24 Juli 2019

Danny, Kerja, dan Kebebasan


”KERJA bagai kuda.” Entah dari mana istilah ini berasal. Kenyataannya, suatu waktu, sambil melucu istri saya pernah melontarkannya. Satir memang, mengingat ia sering menghabiskan lebih banyak waktu bekerja di luar ketimbang saya yang lebih banyak berleha-leha di rumah.

Kami berdua bukan aparatur sipil negara, tapi rasa-rasanya kami membutuhkan kepastian lebih pasti  mengenai penghasilan di akhir bulan dibanding kebanyakan pegawai negeri sipil.

Bagi sepasang keluarga muda ada tiga hal pokok yang mesti diperhatikan baik-baik. Kalau perlu mesti diperjuangkan mati-matian: tempat hunian, penghasilan tetap, dan  pekerjaan yang pasti.  

Ketiga kebutuhan ini saling melengkapi. Satu saja tidak dapat direalisasi, hancur berantakan keduanya.

Saat menulis ini saya sedang membaca Dataran Tortilla karangan John Steinbeck. Belum selesai memang, tapi cerita Steinbeck sudah memukau saya dari awal. Dataran Tortilla, sejauh yang saya baca berkisah tentang Danny dan ketiga sahabatnya yang tinggal di sebuah rumah warisan tak begitu megah di sebuah kawasan bernama dataran Tortilla, Monterey, Amerika Serikat.

Danny dan sahabat-sahabatnya adalah penganguran. Hidup mereka berjalan apa adanya. Bebas dan tak terduga, mengalir dan bergerak sesuai ide-ide konyol yang mereka cetuskan begitu saja.

Untuk menutupi kebutuhan hidupnya, kadang mereka meminta sisa-sisa makanan restoran, menukar barang curian dengan sepotong roti, mencari kayu pinus untuk dijual, atau meminjam uang demi sebotol anggur untuk mereka nikmati bersama.

Bahkan mereka bisa saling menipu satu sama lain demi mengisi perut kosong dan mabuk-mabukkan.

Di luar kekonyolan mereka, sehari-hari persahabatan adalah segalanya. Empati sesama orang susah dan bernasib kurang mujur membuat mereka bagai kerumunan srigala. Susah senang tidak ada bedanya.  

Danny, dan sahabat-sahabatnya, Pilon, Pablo, dan Jesus Maria selalu mewakili semangat kelas proletariat Steinbeck yang kerap muncul dalam karang-karangannya. Mereka semua diidentikan sebagai masyarakas kelas bawah, tapi juga orang yang tak ambil pusing dengan soal-soal tagihan listrik, uang sekolah, kredit kendaraan, pajak, tabungan masa depan, pasangan hidup, tempat tinggal, dlsb.

Singkatnya, Danny bersama sahabat-sahabatnya adalah suatu dunia tanpa kerja. Tidak ada sekalipun Steinbeck menceritakan tokoh-tokohnya terikat pekerjaan dengan jam-jam kerja bagai penjara. Justru mereka dalam arti tertentu adalah para free man yang tak terikat beragam soal.

Setiap tokoh adalah pribadi yang unik dengan keluguan dan cara berpikir masing-masing. Mereka seolah-olah manusia-manusia yang tidak hidup dalam lintasan sejarah: pikiran mereka hanya untuk menikmati waktu sebebas-bebasnya, saat ini dan di sini.

Dengan kata lain, Danny dan kawan-kawannya adalah antitesa bagi masyarakat kapitalistik. Antinomi dari masyarakat berbudaya tinggi. Lawan dari kelas ningrat yang memuja-muja status sosial. Dan bahkan mereka adalah suatu dunia yang sulit diimajinasikan melalui cara pandang masyarakat dominan.

Dunia kiwari mesti belajar dari kehidupan Danny dan sahabat-sahabatnya. Bagaimana ia melihat dunia melalui kacamata kebebasan tanpa terikat kepada sistem, institusi, kekuasaan, kelompok, dan ideologi tertentu yang banyak menuntut pertanggungjawaban. Danny dan sahabat-sahabatnya adalah suatu sistem kehidupan sendiri yang memiliki kemampuan mengatur hidupnya secara mandiri dan otonom tanpa dominasi apa pun.

Jika hari ini banyak orang ditawan pekerjaan yang menyesakkan, Danny dan sahabat-sahabatnya malah memilih suatu pengertian kerja yang lain. Dalam kehidupan Danny tidak ada jadwal kerja, tidak ada pimpinan kerja, tidak ada tempat kerja, dan juga tidak ada aturan kerja, semuanya diasalkan kembali melalui otonominya. Bebas menentukan waktu dan tempat dalam rangkaian acak kejadian-kejadian yang ia alami.

Ia bahkan seperti ungkapan filsuf-filsuf eksitensialis: bebas merealisasikan dan mengekspresikan kehendaknya.

Dengan begitu, cara hidup Danny adalah cara hidup yang menghancurkan dunia kerja, yang merupakan bagian dari skema besar atas nama akumulasi modal. Ia menolak menjadi bagian dari sistem, diperas tenaga dan waktunya demi keuntungan yang tidak diperuntukkan untuknya.

Singkatnya, Danny dan sahabat-sahabatnya enggan didehumanisasikan. Menolak sistem kerja yang membuat manusia terasing dari dirinya sendiri.

Sampai di sini, saya kembali merenungkan celoteh istri saya di atas: ”kerja bagai kuda”. Jangan-jangan kita selama ini bagian dari berjuta-juta manusia yang diperlakukan bagai kuda. Dihisap tenaganya, dilucuti pikirannya. Tercerabut dari hakikat diri sendiri.

21 Juli 2019

Dialogi Pesona Sari Diri


Judul: Pesona Sari
Penulis: Sulhan Yusuf
Penerbit: Liblitera
Edisi: Pertama, 2019
Tebal: 530 hal
ISBN: 978-602-646-23-1

--Apresiasi buku Pesona Sari Diri karangan Sulhan Yusuf

ALKISAH, seorang pria tampan terpesona melihat cerminan parasnya di permukaan air. Ia lama termangu seolah-olah paras yang ia lihat tiada bandingan sebelumnya. Dalam kisah sastra Yunani klasik, cerita ini diabadikan dalam Methamorposes karangan Ovid. Diceritakan lebih jauh, Narcissus, nama pria rupawan ini, dikutuk dewa karena angkuh terhadap Echo. Ia menolak cinta Echo dan lebih memilih mencintai sosok yang ia lihat di atas permukaan air, yang tiada lain adalah dirinya sendiri.

Narsisme, nama penyimpangan mental dalam psikologi diambil dari kisah Narcissus di atas. Barang siapa yang terpesona dengan dirinya sendiri, memuja-muja secara berlebihan dirinya, dikatakan mengidap narsisme. Kiwari, narsisme sangat gampang ditemui. Fenomena selfie berlebihan adalah contoh mutakhir betapa masyarakat sekarang sadar tidak sadar banyak mengidap mental disorder berupa narsisme.

Buku Pesona Sari Diri karangan Sulhan Yusuf ini, bukan bicara gejala narsisme. Walaupun berpangkal kepada ”diri” sebagai dasar semua karya tulisnya, di buku ini malah secara impilisit mengejek orang-orang pengidap narsisme. Banyak orang terpukau dengan ”diri” fisiknya: paras rupawan, gaya hidup, jabatan, harta dlsb., tapi lupa mengingat ”diri” nonfisiknya: jiwa, ruh, dan akalnya. ”Diri” yang belakangan disebut ini, alih-alih diberikan perhatian lebih, malah dilupakan oleh masyarakat mutakhir belakangan.

Problem mendasar tak kalah dahsyatnya di masa sekarang  adalah masalah otentisitas diri. Banyak masalah di negeri ini yang disinyalemen karena kegagalam masyarakat mengenal dirinya. Pemahaman atas “diri” kian runyam karena kuatnya “otoritas kebanyakan” dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi individu. Orang-orang hanya akan berarti jika ia bersama “massa” dominan dari pada menemukan makna dari perenungan dirinya sendiri.

Dalam esai ketiga di buku ini, Sulhan Yusuf menggunakan istilah unik mengenai  diri, yakni sari diri. Seringkali dalam percakapan kita mengenal istilah jati diri. Istilah ini menunjuk kepada inti kepribadian manusia yang terbentuk dalam waktu panjang. Sebagaimana pohon jati, inti kepribadian inilah yang sejati, kuat, dan asli, karena membawa karakter dasar manusia. Seringkali ada pertanyaan “siapakah engkau?”, atau ungkapan permenungan “siapakah aku?”, yang keduanya sama-sama mencari tahu “jati” diri otentik seseorang.

Esai dengan judul Memberilah Dengan Sari Diri, lebih metafor lagi dari istilah jati diri. “Sari diri” jika membaca esai ini disimpulkan sebagai kemampuan manusia memberikan pemberian terbaik kepada calon penerima. Dalam praktik beri-memberi, Sulhan menganjurkan berilah pemberian kepada orang lain sebagaimana itu adalah dirimu sendiri. Posisikanlah orang lain adalah dirimu yang layak mendapatkan hal terbaik. Sesungguhnya pemberian yang layak, sama halnya bagaimana madu lebah menghasilkan rasa manis bagi lidah pengecapnya.

Anjuran moral demikian banyak ditemukan di hampir semua esai buku ini. Yang tidak kalah menarik adalah esai berjudul Generasi Sofa dan Kentang. Esai ini tanpa tedeng aling-aling mengkritik perilaku individual generasi milenial. Mayoritas generasi sekarang adalah generasi digital native yang dibesarkan di tengah teknologi digital berupa smartphone. Melalui smartphone, generasi milenial dapat ”berkeliling” dunia walau tanpa kemana-mana. Sangat gamblang perilaku demikian dinyatakan Sulhan sebagai generasi yang tinggal duduk di atas sofa sambil mengemil keripik kentang dan telah merasa melakukan banyak hal melalui smartphonenya.  

Generasi sofa dan kentang jika bukan satire, malah dapat disebut ironi. Bagaimana mungkin dari segi usia produktif, generasi milenial lebih banyak berdiam diri menekuri gawainya berjam-jam tanpa henti. Ironi ini justru semakin terasa gaungnya jika generasi sofa dan kentang diidentikkan dengan generasi yang emoh keluar dari zona nyamannya. Saking nyamannya, generasi milenial justru menjadi generasi tanpa tanggung jawab sosial.

Fenomena hijrah dialami hampir di semua lapisan sosial belakangan ini, juga tidak luput dari nukilan buku ini. Menariknya, konsep hijrah tidak semata-mata diartikan sebagai peristiwa perubahan keimanan seseorang menjadi lebih religius belaka. Dalam salah satu esainya, Sulhan Yusuf memberikan konsep lain dari hijrah berupa tonggak perubahan yang terkait dengan perubahan tatanan sosial secara fundamental. Tujuan hijrah sebagaimana Rasulullah melakukannya adalah pembangunan masyarakat egaliter dan setara. Artinya, puncak hijrah seseorang seperti bagaimana nabi melakukannya adalah revolusi sosial.

Nuansa kritis yang ditemukan dalam esai bertemakan hijrah di atas dapat pula dijumpai pada esai lainnya.  Dalam Sepak Bola, Religiusitas, dan Spiritualitas, penulis mengangkat fenomena cara masyarakat beragama dari tilikan religiusitas dan spiritualitas. Menurut penulis, dua hal ini berbeda untuk mengatakan tidak saling memunggungi. Religiusitas adalah doktrin agama yang diwarisi dari para nabi atau padri agama, sementara spiritualitas adalah penghayatan doktrin agama yang dialami pelaku agama itu sendiri. Religiusitas umumnya menampakkan dirinya dari ciri-ciri fisik agama, sedangkan spiritualitas seringkali diukur dari akhlak penganutnya.

Syahdan, Pesona Sari Diri memang bukan bermaksud berkhotbah. Ia malah ditulis seperti orang yang sedang mengobrol. Ringan, jenaka, satire dan kadang-kadang ironi. Karena gaya bahasanya demikian, tidak ada kesan otoritatif dari teks buku ini untuk memaksakan suatu pemahaman kepada pembacanya. Malah buku ini, diam-diam mengajak pembacanya untuk melakukan satu hal yang luput dilakukan selama ini: “Siapakah Aku ini?”

*Telah terbit di Harian Fajar, Minggu 21 Juli 2019


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...