16 Desember 2019

Teori Sosial Animal Farm


Judul : Animal Farm
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi: Pertama,Pertama,  Januari 2015
Tebal: 140 halaman
ISBN: 978-602-291-070-1



BINATANG Inggris, binatang Irlandia
Binatang di setiap negeri dan musim
Dengarkan kabar gembiraku
Tentang masa keemasan di hari mendatang

Cepat atau lambat saatnya akan tiba
Tirani manusia akan ditumbangkan
Dan ladang subur Inggris
Akan ditapaki oleh binatang saja

Kutipan lagu perlawanan di atas datang dari mimpi si Mayor, si babi Putih-Tengah Terhormat dalam novel klasik Animal Farm, karangan George Orwell. Si babi Mayor adalah pimpinan sekawanan binatang peternakan Manor milik Pak Jones yang meletupkan api revolusi demi melawan penindasan manusia.

Dalam pidato politiknya, si Babi Mayor menyebarkan propaganda kepada para binatang peternakan Manor, sekaligus menyampaikan mimpi dan pesan terakhirnya sebelum wafat.

Isi pidatonya mencengangkan! Ia, walaupun babi, pandai berargumen dan beretorika. Para binatang semula tidak menyadari keadaan apa-apa, seketika bergemuruh meneriakkan yel-yel pemberontakan. Di ujung pidato politik itulah, si Mayor memperdengarkan dan mengajarkan lagu di atas.

Di sesi pembukaan novel ini, pembaca akan menangkap kelugasaan maksud Orwell. Ini adalah novel satir. Orwell menggunakan karakter binatang demi menyindir tabiat manusia.

Bebauan politik demikian menyengat ketika kisah dibuka dengan orasi politik si babi Mayor. Politik, seperti isi pidato si babi Mayor, digambarkan Orwell sebagai wahana pendongrak kesadaran. Tanpa diduga-duga isi mimpi si Mayor mampu mengubah keadaan peternakan semula adem ayem menjadi penuh prasangka, saling curiga, dan saling serang, terutama kepada umat manusia.

Animal Farm dengan kata lain merupakan fabel politik yang sampai sekarang masih dibaca banyak orang, dan relevan diketengahkan. Cerita olok-olok Orwell kepada politik kekuasaan memperlihatkan tabiat manusia ibarat permainan. Ketika bersinggungan dengan kekuasaan, karakter manusia demikian mudah berubah-ubah sesuai kepentingan iklim politik.  

Dalam Animal Farm, akibat pidato Mayor si inspirator pemberontakan, peternakan berubah menjadi bukan seperti peternakan biasa. Di dalamnya agenda-agenda perlawanan disusun dan direncakan. Suatu kehidupan dengan suhu tinggi politik sedang berlangsung—yang tidak diketahui si pemilik peternakan, Tuan Jones.

Kelak pasca si Mayor wafat, imbauan politiknya dipatenkan jadi ajaran disebut binatangisme. Oleh babi pelanjut bernama Snowball dan Napoleon, binatangisme diaplikasikan menjadi paradigma kehidupan binatang. Inti ajaran ini berbunyi: ”semua mahluk berkaki empat dan bersayap adalah kawan. Semua mahluk berkaki dua adalah musuh”.

Tepat di bagian cerita ini, agaknya Orwell implisit menyitir ideologi komunisme. Lebih tepatnya Orwell sedang berkisah jalan cerita ideologi komunisme dari peralihan pemikiran Marx menjadi ajaran marxisme. Dari Uni Soviet berdiri hingga runtuh kembali.

Menariknya, tidak sekadar menjadi ajaran perlawanan, marxisme seolah-olah jatuh menjadi semata-mata dogma. Dari figur babi Snowball dan Napoleon, marxisme diejek hanya sekadar ambisi kekuasaan semata—seperti kelakuan Snowball dan Napoleon yang kelak memberikan penafsiran baku dan tunggal atas imbauan si Mayor (Ibarat Lenin dan kelak Stalin yang menafsirkan pikiran Marx semata-mata menurut mereka).

Walaupun begitu, terbuka kemungkinan Orwell tidak sekadar menyinggung-nyinggung komunisme. Anasir perubahan dari semangat pembebasan penindasan menjadi nafsu birokratisme juga banyak dialami ideologi-ideologi dunia.

Dengan kata lain, Animal Farm banyak menunjukkan ideologi apa pun bakal berubah dari bermaksud luhur menjadi kubur selama dikuasai dan dijalankan pribadi-pribadi seperti Snowball dan si Napoleon.

Peternakan Manor diisi beragam jenis karakter binatang. Selain pimpinan si babi Mayor, berturut-turut yang ada tiga ekor anjing bernama Bluebell, Jessie, dan Pitcher, sekumpulan babi-babi, burung dara, sekelompok ayam, dua kuda penarik kereta bernama Boxer dan Clover, Mauriel dan Benjamin, seekor kambing putih dan seekor keledai. Si kucing pemalas, seekor itik, Molie, si tolol, biri-biri, sapi, dan terakhir seekor gagak bernama Moses.

Bukan tanpa maksud Orwell menggunakan binatang demi meunjukkan gerak-gerik manusia. Karena ini adalah fabel, Orwell mengimposisikan karakter Animal Farm tidak sebatas corong cerita. Lebih jauh lagi adalah bagaimana Orwell bertindak ibarat sosiolog dalam membahas hirarki kekuasaan dalam masyarakat.

Tarik menarik kelas masyarakat

Kelas dalam khasanah ilmu sosiologi menjadi terma bersaing ketika dibicarakan dalam diskursus struktual fungsional dan struktural konflik. Dua paradigma ini memiliki perspektif  sama-sama khas mendudukkan posisi kelas masyarakat.

Paradigma struktural fungsional mengandaikan kelas sosial hasil alamiah  dari perbedaan posisi dan peran individu dalam masyarakat. Setiap individu akan menemukan peran dan posisinya seiring interaksinya di tengah kehidupan sosial.

Kekuatan sosial berupa modal ekonomi, pendidikan, budaya, dan simbolik menjadi faktor determinan pembentuk kelas masyarakat. Itu artinya, posisi seseorang dalam hirarki masyarakat tidak terlepas dari usahanya dalam mengelola sejumlah modal sosial di atas. Perbedaan strategi mengelola modal sosial inilah secara alami menimbulkan tingkatan sosial masyarakat.

Berbeda dari struktural fungsional, menurut struktur konflik kelas masyarakat justru terjadi karena intervensi kekuasaan. Bagi paradigma ini, kelas terjadi akibat dominasi golongan tertentu mengusai sejumlah modal sosial. Bahkan, kelas diciptakan demi melanggengkan kekuasaan kelas dominan atas kelas subordinat. Semakin banyak suatu golongan menguasi modal sosial, semakin berjenjang pula stratifikasi masyarakat terbentuk.

Kehidupan para binatang di peternakan Manor dimungkinkan dibaca melalui dua paradigma di atas. Bahkan, cerita gencatan senjata melawan pemilik peternakan dapat ditelusuri dari kedua paradigma ini, terkhusus paradigma konflik.

Semula, kehidupan para binatang peternakan Jones baik-baik saja, tapi berubah seketika saat si babi tua Mayor menyerukan kesadaran kelas. Keadaan sosial kehidupan para binatang semula harmonis. Setiap binatang bekerja berdasarkan peran masing-masing.

Menurut paradigma struktural fungsional, kehidupan peternakan Manor sudah mencapai apa yang diistilahkan sebagai titik keseimbangan (equiblirium). Keharmonisan ini bertahan lama sampai datang si Mayor mengutarakan isi mimpi dan pidato politiknya.

Dari tilikan paradigma konflik, peristiwa ini menandai suatu keadaan disebut sebagai kesadaran palsu. Keharmonisan hanyalah dalih kelas penguasa untuk melanggengkan status quo. Dalil ini walaupun diciptakan melalui prinsip-prinsip kerja sama, demokratis, dan keadilan, tidak serta merta dapat menutupi hakikat kenyataan sebenarnya, yang dalam paradigma konflik merupakan kontradiksi sistem kasta masyarakat.

Isi pidato si Mayor kian cepat mengubah stuktur kesadaran seluruh binatang peternakan. Kesadaran para binatang yang semula naif dinaikkan tarafnya menjadi kritis berkat orasi politik si babi tua Mayor.

Akhirnya, mereka menemukan makna baru dari realitas kehidupan mereka. Kenyataan yang selama ini dijalani tidak sesederhana apa yang mereka bayangkan. Di balik kenyamanan mereka sebagai hewan ternak sekonyong-konyong diartikan bagian penindasan tuan manusia pemilik peternakan.


--
Pos sebelumnya di komunitaslemolemo.blogspot.com


09 Desember 2019

Hije, Habermas, dan Disabilitas

Jurgen Habermas
Filsuf cum sosiolog Jerman
Dalam ilmu sosial dikenal sebagai penerus Critical Theory


RUMAH Hije lumayan besar untuk ukuran dirinya yang hidup sendiri saban hari sambil membuka kios kelontong di bilik kamar bagian kanan rumahnya. Jendelanya lebih sering terbuka dengan rang besi seukuran telunjuk orang dewasa dibandingkan pintu rumahnya.

Di situlah setiap kali ia bertemu pembeli bersama angin yang masuk berasal dari tepi-tepi sungai Bialo. Bersisian dipisahkan dua bilah daun jendela tepat menghadap pohon jambu monyet.

Konon, rumah lumayan besar itu dibangun saudara laki-lakinya. Hije, tiga bersaudara sebagai anak tengah. Belum genap satu tahun salah satu saudaranya meninggal dikarenakan kanker paru-paru. Orang sekampung merasa kehilangan, terutama Hije karena jika bukan saudaranya itu rumah Hije tidak sekokoh sekarang.

Tidak jelas betul kapan di jendela kiosnya itu dipasangi bel rumah. Yang pasti, berbeda dari rumah umumnya, yang dipasangi bel tepat di pintu utama rumah, di jendela itu, bel itu jauh lebih berfungsi, terutama bagi pembeli di kios Hije.

Telinga Hije bakal sulit menangkap suara teriakan pembeli jika ia berada di dapur, ruang belakang rumah saat ia membuat kue, hobinya itu. Hije penyandang disabilitas. Ia bisu sejak lahir.

Itulah sebab, bel rumah dipasang tidak jauh dari jendela kiosnya. Bunyi nyaring bel kios lebih efektif dibanding suara siapa pun yang memanggilnya.

Walaupun bel itu tidak cukup tinggi dipasang, kerap satu dua pelanggan saya dapati menunggu lama sambil marah-marah. Bel sudah dipencet berkali-kali, sementara dari tadi suara sudah dikencangkan melebihi suara angin.

Tapi, tetap saja Hije kadang datang terlambat. Kadang ketika ia salat, pelanggannya dibuat dongkol. Lama berdiri mirip narapidana meratapi nasib di balik jeruji besi. Makanya, bagi pelanggan tetap Hije, mereka sudah tahu kapan waktu yang pas buat berbelanja. Mereka seolah diam bersepakat, jangan datang di waktu-waktu Hije salat.

Hije sampai sekarang hidup sendiri. Di rumahnya tersimpan beberapa mesin jahit. Kerap ketika mamak di rumah ingin menjahit sesuatu, selain kepada teman dekatnya, ia akan pergi ke rumah Hije. Hije tidak menikah. Mamak, jika ke Bialo, Barabba, desa kediaman Hije, pasti menyempatkan singgah ke kediamannya.

Sejauh saya tahu, tidak banyak orang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat ketika bersama Hije. Mamak sejak kecil tumbuh bersama sepupunya. Bermain di sawah di waktu musim panen. Mencari ikan di sungai Bialo, pergi ke pasar membeli mainan...

Kala sepindah dari Kupang, pertama kali melihat Hije, saya mengira Hije saudara kembar mamak. Muka mereka berdua lumayan mirip. Hanya bentuk tubuh yang membedakan mereka berdua. Dan, keperawakan Hije seperti orang galak.

Mamak salah satu orang yang lancar berbahasa isyarat dengan sepupunya itu. Mungkin karena dari kecil sering bermain bersama mereka saling menghapal bahasa isyarat satu sama lain. Saya tidak tahu apakah Hije pernah belajar bahasa isyarat bagi penyandang bisu. Atau pernah sekolah di sekolah luar biasa. Tapi saya yakin seratus persen keahlian mamak menggerakkan tangan dan jarinya saat berkomunikasi bersama sepupunya itu karena dipupuk pengalaman bersama yang panjang.

Mamak tidak pernah menceritakan keahliannya ini. Sekalipun ia juga tidak pernah mengatakan tidak pernah belajar langsung mengenai bahasa isyarat bahasa orang bisu.

Hije kadang bersuara mirip erangan mempertegas isyarat tangannya. Mamak kadang langsung paham apa maksud Hije. Saya sering merasa lucu ketika melihat saudara sepupu ini saling berkomunikasi. Biasanya, di waktu-waktu tertentu mamak menjadi penerjemah ketika Hije menyampaikan sesuatu kepada kami keponakannya.

Ketika menjadi wartawan, saya pernah ditugasi meliput penyelengaraan ujian nasional di salah satu sekolah luar biasa di Makassar. Awal peliputan lumayan lancar setelah bertemu kepala sekolah dan beberapa guru saat wawancara.

Saya juga berkeliling masuk di kelas mengambil beberapa gambar sambil berusaha tidak menarik perhatian peserta ujian. Yang membuat saya kikuk adalah ketika saya ingin mengambil keterangan dari salah satu peserta ujian, yang otomatis penyandang disabilitas. Saya menunggu waktu istirahat. Mengamati calon narasumber saya dari kejauhan. Tapi siapa yang bakal saya pilih. Di hadapan saya realitas yang berbeda. Saya terasing dari lingkungan yang serba terbatas itu.

Maka jadilah saya mewancarai seorang anak cacat. Menanyakan bagaimana perasaannya menghadapi ujian nasional. Apakah ada kesulitan saat menjawab soal. Apakah ia senang dapat mengikuti ujian nasional walaupun jumlah muridnya tidak seberapa. Apakah ia senang bersekolah jauh dari rumahnya....

Orang penyandang disabilitas sering diabaikan dari lingkungan sosialnya. Mereka kerap mendapat perlakuan berbeda. Jika si penyandang berasal dari keluarga kelas bawah, maka "penindasan" dialami dua kali lipat dari biasanya. Tidak bisa dibayangkan belum kelar problem ekonomi, mereka diberikan lagi perlakuan diskriminatif dan eksklusi. Mereka otomatis jadi kelompok paling rentan mendapatkan perlakuan tidak adil.

Belum lama, Jokowi memilih satu staf khususnya dari penyandang disabilitas. Ini kabar gembira di samping ditemukan satu dua kasus mencuat penyandang disabilitas ditolak setelah lulus seleksi pegawai negeri sipil. Sekolah yang semakin eksklusif terhadap anak didik disabilitas. Fasilitas umum tidak ramah disabilitas, dan hak-hak publik penyandang disabilitas yang belum diapresiasi secara struktural dan kultural.

Hije ketika ke pasar umum lebih sering menggunakan angkutan umum--pete-pete, walaupun ia memiliki sepeda motor yang lebih sering terparkir diam di ruang tamunya. Licin tanpa noda tanah di kedua bannya. Kemungkinan besar Hije mampu menggunakan motornya meski demikian jarang yang menyaksikannya wara wiri di jalanan perkampungan.

Saya sering berpikir jika saja Hije memiliki anak, dengan sendirinya motor itu lebih banyak dipakai anaknya. Tapi, kenyataannya Hije belum menikah satu kali pun. Saya menduga di masa lalu, anak-anak muda malu jika bukan khawatir menikahi seorang perempuan "pepe" mirip Hije. Atau para lelaki muda yang mulai tumbuh jakunnya berpikir bakal kesulitan seumur hidup membina rumah tangga lantaran sulit berkomunikasi dengannya. Siapa yang tahan kelak sehari-hari menggunakan bahasa isyarat sambil menahan emosi kalau pengertian tidak dapat saling bertukar.

Dari sini bisa dibayangkan, bagaimana kedudukan sosial seorang penyandang disabilitas. Apalagi ia seorang perempuan kampung yang hidup di tengah-tengah budaya patriarki a la desa. Perempuan ketika tumbuh di dalam masyarakat menjunjung tinggi laki-laki, kerap diberlakukan berlainan dengan dalih tradisi.

Orang seperti Hije bakal tidak menikah sampai usianya berkepala lima. Keturunannya terputus sampai di dirinya saja, menanggung hidup secara sendiri sampai tua. Ia tidak dapat merasakan bagaimana hidup bersama sepasang anak, suami pengertian, dan keceriaan berumah tangga. Praktis karena ia "berbeda" semua pengalaman itu tidak pernah dirasakan.

Seandainya Hije tahu, sekarang ada SIM khusus bagi penyandang disabilitas, bisa jadi ia berani memacu kuda besinya tanpa takut dirazia karena persuratan tidak lengkap. Setidaknya ia tidak perlu repot menunggu angkutan umum yang mulai jarang beroperasi di kampungnya. Ia bakal lebih senang mengunjungi keluarganya, yang tentu pasti bakal menyambangi sepupunya, siapa lagi kalau bukan mamak--orang yang saya duga lebih mengerti berkomunikasi dengannya--ketika ada gosip-gosip yang perlu mereka bicarakan.

Tidak banyak saya ketahui tentang Hije selain kehidupan monotonnya: di rumah menjahit--ia terampil menjahit--pesanan orang-orang, menjaga kios kelontong, membuat kue, dan menunggu beras dari sawah yang dikerjakan orang, atau sesekali ke pasar membeli kebutuhan jahit menjahit dan dagangannya.

Saya ingat seorang filsuf cum sosiolog berbibir sumbing yang mengubah cacatnya menjadi titik tolak refleksi filosofisnya. Sewaktu kecil ia kesulitan berkomunikasi dengan orang lain akibat bentuk cacat mulutnya. Ia sering kali disalahpahami alih-alih dimengerti ucapannya. Kelak karena itu ia menjadi pakar ilmu sosial dengan tesis komunikasi sebagai diskursus pembebasan. Orang itu bernama Jurgen Habermas, pemikir berpengaruh abad 20.

Hije, atau pun penyandang disabilitas lainnya, bisa seperti Habermas yang mengubah keterbatasannya sebagai palung keinsafan. Bukan malah menerima nasib apa adanya belaka, tapi membuatnya selangkah lebih maju. Saya kira, Hije, dan orang sepertinya di satu momen kehidupannya sudah menemukan titik balik kesadaran, menciptakan peluang keuntungan di dalam kekurangannya. Buktinya, sampai sekarang Hije hidup mandiri dan bebas menjadi dirinya sendiri.

Sesungguhnya di dalam kesulitan terdapat kemudahan, begitu Tuhan nyatakan dalam kitab sucinya. Camkan! Bukan "setelah" kesulitan, tapi "di dalam" kesulitan terkandung kemudahan.

Selamat Hari Disabilitas Internasional.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...