09 Juni 2019

Prolog Pesona Sari Diri


Pesona Sari Diri

INI pengakuan belaka ketimbang sebuah prolog.

Altruisme. Semuanya dapat diasalkan dari kata ini. Terma yang sulit berkompromi, tapi malah kerap menggembosi alam bawah sadar saya. Setiap kali bersua dengan penulis buku ini, kata ini kerap melesat mewarnai perbincangan kami.

Begitulah, kata ini adalah cara pandang, sikap moral, dan sekaligus panggilan kemanusiaan bagi penulis buku ini. Terma yang sudah menjadi airmata darah bagi Kak Sul, begitu ia akrab kami sapa.

Tidak ada salahnya jika di sini saya ceritakan sedikit latar belakang kemunculan sebagian besar esai di buku ini.

Sekali tempo, kelas literasi sudah berjalan setahun kurang lebih. Kelas ini awalnya digagas di mukim beliau. Di perpustakaan pribadi beliau tepatnya. Seingat saya kelas perdananya dimulai bertepatan 17 Agustus 2015 silam. Di hari kemerdekaan itu, kelas dibuka dengan cara yang amat sederhana. Tidak lebih dari 10 orang.

Selang setahun, di angkatan kedua, timbul gagasan membuat media cetak versi kelas KLPI. Tujuannya sederhana belaka: saluran tulisan teman-teman di kelas menulis dan bisa menjadi bacaan waktu senggang bagi mahasiswa yang menjadi sasarannya.

Tapi, bagaimana model, jenis, dan gayanya belum begitu terang. Ide terlanjur dilempar, gagasan terlanjur dimasak. Akhirnya, di titimangsa 24 Januari 2016 kali pertama, Kala, nama yang kami sepakati, terbit. Terbitan perdana itu menayangkan dua esai sekaligus: Bersua Seno Gumira Ajidarma karangan Sulhan Yusuf, dan Menulis itu Dua Hal, tulisan saya sendiri.

Perlu digarisbawahi. Kala tidak sepenampakan media cetak umumnya. Ia bukan zine media alternatif komunitas yang kerap dibubuhi gambar, atau buletin dengan sejumlah halaman tertentu. Kala juga bukan koran kampus versi pers mahasiswa. Kala hanya selebaran. Kertas HVS A4 yang dicetak landscape dengan print seadaanya. Hasil keluaran itulah yang digandakan melalui fotocopi.

Selebaran yang tidak mentereng itu cukup kami bagi-bagikan kepada teman-teman sekelas di KLPI. Kami biarkan ia digandakan sebanyak-banyak oleh siapa saja yang kebetulan menyukainya. Menyebar bak akar serabut rhizoma membentuk cabang-cabang baru, di mana pun dan kapan pun.

Lalu, apa hubungannya dengan sebagian besar tulisan-tulisan di buku ini? Di sinilah pangkal akarnya. Terutama setelah terbitan Kala ke-9. Di halaman terakhir kami bersepakat menyediakan kolom khusus bernama Unjuk Rasa. Kolom ini kami khususkan untuk Kak Sul. Di kolom mini itu kami berikan akses sebebas-bebasnya bagi Kak Sul untuk menulis apa saja.  Seunjuk-unjuknya. Terutama apa yang ia rasakan.

Di kolom itu walaupun bebas memiliki tingkat kesulitan tertentu. Ini tantangan bagi Kak Sul berkaitan bagaimana menuangkan gagasan dengan hemat kata-kata. Medium yang terbatas hanya kolom kecil tidak lebih dari setengah halaman adalah sebabnya.

600 kata. Ini aturan bakunya. Lewat dari itu tidak bakal cukup menempati kolom Unjuk Rasa. Saya sering kali keteteran mengubah ukuran font untuk menyesuaikan panjang tulisan yang tidak dimuat kolom. Memang beberapa kali ada tulisan Kak Sul yang melebihi ketermuatan kolom. Ini menandai betapa pun dibatasi jumlah katanya, kebebasan Kak Sul dalam menuangkan gagasannya sulit dibendung.

Sampai akhirnya Kala versi cetak beralih medium menjadi online. Walaupun nampak masih sederhana, Kala versi mutakhir ini rutin menerbitkan karya tulis teman-teman dari KLPI. Begitu juga Kak Sul, setelah kolom Unjuk Rasa dibuatkan khusus versi onlinenya, tulisan beliau rutin menyapa pembaca di tiap akhir pekan—hal yang sama ia lakukan di beberapa media cetak dan online nyaris di waktu yang bersamaan yang juga diterbitkan dalam buku ini.

Sampai sekarang, Unjuk Rasa masih tayang. Tanpa pernah putus.

Begitulah kisahnya. Jika pembaca menemukan penanda di akhir tulisan yang beralamat Kalaliterasi, sesungguhnya semua itu awalnya berasal dari selebaran nan sederhana. Secarik kertas bertendensi ideologis yang kemudian beralih wahana.


PESONA sari diri saya kira adalah pembuktian. Bukan kepada siapa-siapa, melainkan kepada penulis sendiri. Ini mungkin cenderung personal. Tapi, apa yang lepas dari personalitas? Tanpa personalitas yang kukuh— suatu titik subjektifitas—semuanya bakal mudah menguap. Saya kira beragam tulisan buku ini adalah energi luar biasa yang dilambari dari kekuatan diri yang dahsyat.

Itulah sebabnya, esai-esai dari buku ini tiada arti tanpa kemendasaran “diri”. “Diri” di sini tentu tidak semata-mata entitas biologik belaka. Bukan pula sekadar hubungan fisiologis yang menghasilkan gerak mekanik laiknya mesin. Namun, jauh dari tilikan materialistik, “diri” adalah suatu asal tempat berpijak “kesadaran”. Titik alamat yang menimbulkan keinsafan insani (cukup diri).

Maka, ketika keinsafan ini menjadi aktual, beragam fenomena tidak lagi menjadi data-data indrawi yang berhamburan di selaksa ruang waktu, melainkan berubah, bertransformasi, bergerak, berpindah, dan berkembang dalam kemendasaran diri penulis. Melihat, mengamati, merefleksi, dan menuangkannya ke dalam tulisan adalah buah dari semua itu.

Sudah jelas, beragam fenomena yang ditangkap dari tulisan-tulisan di buku ini adalah suatu kerja kecendekiawanan yang sesungguhnya. Tanpa bermaksud memberikan definisi ketat, dalam arti general, penulis adalah seorang cendekiawan yang tidak serta merta pelipir di tepian kejadian-kejadian belaka. Banyak contoh dari tulisan di buku ini yang membuktikan bahwa penulis begitu peduli terhadap jatuh bangunnya apa yang dikenal sebagai peradaban.

Dengan kata lain, kepedulian itulah yang mendorong penulis menulis peradaban. Atau paling tidak sedang menyusun bab-bab panjang demi lahirnya peradaban:

Peradaban diri. Kiwari, problem yang tak kalah mendasar adalah masalah kemendasaran subjek. Banyak masalah di negeri ini yang disinyalemen karena kegagalam masyarakat mengenal dirinya. Pemahaman atas “diri” kian runyam karena kuatnya komunalisme yang meringsek aspek-aspek kehidupan. Bukannya skeptis kepada kekuatan kerja sama, hanya saja tanpa kemendasaran diri sebagai pijakan keinsafan, kerja sama yang kerap menguat menjadi kolektifisme hanyalah kumpulan massa yang beringas tanpa arah yang jelas.

Di bab awal bertajuk Sari Diri, esai-esai yang terhimpun dibawahnya memiliki perhatian besar terhadap rusaknya konsep diri. 31 esai ini nyaris tanpa pernah bergeser menyoroti problem-problem kemanusiaan dengan memberikan percak-percik nilai positif dari mahluk yang bernama manusia.

Bahagia, rendah hati, cinta, kesederhanaan, kedermawanan, keihlasan adalah beberapa nilai-nilai utama yang diangkat penulis menjadi rekomendasi bagi zaman yang serba berubah ini.

Syahdan, sehimpun esai di peradaban diri Sari Diri, nyatanya adalah refleksi kuat penulis terhadap fenomena menguatnya individualitas tanpa kepedulian, dan beringasnya komunalisme tanpa penghargaan atas hak individu. Semua esai ini secara bolak-balik melihat dari kedua sisi ini.

Itulah sebabnya, pembaca akan banyak menemukan bagaimana penulis mendudukkan nilai keuatamaan manusia di atas sebagai jalan keluar problematika kemanusiaan saat ini.

Peradaban religi. Ketika agama menjadi politik dan politik menjadi agama, esai-esai di bawah atap Teras Religiusitas malah berbalik arah untuk mengembalikan semangat asal agama yang kian hari nyaris absen dalam kepublikan bangsa ini.

Kisah para nabi, sufi, ramadan, natal, masjid, adalah beberapa persinggahan bagi pembaca untuk kembali meneguk mata air spiritualitas agama. Beberapa esai ini sama halnya dengan esai-esai yang berada pada bab sebelumnya, berpijak kepada soal-soal yang melanda manusia beserta kehidupan bersamanya.

Perbedaan mencolok dari bab ini adalah, pembaca akan menemukan perspektif khas penulis ketika berbicara agama. Melalui gaya bercerita tanpa bermaksud bekhotbah, esai-esai di bawah tajuk ini ditulis dengan jarak yang bisa dibilang dekat dari fenomena yang ditulisnya.

Satu hal yang tanpa disadari adalah, ada beberapa esai menjadi tawaran dari penulis untuk menjalankan agama tidak sekadar sebagai simbol belaka, melainkan ikut juga menghayati makna esoteris dari agama itu sendiri.

Dalam esai Haji dan Pembebasan, misalnya, di situ penulis secara eksplisit mendasarkan isi ceritanya kepada dua pengertian agama: agama pribadi dan agama sosial. Di esai ini penulis memproblematisir gelar haji yang sudah mentradisi bagi siapa saja yang berpulang haji. Apakah makna haji bagi agama personal seseorang? Apakah haji menjadi kewajiban disematkan sebagai gelar seseorang di ranah agama sosial? Apakah ada hubungannya gelar haji yang menjadi simbol agama sosial dengan kesalehan individu di ranah agama personal?

Jika motivasi pertanyaan ini diperluas, secara tidak langsung esai-esai di tajuk ini layak dijadikan bahan refleksi mengingat gejala keberagamaan hari ini yang ketat di wilayah esensial tapi sangat tidak fungisional bagi kontribusi kemanusiaannya.

Peradaban masyarakat. Dirangkum dalam sehimpun bab Beranda Publik, penulis banyak mengulas dunia politik, fenomena anak muda, sepak bola, masalah perkotaan, dan tentu saja tema literasi.

Di bab ini penulis menempatkan perhatiannya lebih dekat ke soal-soal keseharian sebagai seorang warga negara. Sering kali bahkan dengan nada humor—hal yang sering ditemukan di obrolan warung kopi—penulis mengulas soal pemilihann kepala daerah, misalnya, dengan bebas tanpa mencederai pihak lain. Jika dikaitkan dengan wacana demokrasi, dari tulisan yang tersebar dari bab ini (dan juga bab lainnya) nampak memang penulis sedang menggunakan hak politiknya. Namun berbeda dari orang kebanyakan, hak politik ini—dalam hal menyampaikan pendapatnya—tidak dilakukan dengan cara serampangan, melainkan dinyatakan melalui opini dengan medium tulisan.

Kebebasan berpendapat dari penulis, seperti yang tampak dari esai-esainya ini, cukup longgar membicang apa saja, terutama kepada hal-hal yang menjadi bahan perbincangan umum. Ini mempermudah dari caranya menuangkan gagasan dan perspektifnya. Apalagi penulis memiliki interes politik yang sama sekali berbeda dari cara pandang politik kiwari dan bukan menjadi partisan dari kelompok politik tertentu. Satu-satunya interes politik penulis jika itu dapat disebut demikian adalah betapa ngototnya penulis membangun peradaban yang dilambari nilai universal kemanusiaan.

Dari sisi ini, dapat dipahami mengapa literasi menjadi satu-satunya induk pengabdian penulis yang belakangan menjadi lebih intens digelutinya. Bukan karena semata-mata tercengang dengan data-data belakangan yang menempatkan bangsa ini dalam angka literasi yang rendah, tapi sekaligus juga sebagai bagian dari kritiknya terhadap keadaan saat ini.

Tidak berlebihan jika dari sisi ini kecendekiawanan penulis kerap terasa. Kepeduliannya yang besar kepada plus minusnya keadaan masyarakat saat ini hanyalah satu tanda kecendekiawanan selain dari kritisismenya yang dituangkan dari esai-esainya ini.

Pesona Peradaban. Ini adalah bab akhir dari Pesona Sari Diri. Di bab ini pusatnya adalah idealitas kemanusiaan. Banyak kisahnya dipulangkan kepada sosok-sosok agung dan puncak. Ibarat cermin, di bab inilah tempat refleksi pembaca mencari perbandingan parasnya. Apakah pembaca selaras dengan figur-figur ideal dalam bab ini atau malah sama sekali tidak memiliki kecocokan terhadapnya.

Manusia, dalam pendekatan psikologi naratif dinyatakan sebagai kisah. Setiap manusia memiliki kisahnya masing-masing. Laiknya kisah, manusia mengalami tiga babakan episode: pembuka, pertengahan, dan penutup. Dalam babakan episode ini, setiap perilaku manusia bakal menentukan seperti apa ending kisahnya. Baik buruknya, tergantung bagaimana ia mendudukkan narasinya.

Narasi yang baik ketika ia berpijak kepada idealitas tertentu: entah sosok sejarah, budaya, agama, atau politik. Tanpa itu, kisah jiwa manusia bakal mengembara tanpa visi dan misi.

Di bab ini, pembaca ibarat menemukan jangkar kapalnya. Ia menjadi pengikat jiwa agar memiliki jalan kisah ideal. Dari Muhammad sampai Ali bin Ali Thalib, Muhammad Iqbal sampai Ali Syariati, Khomeini sampai Tjokroaminoto, bahkan dari Ahok sampai Rocky Gerung adalah panorama idealisasi paras kemanusiaan.

Seperti bab pertama, di bab terakhir ini menghimpun 31 esai. Namun tidak saja tokoh besar yang dikenal umum sebagai figur-figur ideal, di bagian ini akan kita temukan bagaimana penulis menangkap seperangkat idealitas dari orang-orang dekatnya yang telah banyak memberinya pengaruh positif bagi diri penulis. Ini wajar saja, sebab penulis bukan lagi melihat aspek-aspek kemanusiaan di dalam diri tokoh-tokoh besar saja, tapi menyadari pula setiap manusia terkandung hal yang sama, sekali pun itu adalah orang terdekatnya.      


SUATU waktu saya terlibat percakapan dengan penulis, di tempat yang sering disebut tempat persemadiannya—dikenal sebagai TB Papirus. Singkat cerita saya coba bertanya mengapa Kak Sul tidak mengambil jalan seperti orang-orang yang sudah cukup modal sosial: mencalonkan diri menjadi calon legislatif. Saya tahu, di Bantaeng, kampung halamannya, beliau sudah dianggap sebagai tokoh yang aktif memberdayakan masyarakat. Jika dihitung-hitung beliau punya kans besar jika berminat menjadi anggota parlemen di daerah. Pertanyaan saya ini iseng saja mengingat waktu itu sedang musim pencalonan. Hanya untuk menambah bahan percakapan saja.

“Sekarang saya ibaratnya sedang menyiapkan jalan pulang, Bung Bahrul.” Begitu jawaban Kak Sul saat itu. Seperti biasa jawaban ini langsung disambung dengan candaan khasnya.  

Dari situ saya semakin paham apa yang dimaksudkannya dengan altruisme itu. Semakin kesini, sikap moral Kak Sul semakin mempertegas kedudukannya sebagai seorang wise. Ini-lah yang membedakan Kak Sul dari sikap kebanyakan orang. Ketika semua orang sibuk mencari panggung membesarkan nama, citra, dan harta, ia malah memilih jalan berlainan: suatu jalan yang hanya bisa ditempuh dengan semangat altruisme itu tadi.

Lalu apa yang dimaksudkannya dengan “jalan pulang” itu tadi? Saya tidak pernah mengejarnya melalui pertanyaan tambahan. Seketika saja saya bisa menangkap kata bersayap yang sering ia pakai dipercakapan-percakapannya itu. Cukuplah saja saya kutipkan penggalan syair Lagu Seruling sufi cum penyair Jalaluddin Rumi di bawah ini:

Dengar lagu seruling bambu menyampaikan kisah pilu perpisahan. Tuturnya, “Sejak daku tercerai dari indukku rumpun bambu, Ratapku membuat lelaki dan wanita mengadu. Kuingin sebuah dada koyak disebabkan perpisahan. Dengan itu dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta. Setiap orang yang berada jauh dari tempat asalnya. Akan rindu untuk kembali dan bersatu semula dengan asalnya.

ALTRUISME. Semuanya dapat diasalkan dari kata ini. “Jalan pulang” melalui kata-kata.

31 Mei 2019

Al-Quds Sedunia: Momentum Kemanusiaan, Keberpihakan, dan Pembebasan Palestina


Poster ajakan Pembebasan Al-Quds


BULAN Ramadan adalah bulan  spiritualitas manusia, atau bulan yang memanusiakan manusia. Itu karena ditandai dengan dua momentum besar sejarah, yakni malam turunnya Al-Qur'an (lailatul qadr) dan malam  kesyahidan putra Ka'bah, sahabat utama sekaligus murid sejati Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib Kw.

Malam lailatul qadr menjadi begitu penting karena di malam-malam itulah Al-Qur’an diturunkan ke muka bumi untuk hidayah dan juga menjadi al furqan (pemisah antara hak dan bathil) bagi umat manusia. Di malam-malam itu, dunia menjadi lebih tenang dan damai lantaran itu adalah satu-satunya momen bertemunya firman suci dengan sosok agung yang telah dipilih Tuhan untuk mengemban amanah membebaskan umat manusia dari penjara penindasan.

Itulah sebabnya, Al-Qur’an dan Rasulullah adalah dua kutub kompas kebenaran yang tidak bisa dipisahkan sama sekali.

Adapun kesyahidan Ali bin Abi Thalib, yang wafat di malam 21 Ramadan, juga menjadi penanda spiritualitas manusia untuk mengenal ketinggian jiwa manusia yang bersetia dengan prinsip Islam, dan kerendahan hasrat manusia yang dikendalikan tabiat ego yang diwakilkan sosok Abdurrahman Ibnu Muljam, pembunuh pilar keadilan Rasulullah Saw.

Di seputar kisah syahidnya Ali bin Abi Thalib Kw,  Ibnu Muljam adalah figur kontardiktifnya. Sosok Khawarij ini dikenal rajin mendirikan salat, fasih membaca Al-Qur’an, gigih berperang, dan mulutnya tiada kering dari menyebut asma Allah Swt.

Tapi, didorong ego keserakahan memonopoli kebenaran Islam,  hatinya yang dibakar hasrat berkuasa, rela membunuh Sang Putra Ka’bah di saat mendirikan salat Subuhnya.

Antara amiril mukminin Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Muljam, terbentang dua kutub yang saling bertolak belakang. Antara hak dan yang batil. Kebenaran dan kepalsuan.

Selain narasi Ramadan di atas, hakikatnya masih ada satu momentum yang mesti dikenal dunia yakni Hari Al-Quds Internasional.

Apa itu hari Al-Quds? Hari Al-Quds adalah momentum perlawanan pada hari Jumat terakhir bulan Ramadan untuk memantik kesadaran dan perhatian umat manusia menentang penjajahan Zionis Israel atas Palestina.

Hari Jum’at dipilih selain hari besar istimewa dalam Islam, juga merupakah hari kebiasaan pejuang, anak-anak muda, dan masyarakat Palestina turun ke jalan untuk menyuarakan hak-hak kemerdekaannya.

Sejarah hari Al-Quds ada kaitannya dengan pendudukan Palestina sejak awal tahun 1948. Di tahun ini, negara Israel berdiri pertama kalinya atas sokongan negara Inggris. Gerakan Zionisme akan lain ceritanya tanpa kebaikan hati Inggris. Inggris merealisasikan dukungannya sejak Deklarasi Balfour pada 2 November 1917. Semenjak itu, Palestina tidak pernah lepas dari intaian kolonialisme Israel.

Sementara walaupun banyak mengalami agresi militer dan pendudukan, deklarasi kemerdekaan Palestina dilakukan pada 15 November 1988. Proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh Yasser Arafat di sidang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang kemudian terpilih sebagai Presiden pertama Palestina.

Walaupun begitu, pasca pendudukan Israel atas Palestina membuat wajah Timur Tengah berjalan di atas sejarah ketidakpastian. Semenjak itu, Palestina menjadi pusat perhatian mayoritas ulama sedunia. Banyak tubuh yang kehilangan nyawa, penduduk yang kehilangan mukimnya, orang tua yang ditinggal pergi anaknya, anak-anak yang menjadi yatim, dan sebuah negara yang dicuri kedaulatannya.

Tanda empati

Sudah semenjak awalnya hari Al-Quds diinisiasi untuk memantik empati kepada saudara-saudara jauh kita yang ada di Palestina. Palestina sampai hari ini adalah satu kawasan yang tidak berhenti bergejolak. Konflik berkepanjangan membuat penduduk Palestina sudah seperti ditakdirkan hidup bersisian dengan perang.

Debu, dentuman martir, reruntuhan genting rumah, dan tubuh yang sewaktu-waktu menjadi mayat adalah pemandangan sehari-hari. Palestina seperti akan dikisahkan hingga akhir nanti menjadi negeri yang timbul tenggelam di dalam gemuruh perang tanpa henti. 

Palestina adalah kata yang kelabu sekaligus sebaliknya. Ketika menyebut Palestina, berarti menunjuk suatu komunitas masyarakat yang disingkirkan dari ruang hidupnya; berarti mengacu kepada anak-anak yang putus sekolah; berarti tertuju kepada pemuda-pemuda yang kehilangan akses pekerjaan; berarti berhadapan dengan suatu realitas masyarakat yang mengalami diskrimanasi akut di semua dimensi kehidupannya.

Menyebut Palestina juga menandai perhatian kita untuk ikut merasakan penderitaan suatu bangsa yang dicabut hak asasinya. Ikut berempati sekaligus mencari cara agar mengerahkan selemah-lemahnya iman persaudaraan sesama manusia agar mengutuk penjajahan yang dialami Palestina.

Palestina dengan kata lain bukan sekadar teritori suatu negara, melainkan juga menandai keluasan jiwa manusia untuk mengenal kemana ia mengarahkan solidaritas kemanusiaannya.

Hikmah puasa

Kunci puasa adalah mengendalikan hawa nafsu. Dalam makna lain, puasa adalah jalan manusia untuk menegakkan kembali rasionalitas kemanusiaannya ketimbang diamuk hasrat rendah kebinatangan.
Puasa juga lebih dari itu, ia demikian berarti karena ingin memukul mundur hasrat kuasa manusia yang seringkali menjadi motivasi utama ketika bertindak. Ia bertujuan menetralisir dimensi tabiat libidinal manusia yang sudah demikian purba ini.

Puasa karena bertujuan mengembalikan kedudukan martabat dan harkat manusia dari penjajahan dan penguasaan ego kuasa, memiliki sumbangsih spiritual kepada hari Al-Quds yang dilaksanakan di akhir Ramadan.

Dengan kata lain, hikmah peringatan hari Al-Quds pada momen Ramadan berarti perlawanan terhadap seluruh bentuk kolonialisme yang digencarkan bangsa-bangsa penjajah.

Jika puasa diartikan sebagai wahana agar manusia memerangi hawa nafsunya, maka peringatan Al-Quds adalah saluran mengecam dan menolak penjajahan bangsa Israel atas Palestina; simbol antara keteladanan perlawanan bangsa terjajah kepada bangsa penjajahnya.

Syahdan, Al-Quds dapat dikatakan hari kebangkitan politik kemanusiaan untuk melegitimasi ibadah puasanya demi menunjukkan bukti keberpihakan atas prinsip Islam yang anti perbudakan.

Seruan kemanusiaan

Hanya dua bangsa yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia: Palestina dan Mesir.

Mengingat ini, Indonesia mempunyai warisan sejarah atas Palestina. Bahkan Soekarno pada tahun 1962 lantang bersuara bahwa, selama kemerdekaan tidak diberikan kepada orang-orang Palestina maka dalam waktu itu juga bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.

Sejarah panjang Palestina sama tuanya dengan munculnya agama-agama di dunia. Bahkan, tidak ada dataran tanah yang paling banyak melahirkan nabi-nabi dalam sejarah manusia selain Palestina. Di Palestina pula Nabi Muhammad saw. menandakan momentum peristiwa Isra Mikraj setelah akhirnya memindahkan arah kiblat umat Islam.

Singkatnya Palestina punya ikatan khusus dengan bangsa Indonesia apalagi umat Muslim. Tanpa Palestina, barangkali sejarah agama-agama dunia bakal berbeda sama sekali.

Oleh sebab itu, melalui tulisan sederhana ini, semoga menjadi pemantik kesadaran bagi siapa saja agar Ramadan kali ini ikut memberikan dukungan moril dan doa agar Palestina, sebagai suatu bangsa, sesegera mungkin merasakan kemerdekaan hakikinya.

Olehnya itu Hari Al-Quds  bukan milik umat Islam belaka, melainkan milik seluruh umat manusia. Hari Al-Quds sebagaimana makna puasa adalah hari pembebasan umat manusia dari perbudakan, perampasan, diskriminasi, embargo, penindasan, penjajahan, dan pendudukan dari bangsa penjajah seperi Israel.

Di awal tulisan ini sengaja dibuka dengan menyampir malam Lailatur Qadr dan Kesyahidan amiril mukminin Ali bin Abi Thalib, dengan maksud dua momen spiritual dan historis tersebut memiliki hubungan maknawi dan saling mengisi terhadap hari Al-Quds atau pembebasan Palestina.

Malam diturunkannya Al-Qur'an adalah malam penuh berkah, mati syahid seperti yang diraih Sayyidina Ali adalah kematian yang diberkahi Tuhan, dan Palestina, seperti diriwayatkan adalah tanah yang diberkahi Tuhan.

Sebagaimana maksud Allah memilih ada tempat-tempat yang diberkahi, benda-benda yang diberkahi, manusia-manusia yang diberkahi, dan tentu waktu-waktu yang juga diberkahi.

Mari serentak berharap berkah Ramadan dengan tiga momen di atas. Setelah meraih malam lailatul qadr dan menghayati makna kesyahidan amirul mukminin Ali bin Abi Thalib, mari berdiri bersama demi Palestina mengutuk segala bentuk ketidakadilan Israel.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...