01 Desember 2019

Geetha Rani, Guru Kepala Sekolah Tegas nan Tulus


Genre: Comedy
Sutradara: Sy Gowthamraj
Penulis naskah: Bharathi Thambi
Pemaian: Jyothika, Hareesh Peradi, Poornima Bhagyaraj
Durasi: 134 minutes
Studio: Dream Warrior Pictures



GURU, pahlawan tanpa tanda jasa saya kira slogan berbahaya. Dia bisa menjadi alasan berkelit bagi kekuasaan agar guru tetap diperlakukan seadanya. Guru tak mesti diperlakukan khusus. Toh, dia mesti ikhlas bekerja. Pagi hingga sore tanpa pamrih mendidik ribuan anak-anak negeri. Jika mengeluh dan meminta haknya dipenuhi ada slogan itu tadi. Guru bukan siapa-siapa. Dia tidak mesti mendapatkan jasa balasan dari pengabdiannya selama ini.

Nasib guru ditinjau dari slogan itu cukup mengenaskan. Waktu dan tenaganya selevel dengan kerja buruh pabrik. Pagi hingga sore, tanpa sekalipun menyisakan waktu bagi keluarga, dia mesti berada di sekolah. Di dalam kelas  ia dituntut kreatif  membaca gerak gerik siswa, di hadapan sistem dia dibebani tumpukan embel-embel administrasi, di mata publik gelagatnya dicibir berperilaku kasar mendidik anak, dan di hadapan pemerintah hak-haknya banyak tidak diapresiasi.

Melihat siklus kehidupan seorang guru cukup aneh. Di hadapan negara ia jadi objek kekuasaan demi  menjadi subjek kemajuan peradaban. Banyak waktunya tercurah mendidik anak-anak orang lain, sementara di saat bersamaan waktunya ”dirampas” demi mendidik keluarganya.

Dengan kata lain, seorang guru teralienasi dari kehidupan intinya. Tanpa sadar ia menjadi objek pekerjaannya sendiri.  Mengajar, membuat RPP, mengisi berkas administrasi, secara kontinyu membuatnya ”berjarak”. Ia dekat, tapi jauh dari segi perhatian dan pendidikan keluarga.

Tapi, walaupun demikian, siklus kehidupan guru menandai bagaimana ia kerap mengutamakan kehidupan publik (pendidikan) daripada kehidupan pribadinya (rumah tangga). Ia rela urusan keluarganya dinomorduakan demi kemajuan pendidikan. Orang rela mengutamakan kehidupan banyak orang daripada kepentingan pribadinya, saya kira orang yang memiliki kualitas keikhlasan luar biasa.

Ini yang membedakan kualifikasi guru dari profesi lain. Ia sehari-hari berkecimpung di dalam ”dunia manusia” yang memiliki beragam karakter, kepentingan, motivasi, kecenderungan dan tingkat pemahaman berbeda. Di dalam lingkungan serba dinamis itu, keikhlasan dan kesabaran adalah kunci.

Lalu, jika guru tidak dapat ditandai atas jasanya, bagaimana guru mesti diapresiasi atas kerja kerasnya mendidik ”peradaban”?

Saya berpikir, satu-satunya cara mengapresiasi kerja guru tiada lain mengamalkan seluruh didikan sang guru. Guru dihargai dengan cara kita berpikir, berperasaan, dan beramal sesuai amanah ilmu yang diperoleh darinya. Apabila semua itu ingin ditandai, saya kira itulah tandanya, tanda jasanya.



DUA hari ini netizen dihebohkan pidato menteri pendidikan baru. Nadiem tidak banyak berbasa-basi. Bahkan itu sudah ia ingatkan dari isi pidato awal. Inti pidato Nadiem berkisar lima hal.

Pertama, soal guru yang menjadi lokomotif utama penggerak generasi terdidik. Kedua, kecerdasan peserta didik tidak diukur dari hasil ujian. Ketiga, guru mesti menekankan karya murid tinimbang membebani murid menghapal isi pelajaran. Keempat dan kelima, guru mesti menjadi pelaku aktif di dalam kelas, dan mesti memahami kebutuhan berbeda setiap murid.

Isi pidato Nadiem sebenarnya klise jika dibandingkan dengan isi pidato Jokowi di hari Guru tahun 2017. Terlebih lagi dari yang pernah dicanangkan Anis Baswedan dan Muhadjir Effendy.

Satu-satunya membedakan pidato Nadiem dibanding menteri sebelumnya adalah cara ia disampaikan. Sehari sebelum resmi dibacakan, beredar video naskah pidatonya di lini masa. Seolah-olah Nadiem ingin menandai bagaimana ia gesit memanfaatkan media sosial. Satu ciri milenial dan teknologis yang menjadi latarbelakangnya selama ini.

Pidato Nadiem di hari guru besar kemungkinan akan berbeda jika diucapkan di hari pendidikan. Guru dan pendidikan dua hal berbeda walaupun tidak bisa dipisahkan. Itulah sebab, tema pidato Nadiem  tidak bertumpu di atas narasi besar pendidikan, melainkan kembali mengingatkan guru sebagai garda depan yang sehari-hari berada di dalam kelas bakal menentukan arah pendidikan.

Nadiem, dengan kata lain sedang berbicara tentang sosok pahlawan. Figur merdeka yang bakal menentukan nasib masa depan banyak orang.



DIA datang tanpa banyak bersuara. Ia melihat banyak keanehan di sekolah tempatnya bakal bertugas. Sekolah orang tidak mampu itu ibarat lingkungan pasar: murid merokok dan beberapa melompat pagar, kelas amburadul, siswa-siswi berlarian tak karuan di halaman.

Guru-gurunya? Jangan tanya. Ketika Geetha Rani kali pertama datang, guru-gurunya nongkrong di ruang guru asyik bersolek. Beberapa mengajar mendengarkan lagu  dari headset sementara murid-muridnya dibiarkan bermain. Bahkan, guru-guru lelakinya malah keluyuran lari dari tugas mengajar.

Geetha Rani, perempuan guru dalam film Raatchasi (2019), tidak main-main. Ia adalah guru baru sekaligus kepala sekolah ditugaskan di sekolah karut marut. Setelah mengamati keadaan buruk sekolah dipimpinnya, ia melakukan perubahan seketika.

Melihat keadaaan ini, bagi guru bermental kerupuk, sudah pasti bakal keok di hari pertama bertugas, dan mencari cara dipindahkan secepatnya. Tapi tidak bagi Geeta. Seakan-akan menepis anggapan masyarakat sekitar sekolah, ia malah bersemangat mengubah keadaan yang semula tidak mirip sekolah itu.

Dia pelan-pelan tapi tegas, mengubah seluruh kebiasaan buruk sekolah. Pertama ia membiasakan siswa-siswa mesti berkumpul setiap pagi sebelum masuk kelas. Kedua, ia menertibkan guru-guru bermasalah. Sebagiannya ia ”paksa” meng-upgrade pengetahuan belajar-mengajarnya. Ketiga, ia merenovasi gedung sarana prasarana sekolah. Keempat, ia membuka kelas minggu bagi anak-anak tidak sekolah ikut belajar di akhir pekan. Kelima, ia meroling setiap guru menjadi kepala sekolah harian di hari-hari berbeda. Keenam, ia mengundang orang tua murid membicarakan ide-ide perbaikannya. Intinya, Geetha Rani sedang melakukan perubahan besar-besaran nan mendasar di sekolah dipimpinnya.

Usaha revolusioner Geeta di sekolah seketika merebak seantero kampung. Sekolah dikenal sarang anak-anak nakal, murid keluarga miskin, dan guru malas, seketika diketahui banyak perubahan.

Tak disangka tindakan perbaikan Geeta membawa soal lain. Banyak pihak berkepentingan gerah atas gaya tegas kepemimpinannya–termasuk guru-guru di sekolah. Geeta dianggap banyak mengubah bukan saja keadaaan sekolah, tapi situasi status quo sosial-politik di daerah sekolah itu berdiri.

Saya tidak perlu lagi membicarakan jalan cerita film Kollywood ini (film berbahasa Tamil yang membedakan dengan Bollywood, film berbahasa Hindi). Tapi perlu saya katakan premis film ini tidak jauh berbeda dari film sejenis Taare Zameen Par (2008), Dead Poets Society (1989), atau Freedom Writers (2007), yang menempatkan peran signifikan guru mengubah penyelenggaraan pendidikan jauh lebih baik.

Seperti dua fim ini, Raatchasi dengan klise tapi begitu bersemangat mendudukkan peran ”sendirian” seorang guru, dari tindakan ”lokalnya” mengubah kebiasan buruk belajar di sekolah menjadi kembali bersemangat dan humanis.

Geetha Rani menciptakan kebiasan dan pendekatan baru dalam proses belajar mengajar.  Dari rumahnya, sepulang dari sekolah, dia menyusun strategi apa untuk mengubah eksosistem sekolah yang ideal. Pelan-pelan perubahan itu bakal mempengaruhi kehidupan sosial sampai di luar sekolah.  Ini, saya kira adalah salah satu pesan utamanya. Peluru pendidikan diciptakan di dalam kelas, dan bakal ”meledak” kelak ketika mereka berkiprah di dunia yang lebih luas.

Pelan-pelan adegan demi adegan film ini mengisi imajinasi saya tentang sosok guru diidealkan Nadiem. Guru yang disebutnya tidak mesti menunggu perintah dari ”atas”, guru yang mengutamakan karya siswa, guru yang pandai berinovasi di dalam kelas, guru yang menemukan pendekatan baru belajar mengajar, guru yang mengajak diskusi kelasnya, guru yang mesti menemukan bakat murid, guru yang….

Selamat Hari Guru, pahlawan tanpa tanda jasa.


--Telah tayang 25 November 2019 di Kalaliterasi.com


25 November 2019

Otak Manusia, Sindrom Tarzan, Kucing , dan Lelaki Harimau

Poster Film Tarzan Kota (1974)
dibintangi aktor legendaris Benyamin Sueb
dan Ida Royani


OTAK bayi manusia, saat pertama lahir, otak paling lemah dibandingkan binatang. Ahli neurologi menyebutnya otak ”prematur”. Butuh bertahun-tahun bagi bayi menyempurnakan jaringan otaknya.

Otak binatang sejak kelahiran sudah sampai ke tahap perkembangan lanjut. Bayi manusia membutuhkan banyak waktu dan ”asupan” informasi demi mencapai otak sempurna. Otak sempurna akan berengaruh kepada kematangan kemandirian berpikir manusia.

Itulah sebab, bayi manusia belum dilengkapi kecapakan berbahasa, gerak, dan perasaan saat ia lahir. Dalam sejarah, selain Isa Al Masih Tuhan tidak salah menurunkan mukjizatnya menciptakan seorang bayi mampu berbahasa sejak lahir.

Anda bukan Isa Al Masih, seorang bayi tiba-tiba berkemampuan bercakap-cakap dengan ibu yang belum lama melahirkan Anda. Itu sebab, nama Anda tidak tercatat dalam buku-buku mukjizat para rasul, atau buku sejarah masa kini.

Belum ada pula catatan sejarah berhasil menemukan seorang bayi, pasca keluar dari perut ibunya, seketika mampu berjalan dan berlari laiknya pemain sepak takraw.

Jika ada satu kemampuan bawaan bayi manusia sejak lahir, barangkali itu juga adalah mukjizat setiap bayi seperti Anda, adalah menangis. Itupun para ahli masih bingung, jenis pengetahuan (insting?) apakah yang mendorong bayi menangis pertama kali lahir.

Kata John Locke, filsuf empirisme Inggris, bayi dilahirkan ibarat kertas kosong. Putih bersih di awal kehidupan, dan seturut pengalaman kertas itu bakal terisi beragam informasi. Selama Anda menjalani lika liku kehidupan, selama itu pula ”kertas” kehidupan Anda terisi.

Tarzan, manusia hutan dibesarkan komunitas gorila dikenal tidak mampu berbahasa. Pengalaman hidupnya tidak dibentuk dari lingkungan manusia. Sehari-hari, karena diajarkan cara berpikir dan berperilaku monyet, Tarzan lebih mirip monyet daripada manusia.

Nanti, seperti di filmnya, Tarzan mengenal bahasa setelah ia bertemu seorang perempuan yang memperkenalkannya cara hidup versi peradaban manusia.

Film Tarzan mengajarkan watak perilaku manusia dibentuk lingkungannya. Jangan takut, Anda bukan Tarzan karena tidak hidup bersama seekor gorila. Warna warni ”kertas” kehidupan Anda ditentukan di komunitas apa, pendidikan apa, kebudayaan apa Anda berada, bukan di komunitas gorila apa Anda hidup. Kata pepatah Arab, sering-seringlah bergaul bersama penjual parfum, barangsiapa bergaul dengan penjual parfum, ia akan kebagian baunya juga.

Ilmu neurologi menerangkan otak manusia terdiri dari sekitar 100 miliar neuron. Setiap neuron memiliki ribuan jaringan dengan neuron lain. Di antara satu titik neuron dengan ujung neuron lain dipertemukan apa yang disebut ahli neurologi sebagai sinapsis.

Di miliaran jaringan sinapsis inilah ”bergerak” data kimia membuat jutaan sirkuit informasi setiap waktu.

Uniknya, jaringan sinapsis ini bakal tumbuh membentuk jaringan baru sesuai di lingkungan apa Anda hidup. Tarzan, kemungkinannya memiliki jaringan neuron versi gorila karena sehari-hari bergaul bersama gorila. Tarzan hanya mengenal ”bahasa” versi gorila, bukan ”bahasa” manusia.

Jika lingkungan Anda lingkungan tanpa ”bahasa”, jaringan sinapsis Anda bakal sulit tumbuh. Kemungkinan otak Anda akan mengecil menjadi seperti kacang polong. Sebaliknya, kalau hidup  Anda penuh ”bahasa”, menurut ahli jaringan saraf otak, otak Anda akan ”ditumbuhi” jaringan sinapsis.  Semakin banyak ”bahasa” Anda ketahui, semakin banyak serabut sinapsis muncul di otak Anda.

Tapi, masih menurut ahli neurologi, sebenarnya perkembangan jaringan sinapsis ditentukan dari ”baik buruknya”  ”bahasa” yang Anda terima. Jika Anda tiap hari menerima ”bahasa” dari orang-orang berkeperawakan mirip gorila, ahli neurologi sudah pastikan, otak Anda akan mengalami kerusakan permanen. Jaringan sinapsis otak Anda akan mengalami malfungsi.

Otak Anda bakal sehat kembali, masih menurut ahli otak, jika setiap saat Anda hanya menerima ”bahasa” kebaikan. Hanya ”bahasa” kebaikanlah yang mampu ”menghidupkan” kembali kerusakan jaringan saraf sinapsis Anda.

Jika sehari-hari Anda hidup bersama orang berkeperawakan mirip gorila, demi menyelamatkan otak Anda dari kerusakan permanen, segera-lah meninggalkan orang mirip gorila tadi. Ia hanya pandai ”berbahasa” kekerasan dan kebencian. Jika tidak segera ditinggalkan, tunggu saja, pelan-pelan hidup Anda akan seperti gorila, kejam dan sulit diatur.

Karena itu menurut ilmu neurosains, otak adalah ”benda” paling canggih sekaligus misterius. Ia sampai sekarang masih terus diteliti dan dikuak seiring pertumbuhan jaringan sinapsis.




BAYI sapi atau kuda, atau kerbau, atau jerapah, atau hewan mamalia lainnya sering membuat saya takjub. Selang beberapa menit setelah lahir mereka sudah mampu berjalan dan berlari. Banu, anak saya, di usianya sekarang –1 tahun 2 bulan—belum mampu berjalan.

Bagi bayi mamalia, alam menyediakan waktu tidak lebih satu jam agar ia bisa berjalan. Manusia bukan anak alam, kemampuan berjalan bayi manusia membutuhkan waktu hampir satu tahun. Seperti Banu, jika tidak dirangsang, pertumbuhan motoriknya membutuhkan waktu lebih lama.

Jika Anda memelihara kucing dan sedang mengandung, perhatikan anak kucing setelah dilahirkan. Gerombolan anak kucing Anda membutuhkan 9-12 minggu masa ”belajar” menjadi kucing baik. Di masa ini, seekor anak kucing akan dididik lingkungan kucing. Ia akan diajarkan ”norma-norma” kehidupan kucing.

Ingrid Johnson, aktivis International Association of Animal Behavior Consultans, menyebutkan saat rentang 12 minggu itu, kucing Anda akan belajar ”bahasa kucing”. Di masa ini ”bahasa kucing” ditentukan dari pengalaman ”bersosialisasi” sesama kucing. Semakin ia bersosialisasi, semakin ia mengenal ”bahasa kucing”. Semakin ia mengenal ”bahasa kucing”, ia tumbuh menjadi kucing peliharaan yang baik.

Inggrid menjelaskan, jika  selama masa ini anak kucing tidak ”mendapatkan” teman bermain, ia akan tumbuh menjadi kucing tanpa ”bahasa kucing”. Kucing tidak mengenal ”bahasa kucing” akan tumbuh menjadi kucing agresif. Lihat saja, kucing Anda bakal suka mendesis, senang meludah, dan gemar mencakar, hatta sesama jenisnya.

Seandainya Anda kucing, baik buruknya perangai Anda ditentukan di masa 3 bulan setelah Anda dilahirkan. Jika sehari-hari Anda berperilaku buruk, agresif, dan suka mengancam orang lain, seperti anak kucing Anda, kata Ingrid Johnson, masa 2 bulan belajar Anda tidak berjalan baik.

Mungkin Anda kurang bersosialisasi bersama kucing-kucing lain.

Kata Ingrid, kucing agresif banyak ditemukan karena dilahirkan dan hidup sendiri. Sesuai Ingrid, Anda agresif seperti kucing, karena Anda sulit menerima kehadiran orang lain.

Ingrid menulis tentang ”bahasa kucing” di bawah judul esai Tarzan Syndrome. Sindrom Tarzan, istilah Ingrid kepada kucing-kucing yang belum mampu mengenal ”bahasa kucing”. Bagi kucing yang tidak mengenal ”bahasa kucing” membutuhkan waktu lama menjadi kucing baik.

Kucing terkena sindrom Tarzan tumbuh menjadi kucing ”pemarah”, ”nakal”, ”susah diatur” dan ”sulit bersosialisasi”. Seandainya kucing peliharaan Anda terkena sindrom Tarzan, solusinya sederhana, tulis Ingrid, segeralah memperkenalkan kucing Anda kepada kucing lain. Seperti Anda yang kesepian, kucing Anda hanya butuh teman ”bersosialisasi”.




”BUKAN aku yang membunuhnya”, ia berkata dan melanjutkan, ”Ada harimau di dalam tubuhku”.

Beberapa teman saya mempunyai kemampuan ajaib jika tidak layak dikatakan aneh. Di antara mereka bisa berubah menjadi macan atau harimau. Tentu bukan macan atau harimau sesungguhnya. Hanya sifat dan keperawakannya saja. Transformasi itu pernah saya saksikan ketika mereka menguji ilmu bela dirinya.

Ketika mereka uji tanding, sambil berkeringat ada saat ruh binatang buas merasuki tubuh mereka. Kadang ruh macan. Tapi, lebih sering harimau. Jika sudah begini, mereka bakal mengaum-ngaum, mendesis, sampai menjulurkan cakar sambil berkelahi. Saat inilah arena tanding semakin sempit akibat ”tingkah” aneh mereka. Lebih aneh lagi, tidak disadari uji tanding bakal lebih mirip pertunjukkan mistis.

Kata mereka saat seperti itu kesadaran mereka lenyap entah kemana. Mereka hanya mengikuti energi yang menggerakkan tubuhnya. Kebetulan saja selama ini energi macan atau harimau kerap merasuki mereka. Makanya mereka menjadi seperti macan atau harimau. Sayang, sampai saat ini saya belum pernah menemukan mereka berubah menjadi gorila.

Lelaki Harimau novel karangan Eka Kurniawan demikian menarik menangkap fragmen seperti pengalaman mistis uji tanding di atas. Melalui Margio, tokoh utamanya, Eka mengangkat wacana psikologi-mistis yang menjadi dasar terselubung—sekalipun samar-samar—dari perilaku pembunuhan Margio atas Anwar Sadat.

Saya tidak akan mengemukakan kepada Anda bagaimana jalan cerita Lelaki Harimau kali ini. Itu urusan tukang ulik buku meresensi karangan sastra demikian. Sekalipun begitu, Lelaki Harimau setidak-tidaknya melalui figur Margio sedang mengetengahkan tegangan-tegangan dialami diri manusia di antara ekstrim animaliti dan ideal kemanusiaan.  Dua sisi ini, kerap mengambil tempat dan membonceng di belakang kesadaran manusia.

Produk panjang peradaban berupa kesadaran, dan ekses negatifnya berupa sisi binatang, dalam cerita Lelaki Harimau, merupakan tempaan tekanan kehidupan berupa anomali masyarakat, kehancuran keluarga, kekerasan fisik, kekecewaan, kegagalan cinta, dan iming-iming harapan palsu, yang dialami tokoh utamanya melatarbelakangi pembunuhan Anwar Sadat.

Menariknya, setelah membunuh Anwar Sadat melalui gaya terkam harimau, ungkapan kutipan Margio di atas, tidak sama sekali memberikan pemahaman terang berkaitan siapa atau apa sisi dominan yang melatarbelakangi tindakannya? Dalam ilmu psikologi, wacana ini semakin menguat ketika Sigmund Freud, mempermasalahkan ”kesadaran” sebagai anak didik peradaban manusia dengan mengajukan tesis ”irasionalisme” sebagai dasar fondasional sikap dan perilaku manusia.

Belum ada waktu paten berapa lama manusia menjadi baik dididik peradaban. Seperti Anda, saya juga bingung, jika 2 bulan dibutuhkan kucing menjadi baik, berapa lama waktu tersedia bagi kita agar tidak menjadi kucing agresif dan sulit diatur. Berapa lama waktu yang cukup bagi ”kesadaran” mengerti “bahasa” peradaban manusia?

Tahun 1894 Rudyard Klipling menulis fabel berjudul The Jungle Book  berisi kisah-kisah melukiskan hubungan dunia manusia dan binatang. Salah satu cerita terkenal dari kumpulan kisah itu adalah Mowgli, anak rimba dibesarkan srigala di pedalaman hutan lebat India. Seperti kisah Tarzan, Mowgli tumbuh tanpa sekalipun mengenal kebiasaan kehidupan manusia umumnya.  Ia menjadi anak rimba hidup bebas bersama binatang-binatang hutan lainnya.

Satu abad lebih, di tahun 1995, scholar Indologi, Wendi Doniger O’Flaherty kali pertama menggunakan istilah sindrom Mowgli melalui bukunya bertitel  Other Peoples ‘Myths: The Cave of Echoes. Kelak dalam dunia ilmu psikologi nama Mowgli dipakai mendeskrepsikan fenomena anak liar akibat hambatan mental. Seperti Tarzan sindrom, anak-anak liar terjadi karena perkembangan jiwanya terisolasi dari masyarakat, dan tidak menemukan dunia sosialisasi yang baik.

1974, aktor legendris Betawi, Benyamin Sueb, dengan jenaka memeragakan karakter Tarzan dalam film Tarzan Kota. Jalan ceritanya mengadopsi (dengan sedikit inovasi tentunya) karangan Edgar Rice Burroughs, si pencipta karakter Tarzan dalam novelnya Tarzan of the Apes.

Karakter Tarzan kota tidak seperti figur Tarzan ciptaan Hollywood bertubuh atletis dan berhidung mancung, justru Tarzan versi Benyamin bertubuh gempal, tampil lucu, dan ceria. Hanya saja, seperti Tarzan ”asli”, Tarzan Kota banyak mengalami kegagalan beradaptasi ketika hidup di tengah modernisme perkotaan. Keliaran Tarzan di tengah kota tidak berkutik hiruk pikuk peradaban kota.

Jika Tarzan kota adalah olok-olok, mungkin sasarannya adalah modernisme itu sendiri—yang notabene kehidupan kita sendiri. Kiwari, jika sindrom Tarzan, atau sindrom Mowli dipandang sebagai kritik modernisme, maka sekarang, betapa banyaknya kegagagalan kita mengenal ”bahasa” peradaban. Absennya pemahaman atas ”bahasa” peradaban, kurang lebih menciptakan kegagalan adaptasi banyak komunitas masyarakat.

Politik, ekonomi, pendidikan, seni, dan agama, saya kira dimensi kehidupan masyarakat yang mau tidak mau mesti menyediakan wahana menangkap dan mengenal ”bahasa” peradaban. Kegagalan atasnya, meminjam temuan Ingrid Johnson, hanya akan melahirkan ”kucing-kucing” agresif. Kehidupan liar versi Tarzan, tanpa moral toleran, tanpa empati.

Tentu Anda tidak ingin menjadi gorila, bukan? Atau seperti Margio, dalam Lelaki Harimau, yang membunuh ”peradaban” dengan berdalih: ”bukan aku yang membunuhnya, ada harimau di dalam tubuhku!”.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...