11 November 2018

Change you Words Change you World


Karl Wernicke
  Dokter, ahli anatomi, ahli kejiwaan, 
dan ahli patologi saraf berkebangsaan Jerman.

Kata dan pikiran ialah elemen yang saling mengandaikan. Kata ialah cermin pikiran sekaligus sebaliknya, pikiran ialah basis kata. Keduanya memiliki hubungan kausal yang satu menjadi sebab bagi lainnya, begitu juga sebaliknya.

Melalui elemen kata, pikiran dapat diakses sedemikian rupa: melacaknya, menelusurinya, menggeledahnya, menunjuknya… kepada sesuatu titik, entah konsep, ide, atau gagasan.

Tapi juga kata sebaliknya cangkang yang demikian purna menyembunyikan pikiran: membungkusnya, menutupinya, melindunginya… ke dalam suatu maksud, entah berupa niat, kemauan, atau kehendak.

Demikian kuatnya hubungan keduanya, kata dan pikiran bisa saling mewakili. Bahkan sekaligus identik. Kata adalah pikiran, demikian juga pikiran adalah kata.

Itulah sebabnya antara keduanya bisa saling memengaruhi: kata bisa mengubah pikiran, dan juga pikiran bisa mengubah kata.

Alkisah di tengah keramaian, melalui papan kardus seorang pengemis buta menulis sebuah permintaan: “Saya buta, tolonglah saya”. Dengan kata-kata itu sang pengemis berharap bantuan orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ada yang memberi, tapi banyak juga yang acuh.

Seorang perempuan kemudian datang dan mengubah kata-kata itu menjadi: “Betapa indahnya hari ini, tapi sayang saya tidak bisa melihat”. Sungguh ajaib. Dengan kata-kata itu hati orang-orang tersentuh dan tergerak membantu sang pengemis. Tidak lama dia mendapatkan banyak pemberian uang.

Syahdan, perempuan itu tidak mengubah apa pun kecuali kata-kata sang pengemis. Tidak ada yang berubah kecuali pikiran orang-orang yang membacanya. Hati mereka bergerak dari semula acuh menjadi lebih pemurah. Di kisah ini, di balik kata-kata tersimpan kekuatan dahsyat yang menggerakkan.

Kiwari, berkat kemajuan teknologi informasi, komunikasi begitu intens melalui dunia maya. Banyak grup-grup virtual menjadi persinggahan informasi. Bahkan tidak jarang semua itu menjadi sumber pengetahuan. Di grup yang bertumpuk itu banyak pertukaran informasi dan banyak kata-kata menjadi elemennya.

Hanya terkadang, banyak orang berubah lantaran sering terpapar fake news. Dia menjadi mudah agresif, cepat marah, dan suka membenci perbedaan. Setelah ditelusuri, ternyata ia banyak mengonsumsi kata-kata kebencian, kemarahan, dan rasial.

Itulah sebabnya, pikirannya mudah tersulut lantaran kata-kata negatif yang sering dikonsumsinya.

Kisah kata-kata yang mengubah persepsi orang-orang kepada sang pengemis di atas adalah cerita video yang dibuat Purple Feather sebuah lembaga layanan iklan di Eropa. Di Youtube, kisah yang sama banyak beredar. Semuanya memiliki keyakinan yang sama, change you words change you world. Ubahlah kata-katamu, dunia akan berubah.

Di ranah akademis ada buku How God Changes Your Brain, ditulis duo ahli neurolog terkemuka Amerika Serikat bernama Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman. Di buku ini melalui beragam penelitian keduanya menemukan hubungan yang kuat antara kata-kata baik dan otak. Menariknya, kedua hubungan itu ditemukan dalam ritual meditasi dan peribadatan.

Dalam salah satu penelitiannya, Andrew Newberg mencoba meneliti seorang biksu yang melakukan meditasi demi melihat respon otak ketika memfokuskan diri kepada kata-kata baik selama meditasi. Hasilnya mencengangkan, otak sang biksu mengalami pemudaan atau perbaikan sel-sel saraf yang telah rusak. Setelah penemuan ini, di Amerika, Andrew lantas membuka layanan penyembuhan orang-orang sakit jiwa dengan melalui praktik meditasi.

Karl Wernicke, seorang ahli saraf dan kejiwaan kebangsaan Jerman, pada 1874 menemukan suatu area dalam korteks otak besar yang ternyata berhubungan dengan elemen bahasa. Sesuai nama penemunya, area ini disebut para ahli saraf sebagai Wernicke area atau area bahasa. Area ini rentan mengalami kerusakan jika otak sering diasupi kata-kata buruk, jahat, dan mengandung kemarahan. Dampaknya serius berupa terjadinya degenerasi sel saraf sehingga otak mengalami kerusakan fungsi.

Kasus fulan bin fulan yang sering marah akibat banyak mengonsumsi kata-kata kebencian di atas, menurut ilmu neurosains bakal mengalami kerusakan saraf otak permanen. Otaknya dengan kata lain tidak akan berfungsi normal lantaran gangguan saraf internal yang dialaminya.

Jika Anda menemukan orang seperti fulan bin fulan dan mengalami gangguan kebingungan, mudah emosional, agresif, perilaku abnormal, atau gangguan kesadaran lainnya, berarti ia sedang mengalami kerusakan otak permanen. Besar kemungkinan hari-harinya banyak mengonsumsi berita-berita yang mengandung kata-kata negatif dan kebencian.

Menurut ilmu neurosains, otak memiliki jaringan saraf yang saling berhubungan. Satu ujung saraf memiliki ribuan bahkan jutaan cabang saraf. Jutaan cabang saraf tadi memiliki lagi jutaan ujung saraf. Begitu seterusnya ibarat jaringan laba-laba, setiap saraf saling terhubung satu sama lain melalui impuls listrik dan kimiawi. Dari semua jaringan itu, disimpulkan otak memiliki 100 miliar sel saraf.

Kasus sang biksu menjalani meditasi sebenarnya sedang meregenarasi 100 miliar sel saraf dalam otaknya. Melalui fokus kepada satu kata kebaikan (bandingkan dengan zikir, misalnya), jaringan sarafnya saling terhubung mengalami regenerasi dan perbaikan ulang sel saraf yang mengalami kematian. Melalui kata-kata positif, bahkan muncul satu sel saraf yang mencari ujung pasangannya agar berkembang. Semakin banyak mendengar kata-kata kebaikan semakin banyak sel saraf saling terhubung membentuk jaringan baru.

Sementara dengan cara kerja sebaliknya, dalam kasus fulan bin fulan yang banyak mengonsumsi kata-kata negatif bakal mengalami kematian satu jaringan sel saraf dalam otaknya. Semakin banyak ia mengonsumsi kata-kata kebencian, semakin banyak ia kehilangan jutaan jaringan sel saraf dalam otaknya.

Peradaban sekarang adalah peradaban informasi. Revolusi informasi juga berarti revolusi kata-kata. Di sana sini banyak ledakan kata-kata; di ranah kebudayaan, ekonomi, agama, dan juga politik. Hampir di semua ranah, membentuk jaringan informasi melalui kata-kata. Ada yang dengan dasar kemanusiaan, ada yang dengan dasar ekonomi, tapi ada juga dengan dasar politik. Malangnya, di dua yang terakhir banyak kata-kata negatif sering digunakan. Tidak jarang saling mengejek, mencela, menyudutkan, membully… semuanya dengan kata-kata yang mengandung kekerasan dan juga kebencian…

Sekali lagi, kata ialah cermin pikiran sekaligus sebaliknya, pikiran ialah basis kata. Keduanya memiliki hubungan kausal yang satu menjadi sebab bagi lainnya, begitu juga sebaliknya.

Kata-kata dan juga pikiran akan membentuk dunia. Ahli jiwa mengatakan manusia adalah apa yang Anda pikirkan. Jika kita memikirkan kata-kata kebaikan maka kita adalah orang yang senantiasa baik. Sebaliknya, jika pikiran kita dipenuhi prasangka dan kebencian maka kita adalah orang yang sedang dalam keadaan bermasalah.

Change you words change you world. Begitu kata terakhir dalam video singkat sang pengemis buta di atas. Duniamu berubah atau tidak dimulai dari jenis kata-katamu.

---

Telah dimuat di Kalaliterasi.com

10 November 2018

Kata dan Tindakan


Terry Eagleton. 
Kritikus sastra asal Inggris. 
Seorang pemikir Marxis. 
Menulis buku 
Menuju Teologi Kiri Baru 
(Towards a New Left Theology)

KATA-KATA. Kata adalah tonggak pikiran. Kata-kata ialah tiang pemikiran. Keduanya adalah corong pengertian, entah berpangkal kepada suatu titik konsep, ide, atau gagasan.

Tanpa gagasan ataupun ide, kata-kata hanya bungkus tanpa isi. Dia kosong tanpa arti apa-apa.

Secara semantik, kata kadang licin membawa suatu maksud. Makna gampang tergelincir. Antara kata dan arti kata, tidak selamanya terhubung oleh suatu tiang yang kokoh. Sering kali, ia hanya terhubung selembar tali tipis yang mudah putus.

Bahkan, kata bersama artinya, hanya dihubungkan seutas karet yang mudah melar, mudah memanjang, dan gampang memendek.

Ia dalam arti tertentu ibarat air, bergerak sesuai wadahnya.

Itulah sebabnya, dalam politik, kata-kata licin mengutarakan maksud. Ia bisa ditarik ke mana-mana. Di bawa ke mana-mana. Sesuai kepentingan.

Politik adalah war of words. Perang kata-kata. Kata-kata menjadi senjata. Ia sering dipakai untuk menembak sesuatu; kelompok, agama, etnis, atau sering kali negara...

Dengan begitu, kata-kata adalah alat politik yang murah sekaligus mengerikan. Ia membelah, menyingkirkan, mengkerdilkan...

Kata-kata adalah alat ideologi. Dia dengan kata lain tidak netral. Dalam kekuasaan, setiap kata adalah cermin pemikiran. Wadah suatu kepentingan.

Para scholar ideologi bahkan mengingatkan, kata-kata yang banyak tercecer di pelataran kekuasaan sering kali membuat orang tersesat. Ia menipu kesadaran. Ia memutarbalikkan fakta.

Itulah sebabnya, para ahli bahasa mengingatkan hati-hati-lah menangkap maksud di balik kata-kata ketika ia diucapkan di atas panggung kekuasaan. Kadang ia hanya berdalih, dan juga sekaligus menjadi dalil.

Dalil kata lebih rumit lagi. Ibarat sastra, politik kekuasaan memiliki fungsi yang hampir sama. Sebait kata bisa menunjukkan sekaligus menyembunyikan apa yang dirujuknya. Ia persis seperti kerja metafora. Bersayap-sayap.

Itulah mengapa para ahli bahasa kembali mewanti-wanti saat berkata-kata. Dalam kekuasaan kata-kata bisa kehilangan kehormatan. Ia terkadang mudah lepas dari kontrol, cair, dan bahkan menjadi liar.

Di tanah air, banyak sudah korban akibat kata-kata. Belakangan seorang calon presiden alami masalah berkat kata-kata. Tapi, tidak sampai panjang. Kata-katanya tidak sampai menelan korban, tidak sampai memunculkan barisan panjang orang-orang.

Kata-kata juga adalah akses untuk pikiran. Dia lensa transparan mengetahui isi pemahaman seseorang. Melalui kata-kata yang diucapkan, isi pengetahuan seseorang gamblang tercermin.

Begitu juga sebaliknya, pemahaman, gagasan adalah jalur lurus bagi kata-kata diucapkan

Ahli psikologi mengatakan, kata-katamu adalah dunia pikiranmu. Semakin berwarna kata-katamu, semakin luas pikiranmu. Semakin kecil wawasanmu, semakin sedikit kata-katamu.

Dunia abad 21 adalah dunia kata-kata. Berkat ledakan informasi, kata-kata menjadi rezim. Ia menguasai, mengontrol, mengendalikan...

Tapi seringkali kata-kata, terlepas dari semua itu, adalah bom waktu. Atau ibarat stempel pertanggung jawaban. Kata-kata bisa menyinggung kembali tuannya, bahkan berbalik menagih tindakan tuannya.

Petitih atau buah kebajikan Bugis-Makassar menyebutnya sebagai "taro ada' taro gau'", se-iya se-kata dalam perkataan dan perbuatan. Apa yang diucapkan itu pula yang dilakukan.

Sekarang, barang siapa mengumbar kata-kata, besar kemungkinan itu adalah jalan lapang meja hijaunya. Lihat perbuatannya. Ukur tindakannya.

Kehidupan sesungguhnya sederhana; kata dan perbuatan adalah seikat paket tanpa garis pemisah. Persis seperti sebilah badik dalam warangka-nya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...