19 November 2018

Toilet dan Kebudayaan


Zlavoj Žižek. 
Filsuf asal Slovenia. 
Dikenal melalui kritik tajamnya terhadap kapitalisme

TOILET. Toilet di titik tertentu adalah ruang ekspresi manusia. Dia menjadi ruang yang diam-diam menyalurkan hasrat tersembunyi manusia. Di salah satu cerpen Eka Kurniawan berjudul Corat-Coret di Toilet, toilet bahkan menjadi arena keluh kesah sekaligus aspirasi terhadap pemerintahan korup.

Di dinding toilet sering kita menemukan tulisan nyeleneh saling membalas, tapi juga sekaligus jujur. Di cerpen Eka, dinding toilet menjadi wadah penyampaian aspirasi, keinginan, harapan dan kritik terhadap pemerintahan. Pendek kata dalam cerpen Eka itu, toilet adalah ruang paling demokratis dibanding ruang publik lainnya.

Sebagai ruang sepele, fungsi toilet bahkan mencerminkan paradigma apa yang menjadi ideologi masyarakat. Adalah Slavoj Zizek, sang filsuf berkebangsaan Slovenia mendakukan bentuk kloset dan orang yang sedang buang hajat dapat menentukan ideologi apa yang sedang bekerja di balik perilaku sehari-hari masyarakat.

Zizek mencontohkan bagaimana sikap kontemplatif orang-orang Jerman tercermin saat mereka memperlakukan fesesnya dengan memandangnya berlama-lama. Ibarat sedang berfilsafat, orang Jerman senang dengan waktu yang panjang saat di hadapan fesesnya seperti sedang menyusun suatu permenungan mendalam.

Berbeda lagi dengan orang Amerika ataupun Inggris, yang lebih senang menenggelamkan lebih cepat fesesnya karena sikap pragmatis. Hal ini membuat orang Amerika cenderung lebih praktis di saat buang hajat. Waktu adalah segalanya, termasuk urusan buang air besar.

Bagaimana dengan Indonesia?

Orang-orang Indonesia mungkin lebih pragmatis dari orang Amerika atau Inggris. Bahkan memandang feses jauh lebih jijik dari apa pun. Alih-alih menjadi cermin kedalaman kebudayaannya, feses dipandang bukan untuk apa-apa.

Di indonesia sendiri, kita masih menemukan toilet yang dipisahkan dari bangunan utama pemukiman. Toilet kadang ditempatkan jauh di belakang rumah, bahkan ada yang dibangun di atas sungai. Berbeda dengan pemukiman perkotaan, toilet di pelosok-pelosok mencerminkan betapa urusan buang hajat masih jauh dari pertimbangan sanitasi dan estetika arsitektural.

Tapi, uniknya aktifitas buang hajat di pelosok-pelosok sekaligus menunjukkan betapa dekatnya masyarakat dengan alam. Alam dan fesesnya tidak dibuat berjarak. Antara keduanya seolah-olah memiliki hubungan langsung yang saling menetralisir. Persis seperti dunia hewan, di dalam kesadaran terdalam masyarakat pelosok tidak ada ruang antara "ketelanjangan" saat buang hajat, mandi, bersih-bersih, dengan alam yang masih "perawan".

Di kota-kota besar, terutama di tempat umum, toilet sudah dirancang menggunakan pendekatan tertentu. Ada yang membuat toilet seperti sedang mengunjungi suatu negara dengan mengidentikan interiornya seperti negara yang dimaksud. Ada yang membuatnya mirip gerbong kereta api agar pengguna toilet merasakan sensasi sedang dalam perjalanan.

Mal Grand Indonesia Jakarta, misalnya, yang mendekorasi toilet seperti sebuah ruangan berdesain Maroko agar pengunjungnya merasakan juga seperti sedang berbelanja di luar negeri. Bahkan, pusat perbelanjaan Pondok Indah Mal mendesain toiletnya berdasarkan konsep keluarga. Sehingga, jika Anda berbelanja dan menyempatkan buang hajat di sana, Anda tidak mesti repot akibat anak-anak yang tidak memiliki toilet khusus.

Walaupun demikian, fenomena di atas menunjukkan adanya kesenjangan antara masyarakat kelas atas dan masyarakat kelas bawah. Di pemukiman perkotaan, seperti ditemukan di pusat perbelanjaan, toilet bahkan mulai diintegrasikan dengan pengalaman berbelanja masyarakat perkotaan. Pengalaman di dalam toilet mesti sama sensasionalnya dengan pengalaman berbelanja.

Sementara di masyarakat kelas bawah, toilet ya toilet. Dia kadang dibikin sederhana, ala kadarnya dan hanya berfungsi sederhana. Bahkan ada yang melihatnya dengan sebelah mata sehingga keberadaannya masih dipandang sebagai ruang nonestetis.

Dengan kata lain, seperti ruang lainnya, toilet mewakili suatu pandangan, kebiasaan, dan ideologi suatu masyarakat. Bahkan ia menjadi representasi kelas masyarakat tertentu.

13 November 2018

Pahlawan: Sosok dan Pokok


Francis Bacon. 
Filsuf empiris asal Inggris. 
Dikenal dengan semboyannya The Power of Knowlegde

PAHLAWAN. Pepatah mengatakan "mati satu tumbuh seribu." Sekarang, entah dengan semangat apa kata ini sering diucapkan.

Dulu bertahun-tahun lalu, pepatah ini sering kali melambung membuat saya terharu. Saat pulang sekolah melewati sebidang tanah dengan beratus helm silver di atasnya. Berjejeran rapi dengan gundukan-gundukan seperti pulau-pulau. Di tengah-tengah itu berdiri kokoh tiang tugu, tinggi ke angkasa, mengingatkan betapa luhurnya perjuangan orang-orang yang ditanam di bawahnya.

Ketika melewati itu tiap hari, di atas bemo, pepatah itu seolah-olah hidup. Betapa heroiknya mereka, mengacung senjata, berlari, berteriak, berkeringat, berdarah, demi nusa bangsa. Di hati mereka, kelak jika mati, ibarat kuncup bunga, mereka menjadi tunas: mati satu tumbuh seribu.

Sekarang, dari mulut siapa kata ini sering diucapkan? Pahlawan, mungkin hanya menjadi museum. Sosok mati dengan ruang lapang yang lenggang. Kosong tanpa isi. Pahlawan hanya masa lalu, belum menjadi sejarah.

Belakangan pahlawan bisa menjadi siapa saja. Atau siapa saja bisa menjadi pahlawan. Figur yang mati itu dihidupkan kembali, oleh kelompok, organisasi, massa, atau individu. Ruang yang kosong itu diisi dengan seorang sosok, yang disanjung-sanjung, sekaligus juga sambil mengacung-acung.

Dengan kata lain, pahlawan hanya soal tafsiran. Dari mana ia berasal, dengan bagaimana ia berjuang, melalui cara apa ia berkeringat, apa cita-cita kemerdekaannya.

Lantas semua itu menjadi jamak. Semua punya versinya masing-masing.

Pahlawan dengan sendirinya menjadi produk. Dia dibikin, dibentuk, diperkenalkan...

Di dunia yang semuanya serba diperantai layar, ia dimunculkan. Bahkan, diglorifikasi.

Itulah mengapa, kadang pahlawan tidak semuanya mendapatkan pengakuan. Ada pahlawan yang diterima, ada juga pahlawan yang ditolak.

Lantas, seberapa pentingkah pengakuan? Siapakah yang berhak memberikan pengakuan?

Negara, kiwari kadang kalah langkah dari dirinya. Ia seolah-olah sedang melawan dirinya sendiri. Di dalamnya, muncul pahlawan-pahlawan lain, sosok-sosok yang jauh dari penciuman negara. Ia muncul dari bawah, berjuang dari bawah, menelan perhatian, membentuk kelompok.

Kelompok atau apa pun jenisnya adalah bola salju dengan impian masing-masing. Menggelinding menarik simpul-simpul, membesar, dan muncul di permukaan. Dan tentu dengan sosok pahlawannya masing-masing.

Akan tetapi, tidak semua sosok punya pokok. Tidak semua yang diacung-acungkan pantas disanjung. Artinya tidak semua patut disebut pahlawan.

Dulu setiap sosok adalah gagasan. Setiap sosok adalah pemikiran. Dan tak jarang pemikiran itu digalakkan menjadi tindakan. Semuanya serba bergerak. Dalam sejarah, gagasan itu bernama Indonesia.

Sosok dan pokok itulah yang disebut pahlawan. Sesuai namanya, ia membuahkan hasil; suatu bangsa berdaulat. Suatu hal yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Dalam hal ini, semua itu tidak pernah dibayangkan, direnung-renungkan, apalagi dialami.

Tapi, kiwari, banyak sosok minus hasil. Ia bersuara tapi banal: padat tapi hambar. Dan juga berkata-kata tanpa tindakan.

Dengan kata lain, ia hanya berupa sosok tanpa pokok. Dia jadi pujian akan tetapi minus acuan.

Sosok yang bukan acuan adalah sosok tanpa ujian. Tidak ada tantangan. Tidak ada perjuangan.

Sosok demikian berarti orang yang lahir tanpa tempaan. Tanpa godaan. Dan juga tanpa medan.

Pahlawan tanpa medan, tanpa ujian karena itu bukan acuan. Apalagi tujuan. Dia hanya sosok yang tirus, kurus tanpa pengalaman. Mungkin bahkan sebaliknya, gemuk oleh pujaan tapi sebenarnya bukan apa-apa.

Itulah sebabnya, seringkali yang jadi pahlawan lebih mirip idol. Sesuatu yang mengisi imajinasi dengan kekosongan. Palsu dan menipu. Menyesatkan.

Bahkan, sekarang jika ada yang disebut pahlawan malah ia sosok tanpa pengorbanan. Sosok tanpa nilai yang justru menelan korban.

Karena itu, pahlawan dengan tanpa kualifikasi apa-apa hanya mampu menjadi berhala. Dia memang diletakkan di depan, ditempatkan di ketinggian tertentu, namun sesungghnya merendahkan.

Yang malang di dalam arena politik seperti sekarang, banyak berhala-berhala diciptakan hingga diglorifikasi. Di puja-buja bak pahlawan, tapi kelak ia mati, tak ada yang tumbuh-tumbuh. Berhenti begitu saja. Di situ saja.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...