13 November 2019

Badut, Patch Adams, dan Balada Arthur "Joker" Fleck

Poster Film Joker

Komedi adalah tragedi tanpa tangis, tragedi adalah komedi tanpa tawa


DI SUATU waktu,  ia menyelinap masuk di kamar terlarang. Hanya dokter sungguhan boleh masuk di ruangan bercat serba putih itu. Ia masuk dengan niat tulus menciptakan lelucon.  Ia tanpa segan-segan menyelinap di dalam bangsal penderita kanker otak. Di situ ia memanfaatkan alat-alat kedokteran seadanya sebagai perkakas humornya.

Ia mengubah pispot kencing menjadi sepatu raksasa, busa pompa karet menjadi hidung a la badut. Atau, pakaian dokter memeragakan kostum badut yang  melorot.

Ulahnya itu membuat ruangan sunyi melompong menjadi riuh penuh canda tawa. Ruangan seluruhnya berisikan anak-anak seketika berubah seperti taman bermain. Untuk beberapa saat mereka melupakan penderitaan penyakitnya.

Badut karakter dipilihnya demi menghibur anak-anak yang hampir semuanya berkepala botak. Di balik tingkah lucu, walaupun peluangnya kecil, pria bertubuh gempal ini berkeyakinan kesehatan dapat dikontrol dengan pikiran dan jiwa bahagia. Dengan begitu banyak penyakit dengan sendirinya sembuh karena semangat tujuan baru penderitanya.

Kisah ini dapat Anda saksikan melalui peran Robin Williams dalam Patch Adams (1998). Aktor sekaligus komedian ini, pandai menghidupkan sosok Adams ketika mengawali karirnya sebagai mahasiswa kedokteran di Medical College of Virginia.

Narasi utama Patch Adams adalah ungkapan dunia medis yang tidak manusiawi dalam menangani pasien.

Di film ini, Robin Williams sering bertingkah lucu. Ia kerap membuat petinggi kampus ”kebakaran jenggot”. Adams sebagai mahasiswa sekolah kedokteran,  memiliki paradigma berbeda mengenai tata cara menangani pasien. Ia jenius tapi juga memiliki semangat kemanusiaan yang tinggi.

Film Patch Adams kisah nyata dari orang bernama sama dengan judul filmnya. Di kehidupan nyata, pendekatan kesehatan Adams banyak mengubah kebiasaan kedokteran menangani dan merawat pasien.

Tahun 1971 bersama teman-temannya, Patch Adams mendirikan Gesundheit! Insitute, yakni rumah sakit komunitas gratis bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Yang unik, selain dokter dan aktivitis kemanusiaan, Patch Adams adalah seorang komedian. Setiap tahun ia mengorganisir sukarelawan berkeliling dunia berpakaian badut membawa humor bagi anak-anak yatim, orang miskin, dan kelompok marginal lainnya.




BADUT memang diciptakan tidak pernah lucu.

Abad ke-16 di Eropa, ada sosok Harlequin. Ia figur pemain peran di perkumpulan teater Italian Commedia dell’arte. Di atas panggung, Harlequin sering menggunakan kostum kotak-kotak, menggunakan topeng, dan memiliki sebilah tongkat kecil.

Harlequin bertingkah gesit, susah diatur, dan nakal. Di Abad 16, peran Harlequin dalam komedi dianggap mewakili ”setan nakal” alih-alih dikatakan lucu.

Beralih ke Inggris, saat pertunjukkan drama, Harlequin sering berpasangan dengan Zanni, sosok pelayan badut kecil dengan versi lebih gila dan brutal. Zanni, karakter ”pekerja” yang mewakili sosok tanpa aturan dan bertingkah bodoh.

Seperti Italian Commedia delle’arte ”induk” pertunjukkannya di Itali, drama di Inggris saat itu banyak memerankan karakter-karakter berupa orang tua bodoh, ayah serakah, pelayan licik, si tentara pengecut, atau dokter yang maha tahu segalanya.

Baik dari karakter pelayan licik, sampai dokter yang sok tahu, tipe sosial mewakili kepalsuan sifat hipokrit yang sering terjadi dalam masyarakat.

Dalam khazanah bahasa Inggris, Shakespeare orang pertama menggunakan kata ”clown” (badut) untuk menggambarkan karakter bodoh dan tolol dalam pertunjukkan perannya.

Karakter badut macam demikian dalam rentang sejarah tertentu, sering berposisi sebagai perkakas kritik. Bahkan, jauh di peradaban Mesir kuno, karakter badut seperti juga cerita-cerita sufistik, kerap menggunakan lelucon satir untuk menguak kebohongan kekuasaan. Hal ini ekspresi paling mungkin dan aman ketika rezim kekuasaan sedang sadis-sadisnya.

Berbeda dari kritik verbal, badut melayangkan kritik menggunakan gestur, mimik, dan tingkah lucu saat menyampaikan aspirasinya.

Itu artinya, badut tidak sekadar lelucon belaka. Ia melampui kelucuan dan rasa humor yang sering kali lebih ”memukul” dari gaya kritik apa pun.

Badut terkenal di abad 19 walaupun dengan versi berbeda adalah si Charlie yang diperankan Sir Charles Spencer Chaplin. Charlie Chaplin mengembangkan versi badut pantomim untuk menggambarkan kepelikan dunia. Lewat tertawa, humor Chaplin mengajak penontonnya melihat dunia melalui cara berbeda.

Dari setting masyarakat industri melalui film semisal The Modern Time dan City Light, Chaplin menciptakan sosok Tramp untuk menunjukkan kontradiksi-kontradiksi kemanusiaan yang ditimbulkan masyarakat industrial.

Lewat karakter Adenoid Hynkel, Chaplin memeragakan humor gaya mengejek dalam film The Great Dictator.

Semua yang pernah menyaksikan tahu, dari film itu, sosok sasaran Chaplin adalah Adolf Hitler, tokoh penyulut Perang Dunia ke-2.

Humor Chaplin, humor tanpa kata. Tapi bukan berarti tanpa ”bahasa”. Melalui peran jenaka, bahasa humornya dapat ditangkap melalui mimik, gerak-gerik, dan petingkahnya sebagai teks. Peragaan tanpa kata itu berhasil mengaduk sense of humor setiap penontonnya.




HASIL penelitian di Inggris menunjukkan sangat jarang anak-anak menyukai badut. Peragaan lucu sering ditampilkan di acara ulang tahun anak-anak itu, alih-alih dapat menciptakan kesenangan dan rasa lucu, malah hasil riset itu menunjukkan anak-anak akan ketakutan, cemas, dan menangis.

Dalam jurnal New Ideas in Psichology, Frank T. McAndrew  menjelaskan hasil riset Sifat-sifat Kengerian. Kengerian, disebutkan datang karena ambiguitas si badut. Menurut riset itu, orang sering takut karena sulit bertindak dari apa yang tidak dikenalnya.

Ciri-ciri fisik berupa mata besar, senyuman aneh, atau jari-jari panjang badut, bukanlah faktor utama mengapa anak-anak menjadi takut.

Melalui riset itu, ada pertanyaan diajukan McAndrew tentang profesi apa yang mewakili rasa ngeri respondennya. Jawabannya mencengangkan. Badut adalah profesi paling sering membuat orang merasa ngeri.

Rami Nader, psikolog asal Kanada, memiliki penjelasan serupa  McAndrew. Ia memperkuat temuan McAndrew bahwa kengerian terhadap badut karena ketidakjelasan badut itu sendiri. Riasan badut jadi sebabnya. Tiada yang mengetahui apa karakter orang sesungguhnya di balik riasan menor dan kelucuan badut.

Hasil penelitian McAndrew seperti demikian patut diduga karena pengaruh keberadaan John Wayne Gacy, seorang peraga badut sekaligus pembunuh berantai. Di tahun 1970-an, ia dikenal sebagai psikopat. Ia sering menjadi badut di acara-acara ulang tahun anak, dan telah membunuh kurang lebih 33 orang. Di mana Gacy menguburkan korbannya? Ia mengubur mayat setiap korban di rumahnya di Chicago, Amerika Serikat.

Imajinasi dan memori masyarakat Amerika semakin mengerikan ketika Hollywood banyak merilis film-film bertema badut.  Bukannya menampilkan kelucuan, film-film rilisan Holywood lebih banyak menampilkan kekejaman dan keangkeran.

Tahun 2009 dan 2017 dunia perfilman Hollywood meremake IT, film horor dengan badut Pennywise sebagai tokohnya.

Jauh sebelum itu ada The Clown at Midnight (1998), dan Camp Blood (1999). Clown (2014), hingga karakter pembunuh berantai Twisty the Clown yang muncul di musim keempat serial American Horror Story (2014-2015). Semua film ini membalikkan kelucuan dan keceriaan badut menjadi kelam dan menakutkan.




DALAM salah satu adegan Joker (2019) warga kota Gotham berbondong-bondong turun ke jalan. Mereka menyeruak ke jalan-jalan menganggap kota Gotham  tidak lagi representatif menjadi hunian idaman.

Alih-alih aman, Gotham kota dengan tingkat kriminalitas tinggi. Lapangan pekerjaan sulit, disparitas ekonomi melebar antara si kaya dan si miskin, transportasi publik tidak menyenangkan, pendapatan kota menukik turun, dinamika politik perkotaan tidak stabil, serta elit politik yang rakus kekuasaan.
Massa aksi turun ke jalan ini memiliki kesamaan ciri. Mereka menggunakan topeng badut sebagai olok-olok kepada pemerintah kota Gotham. Topeng badut dipilih di saat persamaan kota sedang menghadapi teror badut yang telah membunuh tiga orang pelajar di jalur subway bawah tanah.

Joker, adalah kisah transformatif seorang Arthur Fleck menjelma sebagai badut pembunuh berdarah dingin. Dia adalah cerita orang pinggiran, kesepian, tak berdaya, korban bully, dan tidak dianggap, yang sekaligus pengidap mental illnes. Arthur memilih jalan hidup ektrem karena masyarakat yang kehilangan empati.

Joker bukan sekadar film banyak mengedepankan anasir-anasir psikologis belaka. Poin lain film ini banyak mengetengahkan satire atas timpangnya masyarakat, dan potongan-potongan kebijaksanaan melalui sudut pandang Arthur Fleck.

Sebagai pribadi kesepian tanpa ayah, Arthur hidup bersama ibunya yang sakit-sakitan. (Melalui teori atheisme, pribadi anak dibesarkan tanpa ayah akan hidup tanpa pegangan. Ia mudah rapuh dan terbawa situasi. Hilangnya pegangan hidup akan membuat si anak tidak akan mudah percaya kepada anjuran-anjuran berbau agama).

Hubungan dua manusia ini selama dalam film tidak sama sekali mencerminkan kejahatan. Dari kaca mata keluarga,  kedekatan Arthur dengan ibunya justru memperlihatkan kedalaman kebaktian  antara seorang anak kepada ibunya.

Walaupun demikian, Todd Philps, sutradara film ini, menyimpan satu kata kunci menjelaskan apa sebenarnya terjadi dalam keluarga kecil Arthur.

Lubang kunci itu adalah panggilan ”Happy” untuk Arthur. Nampaknya, ”Happy” adalah panggilan konstitutif bagi keluarga Arthur. Mereka tak pernah sama sekali bahagia. Panggilan ”Happy” Arthur hanyalah kanal saluran atas kelamnya sejarah hidup ibu Arthur.

Athur bukanlah anak diinginkan. Ia anak pungut. Itulah sebab dari kecil ia mendapatkan perlakuan buruk ibunya. Ini juga melatarbelakangi penyakit mental Arthur yang dibawanya dari kecil.

Di beberapa adegan sering terlihat Arthur membawa jurnal harian. Kesuraman inti buku hariannya ini. Banyak catatan hariannya tidak sama sekali membantu penyembuhan penyakit mentalnya. Masalah semakin runyam ketika psikiater tempatnya berkonsultasi menyatakan akan tutup akibat pemotongan anggaran.

Bagi seorang psikolog atau psikiater, jurnal seperti kepunyaan Athur sangat penting melihat dunia lebih dalam simptom penyakit mental. Lebih jauh, buku catatan penderita  berkelainan mental  dapat menentukan perkembangan dan pendekatan intervensi apa yang layak bagi  si penderita. Ia ibarat catatan medis bagi dunia kedokteran.

Tapi, ketika Arthur bertranformasi menjadi Joker, jurnal hariannya menjadi inspirasi kejahatan. Catatan hariannya itu menjadi literasi titik balik ego Arthur Fleck. Dalam istilah Joker, melalui catatannya, ia mengubah tragedi kemanusiaan menjadi komedi.

Keluarga cacat kasih sayang, karut marut norma masyarakat, tidak diterima di dunia kerja, serta latar belakang penyakit mentalnya, sudah lebih dari cukup bagi Arthur mentransformasikan benak dan perasaannya menjadi antitesa semua idealitas normatif dambaan masyarakat Gotham.

Badut adalah wajah sekaligus kepribadian sosial yang lebih mudah bagi diri Arthur. Arthur bukanlah siapa-siapa tanpa kostum badutnya. Ia pribadi lemah dan dilemahkan. Sementara Joker identitas baru melampaui inferioritas watak Arthur yang simpatik dan pengasih.

Dengan kata lain, Joker merupakan pribadi mewakili kegoncangan benak dan jiwa terdalam Arthur. Joker adalah pintu sosialisasi Arthur menyatakan gagasan dan benaknya.

Ia adalah produk masyarakat kota Gotham sendiri. Ia hasil internalisasi dan kristalisasi Arthur dari kegagalan harapannya, keinginannya, perasaannya, dan cita-citanya di hadapan sistem.  Yang semua itu di luar kendali dirinya menghendaki empati dari orang-orang di sekitarnya.

Jika mengacu kepada teori bunuh diri sosiolog Prancis, Emile Durkheim, pilihan logis Arthur setelah melalui kehidupan kelam adalah bunuh diri—beberapa adegan menunjukkan gelagat ini. Tapi. Arthur ”melampaui” pilihan ini. Ia beralih dari pribadi kalah menjadi optimis, walaupun rasa optimis yang liyan dan ganjil.

Itulah sebab, Joker merupakan watak berbahaya. Kejahatannya tanpa motif.  Delusional, tanpa perasaan, dan tanpa rasa kasihan.

Seluruh tayangan Joker berpijak dari kekacauan. Gotham bukanlah kota idaman. Di tataran makro, diceritakan Gotham mengalami krisis dan dekadensi akut. Struktur dan norma masyarakat mengalami kerapuhan. Kekacauan di tingkat makro ini melahirkan tragedi kemanusiaan berupa masyarakat tanpa bimbingan. Serta di puncaknya, secara diam-diam dan tanpa komando, memobilisasi ledakan emosi warga Gotham di jalan-jalan.

Di tengah kebrutalan itulah sosok Joker menemukan momentum kelahirannya. Bagai seorang anak, ia lahir dari rahim anomie dan patologi masyarakat. Ini sekaligus menandai kekacauan di tingkat mikro seperti kehancuran psikis Arthur.

Dari kacamata ini, tidak heran Joker adalah pribadi tanpa emosi dan kognisi yang baik. Dua fakultas ini telah malfungsi. Ia tertawa tapi menangis, atau menangis dengan tertawa.

Nilai kemanusiaan Joker  tidak lagi relevan. Ia melihat jauh di keramaian publik, tapi di sana tidak ada harapan dan pegangan. Ia melihat ke jantung jiwanya, lebih dahsyat lagi, di sana kosong melompong setelah dihempas masyarakatnya.

Lalu nilai apa yang relevan bagi Joker? Mungkin nihilisme!

Joker setidaknya memunculkan dua kesimpulan. Pertama, kota yang salah urus akan menciptakan ”pribadi” masyarakat beringas. Kedua, di saat bersamaan, entah bagaimana prosesnya, ketidakadilan bertemu dengan pribadi seperti sejarah Arthur Fleck, akan melahirkan pribadi bengis, culas, dan intoleran.


--Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu.


30 Oktober 2019

Si Pengintip yang Genit dan Perkasa

Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis
Inninawa (2007)

SAYA kira cukup mudah bagi kita menunjukkan keperkasaan. Apalagi jika anda seorang polisi, maka jauh lebih gampang lagi. Cukup memajang residivis kambuhan dengan tulang kering berlubang karena lahar panas. Setelah ditangkap diintai berhari-hari menggunakan mobil kijang tanpa nomor plat, segeralah ambil gambar. Di foto itu, bakal kelihatan siapa jagoan dan siapa bajingannya.

Panorama ini lumayan intimidatif. Terutama bagi penjahat yang masih berkeliaran bebas. Coba bayangkan sebelum didiamkan di dalam sel, mesti foto bersama polisi-polisi berotot plus berambut gondrong. Saya yakin, si bajingan yang jadi bulan-bulanan nanti ini lumayan makan hati. Kecut nian perasaannya.
Sudah dihadiahi pelor panas, dijadikan objek selfie-selfie pula.
Entah semenjak kapan ada kebiasaan ini. Tapi begitulah ketika selfie jadi tren. Di tangan polisi-polisi berpenampilan preman, residivis kambuhan yang tidak punya daya apa-apa lagi ini jadi mainan sesaat. Di hadapan kamera smartphone ia jadi objek kekuasaan.

Bahkan, di ujung kamera itu untuk membenarkan kerah baju saja ia tak berdaya. Apalagi membereskan sedikit muka bonyok pasca digasak bogem polisi.
Sial betul.
Saya kira ini suatu keadaan unik ketika kejahatan diolah menjadi ajang keperkasaan.
Muhiddin M. Dahlan, lewat esai di Fajar bertarikh 16 Oktober 2019 lalu, kurang lebih menyitir kelakuan ”perkasa” Achmad Fadil Muzakki Syah, anggota DPR fraksi Nasdem, saat pelantikan. Anggota dewan ini, di hari pertamanya bertugas, bukan main, membawa dan berfoto bersama tiga istrinya sekaligus.
Esai Gus Muh menarik. Fragmen Lora Fadil menampilkan tiga istrinya mencerminkan tema besar disebutnya ”dunia ranjang”. Dunia ini kurang lebih merupakan hasil panjang kebudayaan di mana Bugis menjadi salah satu pemasoknya.
Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis ditulis Muhlis Hadrawi terbitan Inninawa pada 2007, disebut di esainya itu, banyak memberikan perspektif adab dan ritus bersenggama dalam ”dunia ranjang” itu.
Menurut Gus Muh inti buku persenggamaan ini berusaha mendudukkan seks sebagai bagian integral ibadah.
”Apa yang Anda bayangkan? Ya, seks bagian yang inheren dengan dunia peribadatan. Seks itu sesuatu yang suci (berwudu). Ia memiliki dimensi spiritualitas. Melakukannya dengan cara yang benar sejatinya mengagungkan proses penciptaan.”
Di buku Assikalaibineng, sepenuturan Gus Muh, menjelaskan prosesi persetubuhan antara lai (lelaki) dan bineng  (perempuan) dengan tahap-tahap yang mencerminkan betapa persenggamaan mesti dilakukan dengan kelembutan dan kasih sayang.

Satu tilikan penting bisa diambil dari buku yang diurai Gus Muh di esainya berjudul Bugis dan Ranjang Indonesia itu. Keperkasaan atau kekuasaan lelaki yang lahir dari kualitas maskulin mesti disterilkan dari praktik kekerasaan. Seks betapa pun sering dipandang kegiatan profan belaka, mau tidak mau mesti dimaknai sebagai kegiatan yang setara (cinta).

Itu artinya, keperkasaan lelaki kerap muncul dalam praktik seks mesti lenyap, bukan malah sebaliknya.
Lalu, bagaimanakah melihat praktik ”kekuasaan” dalam foto Lora Fadil bersama ketiga istrinya? Keperkasaan jenis ini tidak berdiri di kaki-kaki kejahatan. Malah bisa jadi ia ditopang oleh semangat patriarkat yang mengakar kuat di benak lelaki macam Lora Fadil.
Anda bisa sepakat, Lora Fadil adalah tipikal lelaki berprestasi. Ia berhasil ”mengumpulkan” tiga perempuan di bawah satu atap rumah. Malah, ”di atas ranjang,” prestasinya lebih dahsyat lagi.
Prestasi ini persis seperti harapan ”ahli” poligami yang jadi pembicara di forum-forum berjenis ”ayo poligami” itu.
Di ranah politik, prestasinya ya itu tadi, lolos menduduki ”kursi kekuasaan” sebagai wakil rakyat.
Itu artinya, saat Lora Fadil menginjak lantai di Gedung Senayan dengan memboyong ketiga istrinya yang notabene adalah simbol kekuasaan di negeri ini, ia sedang menunjukkan satu jenis keperkasaan maskulin sekaligus.
Dengan kata lain, ia sedang mengembangkan ”ekor merak” keperkasaan menapaki dan menaklukkan dua ranjang sekali kibasan: kekuasaan politik dan seksualitas.
Dua ranjang ini dapat saling mengandaikan. Keperkasaan Lora Fadil mengandaikan barang siapa bisa ”menundukkan” tiga hati perempuan, berarti ia bisa ”merangkul” purnaragam kepentingaan politik. Atau sebaliknya, barang siapa mampu ”menegosiasikan” kekuasaan, itu sama artinya bisa memperistri banyak perempuan.
Tapi, sudahlah. Seperti Gus Muh dalam esainya, saya tidak ingin memperpanjang suasana jadi keruh.
Kiwari, keperkasaan sehari-sehari jadi ajang tanding. Bangsa Indonesia setelah mengalami 32  tahun mati suri mengalami perubahan mendasar atas nama demokrasi. Kekuasaan yang selama ini berpusat dan dikontrol oleh rezim Soeharto, terpecah-pecah, terpencar-pencar, dan terbagi-bagi, kepada siapa saja. Jika politik di masa sebelumnya hanyalah mainan elit ”di atas”, sekarang malah ia jadi konsumsi massal.
Di saat bersamaan, globalisasi abad 21 membuat dunia ibarat kawah mendidih. Kendati ada ekspresi untuk menghentikan laju zaman dengan membangun dinding perbatasan, semua itu tidak menghentikan umat manusia pecah ruah saling bercampur akibat deru deras informasi.
Itu artinya, ketika luberan informasi jadi kian merembes, setiap orang jadi kehilangan garis tepi kebudayaan, politik, dan agama.
Di kawah informasi yang mendidih itu tidak ada lagi Indonesia, Polandia, Spanyol, Amerika, Prancis dlsb.  Dengan kata lain, masyarakat global menjadi era yang sulit dielakkan.
Esai Eka Kurniawan di Jawa Pos 12 Oktober 2019 lalu cukup menarik menangkap perilaku manusia ”saling mengintip” berkat pergeseran zaman yang kian terbuka. Perilaku ”saling intip” kian banyak ditemukan melalui aktifitas maya. Kita hari demi hari makin bebas genit mengintip linimasa satu sama lain; status, hoaks, kisah, petuah, omelan, cibiran, iklan, percakapan, dan segala apa pun.
Uniknya, di kegiatan macam itu, tidak sedikit dari kita sebelum diintip tangkas memasang keperkasaan melalui layar smartphone. Tidak jauh berbeda seperti foto polisi preman itu, hanya saja tanpa muka bonyok si residivis.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...