04 April 2019

Kisah Liyan Sawerigading Datang Dari Laut


Judul : Sawerigading Datang Dari Laut
Penulis: Faisal Oddang
Penerbit: Diva Press
Edisi: Pertama,  Januari 2019
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-391-665-8

BUKU kumpulan  cerpen Faisal Oddang ini sebagian besar telah terlebih dahulu terbit di pelbagai media cetak nasional.  Paling lawas adalah Di Tubuh Tarra,  Dalam Rahim Pohon terbit di tahun 2014 –yang berhasil meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas tahun 2014—dan yang paling baru tulisan yang terbit di Majalah MAJAS tahun 2018 berjudul Peluru Siapa yang Kami Temukan Ini?.

Selama 4 tahun itu, walaupun ditulis dalam waktu berbeda, cerita-cerita Fai, begitu ia akrab disapa, konsisten menaruh perhatian kepada tiga hal yang menjadi ciri khas cerita-ceritanya: sejarah di Sulawesi Selatan, tradisi lokal, dan kelompok marginal.

Mari kita lihat. Cerpen pertama: Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?. Bagi orang Sulawesi Selatan, terutama bagi pembaca yang berasal dari Sidenreng Rappang, akan mengira dari judulnya cerpen ini berlatar belakang masyarakat Tolotang yang melihat pohon sebagai benda fetis dan mengandung nilai religius. Padahal cerpen ini menyandarkan kisahnya kepada peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Sulawesi Selatan 71 tahun lalu.

Di cerpen ini walaupun dibuka dan ditutup dengan pohon sebagai pusat ceritanya, Fai justru menyelipkan beberapa daerah di Makassar dan Pare-Pare, yang menjadi saksi sejarah kekejaman Belanda. Di lokasi-lokasi itu, ketika Belanda melakukan agresi militer di tangan Reymond Paul Pierre Westerling, bukan saja para pejuang Tanah Air yang mendapatkan perlakuan semena-mena, melainkan juga warga setempat yang dituduh melindungi pejuang dari incaran pihak sekutu.

Perhatian Fai terhadap peristiwa sejarah juga terekam dalam Orang-orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu. Fai, mengekspos perlakuan tidak adil negara dan gerilyawan kepada tokoh Isuri dan Uwak, penghayat kepercayaan lokal di Sulawesi Selatan. Dalam kaca mata negara dan pihak gerilyawan, Tolotang tidak layak disebut agama. Cara pandang monolitik ini membuat posisi masyarakat Tolotang senantiasa mendapatkan persekusi dari kedua kubu.

Keberpihakan terhadap kelompok marginal diangkat dalam Jangan Tanyakan Tentang Mereka yang Memotong Lidahku. Mengetengahkan pandangan sepihak negara tentang agama, di cerpen ini mengekspos satu kelompok khas yang ada di Sulawes Selatan: Bissu. 

Bissu merupakan gender ke-5 yang berposisi unik dalam kosmologi kebudayaan Sulawesi Selatan. Di masa lalu Bissu berperan penting secara mistis-religius di hari-hari besar perayaan Sulawesi Selatan. Dalam konteks kerajaan Sulawesi Selatan, kaum Bissu mampu mengakses tanda-tanda langit karena memiliki kemampuan berhubungan  dengan dunia metafisis.Namun ketika Indonesia merdekakaum Bissu alih-alih menjadi kaum marginal.

Dalam suatu wawancara di situs Jurnal Ruang, Faisal Oddang tidak terburu-buru memetakan kecenderungan lokalitas dan bukan lokalitas kepenulisan sastra. Ia mengungkapkan lokalitas dan bukan lokalitas hanya soal sudut pandang belaka. Sebagai pemuda yang tumbuh dalam masyarakat Bugis-Makassar, ia mengatakan hal ini yang menjadi sebab utama banyak unsur lokalitas dalam cerpen-cerpennya.

Kepiawaian Faisal Oddang mengolah bahan-bahan sejarah patut diacungi jempol. Bahkan, mitos Sawerigading dalam Sawerigading Datang dari Lautdiformulasikan sedemikian rupa menyerupai Rapunzel, dongeng klasik Jerman karangan Grimm Bersaudara.

Walaupun demikian, semua itu bukan tanpa kritik, terutama pada beberapa bagian cerita yang seolah-olah memaksakan sekelumit informasi sejarah biar terkesan informatif  agar pembaca paham betul dengan konteks ceritanya.

Contoh misalnya dalamPeluru Siapa yang Kami Temukan Ini?, terdapat penggalan dialog lumayan panjang untuk menjelaskan suatu peristiwa sejarah berkaitan dengan penangkapan pimpinan DI/TII Kartosoewirjo di Jawa Barat.

Contoh lain misalnya lima cerpen berlatar sejarah yang memasukkan penanggalan berkaitan suatu peristiwa sejarah tanah air. Terlepas tanggal-tanggal itu memiliki arti historis atau tidak, seolah-olah setiap cerita mesti benar-benar memiliki basis historis yang pernah faktual.

Nampaknya, Faisal Oddang masih terjebak kepada harapan agar cerpennya terlihat benar-benar berlandaskan sejarah. Padahal jika mengingat cerpen adalah genre fiksi, hal-hal seperti ini bukan soal apakah ia benar-benar punya basis sejarah atau tidak. Semuanya sah dalam arti sejauh ia bukan karangan ilmiah.

--

Telah terbit di Harian Radar Selatan 1 April 2019

17 Maret 2019

Mengapa Aku Begitu Pandai: Solilokui Seorang Nietzsche

Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai
Penulis: Friedrich Nietzsche
Penerjemah: Noor Cholis
Penerbit: Circa
Edisi: Pertama,  Januari 2019
Tebal: xiv+124 halaman
ISBN: 978-602-52645-3-5






Belum lama ini aku berdiri di jembatan itu
di malam berwarna cokelat.
Dari kejauhan terdengar sebuah lagu:
Setetes emas, ia mengembang
Memenuhi permukaan yang bergetar.
Gondola, cahaya, musik—
mabuk ia berenang ke kemurungan …
jiwaku, instrumen berdawai,
dijamah tangan tak kasatmata
menyanyi untuk dirinya sendiri menjawab lagu gondola,
dan bergetar karena kebahagiaan berkelap-kelip.

—Adakah yang mendengarkan?  

:dalam Ecce Homo


Kepandaian Nietzsche dikatakan Setyo Wibowo, seorang pakar Nitzsche, bukanlah hal mudah. Ia menyebut kepandaian Nietzsche berkorelasi dengan rasa kasihannya kepada orang-orang.

Nietzsche khawatir jika ada orang mengetahui kepandaiannya berarti betapa sengsaranya orang itu. Orang yang memahami pemikiran Nietzche berarti selevel dengan dirinya. Berarti mengalami betapa getirnya pengalaman hidup Nietzsche yang berat dan kelam.

Bagi Nietzsche pemikirannya bukan untuk diketahui. Biarlah ia sendiri yang paham tentang gagasannya, dirinya sendiri. Dengan begitu cukup ia yang menanggung sengsara.

Tapi, jika ada orang yang berani masuk lebih jauh ke dalam pemikirannya, dan berusaha memahami sepenuhnya, maka betapa kasihannya orang itu. Kata Nietzsche, ia –orang itu—sama beratnya dengan dirinya. Sama pedihnya dengan Nietzsche.

Bukankah setiap pemikiran dituliskan demi diketahui khalayak? Bukankah setiap gagasan si pemikir memiliki maksud mencerahkan pembacanya? Lalu dalam kasus Nietzsche untuk apa pikiran-pikirannya ia tulis? Bukankah setidak-tidaknya itu berarti ada sesuatu yang ia ingin sampaikan? Ada pesan yang ingin ia ungkapkan?

Paradoks memang.

Lama saya mengetahui penjelasan Setyo Wibowo di atas. Nietzsche bukanlah filsuf biasa. Ia filsuf cum sastrawan. Ia pemikir dan perasa sekaligus. Dari kacamata ini, saya pelan-pelan mengerti, membaca pemikiran Nietszche berarti sekaligus memahami dirinya. Ikut –jika memungkinkan—setidaknya sebagian perjalanan hidupnya. Itu berarti ikut menjiwai apa-apa yang ia alami selama hidupnya.

Itulah sebabnya, pendekatan untuk memahami Nietzsche agak berbeda dengan pemikir lainnya. Jika pemikir lainnya cukup kita mengetahui aspek biografis dengan cara membacanya, dengan Nietzche tidak cukup hanya itu. Kita –setidaknya bagi saya—dituntut untuk ikut menyelami dunia pengalaman-perasaan dirinya. Sejenis praktik hermeunetik.

Dari situlah kita akhirnya berisiko seperti dikatakan Setyo Wibowo di atas. Harus rela merasakan bagaimana beratnya pengalaman hidup Nietzsche. Pemikiran yang mendarahdaging dengan aspek-aspek perasaannya, atau perasaan yang beruratakar dengan pikirannya. Mengerti pemikirannya juga mesti merasakan pergulatan batinnya.

Menurut saya dengan cara itulah kita bisa menyerap inti sari gagasan Nietzsche yang rumit dan berlapis-lapis itu.

Nietzsche adalah filsuf dengan kehidupan yang terputus-putus. Melalui buku Gaya Filsafat Nietzsche, Romo Setyo Wibowo menyebutnya keterputusan-keterputusan relasi. Pengalaman hidup ini ditandai dengan cara hidup Nietzsche yang nomaden. Ia hidup selayaknya seorang pengembara, dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah bermukim lama.

Kata Romo Setyo dalam buku yang sama, keterputusan yang paling fundamental dialami Nietzche adalah perpisahannya dengan iman kristiani. Keterputusan ini kontan membuatnya terpisah dari tradisi kristiani yang dirawat oleh keluarga besarnya.

Kedua, dia putus dengan tempatnya mengabdikan diri sebagai dosen; Universitas. Sebagai seorang filolog ia ditolak lantaran terlalu filosofis dalam menerapkan pendekatan filologis. Terputusnya dari universitas sekaligus menjauhkannya dari komunitas intelektual pada waktu itu.

Ketiga, lantaran kesehatannya yang memburuk, membuat Nistzsche terputus dari kehidupan normal. Ia mesti menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari orang sehat. Bahkan untuk memenuhi kebutuhannya menghirup udara, ia mesti mencari tempat yang cocok bagi dirinya.

Keempat, konsekuensi dari cara hidupnya yang nomaden, secara afeksi membuatnya jauh dari lingkungan pergaulan. Pola hidup yang nomaden membuat ia tak mampu memiliki relasi pertemanan yang bertahan lama. Lebih dari itu, bahkan untuk membina keluarga pun sulit karena cara hidup yang demikian tak menentu.

Berkat cara hidupnya ini Nietzsche menjadi filsuf soliter. Ia menjadi pribadi unik yang ditempa kesendirian. Bahkan sebelum masuk masa kegilaannya, ia sudah didera penyakit yang pelan-pelan menggerogoti tubuhnya dari dalam.

Dahsyatnya, dan inilah yang membuatnya sebagai pribadi unggul. Dalam keadaan sakit itulah ia justru produktif secara pemikiran dan intuitif. Banyak melahirkan karya-karya monumental melalui penghayatannya secara kontemplatif.

Mengapa Aku Begitu Pandai adalah sebuah solikokui yang demikian panjang dari Nietzsche untuk Nietzsche. Dia bertanya kemudian dijawabnya dengan cara sendiri dan dari pikirannya yang demikian origin. Ibarat cermin, Nietzsche dengan cara ini sedang menguji seberapa mungkinkah ia mampu menemukan ”jawaban-jawaban” dari dirinya sendiri.

”Bagaimana mencukupi kebutuhan makan dirimu sendiri untuk mencapai puncak kekuatanmu, mencapai virtÅ­ dalam gaya Renaisans, kebajikan bebas moralin?” (hal.22)

Virtu adalah keutamaan yang diandaikan Nietzsche sebagai ciri khas manusia. Namun, walaupun begitu ia mesti ditemukan di dalam pencarian yang kadang demikian sulit. Kadang manusia terjebak ke dalam pragmatisme dengan mengidefixkan pakem-pakem nilai agar kehidupan menjadi lebih praktis dan mudah.

Ideologi, agama, moral, filsafat, sains,  politik, dan pakem-pakem semacamnya adalah idefix yang ditolak Nietzsche karena terlalu mengkerdilkan kehidupan. Virtu harusnya selaras dengan esensi kehidupan yang sebenarnya chaos. Bukan berhenti di dalam nilai-nilai yang diidealisasi dan melihat dunia dalam keadaan harmoni dan tetap.

Dunia adalah suatu kemenjadian tanpa ujung. Manusia harus menggunakan virtunya agar dapat ikut menjadi. Berkata “ya” kepada dunia yang terus bergerak.

Dengan kata lain, di dalam dunia yang bergerak, “kedisinian” adalah satu-satunya kenyataan yang menopang diri. Esok dan masa lalu hanyalah idealisasi yang tidak memiliki dasar eksistensi sama sekali. Manusia mesti mencitai nasibnya sendiri. Di sini dan sekarang.

”Rumusanku bagi kebesaran dalam seseorang manusia adalah amor fati: bahwa orang tidak menginginkan menjadi selain seperti saat ini, bukan di masa depan, bukan di masa lalu, bukan dalam seluruh kekekalan. Bukan hanya menanggung apa yang terjadi karena keharusan, apalagi membuyarkannya—semua idealisme adalah ketidakbenaran di hadapan keharusan—melainkan untuk mencintainya…”(hal.48)

Akhir kata, membaca teks-teks Nietzsche ibarat berhadapan dengan sebuah labirin. Banyak kelolakan dan jalan buntu yang sulit ditaklukkan. Itulah sebabnya, dengan nada khas selfishnya, ia mengatakan “Mengapa Aku Begitu Pandai?”


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...