05 November 2018

Literasi Parenting dan Metamorfosis Seorang Ibu


Data buku:
Judul Buku: Metamorfosis Ibu, Sehimpunan Literasi Parenting
Penulis: Mauliah Mulkin
Penyunting: Sulhan Yusuf
Ilustrasi isi: Nabila Azzahra
Desain sampul: Ambena Akkin
Penerbit: Liblitera
Tahun terbii: Agustus 2018
Tebal halaman: 270 halaman

---Apresiasi atas buku Metamorfosis Ibu

Seorang ibu sedang menggendong-peluk anaknya. Dalam balutan kain, hanya wajah anak itu yang kelihatan. Dilihat dari lekuk matanya, anak itu berkelamin perempuan. Di belakang mereka nampak bunga-bunga berwarna warni perpaduan hijau, kuning dan cokelat. Di sebelah kanan mereka, ikan-ikan sedang meloncat seolah-olah sedang terbang menuju langit.

Begitulah penampakan sampul buku Metamorfosis Ibu karangan Mauliah Mulkin. Seorang penulis cum pegiat isu parenting. Buku yang mengangkat tema parenting sebagai isu utamanya. Kiprahnya sebagai aktivis parenting dan pengalaman pribadinya sebagai seorang ibu, membuat  buku ini memiliki nilai lebih karena lahir digali dari ruang hidup di sekitar penulis.

Tulisan yang disebut literasi parenting ini berusaha berangkat dari ranah yang sering dinomorduakan: ruang domestik. Ruang hidup yang diklaim sebagai ranah pasif bagi kaum perempuan dan tidak produktif bagi dunia pekerjaan. Meski demikian, justru di sinilah kekuatan buku ini. Penulis berusaha membalik cara pandang dominan, yang melihat miring urusan domestik.

Itulah sebabnya mengapa buku ini hampir semuanya mengasalkan temanya dalam cakupan dunia keluarga dan kepengasuhan anak. Dari keseluruhan esainya, malah buku ini banyak memotret urusan-urusan di dalam rumah, dunia anak-anak, pergaulan anak, cara mengasuh anak, pembagian kerja keluarga, dan lingkungan rumah sebagai hal-hal yang patut diberikan perhatian serius.

Berbau Kritik Feminis

Para scholar linguistik mengatakan bahasa adalah perangkat utama kebudayaan. Tanpa bahasa mustahil lahir kebudayaan. Jika dibandikan dengan laki-laki, kaum perempuan pemodal utama penyokong kebudayaan. Perempuan lebih produktif berkata-kata dibanding laki-laki. Perhari perempuan mampu berkata-kata 20 ribu lebih banyak kata dari kaum laki-laki yang hanya bisa sampai 7 ribu kata.

Literasi parenting dalam hal ini adalah materialisasi dari semangat berkata-kata kaum perempuan. Sekaligus ini jenis suara yang mendekonstruksi makna perempuan sebagai mahluk nomor dua menjadi agen kebudayaan yang bergerak dari ranah domestiknya.

Dengan kata lain, berbeda dari paradigma kebudayaan Barat yang melihat perempuan mesti bergerak keluar rumah untuk menemukan identitas sosialnya, buku ini malah menghimbau domain utama pergerakan perempuan justru kembali ke keluarga sebagai basis perubahan masyarakat. Keluarga dalam hal ini adalah perangkat utama penopang kebudayaan. Dari keluargalah, perempuan mesti mengasalkan sumber dayanya untuk ikut membangun masyarakatnya.

Melalui caranya ini, nafas utama buku ini adalah sejenis kritik feminis a la Mauliah Mulkin. Dengan menulis, mengumpulkan, menyusun, dan meramu kata-kata sebagai bahan bakunya, dari rumah serta keluarga berusaha menghidupkan kembali peran perempuan tanpa meninggalkan ruang domestiknya.
Di sini, dalam hal ruang domestik yang sering kali diabaikan, malah menjadi “medan  juang” yang setiap orang juga mesti bertanggung jawab kepadanya. Dan yang paling dekat yang pertama-tama harus bertanggung jawab dari semua elemen masyarakat adalah keluarga itu sendiri.

Metamorfosis Ibu

“Dicari orang dewasa yang berkepribadian matang, bisa bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sabar, teguh, dan dapat memotivasi diri sendiri. Harus mengurusi orang-orang yang kadang-kadang sangat manja, sulit, dan rewel. Tugas termasuk berbelanja, mengatur keuangan, bersih-bersih rumah, memberi konseling, memasak, dan memberikan pertolongan pertama. Diprioritaskan yang memiliki kendaraan. Memiliki komitmen seumur hidup dan tidak perlu pendidikan formal. Tidak ada pelatihan. Tidak ada kompensasi uang, tetapi tunjangan tambahan besar.” (hal. 202)

Kutipan ini diambil dari buku Dr.C. Drew Edwards, Ph.D seorang ahli di bidang parenting How to Handle A Hard-to-Handle Kid: A Parent Guide to Understanding and Changing Problem Behaviors. Inti dari pernyataannya itu adalah pekerjaan serorang ibu ibarat seorang wise (ahli kebijaksanaan). Ia mesti rela, ikhlas dan berbesar hati menempuh hampir semua peran. Memimpin, mengajar, menjaga, mengatur, mengayomi, mengasihi dan semua kebijaksanaan yang membutuhkan hati yang lapang. Di belakang laki-laki yang hebat, ada perempuan yang hebat. Begitu petitih sering kita dengarkan.

Menjadi perempuan adalah takdir, tapi menjadi ibu adalah pilihan. Yang dinyatakan Dr. C. Drew Edwards di atas adalah pilihan menjadi ibu. Banyak perempuan modern menolak menjadi ibu. Ia perempuan namun ketika mengasuh dan mendidik anak ia serahkan kepada babysitter dan guru privat.

Buku ini mengingatkan perempuan-perempuan masa kini agar tidak perlu takut ketika menjadi ibu.  Perlu cara dan perlu upaya agar peran seorang ibu tidak sebatas insting kepengasuhan seorang perempuan belaka.

Itulah mengapa perlu perubahan dibutuhkan metamorfosis perempuan menjadi seorang ibu. Dalam hal ini tidak sekadar perubahan status dari perempuan gadis menjadi perempuan ibu, melainkan perubahan peran sosial dan kulturalnya.

Dengan kata lain metamorfosis ibu adalah penanda peralihan peran sosial perempuan dari yang sifatnya individual achievement menjadi collective achievement.  Dari gadis yang masih berpikir keinginan paras individualnya menjadi ibu yang ikut membangun kebutuhan paras masyarakatnya.

Lalu yang bagaimanakah peran ibu yang ikut membangun paras masyarakatnya? Dengan mendidik generasi penerus dari dalam keluarganya. Membangun paradigma dan adab generasi penerus bangsa dengan asah, asih dan asuh. Mengasah pikiran, mengasihi perasaannya, dan mengasuh sikapnya. Dari keluarga untuk peradaban, begitu singkatnya.

*Terbit sebelumnya di UPEKS tertanggal 31 Oktober 2018

03 November 2018

Aristoteles dan Perempuan


Patung kepala Aristoteles
(Salinan Romawi dari patung perunggu 
yang pernah hilang oleh Lysippos)

ZOON POLITICON
. Aristoteles merendahkan perempuan dengan mengatakan perempuan tidak memiiki logos. Logos, atau dikenal juga sebagai akal budi dipandang guru Aleksander Agung ini hanya dimiliki secara eksklusif oleh kaum laki-laki. Itulah sebabnya, dalam urusan kepublikan, perempuan di mata Aristoteles hanya ditempatkan kepada urusan domestik.

Saking rendahnya perempuan di mata Aristoteles, ia dikelompokkan bersama budak dan bahkan binatang dalam satu kategori. Jadi, jika manusia dibelah, maka perempuan hanyalah mahluk setengah jadi tanpa kualifikasi rasional yang menjadi ciri pembeda manusia dengan binatang.

Pembagian macam demikian, berdampak pula kepada pembagian peran antara perempuan dan laki-laki.

Secara kategoris, Aristoteles membagi dua ranah interaksi: res publika (polis) dan res privata (oikos). Hubungannya dengan teori negaranya, res publika adalah wahana bagi kaum laki-laki untuk bermasyarakat, mengedepankan dan memfungsikan peran akal budinya ke dalam satu sistem kehidupan politik tertentu. Di dalam ranah res publika inilah politik dimungkinkan dengan syarat kehadiran akal budi sebagai titik tolaknya.

Dalam res publika ini juga, hanya laki-laki saja yang berhak mengatur urusan publik. Hanya laki-laki saja yang berkewajiban menjalankan hak-hak politiknya. Dengan kata lain hanya laki-laki-lah yang patut hidup dalam polis/bernegara.

Sementara perempuan, dikarenakan tidak memiliki "logos", tapi malah hanya memiliki "phone" maka wilayah kerjanya hanya diperuntukkan ke dalam wilayah res privata, ranah yang dalam istilah Aristoteles disebut oikos tadi itu.

Phone berbeda dari logos yang memiliki karakter rasional. Phone dalam Aristoteles adalah kemampuan nonrasional yang diekspresikan hanya dalam bentuk bunyi. Dengan kata lain, phone hanya menunjang perempuan dapat "berbunyi" semata tanpa dapat mengekspresikannya lebih jauh ke dalam kemampuan linguistik berupa bahasa yang bermakna.

Kata Aristoteles phone dapat ditemukan kepada banyak binatang. Binatang tidak memiiki kemampuan logos, tapi hanya phone. Ia hanya mampu "berbunyi" tanpa tahu apa arti di balik suara yang dikeluarkannya.

Jika binatang disakiti ia hanya mampu berbunyi karena tidak memiliki kemampuan linguistik untuk mengatakan rasa sakitnya. Sama halnya dengan binatang, menurut Aristoteles, perempuan jika disakiti juga akan sama dengan binatang, ia hanya bisa "berbunyi" tanpa mampu membahasakan dengan rasional rasa sakitnya.

Singkatnya, karena sifatnya yang demikian, perempuan hanya layak ditempatkan ke dalam oikos. Ranah non politik. Ranah rumah tangga yang tidak bermakna kepublikkan.

Berdasarkan distingsi seperti ini, kehidupan bernegara akhirnya diberlakukan. Republik yang artinya ada pemisahan urusan "yang publik" dan "yang privat" dengan kata lain ikut membagi dua peran setiap warga negaranya: laki-laki mengambil urusan "yang publik" dalam arti hanya ia yang patut berpolitik/bernegara dan perempuan hanya ditempatkan ke dalam "yang privat" dengan maksud hanya sekadar mengurusi hal-hal tetek bengek urusan rumah tangga.

Jadi, siapa yang dimaksud zoon politikon itu sebenarnya? Dalam pemikiran Aristoteles, ya laki-laki. Hanya laki-laki-lah yang berhak hidup di dalam polis. Hanya ia-lah yang berhak berpolitik.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...