerupai adegan film triller Hollywood yang menceritakan seorang pembunuh sedang melakukan aksinya di saat hujan gelap terjadi. Saat saya menutup pagar imajinasi saya malah dikuasai oleh sekelompok orang yang disebut Ku klux Klan (KKK). Lagi-lagi karena tudung mantel tukang sampah yang datang lebih malas dari tukang kredit itu. Maklum mantel menjadi benda paling sering saya saksikan belakangan ini, ditambah sinetron-sinetron ala ”istri-istri teraniaya” Indosiar yang mendahului filmya dengan pengakuan isi hati seorang perempuan dengan menggunakan mantel bertudung menyerupai penyihir abad 18. Namun seketika saya sadar Ku Klux Klan bukan fenomena bangsa ini seperti saat perkumpulan ini hadir di Amerika sekitar satu abad lalu yang menggunakan jubah tudung tinggi dengan ujung yang terlihat seperti nasi tumpeng. Tapi, tetap saja benih-benih rasialis seperti menjadi ideologi Ku Klux Klan nyata sering ditemukan di Indonesia. Di masa lalu, fenomena Ku Klux Klan pada akhirnya melahirkan figur seperti Malcom X atau Martin Luther King yang bangkit mengorganisir kesadaran orang kulit hitam. Di Indonesia tidak ditemukan kumpulan orang bejubah mirip Ku Klux Klan denga ritual-ritual kelompok yang menyerupai acara keagamaan, malah di sini tumbuh organisasi abal-abal disebut kerajaan dengan seragam menyerupai kostum kerajaan Brunei Darussalam, yang sudah pasti tidak mungkin melahirkan figur seperti Martin Luther King mengkonsolidasikan ketakutan, kekhawatiran, kekesalan, ketimpangan masyarakat kulit hitam menjadi organisasi perlawanan. Tinimbang mengkhayalkan pertistiwa itu malah kenyataannya dunia memiliki leluconnya sendiri dengan  menciptakan raja-raja ilusionis seperti yang terakhir muncul dari kerajaan entah di mana dengan gelar King Of the King. Di TVRI tempo hari, seorang pembicara bernama Sudirman Said menjelaskan fenomena kemunculan si pembuat pesawat bernama Chaerul yang ia kaitkan dengan semangat Scientific Temper. Saya menyaksikan dengan seksama seperti seriusnya dua orang pembicara lainnya di dalam monitor yang berasal dari Unhas dan seorang dari perwakilan organisasi guru. Saintifik temper pertama kali diperkenalkan sahabat Soekarno, Jawaharlal Nehru dari India sekitar tahun 60-an untuk membentengi masyarakat India dengan ilmu pengetahuan dari kepercayaan takhayul yang banyak ditemukan saat itu. Saintifik temper intinya merupakan cara pandang bagi seseorang yang melihat sesuatu fenomena dengan pendekatan rasional dan ilmiah. Sekarang saintifik temper (perangai ilmiah) banyak diadaptasikan orang-orang berpikiran terbuka di semua lini kehidupan. Chaerul seorang montir pembuat pesawat disebut Sudirman orang yang sedikit banyak menerapkan sikap perangai ilmiah saat membuat pesawatnya. Konon semangat perangai ilmiah ini ”diambil” Nehru dari semangat kebebasan Imanuel Kant, filsuf dua abad lalu yang terkenal dari slogannya berbunyi sapere aude! Di luar negeri, seperti diceritakan Sudirman yang menyekolahkan anaknya di Australia, memiliki suatu momen pembelajaran dengan mengundang pekerja profesi  di hadapan siswa-siswa untuk menceritakan seluk beluk pekerjaaannya dan apa pentingnya bagi kehidupan umum. Agar lebih mudah dipikirkan, bayangkanlah Anda sebagai orang tua siswa diundang ke dalam kelas oleh sekelompok anak-anak untuk membicarakan profesi Anda. Biar lebih mudah lagi pikirkanlah jika Anda di waktu sekarang berprofesi sebagai supir mobil ekspedisi, yang berarti Anda mesti menceritakan pekerjaan Anda dengan rincian dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini: Kemana Anda pergi sehari-hari dan jam berapakah Anda pulang ke rumah? Dalam pekerjaan, mobil apa yang Anda pakai? Barang apa saja yang Anda bawa? Tidakkah Anda capek berkeliling dari satu daerah ke daerah lain? Dengan siapakah Anda bekerja, tidak bosankah bersamanya setiap hari? Apakah Anda mempunyai seragam, berapa gaji Anda, di mana Anda berisitirahat jika capai, untuk apa Anda bekerja, berapa kali ban mobil Anda pecah, siapa atasan Anda? Saat menceritakan ini semua sudah tentu tidak membuat Anda mesti berpikir panjang dan menyiapkannya sejak Anda berangkat dari rumah oleh karena begitulah pekerjaan Anda sehari-hari. Sekarang bayangkan jika profesi Anda dilihat dari pendekatan saintifik temper seperti anak-anak sekolah di negeri Kanguru yang mengundang Anda. Kemungkinan Anda akan mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Dengan apa mesin mobil Anda dapat berbunyi? Mengapa orang-orang memerlukan barang yang Anda bawa? Berapa kali putaran ban jika jarak pekerjaan Anda bisa menghasilkan putaran ban sebanyak 329 kali dalam dua menit? Apakah mobil anda menggunakan listrik atau mesin uap? Bisakah Anda menjelaskan kerja energi mobil Anda? Apakah ada perbedaan waktu jika mobil Anda pulang dalam keadaan kosong dengan saat berpergiaan dipenuhi banyak barang? Berapa kecepatanya? Bagaimana pekerjaan Anda menyehatkan tubuh Anda? Bisakah Anda…bagaimanakah Anda…mengapa bisa… Di luar negeri pertanyaan semacam ini kemungkinan akan sering Anda temui karena paradigma pendidikan mereka sudah menerapkan sains sebagai alat kehidupan sehari-hari. Di dunia sosial ada tokoh bernama Auguste Comte—pendiri Sosiologi—yang pernah bermimpi bakal lahir suatu masyarakat yang lebih tertarik mencari tahu mengapa hujan dapat turun ke bumi daripada disibukkan menjawab apakah banjir adalah ulah manusia atau takdir Tuhan. Sekarang, saya mulai khawatir tidak mampu menahan tawa menyaksikan selingan video di jaringan whatsapp. Seorang pemuda menangis tersedu-sedu oleh karena musholanya dirusak segelintir orang di Minahasa Utara. Ia menangis sementara gerombolan orang-orang di sekitarnya berdesak-desakkan merekam kejadian itu menggunakan gawai dan sebagian yang lebih banyak lagi memenuhi area mushola dengan teriakan-teriakan takbir seolah-olah Perang Khandak bakal terjadi kembali. Ini sudah pasti bukan perkumpulan Ku Klux Klan seperti tersebar di Eropa yang mencari-cari penganut Yahudi atau orang berkulit hitam, melainkan segolongan umat Islam yang marah rumah ibadahnya dirusak. Coba bayangkan apakah pemuda dari kerumunan massa yang marah ini bakal kesulitan menjawab pertanyaan saintifik temper dari anak-anak yang bersikeras ingin tahu apa gunanya pekerjaan mengkafir-kafirkan orang yang tidak sealiran? Di depan kelas, ia mungkin akan lebih suka membayangkan siswa-siswa di hadapannya seperti umat Nabi Musa berabad-abad silam yang mesti dibebaskan dari pengaruh tukang sihir Fir'aun, yang membuatnya bersemangat mengemukakan dalil-dalil agama daripada memberikan penjelasan ilmiah mengapa agama dan sains alih bertentangan dan mesti bergandengantangan menyelesaikan problem kemiskinan umat manusia? Jika Anda menemukan orang semacam ini, menurut Auguste Comte orang ini masih membayangkan kita hidup di Abad Pertengahan. Ia merasa satu-satunya jalan demi menjawab semua persoalan adalah dengan menengok apa yang termaktub di dalam kitab suci dan membiarkan sains dan akal budinya berhenti sebelum bisa digunakan. Dari pada membayangkan si orang ini yang salah mengartikan kelas ilmiah sebagai majelis agama, bagaimana jika anak-anak di sekitar Anda selain diajarkan ilmu agama, Anda berikan juga soal-soal yang mesti dipecahkan menggunakan pendekatan saintifik temper. Jika Anda guru, coba bayangkan Anda adalah seorang ilmuwan yang sedang berusaha memecahkan suatu kasus melalui pertanyaan-pertanyaan saintifik bersama murid-murid di depan kelas, daripada berpikir seolah-olah Anda adalah nabi yang berhak menilai benar salahnya isi kepala orang-orang. Mungkin saja suatu waktu percobaan demikian bakal melahirkan orang seperti Chaerul atau Nehru dari kelas sederhana yang Anda ampu, dan malah bukan menciptakan pribadi halusinatif atau golongan pemarah yang berpikir merekalah wakil Tuhan paling absah. Tentu di pagi hari Anda tidak ingin pintu rumah Anda digedar-gedor seseorang seperti tukang sampah yang berlagak bagai psikopat versi Hollywood itu, hanya karena Anda berbeda keyakinan.

01 Februari 2020

Bagaimana si Raja dan si Kaisar Berlagak Bodoh



Charles Darwin ( 1809–1882)
Seorang naturalis dan ahli geologi Inggris
Dikenal atas kontribusinya kepada teori evolusi


SAYA sedang membaca daftar 25 film terbaik 2019 dari blog khusus mengulas perkembangan film terbaru lalu seketika berpikir untuk menulis fenomena aneh bin ajaib beberapa minggu belakangan ini: Keraton Agung Sejagad dan Sunda Empire. Setelah awal tahun 2020 dibuat heran atas banjir Jakarta dan gempa di beberapa wilayah, tiba-tiba kita dibuat kaget, bagai semut bermunculan dari dalam tanah, muncul gerombolan orang-orang yang berseragam mirip tentara Spanyol di abad 18 dan mengaku-ngaku memiliki kekuasaan seluruh dunia. Kali pertama saya melihatnya di layar kaca, alih-alih membayangkan keberanian mereka seperti tentara kerajaan Inggris yang gagah berani mengacung-acungkan bedil ketika Eropa masih menjadi lahan konflik, mereka malah lebih nampak seperti seorang komandan Jepang di acara Benteng Takeshi yang memimpin pasukan kelas pekerja menggunakan helm pengaman dan tidak lama malah berakhir di sel penjara. Mereka yang dipimpin seorang raja dan ratu ini, memang seperti kerumunan semut yang dipimpin seorang raja dan ratu walaupun sarang mereka tidak disembunyikan di dalam tanah. Justru kerajaan yang mereka buat didekorasi menyerupai kerajaan sesungguhnya. Tidak jelas apa tugas mereka selain kepercayaan diri mengklaim sebagai kerajaan titisan dari masa silam. Beberapa tahun lalu saat Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden, beberapa kawan saya banyak memberikan alasan mengapa pria asal Solo ini pantas menjadi presiden. Satu di antara alasan itu berbunyi Jokowi sudah ditakdirkan seperti diramalkan dalam babad Jawa sebelum kedatangan sosok pemimpin maha adil dan jujur yang bakal mengambilalih kepemimpinan dunia. Saya bergidik kali pertama mendengarnya oleh karena keyakinan itu diceritakan dengan cara tertentu dan keberadaan  pemimpin-yang-sebenarnya itu menjadi tanda akhir dunia sebelum alam semesta betul-betul kiamat. Manusia memang senang membangun kisah dan menjadikannya sebagai narasi keyakinan. Beberapa waktu lalu, seolah-olah dunia memiliki bentuk baru setelah bermunculan sekelompok orang yang membalikkan temuan sains dengan mengatakan dunia ini seperti bidang datar. Narasi tentang dunia seperti ini di masa sekarang layak dikatakan bodoh oleh karena sains sudah membuktikan bahwa dunia tidak sesederhana dataran lapangan sepak takraw. Tapi apa boleh buat, orang-orang seperti ini senang dengan narasi bumi datar seperti sama senangnya mereka terhadap keyakinan di akhir dunia nanti seluruh bulu janggut mereka akan dikonversi menjadi surat kepemilikan bidadari di surga kelak. Bagi masyarakat suku-suku di sekitar sungai Amazon, seperti juga sapi bagi umat Hindu atau burung elang bagi Mesir kuno, meyakini ular sebagai hewan suci. Sejarah asal-usul kedatangan mereka di muka bumi diyakini berasal dari rahim ular. Di kawasan sekitar sungai Amazon, Anda tidak akan berani mengemukakan pemikiran Charles Darwin bahwa sesungguhnya kita berasal dari monyet, oleh sebab  narasi Anda tidak cocok dengan kehidupan mereka. Kera atau monyet lebih suka hidup di atas pepohonan yang tidak seperti ular-ular di sungai Amazon yang banyak berkembang biak di dalam sungai. Jadi narasi semacam sejarah asal-usul, kekuasaan, mitos, dan kerajaan, seperti masyarakat yang hidup di sekitar sungai Amazon sangat dekat dengan cara hidup mereka sehari-hari. Belakangan saya baru tahu, mengapa tetua suku-suku di sekitar sungai Amazon  meyakini ular sebagai nenek moyang mereka selain daripada bentuk sungai Amazon yang membentang panjang meliuk-liuk seperti ular raksasa. Dengan menceritakan ini saya tidak ingin memaksa Anda untuk mengatakan orang seperti Ki Ageng Rangga Sasana atau Totok Santoso Hadiningrat berasal dari ular atau hewan sejenisnya. Itu mustahil dapat dipecahkan oleh ahli genetika beratus-ratus tahun dari sekarang mengingat sama tidak masuk akalnya mengatakan bahwa dua orang ini seorang raja dan mampu mengendalikan nuklir dari jarak jauh. Di grup whatsapp yang beranggotakan da’i-da’i, seseorang dengan yakin mengirimkan beberapa alasan mengapa fenomena ini muncul: Pertama ia mengatakan ini ada hubungannya dengan motif ekonomi karena seragam ala militer yang mereka pakai tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan diperjualbelikan seperti pengepul sarang burung walet membelinya dari peternakan burung walet. Logika ini dapat kita gandakan ke hal-hal semisal mereka membutuhkan kartu anggota kekaisaran, iuran kelompok, rapat kerajaan, menyewa gedung kerajaan, perabotan dan souvenir kerajaan, pernak pernik senjata, sampai tidak lupa perhiasaan yang mencerminkan gemerlap perhiasaan raja-raja. Tidak mungkin semua ini mereka pinjam di museum terdekat kecuali semua itu dibeli menggunakan uang. Kedua, orang yang mengirimkan pesan singkat di WA menyebut fenomena ini berhubungan dengan keinginan masyarakat yang menghendaki status sosial dengan cara instan. Di Jakarta, sangat mudah menemukan ibu-ibu berkumpul di sudut-sudut kafe mal  berkacamata hitam sembari bercerita tentang kucing peliharaan mereka. Mereka ini tidak kalah mentereng dari artis-artis sosialita yang senang mengoleksi tas dan sepatu hingga membutuhkan lemari membumbung tinggi sampai ke puncak langit-langit rumah. Saya ingat figur Tikus dalam buku ditulis Roanne van Voorst ”Tempat Terbaik di Dunia”. Suatu waktu Roanne menginginkan dirinya berbelanja perlengkapan laptop ke mal dengan mengajak Tikus. ”Saya tidak layak masuk ke tempat seperti itu, itu tempat orang-orang kaya” begitu kurang lebih pengakuan Tikus karena merasa minder dan inferior dengan tempat mentereng seperti itu. Saya kadang juga seperti Tikus, kikuk ketika ingin memasuki gedung megah yang berisikan orang berpenampilan necis dan berdasi, seperti sama khawatirnya saya berbicara dengan orang seperti pemelihara kucing  itu tadi, atau artis pengoleksi tas-tas mahal. Kehidupan kadang tidak adil karena memelihara orang-orang yang status sosialnya ditentukan dari barang-barang yang dimilikinya dan mengucilkan orang-orang lapisan bawah yang dekil dan kumal. Karena ketidakadilan inilah anggota kerajaan Sunda Empire dan Solo Sejagad Raya menciptakan narasinya sendiri dengan membuat simbol-simbol sosial yang menandakan suatu kekuasaan tertentu. Dalam suatu foto saya melihat Ki Ageng Sasana—”penguasa” Sunda Empire—nampak pede menggunakan seragam hijau pekat mirip seorang jenderal. Satu-satunya saya ingat dari itu adalah warna baret yang ia kenakan menyerupai tentara keamanan PBB yang pernah saya saksikan dalam film Dunia Sophie, dan sosok Wiranto ketika Soeharto masih sehat wal alfiat menjadi presiden orang tua kita. Di belakang Soeharto, di seragam Wiranto, tersemat di dada kirinya kotak-kotak mini seolah-olah menyerupai bendera negara-bangsa yang dijejerkan seperti saat kita melihatnya di sampul atlas saat dulu kala. Saya yakin pangkat jasa perang dipakai Ki Ageng Sasana seperti ditunjukkan Wiranto ketika menjadi panglima ABRI, adalah palsu belaka yang bisa didapatkan di pasar loak. Tapi apa boleh buat, ia mendaku mampu mengendalikan kekuasaan dunia dan banyak yang memercayainya sebagai sosok dengan status sosial tertentu. Seorang filsuf pernah mengatakan sudah tabiat manusia menyenangi masa lampau sampai ia patut disebut mahluk aquarian. Saat ini sangat sulit menemukan orang yang memiliki hobi mengoleksi prangko beralbum-album selain karena prangko sudah tidak diciptakan lagi, dan juga dunia lebih mudah terhubung melalui surat elektronik. Banyak orang setelah terbuai iklan suka menganti androidnya menjadi jauh lebih canggih karena berpikir dunia akan terus maju ke depan meninggalkan masa lalu. Orang seperti ini tidak seperti para pengoleksi prangko yang menyimpan kenangan masa lalunya dengan cara mengoleksinya seperti museum menyimpan benda-benda purba. Para pengikut kekaisaran macam Sunda Empire dan Solo Sejagad Raya dikatakan pengirim pesan WA tadi seperti pengoleksi perangko yang merindukan suasana kerajaan seperti masa lalu. Dari poin ketiga ini membuat saya bertanya-tanya, apakah sebegitu romantiskah cara kita berpikir untuk menyukai dan menghendaki kehidupan ini berputar ke masa lalu? Kalau memang demikian, mengapa kita tidak sekalian saja mengembalikan masa ini sampai di zaman Nabi Nuh, tepat saat ia selesai membuat perahu raksasa, dan membiarkan orang semacam ini tenggelam saat banjir bandang tiba sebelum meraka merasuki pikiran kita di layar kaca? Saya dibuat seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa ketika menonton sesi Ki Ageng Rangga Sasana berbicara di forum ILC mengenai Sunda Empire yang diklaimnya sudah berdiri sebelum Firaun membangun piramid dan mati dikubur di dalamnya. Anhar Gonggong, sejarawan yang ditangkap kamera saat Rangga Sasana berbicara hanya semringah tahu bahwa ocehan Rangga ini tak lebih dari bualan belaka. Roy Suryo yang sempat menyangga sejarah PBB diceritakan Rangga Sasana disebut tidak paham sejarah. Perbedaan orang bodoh dan orang cerdas dilihat dari betapa seringnya orang bodoh mengatakan semua hal yang tidak ia ketahui dibanding orang cerdas, yang menyampaikan sedikit dari yang ia ketahui. Terlalu berlebihan mengatakan raja gadungan ini bodoh kecuali di saat ia sedang berbicara seolah-olah yang ia sampaikan merupakan bagian dari sejarah yang hilang yang semua itu membutuhkan kecerdasan tersendiri untuk berkibul. Dengan kata lain, Rangga Sasana sedang memeragakan prinsip kebohongan bahwa satu kebohongan hanya dapat diterima dengan benar jika ia mencipatakan kebohongan yang lain. Itu artinya, di sepanjang ia kita berikan waktu berbicara mengenai keyakinannya, sama artinya kita memberikan ia kesempatan untuk menyusun mata rantai kebohongan. Nahasnya, kebohongan kadang sering kali mengembangbiakkan kebodohan melalui cara yang tidak pernah kita sadari, seperti cara kita mendengar bualan dungu semacam ini tanpa menurunkan mereka dari panggung pemberitaan. 

--sudah terbit di Kalaliterasi dengan judul Bagaimana si Raja dan si Kaisar Membodohi Kita

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...