09 Desember 2019

Hije, Habermas, dan Disabilitas

Jurgen Habermas
Filsuf cum sosiolog Jerman
Dalam ilmu sosial dikenal sebagai penerus Critical Theory


RUMAH Hije lumayan besar untuk ukuran dirinya yang hidup sendiri saban hari sambil membuka kios kelontong di bilik kamar bagian kanan rumahnya. Jendelanya lebih sering terbuka dengan rang besi seukuran telunjuk orang dewasa dibandingkan pintu rumahnya.

Di situlah setiap kali ia bertemu pembeli bersama angin yang masuk berasal dari tepi-tepi sungai Bialo. Bersisian dipisahkan dua bilah daun jendela tepat menghadap pohon jambu monyet.

Konon, rumah lumayan besar itu dibangun saudara laki-lakinya. Hije, tiga bersaudara sebagai anak tengah. Belum genap satu tahun salah satu saudaranya meninggal dikarenakan kanker paru-paru. Orang sekampung merasa kehilangan, terutama Hije karena jika bukan saudaranya itu rumah Hije tidak sekokoh sekarang.

Tidak jelas betul kapan di jendela kiosnya itu dipasangi bel rumah. Yang pasti, berbeda dari rumah umumnya, yang dipasangi bel tepat di pintu utama rumah, di jendela itu, bel itu jauh lebih berfungsi, terutama bagi pembeli di kios Hije.

Telinga Hije bakal sulit menangkap suara teriakan pembeli jika ia berada di dapur, ruang belakang rumah saat ia membuat kue, hobinya itu. Hije penyandang disabilitas. Ia bisu sejak lahir.

Itulah sebab, bel rumah dipasang tidak jauh dari jendela kiosnya. Bunyi nyaring bel kios lebih efektif dibanding suara siapa pun yang memanggilnya.

Walaupun bel itu tidak cukup tinggi dipasang, kerap satu dua pelanggan saya dapati menunggu lama sambil marah-marah. Bel sudah dipencet berkali-kali, sementara dari tadi suara sudah dikencangkan melebihi suara angin.

Tapi, tetap saja Hije kadang datang terlambat. Kadang ketika ia salat, pelanggannya dibuat dongkol. Lama berdiri mirip narapidana meratapi nasib di balik jeruji besi. Makanya, bagi pelanggan tetap Hije, mereka sudah tahu kapan waktu yang pas buat berbelanja. Mereka seolah diam bersepakat, jangan datang di waktu-waktu Hije salat.

Hije sampai sekarang hidup sendiri. Di rumahnya tersimpan beberapa mesin jahit. Kerap ketika mamak di rumah ingin menjahit sesuatu, selain kepada teman dekatnya, ia akan pergi ke rumah Hije. Hije tidak menikah. Mamak, jika ke Bialo, Barabba, desa kediaman Hije, pasti menyempatkan singgah ke kediamannya.

Sejauh saya tahu, tidak banyak orang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat ketika bersama Hije. Mamak sejak kecil tumbuh bersama sepupunya. Bermain di sawah di waktu musim panen. Mencari ikan di sungai Bialo, pergi ke pasar membeli mainan...

Kala sepindah dari Kupang, pertama kali melihat Hije, saya mengira Hije saudara kembar mamak. Muka mereka berdua lumayan mirip. Hanya bentuk tubuh yang membedakan mereka berdua. Dan, keperawakan Hije seperti orang galak.

Mamak salah satu orang yang lancar berbahasa isyarat dengan sepupunya itu. Mungkin karena dari kecil sering bermain bersama mereka saling menghapal bahasa isyarat satu sama lain. Saya tidak tahu apakah Hije pernah belajar bahasa isyarat bagi penyandang bisu. Atau pernah sekolah di sekolah luar biasa. Tapi saya yakin seratus persen keahlian mamak menggerakkan tangan dan jarinya saat berkomunikasi bersama sepupunya itu karena dipupuk pengalaman bersama yang panjang.

Mamak tidak pernah menceritakan keahliannya ini. Sekalipun ia juga tidak pernah mengatakan tidak pernah belajar langsung mengenai bahasa isyarat bahasa orang bisu.

Hije kadang bersuara mirip erangan mempertegas isyarat tangannya. Mamak kadang langsung paham apa maksud Hije. Saya sering merasa lucu ketika melihat saudara sepupu ini saling berkomunikasi. Biasanya, di waktu-waktu tertentu mamak menjadi penerjemah ketika Hije menyampaikan sesuatu kepada kami keponakannya.

Ketika menjadi wartawan, saya pernah ditugasi meliput penyelengaraan ujian nasional di salah satu sekolah luar biasa di Makassar. Awal peliputan lumayan lancar setelah bertemu kepala sekolah dan beberapa guru saat wawancara.

Saya juga berkeliling masuk di kelas mengambil beberapa gambar sambil berusaha tidak menarik perhatian peserta ujian. Yang membuat saya kikuk adalah ketika saya ingin mengambil keterangan dari salah satu peserta ujian, yang otomatis penyandang disabilitas. Saya menunggu waktu istirahat. Mengamati calon narasumber saya dari kejauhan. Tapi siapa yang bakal saya pilih. Di hadapan saya realitas yang berbeda. Saya terasing dari lingkungan yang serba terbatas itu.

Maka jadilah saya mewancarai seorang anak cacat. Menanyakan bagaimana perasaannya menghadapi ujian nasional. Apakah ada kesulitan saat menjawab soal. Apakah ia senang dapat mengikuti ujian nasional walaupun jumlah muridnya tidak seberapa. Apakah ia senang bersekolah jauh dari rumahnya....

Orang penyandang disabilitas sering diabaikan dari lingkungan sosialnya. Mereka kerap mendapat perlakuan berbeda. Jika si penyandang berasal dari keluarga kelas bawah, maka "penindasan" dialami dua kali lipat dari biasanya. Tidak bisa dibayangkan belum kelar problem ekonomi, mereka diberikan lagi perlakuan diskriminatif dan eksklusi. Mereka otomatis jadi kelompok paling rentan mendapatkan perlakuan tidak adil.

Belum lama, Jokowi memilih satu staf khususnya dari penyandang disabilitas. Ini kabar gembira di samping ditemukan satu dua kasus mencuat penyandang disabilitas ditolak setelah lulus seleksi pegawai negeri sipil. Sekolah yang semakin eksklusif terhadap anak didik disabilitas. Fasilitas umum tidak ramah disabilitas, dan hak-hak publik penyandang disabilitas yang belum diapresiasi secara struktural dan kultural.

Hije ketika ke pasar umum lebih sering menggunakan angkutan umum--pete-pete, walaupun ia memiliki sepeda motor yang lebih sering terparkir diam di ruang tamunya. Licin tanpa noda tanah di kedua bannya. Kemungkinan besar Hije mampu menggunakan motornya meski demikian jarang yang menyaksikannya wara wiri di jalanan perkampungan.

Saya sering berpikir jika saja Hije memiliki anak, dengan sendirinya motor itu lebih banyak dipakai anaknya. Tapi, kenyataannya Hije belum menikah satu kali pun. Saya menduga di masa lalu, anak-anak muda malu jika bukan khawatir menikahi seorang perempuan "pepe" mirip Hije. Atau para lelaki muda yang mulai tumbuh jakunnya berpikir bakal kesulitan seumur hidup membina rumah tangga lantaran sulit berkomunikasi dengannya. Siapa yang tahan kelak sehari-hari menggunakan bahasa isyarat sambil menahan emosi kalau pengertian tidak dapat saling bertukar.

Dari sini bisa dibayangkan, bagaimana kedudukan sosial seorang penyandang disabilitas. Apalagi ia seorang perempuan kampung yang hidup di tengah-tengah budaya patriarki a la desa. Perempuan ketika tumbuh di dalam masyarakat menjunjung tinggi laki-laki, kerap diberlakukan berlainan dengan dalih tradisi.

Orang seperti Hije bakal tidak menikah sampai usianya berkepala lima. Keturunannya terputus sampai di dirinya saja, menanggung hidup secara sendiri sampai tua. Ia tidak dapat merasakan bagaimana hidup bersama sepasang anak, suami pengertian, dan keceriaan berumah tangga. Praktis karena ia "berbeda" semua pengalaman itu tidak pernah dirasakan.

Seandainya Hije tahu, sekarang ada SIM khusus bagi penyandang disabilitas, bisa jadi ia berani memacu kuda besinya tanpa takut dirazia karena persuratan tidak lengkap. Setidaknya ia tidak perlu repot menunggu angkutan umum yang mulai jarang beroperasi di kampungnya. Ia bakal lebih senang mengunjungi keluarganya, yang tentu pasti bakal menyambangi sepupunya, siapa lagi kalau bukan mamak--orang yang saya duga lebih mengerti berkomunikasi dengannya--ketika ada gosip-gosip yang perlu mereka bicarakan.

Tidak banyak saya ketahui tentang Hije selain kehidupan monotonnya: di rumah menjahit--ia terampil menjahit--pesanan orang-orang, menjaga kios kelontong, membuat kue, dan menunggu beras dari sawah yang dikerjakan orang, atau sesekali ke pasar membeli kebutuhan jahit menjahit dan dagangannya.

Saya ingat seorang filsuf cum sosiolog berbibir sumbing yang mengubah cacatnya menjadi titik tolak refleksi filosofisnya. Sewaktu kecil ia kesulitan berkomunikasi dengan orang lain akibat bentuk cacat mulutnya. Ia sering kali disalahpahami alih-alih dimengerti ucapannya. Kelak karena itu ia menjadi pakar ilmu sosial dengan tesis komunikasi sebagai diskursus pembebasan. Orang itu bernama Jurgen Habermas, pemikir berpengaruh abad 20.

Hije, atau pun penyandang disabilitas lainnya, bisa seperti Habermas yang mengubah keterbatasannya sebagai palung keinsafan. Bukan malah menerima nasib apa adanya belaka, tapi membuatnya selangkah lebih maju. Saya kira, Hije, dan orang sepertinya di satu momen kehidupannya sudah menemukan titik balik kesadaran, menciptakan peluang keuntungan di dalam kekurangannya. Buktinya, sampai sekarang Hije hidup mandiri dan bebas menjadi dirinya sendiri.

Sesungguhnya di dalam kesulitan terdapat kemudahan, begitu Tuhan nyatakan dalam kitab sucinya. Camkan! Bukan "setelah" kesulitan, tapi "di dalam" kesulitan terkandung kemudahan.

Selamat Hari Disabilitas Internasional.

01 Desember 2019

Geetha Rani, Guru Kepala Sekolah Tegas nan Tulus


Genre: Comedy
Sutradara: Sy Gowthamraj
Penulis naskah: Bharathi Thambi
Pemaian: Jyothika, Hareesh Peradi, Poornima Bhagyaraj
Durasi: 134 minutes
Studio: Dream Warrior Pictures



GURU, pahlawan tanpa tanda jasa saya kira slogan berbahaya. Dia bisa menjadi alasan berkelit bagi kekuasaan agar guru tetap diperlakukan seadanya. Guru tak mesti diperlakukan khusus. Toh, dia mesti ikhlas bekerja. Pagi hingga sore tanpa pamrih mendidik ribuan anak-anak negeri. Jika mengeluh dan meminta haknya dipenuhi ada slogan itu tadi. Guru bukan siapa-siapa. Dia tidak mesti mendapatkan jasa balasan dari pengabdiannya selama ini.

Nasib guru ditinjau dari slogan itu cukup mengenaskan. Waktu dan tenaganya selevel dengan kerja buruh pabrik. Pagi hingga sore, tanpa sekalipun menyisakan waktu bagi keluarga, dia mesti berada di sekolah. Di dalam kelas  ia dituntut kreatif  membaca gerak gerik siswa, di hadapan sistem dia dibebani tumpukan embel-embel administrasi, di mata publik gelagatnya dicibir berperilaku kasar mendidik anak, dan di hadapan pemerintah hak-haknya banyak tidak diapresiasi.

Melihat siklus kehidupan seorang guru cukup aneh. Di hadapan negara ia jadi objek kekuasaan demi  menjadi subjek kemajuan peradaban. Banyak waktunya tercurah mendidik anak-anak orang lain, sementara di saat bersamaan waktunya ”dirampas” demi mendidik keluarganya.

Dengan kata lain, seorang guru teralienasi dari kehidupan intinya. Tanpa sadar ia menjadi objek pekerjaannya sendiri.  Mengajar, membuat RPP, mengisi berkas administrasi, secara kontinyu membuatnya ”berjarak”. Ia dekat, tapi jauh dari segi perhatian dan pendidikan keluarga.

Tapi, walaupun demikian, siklus kehidupan guru menandai bagaimana ia kerap mengutamakan kehidupan publik (pendidikan) daripada kehidupan pribadinya (rumah tangga). Ia rela urusan keluarganya dinomorduakan demi kemajuan pendidikan. Orang rela mengutamakan kehidupan banyak orang daripada kepentingan pribadinya, saya kira orang yang memiliki kualitas keikhlasan luar biasa.

Ini yang membedakan kualifikasi guru dari profesi lain. Ia sehari-hari berkecimpung di dalam ”dunia manusia” yang memiliki beragam karakter, kepentingan, motivasi, kecenderungan dan tingkat pemahaman berbeda. Di dalam lingkungan serba dinamis itu, keikhlasan dan kesabaran adalah kunci.

Lalu, jika guru tidak dapat ditandai atas jasanya, bagaimana guru mesti diapresiasi atas kerja kerasnya mendidik ”peradaban”?

Saya berpikir, satu-satunya cara mengapresiasi kerja guru tiada lain mengamalkan seluruh didikan sang guru. Guru dihargai dengan cara kita berpikir, berperasaan, dan beramal sesuai amanah ilmu yang diperoleh darinya. Apabila semua itu ingin ditandai, saya kira itulah tandanya, tanda jasanya.



DUA hari ini netizen dihebohkan pidato menteri pendidikan baru. Nadiem tidak banyak berbasa-basi. Bahkan itu sudah ia ingatkan dari isi pidato awal. Inti pidato Nadiem berkisar lima hal.

Pertama, soal guru yang menjadi lokomotif utama penggerak generasi terdidik. Kedua, kecerdasan peserta didik tidak diukur dari hasil ujian. Ketiga, guru mesti menekankan karya murid tinimbang membebani murid menghapal isi pelajaran. Keempat dan kelima, guru mesti menjadi pelaku aktif di dalam kelas, dan mesti memahami kebutuhan berbeda setiap murid.

Isi pidato Nadiem sebenarnya klise jika dibandingkan dengan isi pidato Jokowi di hari Guru tahun 2017. Terlebih lagi dari yang pernah dicanangkan Anis Baswedan dan Muhadjir Effendy.

Satu-satunya membedakan pidato Nadiem dibanding menteri sebelumnya adalah cara ia disampaikan. Sehari sebelum resmi dibacakan, beredar video naskah pidatonya di lini masa. Seolah-olah Nadiem ingin menandai bagaimana ia gesit memanfaatkan media sosial. Satu ciri milenial dan teknologis yang menjadi latarbelakangnya selama ini.

Pidato Nadiem di hari guru besar kemungkinan akan berbeda jika diucapkan di hari pendidikan. Guru dan pendidikan dua hal berbeda walaupun tidak bisa dipisahkan. Itulah sebab, tema pidato Nadiem  tidak bertumpu di atas narasi besar pendidikan, melainkan kembali mengingatkan guru sebagai garda depan yang sehari-hari berada di dalam kelas bakal menentukan arah pendidikan.

Nadiem, dengan kata lain sedang berbicara tentang sosok pahlawan. Figur merdeka yang bakal menentukan nasib masa depan banyak orang.



DIA datang tanpa banyak bersuara. Ia melihat banyak keanehan di sekolah tempatnya bakal bertugas. Sekolah orang tidak mampu itu ibarat lingkungan pasar: murid merokok dan beberapa melompat pagar, kelas amburadul, siswa-siswi berlarian tak karuan di halaman.

Guru-gurunya? Jangan tanya. Ketika Geetha Rani kali pertama datang, guru-gurunya nongkrong di ruang guru asyik bersolek. Beberapa mengajar mendengarkan lagu  dari headset sementara murid-muridnya dibiarkan bermain. Bahkan, guru-guru lelakinya malah keluyuran lari dari tugas mengajar.

Geetha Rani, perempuan guru dalam film Raatchasi (2019), tidak main-main. Ia adalah guru baru sekaligus kepala sekolah ditugaskan di sekolah karut marut. Setelah mengamati keadaan buruk sekolah dipimpinnya, ia melakukan perubahan seketika.

Melihat keadaaan ini, bagi guru bermental kerupuk, sudah pasti bakal keok di hari pertama bertugas, dan mencari cara dipindahkan secepatnya. Tapi tidak bagi Geeta. Seakan-akan menepis anggapan masyarakat sekitar sekolah, ia malah bersemangat mengubah keadaan yang semula tidak mirip sekolah itu.

Dia pelan-pelan tapi tegas, mengubah seluruh kebiasaan buruk sekolah. Pertama ia membiasakan siswa-siswa mesti berkumpul setiap pagi sebelum masuk kelas. Kedua, ia menertibkan guru-guru bermasalah. Sebagiannya ia ”paksa” meng-upgrade pengetahuan belajar-mengajarnya. Ketiga, ia merenovasi gedung sarana prasarana sekolah. Keempat, ia membuka kelas minggu bagi anak-anak tidak sekolah ikut belajar di akhir pekan. Kelima, ia meroling setiap guru menjadi kepala sekolah harian di hari-hari berbeda. Keenam, ia mengundang orang tua murid membicarakan ide-ide perbaikannya. Intinya, Geetha Rani sedang melakukan perubahan besar-besaran nan mendasar di sekolah dipimpinnya.

Usaha revolusioner Geeta di sekolah seketika merebak seantero kampung. Sekolah dikenal sarang anak-anak nakal, murid keluarga miskin, dan guru malas, seketika diketahui banyak perubahan.

Tak disangka tindakan perbaikan Geeta membawa soal lain. Banyak pihak berkepentingan gerah atas gaya tegas kepemimpinannya–termasuk guru-guru di sekolah. Geeta dianggap banyak mengubah bukan saja keadaaan sekolah, tapi situasi status quo sosial-politik di daerah sekolah itu berdiri.

Saya tidak perlu lagi membicarakan jalan cerita film Kollywood ini (film berbahasa Tamil yang membedakan dengan Bollywood, film berbahasa Hindi). Tapi perlu saya katakan premis film ini tidak jauh berbeda dari film sejenis Taare Zameen Par (2008), Dead Poets Society (1989), atau Freedom Writers (2007), yang menempatkan peran signifikan guru mengubah penyelenggaraan pendidikan jauh lebih baik.

Seperti dua fim ini, Raatchasi dengan klise tapi begitu bersemangat mendudukkan peran ”sendirian” seorang guru, dari tindakan ”lokalnya” mengubah kebiasan buruk belajar di sekolah menjadi kembali bersemangat dan humanis.

Geetha Rani menciptakan kebiasan dan pendekatan baru dalam proses belajar mengajar.  Dari rumahnya, sepulang dari sekolah, dia menyusun strategi apa untuk mengubah eksosistem sekolah yang ideal. Pelan-pelan perubahan itu bakal mempengaruhi kehidupan sosial sampai di luar sekolah.  Ini, saya kira adalah salah satu pesan utamanya. Peluru pendidikan diciptakan di dalam kelas, dan bakal ”meledak” kelak ketika mereka berkiprah di dunia yang lebih luas.

Pelan-pelan adegan demi adegan film ini mengisi imajinasi saya tentang sosok guru diidealkan Nadiem. Guru yang disebutnya tidak mesti menunggu perintah dari ”atas”, guru yang mengutamakan karya siswa, guru yang pandai berinovasi di dalam kelas, guru yang menemukan pendekatan baru belajar mengajar, guru yang mengajak diskusi kelasnya, guru yang mesti menemukan bakat murid, guru yang….

Selamat Hari Guru, pahlawan tanpa tanda jasa.


--Telah tayang 25 November 2019 di Kalaliterasi.com


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...