21 Agustus 2019

Idul Qurban dan Kemerdekaan


AGUSTUS kali ini demikian unik lantaran memperingati dua momentum sejarah sekaligus. Hari raya Idul Qurban dan kemerdekaan Indonesia. Dua peristiwa ini memiliki arti mendalam bagi rakyat Indonesia, terkhusus umat muslim.

Bagi umat muslim Idul Qurban mengajarkan umat manusia arti pengorbanan kepada kaum tertindas. Sementara peristiwa kemerdekaan Indonesia merupakan momen reflektif rakyat Indonesia mengenang dan menginternalisasi perjuangan bangsa ini melawan penjajajahan.

Walaupun berbeda alaf sejarah, dua peristiwa ini sama-sama menarasikan pengorbanan sebagai keutamaan manusia. Bukan saja itu, pengorbanan dalam dua kisah ini juga sama-sama mengisahkan kemerdekaan sebagai nilai kehidupan yang paling penting dan fundamental.

Kepasrahan Nabi Ibrahim-Ismail

Kisah Nabi Ibrahim-Ismail bukan narasi di luar sejarah manusia. Mereka berdua bukan mahluk suprahistoris seperti dalam legenda ataupun mitos. Ibrahim dan Ismail mahluk berdaging yang menandai keberadaan historisnya. Al Quran, karena itu menganjurkan agar kisah kedua manusia agung ini diceritakan terus menerus sepanjang masa. Pertanyaannya, mengapa Al Quran sampai mengabadikan kisah antara ayah dan anak ini?

Ego adalah ”kuda liar” bagi agama-agama. Ia mesti diatur agar manusia tidak jatuh ke dalam kesengsaraan. Tujuan setiap agama mengendalikan ego agar berjalan seiring terang cahaya wahyu. Ego dalam kendali wahyu akan berbuah hasil kepasrahan dan kesetiaan total kepada seluruh perintah dan larangan agama. Kepasrahaan dan kesetiaan, dengan kata lain, adalah inti terdalam praktik agama.

Pengorbanan dalam kisah Ibrahim dan Ismail berakar dari kepasrahan dan kesetiaan total kepada perintah Tuhan. Mereka berdua telah melampaui sekat penjara ego. Jiwa insan mereka telah tunduk sepasrahnya seperti pasrahnya alam semesta terhadap hukum Tuhan. Bergerak tanpa sedikitpun melahirkan sangsi dan protes.

Itulah sebabnya, kisah kedua manusia ini dikukuhkan Al Quran. Sebagai kisah pengorbanan, Ibrahim rela melepas satu-satunya keinginan selama yang telah ia damba-dambakan. Ismail, anak yang ditunggu-tunggunya, juga menunjukan kebaktian pengorbanan tiada bernilai. Baik Ibrahim dan Ismail, sesungguhnya mengajarkan nilai moral puncak: rela melepaskan keinginan yang paling dicintai.

Kesetiaan, kerelaan, dan ketundukkan Ibrahim dan Ismail kepada Tuhannya merupakan tanda manusia merdeka.  Kedua nabi ini, dengan kata lain, adalah contoh bagaimana manusia mesti memerdekakan dirinya dari penjajahan ego. Sebagaimana ungkapan Rasulullah, perjuangan manusia paling dahsyat perjuangan melawan hawa nafsunya. Begitu pula kemerdekaan, kemerdekaan hakiki adalah kebebasan manusia dari perintah hawa nafsunya.

Peristiwa Ibrahim membebaskan prasangka teologis menghancurkan patung-patungg raja Namrud, bukti lain agar manusia selain melawan egonya  jangan sampai terjebak kepada kekuasaan tuhan-tuhan palsu. Kemerdekaan atas tuhan-tuhan palsu diajarkan Nabi Ibrahim masih relevan sampai masa kiwari.

Dalam konteks bangsa-bangsa dunia, tuhan-tuhan palsu sering menjelma ke dalam berbagai bentuk dan dimensi, salah satunya penjajahan politik dan budaya.

Korban Kemerdekaan

Bangsa Indonesia diakui sebagai negara merdeka berkat jasa pahlawan-pahlawannya. Baik tidak tercatat maupun disebut-sebut dalam buku sejarah, pejuang kemerdekaan silam telah mengorbankan seluruh dirinya kepada bangsa ini. Sulit dibayangkan bagaimana besarnya cinta mereka kepada bangsa ini sampai rela berkorban demi kemerdekaan Indonesia. Satu hal bisa dipetik dari pengorbanan pejuang kemerdekaan, yakni kerelaannya melepas apa yang paling dicintainya kepada bangsa ini: nyawa dan segala apa yang mereka miliki.

Pejuang kemerdekaan silam enggan dijajah melalui kepemimpinan politik dan budaya asing. Mereka sadar betul tidak ada kekuasaan patut direlakan selain kekuasaan politik bangsa sendiri. Kesetiaan kepada tanah air sendiri tidak sebanding kerelaan kepada penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan hakiki bukan hidup dalam naungan bangsa asing, melainkan bangsa yang dapat menentukan sendiri nasib dan takdir kebangsaannya.

Takdir kebangsaan Indonesia ditandai dari beragam suku, bangsa, dan agama. Secara geografis takdir kita hidup dipisah lautan antar pulau-pulau. Begitu pula di masa depan tidak bisa dielakkann bangsa ini mengalami ledakan populasi akibat bonus demografi. Seluruh takdir ini mau tidak mau melahirkan beragam perbedaan dan keanekaan. Dengan kata lain, sudah takdirnya bangsa Indonesia beragam dan  berbeda satu sama lain.

Tidak akan berubah nasib suatu kaum tanpa kaum itu sendiri mengubahnya. Ini juga merupakan takdir Tuhan bahwa segala hal bisa berganti ketika ada kemauan untuk berubah. Agustus adalah hasil ikhtiar bangsa Indonesia memilih untuk merdeka. 

Rakyat Indonesia silam telah menentukan takdirnya melalui kemampuan mengubah penjajahan menjadi kemerdekaan.  Akan lain ceritanya jika seluruh peristiwa perjuangan Indonesia silam tidak memilih mengubah nasibnya. Kemerdekaan hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Sekarang perjuangan Indonesia adalah perjuangan mengelola perbedaan, keanekaan, dan kemajemukan.  Manusia Indonesia harus keluar dari cangkang egonya demi memupuk kemerdekaan atas sesama. Manusia Indonesia harus pandai-pandai berkorban demi kemajemukan status sosial, peran, dan keyakinan agama. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, atau para pejuang kemerdekaan: rela melapangkan sesuatu yang dinginkan egonya. Memerdekakan diri dari penjajahan ego demi bangsa dan negara.

Telah tayang di Geotimes.go.id


19 Agustus 2019

Khotbah


PERTANYAAN. Pertanyaan yang baik adalah sebagian dari ilmu.

Tapi, kiwari, di majelis-majelis keagamaan, yang gandrung merebak di masjid-masjid, mungkin lupa hadis Rasulullah di atas.

Di majelis-majelis itu, pertanyaan yang datang kadang hanya permainan belaka. Atau bisa jadi berupa gimmick semata. Sengaja dipesan entah oleh siapa yang kita tak tahu wujudnya, untuk memancing, untuk merebut perhatian.

Atau, karena ia bakal tersiar di kanal-kanal sosial media, bakal menarik pendapatan adsense.

Pertanyaan lewat secarik kertas itu memang membuat waktu jadi efisien, ia bisa langsung sampai di atas mimbar. Tapi sesungguhnya malah memangkas ihwal yang intim.

Sang da'i tidak bakal tahu siapa sesungguhnya yang bertanya. Ia tak tahu raut muka si penanya. Bagaimana gesture rupanya, intonasi suaranya, gerakan tangannya.

Dengan kata lain, sang da'i tidak bakal menangkap kesungguhan si penanya. Seserius apakah ia mencari tahu.

Dalam kondisi demikian, kita sulit menangkap siapa sebenarnya yang sedang memegang kendali. Di layar kaca, si da'i bagai orang yang sedang memegang kontrol forum. Ia lihai menjawab pertanyaan membangun argumen dengan mengikutkan prasangka. Di atas forum ia-lah pusat perhatian.

Tapi, siapa yang bakal mencari tahu, siapa yang bertanggung jawab berada di belakang panggung. Yang mengendalikan alur masuk pertanyaan. Memilah-milah kertas pertanyaan mana yang layak naik, mana yang sekadar sensasi belaka.

Di majelis keagamaan, lantaran ia bukan forum layaknya pertemuan ilmuwan, tidak ada proses sortir demikian. Siapa saja bisa bertanya, seaneh apapun jenis pertanyaannya.

Malangnya, entah sudah dipikirkan matang-matang, si da'i, yang seharusnya menjadi palang pintu terakhir penyortiran, di banyak kasus juga gagal memilih bijak.

Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan bernada sinis, mengejek, melecehkan, mendeskreditkan, jadi ajang si da'i membabat habis semua jenis pertanyaan. Ia berubah seolah-olah mesti bertanggung jawab atas semua pertanyaan dengan menjawab semuanya. Padahal ia lupa, ia punya pilihan, punya pertimbangan yang mana pertanyaan yang ia layak tolak mentah-mentah.

Sampai di sini, majelis-majelis pengajian di layar kaca itu membuat kita curiga, seberapa seriuskah jamaah-jamaah itu berniat memperdalam agamanya. Seberapa bijakkah da'i-da'i itu menanggapi pertanyaan yang kerap melecehkan.

Malah bahkan, pertanyaan-pertanyaan yang datang ibarat memancing di air keruh.

Kiwari dunia layar kaca mengubah segalanya menjadi hiburan. Setiap konten seserius apa pun itu bakal diset seperti pertunjukkan. Ada fokus kamera, sorot layar, pembesar suara, pengaturan cahaya, penonton bayaran...

Itulah sebab, sebagaimana hiburan, di majelis pengajian itu perlu glorifikasi dan kemeriahan. Bahkan ia perlu seorang aktor yang mampu menyedot penonton. Dan jika mesti, ia perlu bermain adegan dramatik agar menjaring nama.

Tapi, karena ia telah menjadi hiburan membuat kita mesti was-was. Mesti bertanya-tanya: sudah semurah itukah agama hari-hari ini? Bahkan, dengan jenis pertanyaan murahan karena salib?


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...