04 Agustus 2019

Humor Chaplin dan Konservatisme



TERTAWA bukan saja sifat alami manusia. Dilihat dari aspek sosialnya, tertawa malah dapat menandai kebudayaan masyarakat tertentu. Bangsa Mesir dan Persia, misalnya, disebut bangsa yang humoris. Mereka bisa saja menyelipkan humor sekalipun dalam keadaan marah.

Berbeda bagi bangsa Jepang dan Jerman yang cenderung serius dan kaku. Tertawa bukan tradisi kedua bangsa ini.

Tidak seperti Perancis, di Rusia orang-orang malah sulit melempar senyuman kepada orang asing. Di negeri sendiri, bahkan senyuman bisa menandai keakraban walaupun terhadap orang asing.

Begitulah tertawa di beberapa bangsa-bangsa dunia, kadang menjadi perwakilan identitas kolektif masyarakatnya.

Di awal abad 20 dunia mengenal Charlie Chaplin, aktor seni peran yang mengembangkan humor untuk menggambarkan kepelikan dunia. Lewat tertawa, humor Chaplin ingin mengajak penontonnya melihat dunia melalui cara berbeda.

Dari setting masyarakat industri melalui film semisal The Modern Time dan City Light, Chaplin menciptakan sosok Tramp demi menunjukkan kontradiksi-kontradiksi kemanusiaan masyarakat industrial.

Lewat karakter Adenoid Hynkel, Chaplin memeragakan humor gaya mengejek dalam film The Great Dictator. Semua yang pernah menyaksikannya tahu, dari film itu, sosok yang ia sasar adalah Adolf Hitler, tokoh penyulut Perang Dunia ke 2.

Humor Chaplin humor tanpa kata, tapi bukan berarti tanpa “bahasa”. Melalui peran jenaka, bahasa humornya dapat ditangkap melalui gesture, mimik, gerak-gerik, dan petingkahnya yang memanfaatkan tubuh sebagai teks. Peragaan tanpa kata itu berhasil mengaduk sense of humor setiap penontonnya.

Humor a la Chaplin humor yang melibatkan dimensi kritisisme. Ia sebenarnya tidak sedang bercanda. Malah, humornya berbau politis. Dengan cara demikian, Chaplin memanfaatkan sense of humor pada setiap diri penontonnya agar menyadari situasi kritis masyarakat.

Di Tanah Air, guyonan apik dikawinkan dengan politik pada orang sekaliber Gus Dur. Di tangannya politik bak permainan. Melalui humor Gus Dur banyak membuka wawasan masyarakat ke dimensi-dimensi persoalan yang jarang dilihat. 

Sebagai teknik komunikasi, Gus Dur paham betul humor perangkat komunikasi paling jitu merangsang pemahaman lawan bicara agar menyadari betapa kompleksnya suatu persoalan.

Konon nilai spiritualitas manusia dapat diukur dari tingkat sense of humornya. Semakin tinggi sense of humornya, semakin cerdas ia secara spiritualitas. Sebaliknya, semakin rendah sense of humornya rendah pula tingkat spiritualitasnya.

Kaitan sense of humor dengan agama ditilik dari kemampuan sekaligus kepandaian seseorang memperluas dan memperdalam pemaknaan saat mengartikulasikan nilai-nilai agama.

Sense of humor juga menjadi semacam basis episteme yang meradikalkan pemahaman menjadi lebih cair dan fleksibel. Melalui keadaaan ini, sense of humor-lah yang membuat jiwa lebih ”ringan” menghadapi segala hal yang dianggap berat dan baku.

Bahkan, lewat sense of humor-lah, ego, yang seringkali menghambat perkembangan spiritualitas manusia, dapat diturunkan tegangan dan derajatnya sampai kepada level yang paling rendah.

Dengan kata lain, humor adalah metode penyampaian yang dapat mentransformasikan gagasan berat, baku, dan kaku ke dalam suatu model bahasa yang lebih cair dan mengalir ke berbagai lapisan kesadaran dan kejiwaan.

Kisah-kisah sufistik misalnya, adalah contoh bagaimana humor dan ajaran agama disandingkan. Melalui kisah-kisah sufistik, agama kehilangan ”keangkerannya”. Di tangan para sufi semisal Nasruddin Khoja, agama sebagai ajaran Tuhan nampak lebih ”ceria”, ”jenaka”, dan ”terbuka” ketika disampaikan. Melalui kisah jenaka para sufi, agama malah lebih mudah diterima ketimbang dengan cara lain.    

Belakangan, nilai pasar humor menjadi lebih tinggi. Di dunia hiburan, banyak acara televisi memasukkan unsur humor. Humor di acara-acara itu tidak sedikit menjadi ajang menaikkan rating dan pendapatan. Humor di dunia hiburan jika bukan merangsang imajinasi berpikir masyarakat, malah sebaliknya membuat masyarakat kehilangan dimensi kritisismenya.

Di waktu bersamaan, humor sulit dipakai mencerna hal-hal serius. Politik, dan bahkan agama, adalah dua sisi kemanusiaan kiwari dipandang haram ”diguyonkan”. Menguatnya konservatisme politik dan agama, membuat humor dianggap melecehkan marwah agama dan politik. 
Merebaknya konservatisme, pada akhirnya membuat masyarakat kehilangan sisi ”kejenakaan”, ”keceriaan”, dan ”keterbukaan”  dalam mencerna sesuatu.

Konservatisme agama dan politik yang ”fiqih oriented” dan atau ”syariah oriented” membuat segalanya kian sempit dan menyesakkan. Agama yang ”fiqih oriented” membuat seseorang anti kepada keberagaman, cenderung menginginkan kebakuan dan kekakuan pemahaman.

Imbas cara pandang seperti ini tidak akan ada dinamika dan kesegaran dalam mengamalkan pemahamannya di dalam kehidupan yang serba cair ini.

Dunia yang kehilangan kejenakaan dan keceriaannya, jika bukan menganggap humor meremehkan persoalan, maka dianggap menista ide-ide sakral dan keyakinan yang dikandung dalam apa pun. Padahal, agama kehilangan keceriaan akan menjadi amalan muram, tradisi kehilangan kejenakaan membuat budaya menjadi kaku, dan politik kehilangan keterbukaan akan menjadi kekuasaan totaliter.

So, jika hari-hari ini Anda mudah marah kepada perbedaan, keragaman, dan keanekaan, jangan-jangan ada yang salah dari diri Anda. Why so seriously!?


02 Agustus 2019

Buku dan Kubu


BELAKANGAN saya kesulitan menemukan kenikmatan membaca buku. Alih-alih dapat menempuh waktu lama dalam membaca, saya seringkali keteteran dengan serbuan ”musuh” di dalam kepala saya. Ya, dunia maya masih menjadi peringkat pertama dalam daftar hal-hal yang harus ditinggalkan jika ingin menjadi pembaca yang tekun.

Musuh di kepala saya ini sudah ibarat racun, mengotori dan berkecambah sampai memengaruhi keinginan yang sulit dibendung. Gawai, benda tercanggih sekaligus terkutuk abad ini biang keroknya. Ia yang bertanggung jawab dari semua ini.  

Tapi, malangnya, walaupun menjengkelkan, tidak bisa dimungkiri representasi dunia lebih banyak nongol melalui layar kaca gawai. Urusan apa saja bisa ditemukan di atas mungil layar kacanya. Dari urusan ranjang artis ternama sampai soal-soal politik yang sontoloyo itu.

Pernah beberapa kali ingin melenyapkan perangkat canggih ini di liang jauh. Mengubur atau mengenyahkannya tanpa mesti dikenang lagi. Tapi apa daya, cara ini terlampau ekstrem mengingat sebagian kebutuhan komunikasi bertumpu kepada alat ini.

Saya bakal kehilangan komunikasi dengan lingkaran pertemanan yang berjibun itu: grup-grup yang hanya saya baca itu, teman-teman seorganisasi, rekan-rekan kerja, atau bahkan dengan istri sendiri. Hampir separuh dunia akan hilang jika gawai kita enyahkan.

Maka pilihannya hanya ada satu: mengurangi pemakaian gawai sebatas komunikasi belaka. 

Belakangan pilihan ini sulit saya jalankan oleh sebab kebiasaan membuka youtube. Youtube saat ini adalah semesta segala hal. Siapa pun bisa menjadi publik figur melalui konten-konten kreatif.

Bahkan tidak sedikit konten-konten menjual kekonyolan berupa menjadi pocong-pocongan kawe. Yang unik saya sampai berdecak kagum terhadap konten kreator yang tidak kehabisan ide yang kerjaannya mengejar-ngejar mahluk halus di tempat-tempat angker.

Itu konten-konten yang mampu membuat Anda tertawa sekaligus menjadikan Anda sebagai orang tolol.

Di Youtube Anda tidak perlu jauh-jauh ke Tanah Suci hanya untuk belajar agama. Atau bertahun-tahun nyantri di pesantren-pesantren. Cukup Anda mengikuti chanel ustadz-ustadz kekinian lengkap dengan perasaan bahwa mengikutinya Anda sudah masuk kategori orang beriman. Kalau konten-konten agama macam ini sudah mampu membuat perasaan Anda seinci dengan taman surga.

Tapi jika Anda masih bisa berpikir lebih dari 16 detik, pilihannya tidak rumit, menonton konten-konten yang banyak dibubuhi komentar-komentar religius itu akan membuat Anda di suatu waktu menjadi konservatif, atau sebaliknya, lebih moderat.

Dari sekian banyak pilihan itu, saya sering mengikuti kajian-kajian keagamaan yang diampuh Ustadz Miftah Rakhmat bertema Daqaiq Al Quran; suatu cabang ilmu Agama yang membahas kedalaman makna dan presisinya kata-kata yang dipakai Tuhan dalam Al Quran. Kajiannya lebih berisi dari model konten yang di atas tadi itu. Lebih berbobot karena mau kajian yang bagaimana lagi selain mengulik dan menimba air pemaknaan dari dalamnya samudra kata-kata Al Qur’an?

Sudah nasibnya, dunia maya banyak mengubah model dakwah masa kini. Saya beruntung dapat menikmati salah satu manfaat ditemukannya Youtube. Kajian-kajian yang dilakukan jarak jauh dapat segera saya nikmati tidak lama ditayangkan melalui dunia maya.

Menghabiskan bacaan dengan cepat adalah keistimewaan. Mengingat belakangan orang-orang menganut filosofi ”tidak apa-apa terlambat asal selamat” dianggap orang aneh. Buku-buku abad kiwari tidak pernah berhenti dicetak. Kecepatannya terpampang di etalase rak-rak toko buku secepat seekor tikus berkembang biak. Rasa-rasanya, belum membaca buku terbitan terbaru seperti manusia yang terlahir dari abad lalu.

Sehari-hari belakangan saya mesti membagi waktu dengan istri menjaga buah hati kami. Jika Lola berpergian keluar bekerja, saya harus rela tinggal di rumah mengurusi kebutuhan Banu, anak kami.

Semenjak kami dikaruniai anak, hampir semua kebiasaan kami berdua berubah drastis. Terutama saya yang kerap nongkrong di warung kopi. Sekarang, jangankan keluar untuk sekadar menulis sembari ngopi, bertemu kawan saja demi urusan tertentu harus disesuaikan dengan jadwal kami berdua.

Menjadi orang tua apalagi dikarunai seorang anak adalah pertarungan tersendiri dengan diri sendiri. Banyak hal yang mesti dinegoisasikan kembali terutama menyangkut kepentingan diri sendiri. Semenjak Banu hadir menjadi anggota baru keluarga mini kami, ia satu-satunya paling utama menjadi prioritas. Segala hal pekerjaan yang menyangkut kepentingan pribadi mesti ditunda demi Banu.

Buku adalah jendela dunia, tapi di hadapan Banu, ia tidak berbeda dengan perabotan rumah. Terpampang dan diam begitu saja. Banu adalah semesta lain. Keberadaannya mengubah segala hal, termasuk untuk membaca buku. Jika ingin memenangkan keduanya, saya harus mendahulukan Banu terlelap tidur lebih dahulu. Di waktu yang demikian singkat itu, membaca demikian berharga. Sialnya kenikmatan membaca tidak seperti saat Anda menikmati sepiring nasi goreng pagi hari. Kadar waktu saja tidak cukup. Lebih dari itu, malah. Fokus dan konsentrasi.

Di saat begini, saya memilih berbaring bersama Banu. Dengan buku sekubu bersamanya.
   

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...