28 November 2018

Kota dan Kemanusiaan


Joseph Campbell
Mitolog dan Sejarawan asal Amerika Serikat. 
Salah satu karyanya berjudul The Power of Myth

KOTA. Di kota-kota, tiap-tiap orang adalah individu. Tiap-tiap orang adalah person.

Di kota, kawasan yang semakin hari kian menggeliat perkembangan ekonominya, budayanya, politiknya, pendidikannya, membuat orang-orang hidup dalam kesakitan prahara; berdekatan tapi sekaligus berjarak, welas asih tapi beringas, banyak yang hidup sejahtera tapi tidak sedikit pemukiman kumuh bermunculan, orang-orang dari hari ke hari semakin asing satu sama lain.

Mereka kian maju, namun tanpa disadari ada yang susut dari itu semua: solidaritas.

Mungkin karena itu, di alam modern tidak ada terma khusus yang khas menunjuk kepada titik pusat yang menjadi sumber fenomena di atas selain dari pada individu. Suatu kemampuan otonom yang meneguhkan kemandirian dalam diri masyarakat. Individu dalam hal ini ibarat inti atom yang bebas bergerak, dinamis dan tanpa tekanan. Sesuatu yang "tidak bisa lagi dibagi", yang bebas dalam dirinya sendiri.

Itulah sebabnya di kota, orang jarang terikat secara sentimentil. Setiap orang memiliki kehidupan yang kian dinamis dan berubah. Ia adalah suatu modus kehidupan garis lurus dan serentak. Rasa cemas dan optimisme menjadi satu kesatuan paket. Tiap individu berhak mencari petualangan, tapi dengan risiko kehilangan titik pulang.

Dengan kata lain, di alaf modernisme, tidak ada ruang-waktu yang stagnan. Segalanya drastis bergerak...

Di titik kehidupan yang luruh dalam waktu itulah individu jadi susut, tangkas, dan juga cepat. Ia menjadi mahluk kerdil namun sekaligus menjadi mekanik dan juga teknis.

Ada pepatah Yunani berbunyi: Matia pu de vleponde, grigora lismoniunde. Barang siapa jarang bertemu, niscaya saling melupakan satu sama lain.

Di kota, yang semakin susut, yang tangkas, dan yang cepat membuat ikatan makin minim dan mungil. Interaksi, ikatan yang membuat seseorang menjadi "bermasyarakat", hanyalah pertemuan yang dililit waktu yang semakin teknis. Membuat orang-orang jadi jarang bertemu. Dan pada akhirnya satu sama lainnya saling melupakan.

Toh jika ada silang pertemuan; saling berbicara; saling memperhatikan; tapi tetap saja tidak ada simpul yang terjalin. Tidak ada apa-apa di sana. Seolah-olah di balik itu setiap orang berinteraksi dikejar-kejar sesuatu agar segera mesti dituntaskan.

Bagi masyarakat perkotaan, setiap pertemuan hanyalah peluang untuk saling salib. Dengan rumus yang hampir sama setiap tindakan mesti efisien dan efektif.

Tapi, di situlah masalahnya. Di bawah bayang-bayang kehidupan modern selalu ada sisi gelap yang gagal diperhitungkan. Bagi masyarakat modern, kehidupan dengan perhitungan yang efektif dan efisien membuatnya miskin makna. Yang serba tangkas, cepat dan dinamis pada akhirnya menjadi krisis.

Manusia modern dengan kata lain adalah orang-orang yang tercerabut dari akar-akar kebersamaannya ---indikator yang mendasari suatu masyarakat dapat eksis. Dalam pepatah Yunani tadi manusia modern saling melupakan akibat hilangnya keintiman melalui pertemuan. Barang siapa jarang berinteraksi, ia lenyap begitu saja.

Belakangan, di tengah kekosongan atas yang intim, masyarakat kota dipertemukan kembali ke dalam hubungan-hubungan yang kian formal. Masyarakat kota, seperti pendakuan Durkheim, tidak sepenuhnya menghilangkan semangat soliditasnya, hanya saja semua itu diganti ulang dengan apa yang disebut asas profesionalitas. Orang-orang terhubung dalam ikatan pekerjaan, profesi, kepentingan ekonomi, dan yang paling kekinian: politik.

Tapi, bukan berarti itu menutupi soal-soal di atas. Jaringan dengan dasar formalitas anehnya malah ikut memformat ulang hubungan-hubungan sosial di dalamnya. Ketika sebelumnya sudah kosong dari keintiman interaksi, hubungan dengan asas profesi itu memiliki konsekuensi yang lumayan mahal; kebersamaan kian tinggi harganya, solidaritas kian sulit dijangkau. Semua itu terjadi oleh sebab setiap relasi hanya mungkin jika membuat gemuk lingkaran kekerabatan individu.

Potret masyarakat perkotaan seperti gambar yang dicetak digital. Paduan warnanya, letak gambarnya, tajam halus gradasinya dibikin dari unsur sistem yang berbau mesin dan teknis. Dari cara semacam itu, gambar digital memang berhasil menjadi gambar yang presisi dan tepat, namun sekaligus sebenarnya hanyalah gambar yang hampa tanpa unsur estetik.

Hilangnya unsur estetis dalam gambar digital dengan kata lain hanya menjadi gambar kaku tanpa jiwa, apalagi bakal tidak mampu menerbitan perasaan haru biru. Sesuatu yang sangat sentimentil, emotif, dan menggerakkan. Singkatnya, gambar digital hanyalah gambar tanpa dimensi kemanusiaan.

Masyarakat kota yang sekaligus juga terbitnya masyarakat modern membutuhkan dimensi yang lebih manusiawi alih-alih hanya mendudukkan rasionalitas sebagai satu-satunya ukuran progresifitas.

Masyarakat kota harus dilihat sebagai suatu lukisan. Pencitraan yang lahir dari dimensi intrinstik manusia yang disebut jiwa. Setiap goresan dan warnanya lahir atas dasar kedalaman intuitif yang jujur sehingga menghasilkan pemandangan yang hidup dan dinamis. Suatu yang menyedot pengalaman dalam aktivitas intim satu sama lain, yang bakal menghasilkan pengalaman kolektif dan empatik.

Gambar digital karena itu tidak mampu berkisah apa-apa. Ia gambar yang mati. Berbeda dari lukisan yang hidup dan mampu berkisah tentang sesuatu yang diwakilkan melalui gambarnya, warnannya, dimensinya, gradasinya...

Joseph Campbell, seorang scholar mitologi, dalam Ruang Sadar tak Berpagar tulisan Alwy Rachman, mengkritik masyarakat modern yang semakin ke sini semakin kehilangan kisah. Menurut Campbell, kisah adalah elemen fundamental bagi manusia. Dia menggerakkan sekaligus memberikan dasar maknawi bagi perilaku manusia.

Sebagaimana terangkum dalam mitos, legenda, atau tradisi kerakyatan, kisah adalah urat nadi yang memelihara jiwa manusia tetap memiliki dasar manusiawinya. Kisah dalam arti demikian adalah jangkar solidaritas masyarakat untuk mengartikulasikan kebersamaannya, kepekaannya, dan keintimannya ke dalam satu komunitas yang saling menopang dan mendukung. Manusia ada karena terhubung dengan keberadaan yang lain, begitu singkatnya.

Lalu, saat masyarakat kota kehilangan kisah---yang masih banyak ditemukan di pelosok desa-desa-- yang dengan itu tiap-tiap individu menemukan kedalaman eksistensinya dalam kebersamaan, dengan apa lagi mengisi lubang jiwa yang semakin hari semakin teriris?

19 November 2018

Toilet dan Kebudayaan


Zlavoj Žižek. 
Filsuf asal Slovenia. 
Dikenal melalui kritik tajamnya terhadap kapitalisme

TOILET. Toilet di titik tertentu adalah ruang ekspresi manusia. Dia menjadi ruang yang diam-diam menyalurkan hasrat tersembunyi manusia. Di salah satu cerpen Eka Kurniawan berjudul Corat-Coret di Toilet, toilet bahkan menjadi arena keluh kesah sekaligus aspirasi terhadap pemerintahan korup.

Di dinding toilet sering kita menemukan tulisan nyeleneh saling membalas, tapi juga sekaligus jujur. Di cerpen Eka, dinding toilet menjadi wadah penyampaian aspirasi, keinginan, harapan dan kritik terhadap pemerintahan. Pendek kata dalam cerpen Eka itu, toilet adalah ruang paling demokratis dibanding ruang publik lainnya.

Sebagai ruang sepele, fungsi toilet bahkan mencerminkan paradigma apa yang menjadi ideologi masyarakat. Adalah Slavoj Zizek, sang filsuf berkebangsaan Slovenia mendakukan bentuk kloset dan orang yang sedang buang hajat dapat menentukan ideologi apa yang sedang bekerja di balik perilaku sehari-hari masyarakat.

Zizek mencontohkan bagaimana sikap kontemplatif orang-orang Jerman tercermin saat mereka memperlakukan fesesnya dengan memandangnya berlama-lama. Ibarat sedang berfilsafat, orang Jerman senang dengan waktu yang panjang saat di hadapan fesesnya seperti sedang menyusun suatu permenungan mendalam.

Berbeda lagi dengan orang Amerika ataupun Inggris, yang lebih senang menenggelamkan lebih cepat fesesnya karena sikap pragmatis. Hal ini membuat orang Amerika cenderung lebih praktis di saat buang hajat. Waktu adalah segalanya, termasuk urusan buang air besar.

Bagaimana dengan Indonesia?

Orang-orang Indonesia mungkin lebih pragmatis dari orang Amerika atau Inggris. Bahkan memandang feses jauh lebih jijik dari apa pun. Alih-alih menjadi cermin kedalaman kebudayaannya, feses dipandang bukan untuk apa-apa.

Di indonesia sendiri, kita masih menemukan toilet yang dipisahkan dari bangunan utama pemukiman. Toilet kadang ditempatkan jauh di belakang rumah, bahkan ada yang dibangun di atas sungai. Berbeda dengan pemukiman perkotaan, toilet di pelosok-pelosok mencerminkan betapa urusan buang hajat masih jauh dari pertimbangan sanitasi dan estetika arsitektural.

Tapi, uniknya aktifitas buang hajat di pelosok-pelosok sekaligus menunjukkan betapa dekatnya masyarakat dengan alam. Alam dan fesesnya tidak dibuat berjarak. Antara keduanya seolah-olah memiliki hubungan langsung yang saling menetralisir. Persis seperti dunia hewan, di dalam kesadaran terdalam masyarakat pelosok tidak ada ruang antara "ketelanjangan" saat buang hajat, mandi, bersih-bersih, dengan alam yang masih "perawan".

Di kota-kota besar, terutama di tempat umum, toilet sudah dirancang menggunakan pendekatan tertentu. Ada yang membuat toilet seperti sedang mengunjungi suatu negara dengan mengidentikan interiornya seperti negara yang dimaksud. Ada yang membuatnya mirip gerbong kereta api agar pengguna toilet merasakan sensasi sedang dalam perjalanan.

Mal Grand Indonesia Jakarta, misalnya, yang mendekorasi toilet seperti sebuah ruangan berdesain Maroko agar pengunjungnya merasakan juga seperti sedang berbelanja di luar negeri. Bahkan, pusat perbelanjaan Pondok Indah Mal mendesain toiletnya berdasarkan konsep keluarga. Sehingga, jika Anda berbelanja dan menyempatkan buang hajat di sana, Anda tidak mesti repot akibat anak-anak yang tidak memiliki toilet khusus.

Walaupun demikian, fenomena di atas menunjukkan adanya kesenjangan antara masyarakat kelas atas dan masyarakat kelas bawah. Di pemukiman perkotaan, seperti ditemukan di pusat perbelanjaan, toilet bahkan mulai diintegrasikan dengan pengalaman berbelanja masyarakat perkotaan. Pengalaman di dalam toilet mesti sama sensasionalnya dengan pengalaman berbelanja.

Sementara di masyarakat kelas bawah, toilet ya toilet. Dia kadang dibikin sederhana, ala kadarnya dan hanya berfungsi sederhana. Bahkan ada yang melihatnya dengan sebelah mata sehingga keberadaannya masih dipandang sebagai ruang nonestetis.

Dengan kata lain, seperti ruang lainnya, toilet mewakili suatu pandangan, kebiasaan, dan ideologi suatu masyarakat. Bahkan ia menjadi representasi kelas masyarakat tertentu.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...