21 Januari 2020

Kebodohan itu Abadi



Albert Einstein. 
Fisikawan pengembang Teori Relativitas.
Kata Einstein Perbedaan genius dan kebodohan adalah
kegeniusan itu terbatas 


SETELAH mendapatkan kabar kemenangan AC Milan atas Udinese akhir pekan kemarin, kesenangan saya jadi terancam dan diringsek kabar dari Bandung ini. Mesti saya akui, Milan kian hari semakin surut dari hati saya, walaupun memang sebenarnya masih ada sebagian diri ini yang ingin diakui sebagai milanisti. Tapi tetap saja, sumber masalah pagi ini bukan berasal dari nasib Milan yang angin-anginan. Rasa-rasanya saya ogah saja membaca isinya. Untuk kasus ini, membaca headline judul saja daripada isinya sudah lebih dari cukup untuk mengatakan ada masalah kian akut dari cara orang memahami dan mempraktikkan agama. Tapi yang namanya manusia yang tertarik kepada sesuatu yang belum dijangkau kepalanya, mendorong saya menggerakkan jempol membuka tautan ini. Tidak membutuhkan waktu lama jaringan otak saya menangkap inti pesan Tirto ini, kecuali saya merasa dibawa kembali kepada masa-masa ketika agama lebih banyak menginspirasi orang untuk saling membantu dan menopang. Saya pernah membaca suatu ulasan As Laksana bahwasannya golongan pertama dan paling cepat menempuh perjalanan menuju neraka adalah orang yang memelihara kebodohan dengan segenap jiwanya. Membaca berita ini saya bisa langsung saja menambah kedalam daftar “orang-orang yang cepat masuk neraka” kepada pengambil kebijakan macam ini di nomor urut kedua. Orang macam ini bukan saja bodoh, tapi sekaligus menunjukkan bahwa kebodohan mereka telah menodai bagaimana cara mereka menjalankan keimanan. Saya terkekeh, tidak bisa dibayangkan fungsi “lazimnya” masjid di batok kepala mereka. Itu artinya masjid hanya bisa dipakai sekadar salat berjamaah belaka, dan jika ada tugas lain dari itu barangkali hanya bertugas menyediakan acara buka puasa bersama jika musim Ramadan datang. Toh, jika ada fungsi masjid menyangkut “hidup-mati” seperti ini, tiada lain hanya berupa pengumuman di subuh hari bahwa seorang hamba Allah bernama Fulan bin Fulan telah meninggal dunia akibat infeksi saluran kencing. Kadang saya berpikir jika revolusi sosial benar-benar terjadi, orang semacam inilah yang pertama-tama digantung oleh massa rakyat di lapangan alun-alun. Sesekali mungkin ada yang melemparkan batu atau tai untuk memastikan, kelak mereka jika masuk neraka dalam keadaan bau dan berlumuran tai. Coba bayangkan, selain bergelimang dosa orang macam ini malah masuk neraka tanpa mandi sekalipun. Anda barangkali masih mengingat mengenai sekelompok orang yang salat di jalan terbuka sementara masjid mereka paksa alihfungsikan menjadi hanya sekadar tempat kencing dan tidur belaka. Patut dicurigai jangan-jangan majelis keagamaan macam MUI telah dialihfungsikan menjadi badan tukang gusur. Saya ingin mengatakan bisa jadi MUI di Bandung adalah “kakitangan” segerombolan massa yang pernah mencoreng sejarah perubahan sosial Tanah Air melalui aksi jalanan yang lebih mirip nomor serial sinetron televisi. Tapi, di negeri ini Anda tidak berwenang apalagi punya hak mencela majelis keagamaan macam MUI. Memang aneh, mereka kita yakini bukan Tuhan yang otomatis mahluk manusia yang berdaging dan bisa saja berdagang untuk mencari keuntungan. Ini sebenarnya secara tidak langsung memberikan kita peluang untuk mengkritiknya selama sepak terjang mereka atasnamakan sebagai manusia yang bisa saja salah. Kenyataan lapangan berbeda, kita sudah terlanjur khawatir mendapatkan kutukan ketika semua itu dilakukan oleh sebab mereka kita anggap sudah seperti raja-raja di masa silam yang dialiri titisan darah dewa-dewa. Seolah-olah kita ini sedang hidup di masa Socrates yang tengah berkeliling di pasar-pasar mencari cara mengubah pasar menjadi forum dialog, tapi takut jika dewa-dewa di puncak gunung Olimpus segera mengirimkan petir bagi kita sebagai sasarannya. Seandainya kisah Socrates tidak pernah terjadi di mana bukan ia yang diwajibkan meminum racun cemara, dan sebaliknya yang dijatuhi hukuman mati adalah pemuka dewan, barangkali kita tidak akan menemukan orang-orang bodoh dan gila seperti Don Quixote yang menggunakan kekuasaannya tanpa tahu resep pakai. Masalah kita hari ini, sebagian besar dari kita terlanjur menerima mereka dan dengan senang hati menganggap mereka layak menduduki jabatan strategis macam ini. Kata mereka, ini sudah takdir Tuhan!

20 Januari 2020

Ayam dan Pembebasan dari Layar Tv


1984


AKHIRNYA, saya merasa agak lega setelah berhasil menulis uraian film yang nyaris selesai, jika saja Banu tidak segera bangun dan menyergap saat sedang menghadapi tuts laptop yang entah mengapa demikian mengasyikan pagi ini. Kopi masih belum tandas sepenuhnya dan resensi yang saya tulis sudah mencapai sekitar 700 kata saat Banu mengambil alih pekerjaan ketikan melalui tangannya yang diacungkan di depan layar. Banu baru saja bangun dan layar sampai saat ini masih jadi perhatian utamanya selain setiap sudut rumah yang ingin ia jelajahi menggunakan kedua kakinya yang semakin hari menjadi terampil menopang seluruh bobot tubuhnya. Banu, sejak ia mulai bosan dengan sekeranjang mainannya, sudah kami antisipasi agar tidak terpikat gawai yang semakin hari sulit dilepaskan dari dunia orang dewasa. Hape cerdas yang hari demi hari kian membuat orang seperti anak ayam kehilangan induknya dan membuat otak semakin mirip manisan kismis, sudah kami akali agar Banu jauh dari benda pemecah umat itu. Alternatifnya, ia kami sediakan tontonan melalui televisi lagu-lagu anak yang didownload melalui youtube setiap kali gawai mengalihkan perhatiannya. Sampai sekarang, setelah sepulang dari Bulukumba, Banu lebih menyukai lagu ”kukuruyuk” yang memperlihatkan segerombolan ayam betina lari tungganglanggang menyigi rerumputan setelah dilepas dari kandangnya. Ia mulai bosan dengan lagu berbahasa Inggris yang berhasil mengajarkannya koor ”ha-ha” setiap kali seorang anak menyebut nama-nama bagian bis yang diakhiri kata ”wa-ha-ha”. Ayam menjadi binatang yang menarik minatnya setelah ia lebih suka menunjuk cicak ketika ia melihatnya menempel di langit-langit rumah. Setiap pagi, saat di Bulukumba, bersama kakeknya—yang dipanggil Ance—ia sudah berada di halaman di samping rumah yang menjadi ”bengkel” kerja Bapak. Di situ hampir selusin ayam katai berkeliaran bebas di sela-sela kayu dan besi-besi tua dan beragam alat pertukangan di samping tiang pancang tali-temali jemuran. Kandang yang berjejer mirip kerangkeng kecil sebagiannya diisi ayam katai lain yang masih dijinakkan. Sisanya adalah ayam bangkok berdaging keras jika ia dijadikan opor ayam. Melihat binatang kecil bergerak gesit dan berbulu emas dengan dua kaki yang seperti dipangkas membuat Banu terperangah dan mulai menyukainya. Sejak saat itu, setiap kali kami menyebut kata ayam, ia praktis mengacungkan tangannya sama seperti ketika penyabung ayam melatih leher ayam aduannya menjadi tegak berdiri. Gerakan itu berarti juga ia ingin segera berada di mana ayam-ayam itu hidup saban hari. Kata ayam praktis membuat Banu otomatis terdorong selalu ingin melihat ayam sebagai hiburan paginya. Otaknya seolah-olah sudah terprogram ketika kata itu disebut. Kebiasaan ini demikian ia sukai sampai akhirnya kami harus kembali ke rumah yang berarti tidak ada satu ekorpun ayam berkeliaraan. Satu-satunya hewan berjenis unggas hanyalah burung pipit dan jenis burungan bangau yang saban hari bertengger di kerumunan pohon putri malu yang sudah menyerupai tinggi pohon klengkeng Thailand di tanah lapang sebelah rumah. Konon tanah itu sudah dimiliki seseorang yang berdarah Thionghoa. Ayam tetangga yang dikandang sedemikian rupa di depan rumah sebelah juga sudah tidak kelihatan lagi. Besar kemungkinan ayam kampung itu sudah menjadi santapan di saat lebaran haji tempo hari. Toh jika ada sisa kehidupan unggas dari sana hanyalah kandang bambu berbentuk kubah yang tergeletak dibiarkan begitu saja. Di halaman rumah, satu-satunya tanda kehidupan diisi jejeran bunga asoka, daun kuping gajah, kamboja, lidah mertua, dan beberapa tanaman hias entah apa namanya yang menyerupai rumput jepang. Dua hari lalu, pohon cabai yang berhasil tumbuh setelah layu nyaris mati, membuahkan tiga biji cabai. Tentu saja saya seketika mengambil langkah strategis sesegera mungkin dengan mengguntingnya di malam hari dan menjadikannya penyedap ikan goreng dari pada mati membusuk seperti pernah dilakukan sebelumnya. Tanaman ditanam sendiri dan buahnya dinikmati sendiri bakal lebih subur kemudian hari jika tidak segera dihargai. Akibat tidak memelihara ayam, yang berarti kami tidak dapat diingatkan melalui kokoknya ketika pagi hari, kami ganti dengan kumpulan lagu-lagu anak berisi ayam-ayam tadi itu. Aneh memang hal ini tidak membuat kami seperti orang yang memiliki jiwa seni tinggi oleh karena kami lebih mirip peternak unggas yang tiap pagi mendengar ”kokok-kotek” ayam melalui tv. Tapi, strategi ini lumayan berhasil setelah sebelumnya membuat Banu mengacung-acungkan tangannya kepada ayam-ayam elektronik di layar kaca tv. Belakangan kami menyadari ia memiliki kemauan lebih dari sekadar melihat ayam dengan memukul-mukul layar tv menggunakan tongkat bekas gantungan bajunya. Jika Banu beralih perhatian dan ayam di layar kaca nampak berubah seperti hewan yang membosankan, satu-satunya pilihan selain siaran TVRI bagi kami adalah sinetron Indosiar yang entah mengapa menjadi tontonan yang mirip cara Orba mendoktrin warganya. Seperti kisah novel 1984 karangan George Orwell, kisah murahan Indosiar itu tayang nonstop tanpa jeda dari pagi hingga sore hari seolah-olah setiap orang menginginkannya. Ceritanya entah dicomot dari mana: pengalaman istri-istri yang diberlakukan semena-mena suami yang gemar berselingkuh dan pada akhirnya entah bagaimana caranya Dewi Fortuna bakal membuat istri teraniaya menjadi pemenang di akhir kisah. Takdir pada akhirnya, di kisah itu, akan berpihak selama perempuan teraniaya bersabar hingga kantung matanya mengering. Dengan cara klise kadang perselingkuhan suami diawali dengan cara yang sama di setiap episode, si suami bakal tanpa sengaja menabrak seorang wanita sambil menunduk-nunduk. Cara mereka ini membuat siapa pun tak perlu membaca kisah kisah cinta seperti Romeo dan Juliet atau Laila dan Majnun oleh sebab untuk jatuh cinta Anda tidak membutuhkan kegilaan. Seperti ditunjukkan perempuan pelakor di sinetron itu, Anda—jika perempuan—hanya butuh sedikit tekat dan keberanian terang-terangan merebut hati suami orang. Cara ini saya lihat cukup ampuh membuat hati istri suami yang Anda rebut melongos dan kalah. Tentu perilaku ini jarang kita temukan di dunia nyata, tapi jika Anda berminat coba saja. Siapa tahu Anda berhasil dan seketika menjadi kaya raya berkat harta benda suami yang berhasil Anda rebut. Sinetron ini saking sering diputar membuat saya semakin yakin bahwa perempuan-perempuan teraniaya memang ada di dunia nyata. Mereka sama tertindasnya dengan istri-istri di sinetron yang entah sampai kapan akan berakhir. Perbedaannya cuma satu, kekerasan perempuan teraniaya di dunia nyata tidak dimulai dari seorang pria yang tidak sengaja menabrak seorang perempuan cantik yang kebetulan mantan pacarnya, yang kebetulan baru saja berpisah dengan suaminya, yang kebetulan saling jatuh cinta, yang kebetulan secara sembunyi-sembunyi memadu kasih di kafe-kafe memanfaatkan waktu jam makan siang. Dan sialnya yang kebetulan saya saksikan sepenuh hati. Sudah bisa ditebak bagaimana kelak jalan ceritanya. Saya mengambil remote tv menyetel ulang lagu ”kukuruyuk” kesukaan Banu tanpa ayam, tanpa beban.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...