27 Oktober 2019

Makassar Melawan Pembajakan Buku


BAJAK, di KBBI diartikan sebagai ”ambil alih secara paksa, disertai ancaman”. Definisi ini dibubuhi konteks lanjutan berupa ”(tentang pesawat dan sebagainya)”. Contoh ini mengingatkan saya kepada ”Air Force One” (1997), film aksi dibintangi Horrison Ford, orang yang juga sering kita saksikan memerankan Indiana Jones, seorang ahli arkeologi pemburu benda-benda kuno.
Tak perlu panjang lebar, ”Air Force One” lumayan fenomenal. Film ini berkisah tentang pembajakan pesawat kepresidenan AS oleh segerombolan teroris. Di film ini Horrison Ford berperan sebagai orang nomor satu Amerika, sekaligus menjadi pahlawan penyelamat pembajakan pesawat. Di film ini, ia berjuang sendirian. Berjibaku melumpuhkan satu per satu pembajak secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Terkesan hiperbola memang, seorang presiden sebatang diri melawan gerombolan teroris bersenjata lengkap di dalam pesawat. Tapi, begitulah Hollywood.
”Air Force One” seringkali ditayang ulang di layar kaca. Sekaligus jadi salah satu film berkesan di benak saya.
Barangkali, semenjak film ini tayang, banyak film bertema pembajakan dibuat Hollywood. Tidak main-main, beberapa film bahkan berani mengambil Gedung Putih–titik paling ketat penjagaannya di AS–sebagai  tempat paling sering dibajak–pendekatan yang belum mampu diadaptasikan sineas tanah air.
Terlepas dari itu, perlu dicermati mengapa konteks kata ”bajak” KBBI mengambil contoh peristiwa ambil alih paksa pesawat, bukan yang lain. Mengapa bukan kapal laut, kereta api, atau bahkan sebuah bus?
Mungkin memang, peristiwa fiksi semacam ”Air Force One” sering kali ditemui di dunia nyata. Di negara-negara dengan penerbangan padat berskala internasional, pembajakan pesawat sering terjadi. Terakhir memori dunia mengacu peristiwa 9/11 kejadian pengeboman gedung kembar WTC yang diliputi pro dan kontra itu.
Itulah sebab, konteks seringkali jadi latar belakang arti suatu kata. Dengan kata lain, suatu peristiwa sekaligus berfungsi membuat kata jadi terang.
Tapi, walaupun begitu, definisi paten dan demikian normatif, jadi tidak efektif. Terutama bagi kasus-kasus di luar kerangka definisi baku.
Pembajakan, kata kerja dari ”bajak”, dan ”pembajak” sebagai pelaku, hanya disebutkan diikuti konteks dalam dunia penerbangan. Tiada faktor lain yang membuka peluang konteks lain dapat muncul. Di KBBI, konteks lain itu justru ditulis hanya sebatas ”(…dan sebagainya)”.
Saya kira inilah soalnya. Di Yogyakarta pembajakan tidak terjadi dalam dunia penerbangan. Malah, ia terjadi dalam semesta suci ilmu pengetahuan. Dalam dunia berisi para pekerja buku berupa penulis, editor, proof readerlay outer, desainer,  percetakan, sampai pedagang buku. Suatu konteks yang tidak dicontohkan dalam KBBI saat ini.

Sekarang, menurut pengakuan Muhidin M. Dahlan dalam bincang-bincang Makassar Melawan Pembajakan Buku di Kopisentris (16/10), sudah sejak setahun lalu pekerja buku di Yogyakarta bergerak melawan mafia-mafia pembajak buku. Di Shopping Center, pusat penjualan buku di Yogyakarta, hampir semuanya menjajakan, dalam istilah Gus Muh, buku-buku repro.
”Bahkan, sebelum buku cetakan ori beredar, lebih dulu buku bajakannya terpampang di etalase-etalase toko buku di Shopping.”
Pendakuan Gus Muh, sapaan akrab Muhidin M. Dahlan ini mencengangkan. Terutama bagi yang pertama kali mendengarnya. Apalagi tambah Gus Muh, penerbit macam Basabasi sampai menarik ribuan bukunya dari toko-toko buku di Pasar Shopping.
”Pembajak itu menghadang di tahap akhir. Mereka memotong mata rantai proses percetakan buku.”
Gus Muh memberikan gambaran ada 15 tahap sebuah buku bisa sampai dinikmati pembaca. Dimulai dari proses kreatif penulis sampai di percetakan, semuanya menjalani proses panjang memakan waktu dan tenaga tidak sedikit.
Semua proses itu bahkan bisa disebut proses yang ”berdarah-darah.”
Saya kira, metafor yang ”berdarah-darah” ini tidak sekadar kiasan.  Ia memang harfiah. Pekerja buku bahkan bisa sampai diserang penyakit lantaran bekerja rodi mengawal satu naskah buku betul-betul sempurna sampai bisa dinikmati pembaca.
Lalu apa soal dari pembajakan buku, sebenarnya? Bukankah buku bajakan jadi solusi bagi mahasiswa berkantong kere, misalnya? Bukankah buku bajakan jadi medium percepatan dialektika pengetahuan, tinimbang buku asli yang masih lama naik cetak? Bukankah buku bajakan jadi alternatif sebaran ilmu pengetahuan jadi jauh lebih luas? Bukankah semua itu merupakan dalil melawan sistem distribusi ilmu pengetahuan yang semakin hari tidak berpihak kepada pembaca kelas bawah?
Buku bajakan bukan soal ”murah-atau tidak”, bukan soal memperluas akses buku-buku, bukan juga mengenai percepatan sebaran ilmu pengetahuan. Apalagi soal alasan melawan sistem yang tidak memihak. Malah, dalih semua ini secara kontradiktif membunuh sendiri argumentasinya.
Bagaimana mungkin buku dapat lebih murah jika di pasaran buku repro malah merusak konsensus pasar. Mereka murah karena tidak sama sekali mengeluarkan royalti bagi pekerja buku yang berjibaku menset seluruh tetek bengek mulai dari ide penulis sampai biaya produksi percetakan. Bagaimana mungkin dikatakan percepatan ilmu pengetahuan jika perputaran buku penerbit berhenti di gudang-gudang hanya karena buku-buku repro merampas tempat di etalase toko-toko buku?
Bagaimana bisa ini disebut melawan sistem distribusi bisnis perbukuan mahal, sedangkan di belakang tindakan pembajakan itu sendiri bersembunyi taipan-taipan buku repro. Di Yogya, taipan buku bajakan disebut Gus Muh sudah sampai bisa berkali-kali umrah dari keuntungan membajak buku-buku.
Ada satu alasan dikemukakan Gus Muh, yang saya kira, jauh lebih sederhana dari sejumlah alasan mengapa pembajakan buku mesti dihentikan: hak cipta.
Para pembajak buku kasadnya adalah para pencuri. Masih lebih lunak pengertian bajak diberikan KBBI. Di KBBI disebutkan pembajakan jika ada unsur terang-terangan disertai pemaksaan. Pembajak mengapa demikian jahat karena menggunakan pemaksaan, perampasan, bahkan menyertakan kekerasan sebagai cara mengambil alih.
Tapi, pembajak buku bukan saja jahat, malah itu tindakan bejat sekaligus bangsat. Pembajakan dilakukan tanpa sepengetahuan pihak penulis dan penerbit. Bahkan ia dilakukan tanpa ada unsur paksaan.
Berbeda dari sebelumnya, pembajakan buku-buku di Yogya sudah dilakukan terang-terangan dan massal. Ia tidak lagi dilakukan dan diedarkan sembunyi-sembunyi. Kini kebejatan itu bahkan dibenarkan oleh pembeli buku repro dengan dalih yang sudah dikemukakan di atas.
Di sisi lain, pembajakan buku sudah memanfaatkan kemajuan teknologi percetakan. Soesilo Toer di forum yang sama mengemukakan ada hubungan mengapa pembajakan begitu massif. Ia mengatakan jika saja mesin-mesin percetakan tidak seperti sekarang, pembajakan buku juga akan memiliki jalan cerita berbeda.
Di Makassar, temuan-temuan sederhana mengenai pemanfaatan mesin percetakan mengindikasikan sudah ada perencanaan sebagaimana  pembajakan di Yogya. Berdasarkan amatan sederhana selama ini, besarnya pangsa pasar buku repro di Makassar jadi sebab utama mengapa sudah ada pihak yang ingin mengadaptasikan percetakan repro di Makassar.
Jalan cerita ini dimulai dari kampus sebagai arena buku repro dipasarkan. Kampus secara tidak langsung menjadi medium pembajakan menjadi langgeng. Ada satu dua kasus bagi mahasiswa-mahasiswa Makassar yang menyeberang ke Yogyakarta demi menempuh pendidikan lanjutan, menjadi ”agen-agen” penyalur buku repro ke beberapa toko-toko buku di Makassar.
Dari proses di atas-lah ide mengenai  ”memiliki mesin cetak sendiri” timbul di benak sebagian mahasiswa Makassar.
Tapi, terlepas dari itu, perkataan Soesilo Toer masih bisa ditepis selama tidak ada keinginan pasar yang lebih menyukai buku repro. Artinya, selama edukasi berkelanjutan mengenai pemberhentian pembajakan, terutama bagi percetakan liar, terus digalakkan, dapat menghentikan laju produksi buku-buku bajakan.
Dengan kata lain, mesin hanyalah mesin jika tidak ada peluang niat jahat pelaku pembajakan.
Di Yogya, dalam suatu obrolan bersama Gus Muh di Paradigma Ilmu, perlawanan atas pembajakan buku sudah sampai ke pihak kepolisian. 12 penerbit yang tergabung dalam Konsorsium Penerbit Yogya, berdasarkan perkataan Gus Muh ikut menggandeng  15 pengacara untuk memperkuat gerakan perlawanan pembajakan buku.
Ketika melihat alur perjalana buku-buku repro, kedudukan Makassar menjadi kota ”penadah” dari hulunya yakni di Yoyakarta. Itu artinya, berbeda dari Yogyakarta, bagi Makassar, sasaran perlawanan terhadap buku repro ditujukan kepada pihak pembaca, perpustakaan komunitas, kampus, toko buku, dan pihak lain yang berposisi di sisi hilir penikmat buku repro.
Soesilo Toer, yang datang ikut mendukung deklarasi Makassar melawan pembajakan buku, bahkan memberikan pernyataan keras. Di forum yang diinisiasi Toko Buku Intuisi bekerja sama dengan Dialektika Warung Buku dan Paradigma Grup, defenisi pembajakan dengan sekali pukul ia katakan sebagai benalu.
”Pembajak buku itu benalu. Ia hidup dari tenaga dan pikiran orang lain.”
--Telah tayang di Kalaliterasi, 18 Oktober 2019

26 Oktober 2019

Laptop si Fulan


FULAN antusias menatap layar laptop. Matanya lekat. Jemarinya kikuk bergerak dari satu tombol ke tombol lainnya. Seolah-olah ada beban berat di setiap buku-buku jarinya. Tidak lama sebaris kalimat terpampang. Seketika ia hapus kalimat itu. Kemudian, ia kembali menulis kalimat lain. Tapi, untuk kedua kalinya ia hapus kembali. Bagai mesin karat, jemarinya tiba-tiba berhenti begitu saja.

Seperti jemarinya, pikirannya ikut berhenti. Seketika, layar putih kembali kosong. Ia seperti sedang berhadapan dengan tembok tebal....

Ini kali pertama Fulan menggunakan laptop. Benda paling berpengaruh abad ini membuatnya nampak asing. Pengalaman ini tidak pernah ia alami sebelumnya.

Di kampung halaman, ia akrab dengan layang-layang, sebidang kebun, sawah, persada luas, dan sepak bola. Jika masuk waktu salat, ia bergegas meninggalkan sungai tempatnya bermain.

"Di sekolah kalau diberi tugas hanya pakai buku tulis. Tidak pakai laptop. Baru kali ini menggunakan laptop." Demikian ia mendaku.

Fulan adalah tipikal anak pelosok. Di desa kelahirannya, nun jauh di pedalaman Sulawesi, teknologi hanyalah berupa kotak-kotak yang ia lihat seperti televisi, kulkas, dan mesin cuci.

Di masjid teknologi itu berupa amplifier dan toa masjid. Di rumah tetangga ia hanya melihat teknologi berupa parabola yang sudah lama tidak berguna. Ketika ia di toko kelontong kalkulator adalah benda canggih yang mewakili kemajuan desanya.

Belakangan orang-orang menenteng benda baru berlayar kecil dan trendi. Mereka sering tepekur berlama-lama menghadap layar kaca yang mungil itu.

Anak-anak seusianya kerap ditemukan duduk di atas deker-deker lorong. Bergerombol tapi seolah-seolah terpacak tembok pemisah. Tepekur menatap layar dengan seksama.

Untuk benda terakhir ini dimulai ketika para sopir mobil datang membawa alat komunikasi baru yang belakangan menggantikan mesin berlayar hitam putih.

Pertama-tama benda itu dipakai terbatas. Para orang tua hanya menggunakannya bertukar kabar dengan sanak famili nun jauh di kota. Sesekali jika ada keperluan ke kota, alat itu dipakai memesan tumpangan mobil. Bagi pedagang, benda itu dipakai memesan barang. Jika ada pesanan yang salah seketika benda itu menjadi solusinya. Dan, tentu benda itu dilakai para sopir mobil yang sehari-hari keluar masuk desa-kota, orang yang paling sering terpapar inovasi teknologi.

Pelan-pelan benda itu kian jamak dipakai. Hampir semua orang membelinya. Bahkan lama kelamaan ia jadi semakin canggih. Kini benda itu dibekali kemampuan internet. Dunia seketika tidak lagi sesederhana kehidupan desa. Informasi cepat bergerak mengubah kenyataan sehari-hari.

Ibu-ibu muda penjaga toko-toko kelontong di pasar lebih sering menatap layar mungil dari pada sekadar ngobrol sesama pedagang di sebelahnya. Anak-anak muda kala senggang habis waktunya berselancar menonton video-video hiburan, bersosial media, dan bermain game. Anak-anak gadis berasyik masyuk mengambil dan menyimpan gambar selfie. Kecuali orang-orang tua, para ibu-ibu dan suami-suami, masih setia berkebun dan menjemur gabah-gabah di pinggir-pinggir jalan.

Tapi, tetap saja sejak perusahan komunikasi masuk di desa Fulan mendirikan tiang-tiang kerangka di puncak-puncak bukit. Benda itu jadi demikian intim sekalipun hanya dipakai sebagai hiburan maya belaka.

Begitulah, selain motor dan mobil, teknologi android mengubah kebiasan hidup desa Fulan. Tidak terasa kehidupan organik desa berganti layaknya kehidupan kota.

Walaupun perubahan itu kian terasa. Tetap saja di sekolah teknologi adalah sesuatu yang demikan jauh di mata Fulan. Guru-gurunya sekarang memang senang menenteng laptop ketika di sekolah. Tapi, tetap saja ia belum tahu apa kegunaan praktis benda itu.

Dulu, kali pertama ia saksikan laptop di sekolah, tidak sekali pun ia melihat gurunya menggunakannya. Di atas meja, benda itu tergeletak begitu saja. Bersebelahan dengan vas bunga. Seringkali bodycovernya yang mengkilap tertutupi debu bekas kapur.

Di kelasnya, kapur dan papan tulis--selain buku gurunya--adalah benda yang paling mencerminkan dunia ilmu pengetahuan. Laptop, di mata gurunya terlebih di mata Fulan, dalam pengalaman ini entah untuk semesta apa.

Hingga akhirnya Fulan beranjak meninggalkan desanya. Ia pergi ke kota menuntut ilmu. Suatu fenomena khas bagi masyarakat pedesaan karena tidak lama lagi, orang seperti Fulan bakal memiliki kebiasan baru. Itu semua akan dimulai dari berubahnya sudut pandang, pemahaman, dan pengetahuan baru. Fulan, seperti warga desa umumnya yang bergerak ke kota, akan menjadi pribadi baru.

Tapi, itu bukannya tanpa risiko. Pendidikan yang ditempuhnya mengandung soal pelik. Di titik tertentu, Fulan akan mulai melihat desanya dengan cara berbeda. Desa bakal ia lihat sebagai suatu hal yang pelan-pelan jadi titik kecil. Desa akan jadi semesta asing. Desa akan mulai ia tinggalkan.

Sebelum itu semua terjadi, Fulan mau tidak mau mesti akrab dengan satu benda yang demikian gandrung dipakai di hampir setiap pekerjaan di kota: laptop.

Laptop, bagi masyarakat kota jadi benda penting. Sepenting parang bagi pekebun, atau cangkul bagi petani. Bagi dua pekerjaan ini, parang dan cangkul seperti di desa Fulan adalah alat yang bisa dipakai hampir di semua keperluan.

Kini, belum lama menjadi mahasiswa, Fulan disuguhi tugas dari kampusnya. Ini berarti Fulan mesti menggunakan laptop. Di kota, terutama institusi pendidikannya, hampir semua aktifitas akademik mesti menggunakan perangkat ini.

Di sinilah soalnya, pengalaman belajar Fulan selama di desa melihat laptop hanya sekadar benda yang akrab dengan gurunya. Kini, benda itu mesti ia pakai. Mesti menjadi bagian langsung pengalaman belajarnya.

Fulan yang dari pelosok, dan teman-temannya yang berasal dari kota, bukanlah generasi yang setara. Infrastruktur pendidikan di kota jauh lebih maju dari desa. Di kota, anak-anak seusia Fulan sejak awal sudah diperkenalkan laptop. Di kelas-kelas, mereka bisa belajar sejarah dari video-video, menyatakan pikiran menggunakan slide presentasi, mengutip pernyataan dari buku elektronik, dan membuat tugas dengan aplikasi khusus.

Singkatnya, anak-anak di kota lebih kreatif dibanding anak-anak desa. Kemampuan operasional atau skill mereka bagai langit dan bumi. Kini, jika mereka masuk ke jenjang perguruan tinggi, keterampilan dan pemahaman mereka bakal menjadi modal pengembangan dalam proses belajar mengajar.

Itulah sebab, sekarang Fulan kelimpungan di hadapan benda bernama laptop. Ia menjadi demikian berjarak. Teknologi untuk kasus Fulan, justru tidak mampu mengefesienkan pekerjaannya. Fulan belum punya bekal apa-apa untuk menggunakan laptop. Ia malah lebih akrab dengan androidnya

Sepupunya yang lebih dulu mengenyam pendidikan di kota dari tadi setengah mendikte mengajarkan bagaimana cara menulis di microsoft words. Fulan bingung dengan beragam menu di atas bar. Ia belum tahu apa kegunaan semua itu.

"Tekan 'control A'". Perintah sepupu Fulan.

Fulan gagap mencari tombol dimaksud.

"Sudah? Baru 'Control C'... Setelah itu 'Control V'".

Fulan terperangah. Seketika layar laptopnya penuh tulisan. Ia senang. Itu artinya ia tidak perlu lagi berpikir panjang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...