08 Januari 2019

Ahlan Wa Sahlan 2019, Berusia Panjang Dikutuk Bernasib Sial!


Cover buku Soe Hok Gie ”Zaman Peralihan”. 
Gie adalah aktivis dan mahasiswa Fakultas Sastra 
Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969

MEMILIKI usia yang panjang nampaknya bisa menjadi masalah tersendiri. Pertama, sebagai sepuh, ketebalan pengalaman kehidupan yang berlapis-lapis bakal membuat kehidupan ibarat video game yang sudah tamat berkali-kali. Tidak ada tantangan. Semua kunci dan jalan-jalan rahasia tidak bakal membuat diri semringah merasakan sensasi yang ndakik-ndakik.

Semua rahasia kehidupan baik yang tersembunyi di ceruk-ceruk bumi sampai yang terselip dalam ruas ruang kosong ayat-ayat kitab suci, bukan lagi hal baru. Semuanya nampak biasa saja. Sensasinya sudah aus, malah.

Kedua, lantaran panjangnya usia, dan sudah kebanyakan makan asam manis kehidupan, kematian adalah satu-satunya pilihan wajar daripada ikut menyaksikan zaman kemaruk yang bedebah ini. Daripada dibuat pusing bukan lagi tujuh keliling, mungkin lebih, atau bahkan lebih lagi….lebih baik mengakhiri hidup dengan tenang dengan rasa yang berkecukupan adalah salah satu kebijakan terakhir yang layak dirasakan.

Namun masalahnya, kapan kematian itu datang menjemput sepenuhnya-penuhnya hanya urusan malaikat Izrail dan juga Tuhan saja yang tahu. Si sepuh yang kulit-kulitnya melipir hanya bisa pasrah saja.

Soe Hok Gie untuk konteks ini pernah menerjemahkan nasib berdasarkan panjang umur seseorang. Menurutnya, celakalah orang dengan usia panjang. Dia bakal menemukan zaman pelik yang berbeda dari situasi tempat ia hidup. Dinamika perubahan yang kian cepat bakal membuatnya ketinggalan dalam menanggapi dan menentukan sikap.

Ini persis seperti ramalan Anthony Giddens, si sosiolog gaek Inggris, tentang zaman tunggang langgang, mirip juggernaut yang berlari dengan kecepatan maha ampun tanpa memberikan kesempatan bagi masyarakat memahami dan merenungi perubahan yang dihadapinya.

Yang lebih beruntung dari itu adalah orang yang mati muda. Soe Hok Gie adalah orang dari jenis ini. Dia wafat di puncak gunung Semeru. Mati dalam keadaan menjalani hobi yang disenanginya: mendaki gunung. Dengan kata lain, dia mati di saat-saat paling bahagia. Di saat-saat paling tenang dan sepi. Jauh dari hiruk pikuk politik yang kala itu sedang panas-panasnya.

Dan, orang paling beruntung dari keduanya menurut Soe Hok Gie adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan sama sekali. Orang-orang yang belum merasakan dentuman waktu, denyut aliran perut bumi, dan detak jantung kehidupan.

Bahkan, orang-orang yang hanya sempat singgah dalam rahim ibunya dan kemudian gugur entah kenapa, juga merupakan suatu keberuntungan pula. Ia bukan saja belum sempat berbuat apa-apa, namun juga dihindarkan dari kemungkinan-kemungkinan perbuatan buruk.

Orang-orang macam ini –jika sudah layak disebut manusia–bakal langsung dapat jalan pintas ke alam baka. Ia tidak mesti repot-repot lagi singgah di alam yang fananya minta dimaklumi ini. Ia jika sudah sampai di alam perhitungan, di hadapan Tuhan barangkali hanya tinggal disuruh memilih saja: mau surga atau neraka? Dua-duanya berpeluang menjadi dunia abadinya.

Omong-omong soal nasib sial, Logan dalam kisah X-Men adalah contoh orang paling tidak beruntung. Kemampuan genetik yang bisa meregenerasi jaringan sel-sel tubuhnya membuatnya cepat pulih ketika terluka. Sistem tubuh seperti ini membuat diri Logan tidak pernah merasakan sakit hati berkepanjangan. Berkat kemampuannya ini, Logan dikaruniai usia yang panjang. Tubuhnya senantiasa memperbaharui dirinya. Bahkan bisa jadi tidak menua sama sekali.

Konsekuensi usia panjang Logan—di semesta Marvel dia hidup sudah sejak abad 19 dan telah melalui banyak peperangan antara bangsa di dunia–membuatnya menanggung beban mental luar biasa. Ia sering mengalami trauma pasca perang. Sering kali pula ia mengalami mimpi-buruk tentang kekejian korban perang dan orang-orang terkasih yang sudah lebih dulu mangkat dari dirinya.

Berkat itu semua Logan menjadi pribadi yang secara fisik kuat tapi secara psikis adalah orang yang rentan terhadap trauma. Kenangan pahit masa lalunya ibarat hantu yang bersemayam di alam bawah sadarnya. Suatu waktu, ingatan masa lalunya menjadi katalisator yang bakal membuat pikirannya meledak. Hal ini besar kemungkinan akan terus terjadi seiring pemicu yang ia temukan dalam kehidupan masa kininya. 

Saya memiliki nenek yang berusia entah sudah berapa. Ketika sering menanyakan  berapa usia nenek melalui anaknya, yang juga adalah mamak saya, ia hanya mengatakan usianya sekitar 90 tahunan. Jawaban yang saat itu asal terka. Jawaban yang tidak memuaskan memang lantaran dia menyebut kata sekitar.

“Di kampung, tidak adami yang seusia dengannya. Dia maumi sendiri. Banyakmi seusianya lebih duluan meninggal.”

Itu jawaban mamak  jika saya mengejar lebih jauh berapa sebenarnya usia nenek saya itu.

Entah 90-an atau kurang, ketidakpastian akuratnya usia nenek menandai betapa lamanya ia hidup. Sampai-sampai usia sebenarnya–dan juga tanggal lahirnya–sudah tidak diketahui pula. Semoga ia diberikan umur panjang.

Sudah semenjak tiga tahun lalu nenek hanya bisa berbaring di tempat tidurnya. Makan, minum, bahkan berak, semuanya dilakukan di atas pembaringannya. Tungkai kakinya sudah tidak mampu membawanya berjalan. Terakhir kali ia hanya bisa mengesot jika ingin ke kamar mandi.

Rasanya sudah lama saya melihat nenek terakhir kali menggunakan mukena untuk salat. Kala itu ia masih sering saya temukan di atas kasurnya salat sambil duduk. Walaupun saya tahu, saat itu orientasi waktunya sudah mulai berubah. Kadar ingatannya pelan-pelan memudar. Itulah sebabnya, ketika salat, ia sering kali salah waktu. Bahkan, barangkali ia bisa melakukan salat dua kali dalam satu waktu.

Nenek tidak mengenal Soe Hok Gie. Dia sudah pasti tidak mengenal sepak terjang pemuda yang mati di usia yang lagi panas-panasnya itu. Apalagi ia tidak tahu kategori nasib sial Soe Hok Gie di atas. Dia juga tak tahu, dengan umurnya yang sudah sangat uzur itu, apakah termasuk bernasib sial layaknya ucapan Gie.

Satu hal yang pasti, jika seorang anak manusia berumur panjang, di usia uzurnya, ia kemungkinan bakal mengalami kehilangan ingatan–suatu hal yang dialami nenek saya sendiri. Ia bahkan sudah lupa siapa anak siapa ibu jika bertemu anak-anaknya. Kadang malah ia sering menganggap salah satu anak lelakinya sebagai bapaknya.

Ingatan memang sesuatu yang demikian lentur. Ia bisa melar sepanjang banyaknya peristiwa yang sudah dilakoni, yang sudah disaksikan, dan yang sudah didengarkan menjadi tugu kenangan. Sebaliknya, ia bakal menyusut kerisut sependek daya kenangan membangun tugu di dalamnya. Dengan kata lain, kuat tidaknya daya ingat seseorang, tergantung seberapa kokoh tugu kenangan dibangun selama ia hidup.

Ketika menulis ini di akhir tahun, tiba-tiba datang dengan sendirinya suatu perasaan yang interogatif dalam benak saya: sampai berapakah usiamu kelak anak muda? Berapa sisa jatah umurmu di dunia ini? Sebentar lagi pergantian tahun, sudahkah engkau banyak mengambil pelajaran dari ingatanmu sebelum kau kehilangan segalanya, termasuk ingatan yang paling intim darimu? Jangan sampai kau tergolong orang yang bernasib sial, berumur panjang dengan ingatan yang pendek?

*Telah tayang sebelumnya di Kalaliterasi.com

31 Desember 2018

Dengarlah Nyanyiaan Angin dan Akar-Akar Modernisme di Dalamnya


Identitas Buku:
Judul: Dengarlah Nyanyian Angin
Penulis: Haruki Murakami
Tebal Buku: IV + 119 halaman
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: Keempat, Oktober 2018
ISBN: 978-602-424-407-1

DENGARLAH Nyanyian Angin ditulis Murakami dengan pembukaan yang jitu. Dimulai dengan pernyataan yang singkat tapi sekaligus menggoda: “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

Bagi saya, kalimat ini pertaruhan Murakami dengan para pembacanya. Ibarat sedang berjudi, ia menaruh taruhan tinggi sejak di kalimat pertamanya. Jika ia kalah, si pembaca akan berhenti dan memikirkan hal lain tinimbang melanjutkan membacanya.

Namun jika menang –dan ini terjadi di setiap karangan-karangannya yang lain— ia layak menguasai benak pembacanya dengan dunia yang dikarangnya.

Kemenangan Murakami melalui kalimat pembukanya ibarat lubang hitam. Ia menarik dan sekaligus menyedot. Membawa arus perhatian pembaca masuk jauh lebih dalam kepada kalimat-kalimat apa yang bakal membawa pembaca merasakan dunia yang dibentangkan si pengarang. Dan seperti karangannya yang lain, dunia Murakami adalah dunia yang tidak biasa, dunia yang diliputi pernak-pernik emosi, kemuraman, gairah, kegelisahan, dan sekaligus ketidakpastian.

Dunia Dengarlah Nyanyian Angin berpusat kepada sosok Aku. Figur sentral tanpa nama namun menjadi pusat yang menggiring pembaca kepada kehidupannya yang khas anak muda: foya-foya, alkoholic, dan hidup dengan segala cara boleh.

Sang Aku adalah mahasiswa perguruan tinggi di Tokyo. Ia mengambil biologi sebagai disiplin ilmunya dan menyukai binatang. Memiliki hubungan cinta dan benci kepada dunia tulis menulis.
Suatu ketika si Aku berlibur di kota tempat tinggalnya di sebuah kota pelabuhan. Liburannya dimulai pada tanggal 8 Agustus 1970 dan berakhir pada 26 Agustus 1970. Di masa inilah batang tubuh kisah Dengarlah Nyanyian Angin bertopang.

Sadar tidak sadar disepanjang novel ini pembaca hanya diombang-ambingkanke dalam 18 hari sang aku ketika menghabiskan waktu liburnya dengan tipikal kehidupan anak muda yang sarat idealisme kebebasan.

Nezumi adalah figur kedua dalam kisah ini. Seorang pemuda kaya raya yang dikenal sang Aku di musim semi ketika di tahun pertama memasuki perguruan tinggi. Nezumi mengaku tak suka membaca buku, namun bercita-cita ingin menulis novel tanpa adegan seks dan kematian. Ketika sedang duduk di café ia lebih suka memesan panekuk dengan coca cola sebagai kuahnya. Mereka berkenalan dengan cara khas anak-anak muda pemuja kebebasan: mabuk-mabukkan.

Tanpa sengaja setelah menghabiskan berbotol-botol bir mereka sudah berada di dalam mobil Fiat hitam 600 milik Nezumi dengan kecepatan tinggi. Dalam keadaan mabuk mereka kecelakaan setelah memporak-porandakan pagar tanaman, halaman penuh bunga-bunga azalea, dan ringsek menabrak pilar bangunan.

Mereka berdua selamat. Sambil duduk di atas kap mobil sesaat setelah tubuh mereka hampir dilumat kematian, tanpa merasa ada yang perlu dikhawatirkan, mereka melanjutkan perkenalan itu dengan kembali menenggak bir di bibir pantai yang tak jauh dari lokasi kecelakaan.  Setelah peristiwa ini mereka semakin akrab.

Seperti kisah ditulis Murakami lainnya, semisal Norgewian Wood atau Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, seringkali memiliki sosok perempuan yang dekat dengan tokoh utamanya. Di novel ini figur itu hanya ditulis sebagai seorang perempuan, tanpa nama dan usianya dibiarkan mengambang. Dengan kata lain sosok perempuan ini dikemukakan hanya sebagai seorang perempuan dengan karakter uniknya sebagai identitasnya.

Perempuan ini hanya memiliki sembilan jari setelah di masa kecil jari kelingkingnya putus dibabat mesin pemotong rumput. Dia bekerja di toko musik yang menjual piringan hitam. Dia tanpa segan mengaborsi janinnya setelah bercumbu dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya.

Pertemuan sang Aku dan si perempuan juga terbilang unik. Mereka bertemu dalam suasana yang hampir sama seperti pertemuan sang Aku dengan Nezumi. Hanya saja si perempuan ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri setelah mabuk berat di lantai kamar toilet.

Kesamaanpertemuan antara si Aku dan Si perempuan dengan si Aku dengan Nezumi adalah mereka bertemu di café Jay’s Bar, tempat mereka bertiga sering menghabiskan waktunya.

Setelah mencari alamat si perempuan melalui tas yang dibawanya, si Aku membawa sang perempuan pulang. Esoknya gadis ini marah menemukan dirinya dan si Aku telanjang di atas tempat tidur. Dia mengira mereka sudah saling bercinta. Tapi setelahnya, hubungan mereka membaik setelah gadis ini menelepon sang Aku dan mulai mengajaknya makan dan jalan-jalan. Seperti Nezumi, sang Aku juga kian dekat dengan si gadis dari waktu ke waktu.

Suatu ketika gadis ini memberitahukan kepada Aku kalau dia akan berpergian. Lama kemudian gadis ini mengakui bahwa dia sebenarnya tak berpergian tetapi menjalani aborsi sehingga dia membutuhkan beberapa waktu untuk berpisah dengan Aku.

Kisah ini diakhiri dengan sang Aku yang melanjutkan hidupnya dengan menikahi seorang perempuan dan hidup langgeng di Tokyo. Berkat perubahan polah membaca, Nezumi menjadi penulis novel, Jay’s Bar menjadi jauh lebih luas dari tahun-tahun sebelumnya dan si Gadis berjari empat tak tahu kemana rimbanya.

Terakhir si Aku kemudian pergi ke Amerika untuk mengunjungi makam penulis yang dikaguminya: Derek Heartfield. Penulis ini mati bunuh diri dengan menerjunkan dirinya dari balkon gedung Empire State Building, New York.

Sang Aku sosok kebebasan tipikal modernisme


Figur sang Aku adalah sosok yang hidup di era 70-an. Di masa ini paham modernisme sedang jaya-jayanya di seantero dunia. Jepang di masa itu mengalami tarik ulur antara nilai-nilai tradisionalisme dan semangat modernisme. Singkatnya Jepang sedang mengalami transformasi besar-besaran dari kehidupan berbasis tradisionalisme dengan keinginan untuk maju dari ide-ide progresif modernisme.

Dalam konteks ini figur sang Aku yang menjadi sosok sentral menjadi suara Murakami untuk menunjukkan risiko kebaruan yang ditawarkan paham modernisme.

Sang Aku sebagai tokoh dinarasikan sama dengan semangat ke-aku-an modernisme yang otonom, bebas, dan merdeka. Ia menunjukkan simbol pembebasan dari belenggu tradisi, norma-norma, dan pandangan hidup masa lalu yang banyak membatasi ruang gerak masyarakat.
  
Kehidupan sang Aku jelas memperlihatkan semangat pemberontakan terhadap itu semua, dan persis seperti inilah risikonya. Sang Aku menjadi manusia merdeka namun sekaligus juga kehilangan pegangan.

Itulah sebabnya, kehidupan sang Aku ditunjukkan dengan semangat kebebasan yang meluap-luap tapi tanpa jaminan masa depan. Toh jika ada masa depan maka itu diwujudkan dengan cara menjalani hidup saat ini dengan segenap kebebasannya tanpa ada kekuatan lain yang mengikat.

Nezumi juga tipikal lain dari semangat modernisme, terutama sikap anti kemapanannya. Ini ditunjukkannya dengan pendiriannya yang sangat membenci orang kaya walaupun ia sendiri adalah anak orang kaya. Semangat Nezumi adalah semangat generasi pasca baby boomers yang menginginkan keterputusan kebiasaan, tradisi, dan pandangan dunia dari generasi di atasnya.

Dengan kata lain seperti juga sosok sang Aku, Nezumi adalah wujud kebebasan modernisme terutama dari kaum mudanya yang hidup dengan cara berbeda dari generasi tua yang lebih patuh dan kaku terhadap aturan moralitas entah agama maupun tradisi.

Bagaimana dengan si gadis yang menjadi teman sang Aku? Ia, terutama saat dikisahkan mengaborsi janinnya, adalah risiko kebebasan yang lain. Jika tindakan ini dilakukan di luar dari konteks penceritaan barangkali akan berdampak lain.

Si gadis, yang tidak sama sekali menunjukkan guncangan moral pasca mengaborsi, menandai tindakannya itu hanyalah peristiwa biasa saja. Tidak ada implikasi moralitas yang mesti dipikirkan di situ. Artinya aborsi atau jenis tindakan semacamnya sangat biasa dilakukan oleh wanita yang hidup dengan semangat yang sama di masa itu.

Jari kelingking yang hilang dari tubuh si Gadis menunjukkan secara tersirat eksistensi perempuan seperti pendakuan scholar psikoanalisis dan filsuf Yunani purba Sigmund Freud dan Aristoteles, misalnya.

Kedua pemikir ini berpandangan perempuan merupakan makhluk tak lengkap atau seperdua manusia.

Berdasarkan asal usulnya, sebagai eksistensi, perempuan tidak diciptakan dalam bentuk yang final dan lengkap. Perempuan tidak sesempurna laki-laki dengan tubuh dan akal yang pasti, fix dan sehat. Jari tangan yang cacat dari si Gadis adalah penanda metaforik yang mencerminkan itu semua.

Pencarian Identitas

Hampir semua tokoh karangan Murakami adalah anak muda. Dalam Dengarlah Nyanyaian Angin tokoh-tokohnya adalah pemuda-pemuda dalam masa transisi menuju dunia dewasa.

Mereka adalah orang-orang di dunia antara, yakni di sisi lain ada dunia generasi tua dengan sistem kehidupan yang mengusung tradisionalisme sebagai dasar moralitasnya, dan di sisi seberang ada dunia baru yang menjanjikan perubahan seperti yang ditawarkan ide-ide modernisme.

Tokoh-tokoh dalam Dengarlah Nyanyian Angin disimbolkan sebagai masa transformatif yang sedang dialami masyarakat Jepang. Anak-anak muda dengan kata lain adalah representasi keinginan untuk maju dan berubah namun sekaligus gamang untuk kembali kepada pangkuan ajaran generasi tua yang dianggap kolot dan anti perubahan.

Kegamangan ini menunjukkan sifat khas yang ditimbulkan paham modernisme yang memiliki implikasi terhadap identitas kebudayaan Jepang.

Baik sang Aku maupun Nezumi merupakan perlambangan dari dialektika ini. Keduanya adalah sosok simbolik cermin masyarakat Jepang yang dilanda kegamangan atas pencarian identitas di antara dua sumber paradigma yang saling beradu di lapangan kebudayaan Jepang.

Walaupun demikian, pencarian identitas ini bukan berarti tidak membawa konsekuensi apa-apa, melainkan suatu tanggungan yang mendatangkan benturan antara nilai lama dan paham baru. Efeknya jelas kelihatan ketika kebebasan yang diadopsi tokoh si Aku dan Nezumi merupakan jenis “kebebasan dari” dan belum menyentuh sama sekali tahap yang disebut “kebebasan untuk”.

“Kebebasan dari” adalah semangat yang bertolak dari tatanan sistem yang mengikat dan imperatif. Kehidupan si Aku, dengan gaya hidup a la anak muda yang memuja kebebasan, tanpa aturan, dan tanpa tujuan menjadi suatu model pemberontakan yang dikatakan tanggung.

Tiadanya cita-cita, tujuan, atau harapan menandai alam kebebasan si Aku masih diliputi ruang yang masih samar-samar. Tidak ada tanggungan moral, risiko perjuangan, maupun pengorbanan atas idealitas masa depan menjadikan pemberontakan si Aku hanya bermain-main tanpa pernah bertanya “kebebasan untuk” apa yang sedang diperjuangkan?

Syahdan, seperti di awal tulisan ini, Murakami telah memenangkan perjudiannya. Buktinya, nyaris tanpa disadari buku ini mengusung ujung cerita yang hampir tanpa klimaks. Ia mengalir begitu saja dan tiba-tiba pembaca sudah berada di halaman terakhir, persis suara angin yang mengalun ringan tanpa pernah dipertanyakan. Mengalir dan mengalir.

---

Telah terbit di Kalaliterasi,com

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...