21 Desember 2018

Agama dan Toleransi

TOLERANSI. Waktu masih domisilika di Kupang, NTT, sebelum meletuski kerusuhan 98 dan kasus Tim-Tim, yang namanya perbedaan atas keyakinan belum menjadi masalah kayak begini. Tetangga-tetanggaku tidak pernah pusing kalo di lingkungan mereka hidup keluarga-keluarga muslim.

Bahkan, yang namanya urusan ibadah setiap tetangga bebas melakukan tanpa ada beban moral merasa tertekan dan was-was. Kami, yang hari itu memang minoritas muslim, begitu juga. Tidak ada itu dibilang ada unsur masyarakat yang kajili-kajili menegur kalo mereka merasa terganggu. Semua baik-baikji.

Waktuka SD ketua kelasku muslim. Dan perempuanki juga --yang mungkin hari ini sulitmi didapat karena biar masalah agama dibawa-bawa juga sampai di lingkungan sekolah. Uniknya di kelasku mayoritas murid-murid Kristen. Ibu wali kelasku juga Kristen. Kepala sekolah juga Kristen, dan memang rata-rata guru-guruku mayoritas Kristen. Tapi biar mamo Kristen, mereka semua baik-baik. Tidak pernahji bawa-bawa agama ketika mengajar. Cara memperlakukan murid juga begitu.

Yang unik kalo pelajaran agama, digabungki kelasku menjadi satu kelas dari kelas A dan kelas B. Jadi ceritanya murid-murid muslim digabung menjadi satu, dan yang Kristen digabungki juga. Karena bersampinganji kelaska saat itu, biasaka sayup-sayup dengarki pelajaran agama Kristen di kelas sebelah. Sementara di kelasku nama Muhammad sering disebut-sebut, oleh ibu Bene --wali kelasku yang merangkap guru agama Kristen--sering kudengar nama Yesus disebut-sebut. Yang beginian biasaji bagi kami. Tidak ada yang mesti ditanggapi bagaimana. Alhamdulillah tidak tonja pindah agama.

Pernah tong dulu kakakku, Ima, seringka na ejek-ejek sama teman perempuanku. Jadi dulu ada temanku namanya Elizabeth, dia hitam, rambutnya sering diikat pake gelang tangan, dan ditaumi kalo masih SD, masih belumpi ada cantik-cantikna. Intinya ini Elizabeth lucu-lucuki mukanya --untuk tidak mengatakan jelek--lebih seperti kalo muka mengantuk diliat.

Nah, seringka biasa naganggu-ganggu kalo macewe-ceweka sama itu Elizbeth. Caranya mengejek napanggilka dengan nama Elizabeth dengan nada tertentu yang didayu-dayukan. Kalo begitumi, biasaka jengkel, dan anehnya kalo marahka bukan karena dia Kristen. Tapi hanya karena itu jelekki kulihat.

Di sini seandainya sensitifki karena agama, pasti dasar penolakanku --walaupun masih kecilka--sudah mengatasnamakan agama. Tapi, kenyataannya ndak begituji. Semata-mata memang tidak kusukaki.

Di Kupang tidak banyakji masjid. Tapi tidak bagus tong dibilang kalau jarang ditemukan. Yang sering banyak ditemukan di Kupang adalah Gereja. Kalo ke sekolahka dan memang dekat sekolahku ada gereja besar bercat putih. Bangunanya jammaki bilang, besar dan tinggi-tinggi. Kalo nontonki film-film bersetting abad 19, mirip-miripki bangunannya.

Waktu masih tinggal di sekitar jalan Lalamentik, Oebofu, setiap hari minggu ada tetanggaku yang adakan sekolah minggu. Di situ, di terasnya, selalu banyak kulihat anak-anak berkumpul kayak tong pengajian. Kegiatannya kalo tidak salahkan diisi dengan ceramah keagamaan. Kadang tong tentang kisah-kisah murid-muridnya Yesus.

Biasa tong kalo akhir pekan, tetangga-tetanggaku bersembahyang dengan menyanyi-nyanyi berisi puja pujian. Kalo dekat dari gereja, enak tong kudengar kalo suara puji-pujiannya dinyanyikan secara bersama-sama. Samar-samar ada yang bergerak dalam hatiku. Mungkin itumi dibilang iman. Tapi, bukanki iman yang adami labelnya. Ini imannya iman. Yang dimiliki tong semua agama. Kalo bulan Desember begini bulan paling bahagia. Waktunya libur sekolah. Banyak tommi film-film kartun bisa dinonton. Kalo di rumah datangmi itu teman-temannya mamakku bikin kue dan buras menyambut idul fitri --dulu ndak tau kenapa selalu berdekatan dengan hari Natal.

Kalo maumi masuk minggu-minggu akhir barusannya itu rumah-rumahnya tetanggaku banyak dipasangi lampu-lampu hiasan. Ada tong lengkap dengan pohon natal dan patung-patung Yesus. Karena maumi natal, banyak teman-temanku sibuk semuaki ke gereja.

Yang kusuka kalo natalmi waktunyami pergi siarah di tetangga-tetanggaku. Biasa penuh kantongku dengan kue. Kalo beruntung biasa banyak kubawa pulang coca cola, sprite, atau fanta. Semua senang semua bahagia sama-sama merayakan hari natal. Tidak ada yang saling mawas apalagi berprasangka buruk.

Di Kupang itu mayoritas Kristen Katolik. Ada tong tetanggaku Kristen Adven. Kalo yang ini berpantang tidak makan daging. Ada juga orang Hindu yang di depan rumahnya lengkap didirikan tiang-tiang tempatnya nasimpan benda-benda peribadatannya. Masih kuingat di depannyami rumahnya tetangga Hinduku seringka ambil lempar asam. Kalo hari raya Nyepi, tidak pernah keluar-keluar tetanggaku seharian. Tetanggaku yang Kristen juga supaham, tidak ada yang bikin aktivitas-aktivitas mencolok.

Di Kupang juga banyak anjing. Ada beberapa tetanggaku pelihara anjing. Kadang kalo sore-sore main bolaka, ada tommi anjing ikut-ikut berkeliaran kemana tuannya pergi. Jinakki anjingnya. Cuman biasa takutka dekat-dekat karena haram kena air liurnya. Walaupun begitu tidak pernahka risih kalo adaki itu tetanggaku datang dengan anjingnya.

Satu contoh toleransinya tetanggaku yang nonmuslim, kalo ada mau nakasihki makanan bukan makanan jadi, tapi makanan kemasan. Bahkan kalo nakasihki ayam, ayam hidup nakasihki karena nataumemammi beda carata potong ayam. Mereka paham kalo orang Islam mau makan ayam jika napotong pasti ada dibacai.

Satu hal yang tidak bisa kulupa. Ketika kerusuhan 98 dan merebak kasus Tim-Tim ke kota Kupang --tidak lama dari kasus Ambon-- saat banyak rumah-rumah orang Islam dirusak dan ada yang dibakar, tetangga-tetanggaku yang Kristen yang bersedia tampungka sekeluarga di rumahnya. Saat takut sekaliki tinggal di rumah karena jangan sampai ikut jadi korbanki juga. Makanya dengan ikutki di rumahnya tetanggaku mereka yang pasang badan kalo ada apa-apa.

Saat itu memang mencekam. Sering mati lampu. Kalau malam sering didengar tiang listrik dipukul-pukul. Banyak rumah jadi korban. Sekolah-sekolah diliburkan. Bahkan hampir satu kota Kupang mendadak sunyi dan tidak ada aktifitas. Tidak lama didengarmi banyak orang Islam dicari-cari.

Tapi itu hanya dipermukaan. Di lingkunganku yang belum termakan provokasi malah tetangga Kristenku yang bantuki. Mereka yang amankan kami-kami di rumah-rumahnya. Dengan begitu kami sekeluarga cukup merasa aman.

13 Desember 2018

Banu di Antara Cerpen-Cerpen Eka Kurniawan


Judul : Corat-coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Pertama,  April 2014
Tebal: 130 halaman
ISBN: 978-602-03-0386-4

AGAK aneh merasakan sensasi membacakan cerpen kepada bayi yang belum genap empat bulan. Pengalaman ini saya alami langsung ketika sudah empat hari berturut-berturut membacakan Banu cerpen-cerpen karangan Eka Kurniawan.

Cerpen-cerpen itu saya comot bebas begitu saja dari rak buku. Kebetulan Corat-Coret di Toilet-lah yang pertama kali digapai tangan saya. Walaupun jauh di alam bawah sadar, nama Eka Kurniawan sudah menjadi canon sastra kiwari. Ini tidak lebih dari betapa –sadar tidak sadar- karangan Eka Kurniawan, terutama Cantik Itu Luka, sedikit banyak mengubah persepsi saya tentang –khususnya- moralitas manusia.

Seperti diketahui Cantik Itu Luka adalah karangan yang kompleks meriwayatkan sejarah Indonesia mulai masa penjajahan sampai rezim orde baru. Dengan menggunakan berbagai macam teknik canggih –menginovasikan teknik tutur lisan, peristiwa sejarah politik, cerita rakyat, realisme magis, dan permainan plot yang sulit diterka— karangan  ini menyuguhkan kisah generasi satu keluarga saat melalui berbagai peristiwa politik, masa kolonialisme yang panjang dan kemerdekaan dari negeri yang bernama Halimunda.

Uniknya, kisah ini bermula dan bertumpu dari sosok seorang perempuan dan diakhiri pula oleh nasib seorang perempuan. Melalui kisah dari perempuan, dan berakhir kepada perempuan itulah banyak tokoh-tokoh unik dan aneh yang berhasil mencerminkan betapa kebaikan dan keburukan bukanlah sesuatu yang ajeg apalagi dapat dikukuhkan fix oleh suatu rezim kekuasaan.

Bahkan, bercerita tentang suatu peristiwa sejarah, novel ini sangat berhasil menyusupkan sejenis premis ke dalam benak pembacanya bahwa kebenaran sejarah bukanlah ayat-ayat suci sebagaimana diciptakan Tuhan. Sejarah adalah rekam jejak kekecewaan dan harapan manusia, yang dengan kata lain, karena sifatnya yang demikian sangat wajar untuk dibicarakan dan digugat.

Itu artinya, sejarah adalah sejarah:  ia berasal dari bawah kaki dan dikerjakan tangan manusia, dan karena itu adalah sangat mungkin untuk diubah, dibangun, direncanakan dan diperjuangkan sama-sama.

Kembali ke soal anak saya, Banu. Barangkali memang bukan waktunya untuk Banu mendengarkan cerita-cerita yang sejak semula tidak pernah dibayangkan penulisnya diceritakan untuk seorang bayi. Untuk anak-anak saja tidak apalagi bagi seorang bayi.

Makanya hal ini membuat saya berspekulasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah ada pengaruh signifikan bagi Banu ketika dibacakan cerpen-cerpen seperti karangan Eka –ini juga berlaku bagi karangan sastrawan  lain.  Jika ada, dalam bentuk apa pengaruh itu dapat dilihat? Bagaimana cara mengenalinya? Dan di saat kapan pengaruh itu dapat diidentifikasi?

Belum lagi jika pengaruh itu melibatkan unsur baik-buruk di dalamnya. Apakah membacakan cerpen itu baik bagi perkembangan pikiran Banu, kejiwaannya? Jika baik, seperti apa kebaikan itu dialami bagi Banu? Lantas kalau malah sebaliknya, sedemikian burukkah efek yang bakal ditimbulkan dari kebiasaan ini? Apakah buruk bagi Banu berarti akan berdampak fatal bagi perkembangan kejiwaannya?

Dari pertanyaan spekulatif itu membawa saya kepada satu keadaan. Saya sesungguhnya sedang terjebak dalam eksperimen sederhana. Dan kelinci percobaanya adalah Banu, anak saya sendiri –maafkan bapakmu ini, nak.

Mungkin saja telah banyak penelitian yang berhasil mengungkapkan dampak dari seperti yang saya lakukan. Bahkan, di negara-negara maju konon sejak awal anak-anak sudah diakrabkan dengan cerita maupun kisah berupa legenda, sejarah, fabel, biografi, cerita anak, teka-teki, folk klor, mitos, dan karangan sastrawan kanon agar ikut membentuk kepribadian sang anak.

Beberapa waktu lampau, ketika salah satu stasiun televisi menayangkan perlombaan dai cilik, saya tertegun melihat anak-anak kecil yang belum berusia di atas lima tahun sudah mampu menghapal sejumlah juz Al Quran. Ketika orang tuanya ditanya kenapa hal itu bisa terjadi, mereka menjawab ketika masih dalam kandungan setiap subuh sang anak sudah dibaca-dengarkan Al Quran.

Itulah mengapa ketika sang anak dituntun menghapal ayat-ayat suci Al Quran, dengan mudah kebiasaan yang sudah rutin dilakukan ketika janin masih seukuran buah belimbing, banyak membantu daya ingat anak-anak mereka. Dengan gampang, di acara itu si orang tua  tanpa banyak kesulitan menjelaskan bahwa sebenarnya ini hanya soal kebiasaan saja.

Saat mendengar penuturan itu Banu masih berbentuk janin berusia sekitar lima bulanan. Diusia seperti itu, Banu masih sebesar buah mangga. Segera hal yang sama juga ingin saya lakukan. Tapi sial, menyadari kebiasaan buruk mengenai tradisi membaca Al Quran, hal itu buru-buru layu sebelum berkembang. Praktis hanya berhenti menjadi niat belaka.

Lantaran memang Banu bukan disiapkan demi acara dai cilik, kebiasaan mendengarkan Al Quran saya serahkan diambil alih ibunya saja.

Dengan rasa bersalah bukan menjadi ayah yang demikian relijius, dan hanya mampu bermodalkan surah-surah pendek, kegiatan memperdengarkan Banu dengan hal-hal baik saya tukar dengan membacakannya cerpen-cerpen di saat ini.

Tapi sampai di sini hal-hal ganjil mulai bermunculan. Terutama ketika itu berhubungan dengan tema cerita pendek Eka. Cerpen pertama yang saya bacakan kepada Banu adalah Corat-Coret di Toilet: cerpen yang demikian mengasyikkan menceritakan nasib toilet yang menjadi panggung aspirasi. Alih-alih melihat toilet sebagai ruang marginal, cerpen ini  malah mengambil sisi lain dari dinding toilet.

Melalui toilet itu dengan dari mahasiswa yang beragam latar belakang pilihan politiknya –dari kiri, punk, mahasiswa hedonis, ayam kampus, sampai mahasiswa pro orba—membuat dinding toilet menjadi arena aspirasi, kritikan, kekecewaan, harapan, celetuk nyeleneh terhadap rezim orba saat itu yang dikenal otoriter dan kejam.

Ditulis menggunakan spidol, arang, bulpen, dan bahkan lipstik komentar-komentar yang menyerempet kekuasaan di dinding itu menyerupai wahana politik di gedung parlemen. Tanpa disadari, di ruang gelap toilet, demokrasi malah demikian tegak dan tanpa sensor.

Uniknya walaupun coretan di dinding toilet itu ditulis oleh orang-orang yang tidak saling ketemu dan tidak saling kenal, tetap saja mereka diikat dalam satu rangkaian wacana yang mengundang komentar satu sama lain demikian panjang memenuhi dinding toilet.

Jika melihat konteks gerakan reformasi 98, nampaknya kejadian berbalas komentar di toilet dalam cerpen ini seolah-olah menunjukkan bagaimana bekerjanya wacana penumbangan orba sebelum peristiwa 98 yang semula saling terserak, terpencar, dan hanya mengemuka di ruang-ruang sempit di luar jangkauan intel-intel orba, akhirnya berhasil menjadi kumpulan tekad dan gagasan yang searah dan padu yang berhasil menjatuhkan kekuasaan 3 dekade lamanya

Bagi siapa saja yang membaca cerpen ini pasti menangkap aroma politik dan subversif di dalamnya. Malah terasa kental dan demikian telanjang.

Itulah sebabnya, menyadari hal ini, yang ganjil tadi itu menyadarkan saya apakah faedahnya bagi Banu "mendengar" cerita yang lumayan tebal unsur politiknya. "Kesadaran" macam apa yang hinggap dalam "pemahamannya"? Mengingat ia belum mengerti apa-apa, semakin aneh melihat dampaknya ke depan kelak ketika ia dewasa dari endapan cerita politik yang pernah "didengarnya"

Saya tahu Banu belum mampu melakukan itu semua, tapi ini demikian menyenangkan bagi kami berdua.

Di sisi lain secara bersamaan, sebaliknya, cerpen yang saya bacakan ini ikut andil membentuk ulang pemahaman mengenai sisi-sisi yang belum saya temukan ketika pertama kali membacanya.

Berturut-turut secara acak saya membacakan juga Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, dan Rayuan Dusta untuk Marietje. Dari judulnya saja tiga cerpen ini sudah sangat tidak selaras diperdengarkan bagi anak-anak apalagi bayi.

Singkatnya, Peter Pan bercerita tentang seorang gadis  bernama Tuan Putri yang memiliki kekasih aktivis berhaluan kiri. Kekasihnya ini memiliki kebiasaan mencuri ribuan buku dari mana saja dan menyukai menyebarkan selebaran berbau provokatif. Ia juga seorang penyair yang sering mengkritik pemerintah melalui puisinya. Peter Pan demikian ia akhirnya diringkus dan hilang tanpa diketahui di mana ia berada. Sang Tuan Putri akhirnya hanya menikahi sang aktivis dengan diwakili puisi-puisinya.

Kisah Dongeng Sebelum Bercinta menyerupai kisah 1001 malam. Diceritakan Alamanda di tiap malam berhasil menunda percintaan dengan suaminya dengan cara mendongengkan Alice Adventures in Wonderland. Ia menikah setelah dijodohkan orang tuanya. Sebelum cerita berakhir mereka bersepakat tak akan memulai malam pertamanya. Akibat itu sang suami sering merasa dongkol dan mengalami mimpi basah lantaran tak mampu menahan hasrat bercintanya. Tanpa disadari sang suami, kelakuan Alamanda menunda percintaan melalui berdongeng adalah strategi mengulur waktu demi menyembunyikan satu fakta sederhana: Alamanda tidak lagi perawan setelah melalui malam-malam panas dengan mantannya.

Sementara Rayuan Dusta untuk Maritje merupakan cerita berseting awal abad 19 di tanah Hindia Belanda. Kala itu pendudukan bangsa Belanda di Hindia Belanda banyak diikuti pemuda-pemuda lajang sebagai pasukannya. Mereka rela berpergian jauh sampai ke tanah Nusantara bukan saja dimotivasi untuk perang, tapi juga sekadar mencari pekerjaan setelah tersiar kabar berlimpahnya hasil-hasil bumi di tanah jajahan.

Di dalam keadaan inilah tokoh Aku sebagai pasukan yang ingin hidup berpasangan di tanah jajahan terdorong mengajak kekasihnya untuk menyusulnya. Uniknya sang Aku tidak ingin mencari pasangan dari gadis pribumi yang dinilainya rendahan dan barbar. Sang Aku ingin mempertahankan kemurnian rasnya dengan cara memiliki pasangan yang juga berbangsa sama.

Akhirnya suatu waktu lewat surat rayuan datanglah kekasih sang Aku dari jauh dari tanah Belanda. Namun apa daya, seperti dijanjikan negeri yang kaya raya itu malah sedang berkecamuk perang. Bukan negeri tenang dengan kemakmuran tiada tara. Di balik itu, bukannya demi negaranya apalagi sang ratu Belanda, si aku berperang terlebih karena motif kekasihnya. Ia berperang demi perempuan.

Ketiga cerita belakangan memiliki suara  yang hampir mirip, sama-sama menyuarakan betapa runyamnya yang namanya kebebasan. Kebebasan betapa pun ia adalah hak dasar dan inheren dalam setiap jiwa manusia. Kebebasan akan mudah hilang jika tidak memiliki keberanian menjaganya.

Itulah sebabnya, kebebasan yang direnggut dari tangan sendiri dan tanpa perlawanan disebut sebagai penindasan. Di masing-masing cerita di atas premis ini ditunjukkan secara tersembunyi, tapi justru malah mudah merasakannya karena pengalaman serupa adalah pengalaman yang dialami bangsa sendiri.

Dengan isu berat itu, saya hanya membacakannya tanpa henti tanpa menunggu Banu memintanya. Apalagi mengintrupsinya untuk berhenti. Dengan kata lain, aktivitas ini sedikit banyak bukan berarti demi Banu semata, namun juga kenikmatan bagi saya ketika menyarikannya untuk diri pribadi.

Sering saya mengatakan setiap laki-laki itu memiliki dua perempuan yang dibenci dan disukainya sekaligus. Perempuan pertama adalah perempuan ideal di setiap benak laki-laki. Perempuan ini sering banyak mengisi imajinasi laki-laki untuk melihat perempuan kedua, yakni perempuan kongkrit yang ada di hadapan si laki-laki. 

Jika perempuan kekasih si laki-laki yang ada di hadapannya itu jelek maka ia membencinya melalui kaca mata perempuan ideal dalam benaknya. Sebaliknya jika rupawan, maka ia sesungguhnya sedang mencintai dua perempuan sekakigus.

Sebagaimana perempuan, di mata seorang laki-laki, terutama ketika telah menjadi seorang ayah, ia sesungguhnya sedang berhadapan dengan dua anak sekaligus. Anak pertama adalah anak biologis yang dilahirkannya melalui rahim perempuan istrinya, dan yang kedua adalah sang anak dalam rahim benak sang bapak. Anak dalam benak sang bapak setiap kali adalah idealisasi dari semangat, harapan, nilai, gagasan, dan cita-cita yang berkaitan dengan masa depan sang anak. Walaupun demikian, kadang, anak yang kedua, tidak pernah akan lahir dan mati begitu saja seiring berkembangnya sang anak biologis lantaran dibiarkan begitu saja.

Tapi ada juga ketika sang anak dalam benak dilahirkan, dirawat dan dibesarkan melalui tubuh anak biologis. Di saat ini, dengan kata lain, sang anak biologis dilihat dari anak dalam benak sang ayah. Dengan kata lain lagi,  si anak biologis tumbuh berkembang dibesarkan dalam terang semangat, cita-cita dan harapan sang anak ideal, anak dalam benak sang ayah.

Syahdan, seperti anak-anak lainnya, Banu adalah suatu proses panjang menyangkut dialog, tarik ulur, negoisasi, tawar-menawar, dan bahkan kompromi antara saya (tentu juga ibunya) dan dirinya sendiri dalam hal perkembangan dirinya. Proses ini akan banyak melibatkan energi dan pemahaman, dan seiring waktu akan tiba saatnya semua itu menunjukkan hasil. Suatu perjudian besar memang. 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...