09 Mei 2019

Menadaburi Perjalanan Cinta


Identitas buku:
Judul: Perjalanan Cinta
Penulis: Abdul Rasyid Idris
Penerbit: Liblitera
Tahun: Januari 2019
Tebal halaman: 302 Halaman
Nomor ISBN: 978-602-6646-19-4

BUKU Perjalanan Cinta dibuka dengan secuplik figur Maemunah. Seorang ibu penjaja warung makanan kecil-kecilan di sebuah kota kecil Sulawesi Utara. Esai ini tidak berbicara banyak selain dari kebajikan Ibu Maemunah yang berhasil “dipungut” dari sekian banyak kisah-kisah inspiratif nan menggugah tentang kebaikan yang dilakoni “orang-orang kecil”.

Di esai ini kesimpulannya cukup sederhana, tapi mahal harganya: apa pun lakon Anda, bekerjalah dengan jujur, ikhlas, dan senantiasa berpikir positif. “Insya Allah, hidup kita akan mabarakka‘ (berkah)” ungkap Maemunah di esai berjudul Bunda Maemunah itu.

Itu kisah Ibu Maemunah, yang “dicuplik” Abdul Rasyid Idris, penulis buku ini. Di esai ke-42 penulis menulis kisah lain: kisah hari Paskah.

Paskah, judul esai ini, menangkap fenomena toleransi di sebuah kota yang tidak jauh dari Gorontalo. Di Festival Paskah itu, penulis menyatakan diri kaget, fenomena yang disaksikannya itu beranggotakan panitia inti yang berkeyakinan muslim. Bagaimana mungkin perayaan Hari Paskah, berpanitiakan perempuan-perempuan muslim? Bukankah semestinya setiap hari besar agama-agama umumnya hanya digelar oleh pemeluknya sendiri? Itukah yang disebut toleransi?

Di halaman 54 Abdul Rasyid, menulis kisah seorang office boy –yang sebenarnya seorang perempuan– yang bekerja sambil menjual penganan melalui lapakan yang ia gelar begitu saja. Bagi pegawai-pegawai tempat office boy itu bekerja, untuk membeli jajalan penganan tinggal ambil kemudian pergi tanpa berinteraksi dengan si penjualnya. Bagaimana cara mereka membayar? Disebutkan, sepulang bekerja baru para pembeli membayar satu-satu penganan yang sudah sebelumnya diambil. Ketika ditanya apakah tidak tekor cara bayar seperti itu? “Tidak bahkan selalu lebih karena di antara pencicip itu ada yang sengaja melebihkan pembayarannya”. Di esai ini, penulis menangkap suatu hal yang istimewa: “Ibu Office Boy itu memulai suatu usaha kecil-kecilan dengan prasangka baik dan ketulusan…”

Tiga kisah di atas adalah kisah orang-orang di “pedalaman” keseharian. Kisah tentang fenomena dalam arti sesungguhnya, yang sering kali jarang ditangkap sebagai suatu pengertian, atau pembelajaran bagi kita. Kisah-kisah kecil yang memiliki daya gugat demikian besar bagi pengalaman hidup bersama yang seringkali diabaikan.

Di buku ini, kisah-kisah demikian ditulis dengan sederhana, langsung, dan lugas oleh penulis tanpa bermaksud membesar-besarkan peristiwa yang dialaminya.

Peristiwa di atas hanyalah contoh bagaimana penulis merasa peka dengan gejala keseharian, yang dengan sendirinya membuat tulisan-tulisannya cukup dekat dengan imajinasi pembaca. Bukannya memilih peristiwa-peristiwa yang sedang trend dan banyak dibicarakan orang, sebagian besar esai-esai buku ini lebih menekankan kepada sejumlah kejadian yang lebih sosiologis ketimbang politis–tema tulisan yang paling banyak mengemuka belakangan ini.

Proses kreatif Perjalanan Cinta dikembangkan penulis dari persentuhannya dengan berbagai tempat yang dikunjunginya. Sembari bekerja sebagai konsultan CSR di penjuru pulau Sulawesi dan beberapa kali ke luar Sulawesi, tidak lupa penulis mengisahkan pengalamannya melalui narasi-narasi deskriptif, dan tidak jarang merefleksikan pengalamannya ke dalam suatu tilikan yang semi ilmiah.

Walaupun nampak sederhana, dan ditulis a la travel writing, langsung maupun tidak, tidak sedikit tulisan di buku ini menyuguhkan ulasan-ulasan yang bersifat etnografik, historis, dan bahkan religius.

Perjalanan Cinta, dengan kata lain, karena ditulis menyerupai travel writing, membuka peluang dirinya dapat berbicara banyak hal. Satu hal yang dapat dikatakan kekuatan sekaligus kelemahan buku ini.

Sebagai seorang yang melakukan perjalanan, interaksi adalah ihwal penting untuk menemukan informasi berkaitan suatu tempat, entah sejarahnya, budayanya, ekonominya, dan sebagainya, yang sayangnya tidak menjadi perangkat investigasi dalam sebagian besar esai buku ini.

Hal di atas cukup elementer mengingat nuansa esai ini menyandarkan dirinya pada “perjalanan” sebagai kekuatannya, yang notabene ibarat pelancong yang ingin banyak tahu setiap tempat yang dikunjunginya. Walaupun demikian, kekurangan ini cukup tertutupi melalui bagian-bagian reflektif-kritis yang dihasilkan melalui penjarakan penulis dengan peristiwa yang melingkupinya.

Apabila melihat isi buku ini melalui temanya, nampak jelas “aliran” buku ini sesuai dengan di mana sang penulis berada. Kadang suatu waktu di warung kopi, di pedalaman desa, surau masjid, di kamar tidur, kampus, coffee shop, gedung kesenian, mall, toko buku, dll, yang semuanya sengaja ataupun tidak memberikan insight bagi penulis untuk menggerakkan penanya.

Namun, jika dikembalikan kepada simpul apa yang dapat mengikat beragam tema di buku ini, rasanya sulit untuk dilakukan. Perjalanan Cinta jika disebut tema utama, rupanya hanya dua judul di antara esai-esai di buku ini.

Ketimbang mengambil tema umum yang mampu mengcover keseluruhan esai di buku ini, Perjalanan Cinta lebih tepat diartikan sebagai catatan yang merefleksikan pekerjaan penulis dari pada bagian proses kreatif untuk melahirkan tulisan-tulisan buku ini.

Di sisi ini, muncul pertanyaan mendasar atas buku ini? Yang mana paling menentukan, apakah ide/obsesi tulisan-tulisan yang lahir dari “perjalanan” pekerjaan penulis, ataukah profesi penulis itu sendiri yang kebetulan memberikan akses yang luas untuk mengenyam banyak perjumpaan di keberbagaian fenomena yang ditemuinya.

Dengan kata lain, jika sang penulis tidak melakukan tanggung jawab pekerjaannya di daerah-daerah, apakah akan melahirkan buku ini?

Sejumlah polemik ini, dengan sendirinya akan menggugat beberapa hal semisal seberapa lapang-kah “intuisi” kepenulisan penulis jika sebelumnya tidak mengikuti rutinitas tanggung jawab profesinya? Bukankah intuisi kepenulisan tidak mesti terkondisikan dengan faktor-faktor yang telah menjadi rutin seperti misalnya pekerjaan? Lalu, seberapa reflektifkah tulisan-tulisan yang dilahirkan dari kejar-kejaran rutinitas tanggung jawab pekerjaan. Pertanyaan ini akan lebih mudah dijawab jika tidak ada dualisme dari sisi diri penulis itu sendiri, apakah penulis adalah konsultan yang “nyambi” sebagai penulis, atau penulis adalah penulis yang kerja satu-satunya hanyalah menulis?

Terlepas dari itu, buku ini justru menjadi bukti kekuatan kreatif penulis. Di sela-sela tanggung jawab pekerjaannya, dapat menarasikan sejumlah pengalamannya ke dalam kertas putih. Di sinilah unsur subjektivitas penulis mengambil peran lebih jauh “membunyikan” sejumlah peristiwa yang sama-sama banyak dialami orang-orang. Setiap orang dapat menjalani satu peristiwa yang sama, tapi tidak semua dapat “mengabadikannya” melalui proses kreatif kerja-kerja kepenulisan.

Syahdan, buku ini alih-alih bukan berupa esai-esai yang membuat pembaca menemukan kebaruan sudut pandang dan sejumlah proposisi yang memantik sejumlah pertanyaan di benak pembaca, melainkan lebih menjadi tulisan yang bisa membuat pembaca merasakan pengalaman penulis ketika mengunjungi suatu tempat. Dari aspek ini, tulisan demikian cukup berhasil menghidupkan indera (dan juga imajinasi) pembaca walaupun tidak sedang mempersepsi langsung objek di hadapannya.

Terakhir, melalui bahasanya yang mudah dan tidak bertele-tele, buku ini cocok dibaca siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

---

Telah terbit di kalaliterasi.com

23 April 2019

Waktu untuk Tidak Menikah: Perempuan-Perempuan Pelupa dan Suara Aktivisme Perempuan



Judul: Waktu untuk Tidak Menikah
Penulis: Amanatia Junda
Penerbit: Mojok
Edisi: Pertama, Januari 2019
Tebal: viii+178 hal
ISBN: 978-602-131-8768

SEJAK awal, dari Denyut Merah, Kuning Kelabu, kumcer Amanatia Junda sudah memuat daya pikat yang nyaris sempurna. Ia dibuka dengan lenyapnya Noni, tetangga si Aku yang menjadi penutur dalam cerita pertama di buku yang baru saja diterbitkan kembali awal tahun ini. 

Dengan cara ini, pembaca langsung dipukul rasa penasaran. Ibarat lubang hitam, ia menyedot daya imajinasi pembaca untuk menjawab rasa ingin tahu yang ditiupkan dari kalimat pembuka cerpen ini.

Noni diceritakan perempuan tomboy seketika hilang entah kemana. Tokoh si Aku, tetangga kamarnya paling dekat bahkan tidak tahu kemana perginya Noni. Noni dikisahkan raib tanpa petunjuk sedikit pun. Ia hilang meninggalkan kamar kosnya dengan TV dibiarkan menyala.

Tidak seperti cerpen umumnya menaruh ending di bagian akhir, kisah ini bisa dibilang buntung. Tidak ada ending sama sekali. Pembaca kecele mengira di akhir cerita akan dikuak kemana dan di mana Noni berada. Sampai berakhirnya kisah, Amanatia lempeng tidak membeberkan di mana dan kemana Noni pergi.

Berakhir tanpa twist di bagian akhir cerita menjadikan cerpen pembuka ini laiknya strategi untuk memancing pembaca dapat terus bertahan hingga halaman terakhir buku ini.

Bagi saya, cerpen pembuka ini perjudian Amanatia dengan para pembaca. Jika dari awal kisah pembukanya datar-datar saja, Amanatia gagal. Ia tidak menarik intensi pembaca menghabiskan 14 cerpen tersisa yang dibabarkannya.

Namun, kenyataannya berbeda. Cerpen pertama ini berhasil menjalankan daulat dan malah menjadi kunci pembuka yang apik.

Perempuan-perempuan pelupa

Waktu untuk Tidak Menikah, selain ditulis seorang perempuan juga kisah tentang perempuan. Keseluruhan kumcer ini bertolak dari perempuan. Boleh dikata buku ini menawarkan sisi belakang perempuan yang kerap sepele tapi penting untuk diperhatikan –terkhusus untuk kaum pria.

Ambil contoh pada cerita Perkara di Kedai Serba-Serbi. Dina, tokoh kisah ini merasa jengkel atas ulah seorang perempuan yang serampangan membuang pembalut sehabis diganti di kamar mandi. Sering lupa mengguyur bekas kencing di closet, dan bahkan lupa mengambil celana dalam yang tergantung di kamar mandi kos-kosannya.

Karena kesal, ia menceritakan ulah perempuan tidak dikenalinya itu kepada pacarnya. Malangnya, justru karena cerita itu Dina diminta putus oleh pacarnya. Tanpa disadarinya, perempuan yang ia ceritakan itu adalah dirinya sendiri. Ternyata Dina perempuan pelupa. Ia bahkan lupa mengambil celana dalam yang merupakan pemberian pacarnya. Celana yang ia ceritakan itu.

Melalui kisah ini, perempuan yang dikenal memiliki titik fokus lebih dibanding laki-laki, ternyata punya kelemahan: sering melupakan hal-hal remeh temeh. Amanatia Junda dengan jenaka membalik stigma yang kerap dilekatkan kepada kaum pria. Seringkali ditemukan si lelaki-lah yang punya "penyakit" lupa –lupa tanggal jadian, misalnya. Tapi, di kisah ini sebaliknya, perempuanlah yang didera "penyakit" lupa. Dan itu berakhir masalah.

Dalam Baru Menjadi Ibu, juga ditemukan masalah lupa. Bahkan ini bukan sepele, penting malah. Diceritakan si Aku  adalah perempuan bernasib malang.  Ia diperkosa di atas angkot saat “melarikan diri” dari rumah mertuanya. Sialnya, dari peristiwa itu ia lupa ciri-ciri fisik pelaku. Sebaliknya, ia justru lebih mengingat detail-detail yang kalah penting dari pemerkosanya: warna bangku, busa jok, keadaan lantai angkot, lapisan kaca mobil, dsb.

“Aku sama sekali tidak ingat mukanya, sama seperti perjumpaanku dengan lusinan wajah asing di angkutan umum. Aku sama sekali tidak ingat ciri fisiknya, sama seperti aku mendapati tikus tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarku. Namun, aku ingat, caranya merangsek, merobek, me—“ (hal.59)

Berkat lupa ini, si Aku tidak bisa melakukan apa-apa walaupun sudah melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Alih-alih berusaha menyelesaikan masalahnya, ia malah sampai melahirkan anak hasil pemerkosaan itu. Sesuatu yang menambah pelik persoalan si Aku lantaran sebelumnya ia pergi dari rumah mertuanya karena “dituduh” mandul.

Dapat dipahami, bagaimana rumitnya situasi yang dihadapi si Aku melalui kisah di atas.  Apalagi “kesadaran” yang kerap diunggulkan sebagai kualitas esensial lelaki, tidak sekali pun membantu si Aku dalam mengidentifikasi pelaku pemerkosaan. Si Aku malah lebih banyak merekam cara si korban melakukan aksi bejatnya.

Itulah sebabnya, betapa tidak diduganya kejadian itu dan terjadi dengan seketika, membuat si Aku kehilangan fokus untuk mengingat pelakunya. Ini menandai bagaimana si Aku menyimbolkan ketidakberdayaan kaum perempuan ketika menghadapi kasus kekerasan yang memilih melupakannya akibat posisi yang tidak menguntungkan.  

Di akhir cerita, penderitaan si Aku tambah perih. Karena disulut api lilin, bayi yang baru dilahirkannya meninggal disebabkan ruang persalinan dilalap jago merah. Si suster yang menjaga bayinya ternyata juga lupa telah memasang lilin penerang ketika terjadi mati lampu.

Melalui nuansa yang hampir sama, si suster menghadapi juga situasi tak terduga dan seketika seperti pada kasus si Aku. Karena itu, saat terjadi kebakaran, ia malah lari menyelamatkan diri melupakan seonggok bayi yang dijaganya, yang akhirnya mati hangus terbakar.

Di cerita yang lain, ditemukan lupa yang berbuah romantis. Pisah Ranjang singkatnya adalah kisah sepasang suami istri yang terpaksa menyewa rumah sederhana karena bangkrut. Keadaan ekonomi yang terpuruk membuat hubungan yang berpuluh tahun telah mereka bina jadi menegang. Hingga mereka memutuskan pisah ranjang dengan cara sang suami membelah dipan satu-satunya yang mereka miliki menjadi dua bagian terpisah.

Lantaran tidur saling terpisah ini lah menerbitkan suatu pengertian subtil yang hilang di antara hubungan mereka. Mereka baru menyadari berupa keadaan saling menatap satu sama lain ketika beranjak tidur terpisah. Kebiasaan sederhana ini ternyata begitu berharga karena selama ini mereka lupa bagaimana caranya menyatakan kasih sayang tanpa mesti menggunakan kata-kata.

““Kamu menyadari sesuatu?” tanya sang Suami sambi menatap sudut-sudut keriput kelopak mata istrinya.

“Aku—kita terlalu lama menjadi satu bagian,” jawab sang Istri lirih sembari menunduk.

“Hingga kita pun lupa untuk saling menatap saat kita hendak tidur. Aku  baru menyadari hal itu saat kamu memutuskan kita pisah ranjang…””

Sama tidak diduganya seperti dalam cerita Baru Menjadi Ibu, kejadian pisah ranjang nyatanya tidak benar-benar dapat disebut pisah ranjang. Di akhir cerita, kualitas hubungan mereka mengalami lonjakan berkat pengertian yang tiba-tiba baru diinsafi mereka berdua. Mereka tidur bersama di atas dipan yang telah menjadi setengah.

Menikah untuk tidak menikah

Walaupun kisah di atas perempuan dicitrakan sebagai perempuan pelupa –hal yang kontradiksi dari sifat umum perempuan— nyatanya, ada citraan-citraan perempuan yang memperlihatkan keunggulan perempuan yang bisa diberitakan sebagai aktivisme perempuan.

Ini menjadi menarik lantaran tema cinta –dengan kerumitannya—begitu mencolok di setiap cerita dalam buku ini. Dengan kata lain, pembaca akan menemukan tegangan-tegangan perasaan cinta yang dilakonkan tokoh-tokoh perempuan dalam kumcer ini. Untuk menyebut dua contoh di antaranya adalah dalam Waktu Untuk Tidak Menikah dan Sepasang Bulu Mata Merah.

Pertama, dalam Waktu Untuk Tidak Menikah ditemukan kerumitan perasaan perempuan yang identik ketika menghadapi momen sakral berupa hari pernikahan. Umumnya perempuan akan merespon hari pernikahan dengan kebahagiaan tiada tara walaupun diselingi rasa ganjil dan was-was menghadapi peralihan status menjadi istri orang. Sebagian di antaranya malah melakukannya sambil menangis sebagai ungkapan kesedihan bercampur kebahagiaan.

Tapi, Nusri berbeda nasib. Cerita ini dari awal sudah memberikan suatu pengertian berkaitan dengan posisi perempuan yang sering distigmakan buruk berkaitan dengan pernikahan. Nusri, seperti banyak perempuan yang mempertahankan keperawanan walaupun menjelang usia 30-an, mesti menghadapi kebiasaan masyarakat agar perempuan dapat secepatnya melepas masa lajang sebelum terlambat.

Pandangan demikian mau tidak mau menempatkan Nusri kepada situasi terpojok. Stigma perawan tua menjadi hukum besi yang tidak memberikannya ruang gerak yang bebas. Sampai ibu Nusri memilih menjodohkannya dengan seorang lelaki bernama Laksmo.

Di sinilah letak soal yang pelik: pernikahan tanpa cinta menjadi momok bagi Nusri. Masalah semakin runyam bagi Nusri ketika menerima kabar anak angkatnya jatuh sakit. Betapa pun ia sudah rela dijodohkan oleh ibunya, tapi tetap saja cintanya kepada anaknya Si Darun jauh lebih besar dari apa pun.  Waktu yang tidak mengenakan memang dan itu waktu terbaik untuk tidak menikah.

Pernikahan yang tidak menyertakan cinta juga menjadi motivasi yang hampir sama dialami tokoh Widuri dalam Sepasang Bulu Mata Merah. Widuri adalah perempuan pekerja yang menyimpan duka mendalam setelah kematian adiknya dalam suatu peristiwa kebakaran pabrik. Menarik melihat dimensi psikologis Widuri yang mengkonversi kedukaannya menjadi motivasi memobilisasi gerakan terencana menentang perlakuan tidak adil yang dialami dirinya dan adiknya sebagai buruh perempuan. Apalagi ini didasarkan kepada keinginan Widuri agar adiknya bisa mengubah kebiasaan keluarga yang semuanya adalah pekerja buruh pabrik. Ia ingin adiknya dapat melanjutkan pendidikan, suatu cara untuk mengubah nasib keluarga mereka.

Walaupun sama-sama bercerita tentang pernikahan, berbeda dari Waktu untuk Tidak Menikah, tokoh Widuri dalam Sepasang Bulu Bata Merah bukan memilih untuk membatalkan pernikahannya. Ia malah menggunakan pernikahannya sebagai momen balas dendam untuk menyuarakan ketidakadilan. Bahkan paska itu ia melanjutkan dengan cara menggelar pertemuan-pertemuan demi menyusun skenario perlawanan terhadap korporasi yang tidak adil kepada para pekerjanya. 

Aktivisme perempuan dan Dunia Kerja

Lalu di manakah anasir-anasir yang menunjukkan adanya aktivisme perempuan di dalamnya? Setidak-tidaknya itu tercium dari Sepasang Bulu Mata Merah. Di beberapa bagian cerita dan menjelang akhir, Widuri dapat dikatakan sebagai sosok aktivis perempuan yang kerap diidentikkan dengan gerakan feminisme. Dia diceritakan demi menuntut keadilan akhirnya memustuskan untuk mengkonsolidasikan suatu gerakan terencana yang hampir semuanya adalah perempuan.

Denyut Merah, Kuning Kelabu juga merupakan cerpen yang di dalamnya menyiratkan sosok aktivis perempuan. Tokoh utama cerita ini dikisahkan perempuan muda yang terlibat ke dalam pengadvokasian petani Madura. Dengan latar sebagai seorang mahasiswa, kehidupan tokoh dalam cerpen ini menunjukkan kedekatan idealismenya dengan dunia aktivisme yang identik dengan dunia kemahasiswaan.

Pada Jarak yang Memisahkan Kami,dan Abha,  adalah dua contoh lain dengan perempuan  yang kuat. Semua latar belakang ceritanya berkisah tentang perempuan pekerja mandiri. Suatu tipikal yang sering dijadikan sebagai prototype dari simbol kemerdekaan perempuan.

Terlepas dari itu semua, di sana-sini Amanatia cukup konsisten mengolah seluruh tokoh perempuannya yang beririsan langsung dengan dunia kerja, yang banyak digambarkannya sering mengalami tindakan pelecehan dan diskriminatif. Dengan kata lain, seluruh cerita dalam kumcer ini diam-diam sedang menyuarakan suara perempuan yang sering diberlakukan tidak adil baik dalam lingkungan domestik maupun dunia kerja.


--

Telah tayang di Kalaliterasi.com

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...