01 November 2018

Perempuan dan Kebudayaan



Peter Ludwig Berger.
Sosiolog yang dikenal karena pekerjaannya di bidang sosiologi pengetahuan, 
sosiologi agama, penelitian tentang modernisasi 
dan kontribusi teoretis pada teori kemasyarakatan.

KEBUDAYAAN jika ditapis-halus ke dalam, kata-kata adalah elemen dasarnya. Para ahli budaya mendudukkan kata (bahasa) sebagai unsur kunci yang membentuk kebudayaan. Tanpa kata (bahasa) rasanya sulit membangun dan mengenali suatu kebudayaan.

Meminjam pendekatan Peter Berger, melalui proses eksternalisasi-objektifikasi-internalisasi, seorang agen kebudayaan berdialektika saling menangkap dan ditangkap pengaruh kebudayaannya.

Dalam kata-kata sosiolog, individu dan masyarakat adalah dua pangkal yang saling timbal balik membentuk keadaan sosialnya.

Dari proses itu bahasa berperan penting memediasi interaksi individu, kelompok di antara masyarakat. Bahasa menjadi medium dan menampung nilai, sistem pengetahuan, sistem perilaku, adat kebiasaan, dlsb., yang secara keberlanjutan merekonstruksi dan memperbaharui kenyataan sosial.

Dengan kata lain, kebudayaan bukan fenomena tanpa sebab. Dia bukan lahir dari ruang hampa. Kenyataan sehari-hari menunjukkan, kebudayaan itu dibentuk, digali, direkayasa, dicopy, diciptakan...

Lalu siapa yang paling banyak berperan di antara semua itu? Perempuan. Ya, seorang perempuan, atau lebih tepatnya seorang ibu.

Perharinya perempuan dapat menghasilkan rata-rata 20 ribu kata jauh lebih banyak dari kaum laki-laki yang hanya mampu mengucapkan 7 ribu kata perhari. Dibandingkan laki-laki, perempuan paling berpeluang dan paling bertenaga di dalam proses rekonstruksi kebudayaan.

Jika kata-kata, atau bahasa adalah representasi akal budi, perempuan jauh lebih banyak memanfaatkan akal budi bagi kehidupan dibanding laki-laki. Setiap harinya, melalui kata-kata setiap perempuan mengaktifkan fungsi akal budinya, jauh lebih aktif dan transformatif dari laki-laki malah.

Hal ini menjadi makin terang dikarenakan dalam sebuah penelitian, dalam otak perempuan banyak mengandung yang oleh ahli sebut sebagai "protein bahasa" (dalam penelitian itu juga ditemukan tikus betina juga banyak memiliki kandungan protein dalam jaringan otaknya dari pada tikus jantan. Ini yang menjadi sebab tikus betina jauh lebih ribut dari tikus jantan). Protein bahasa inilah yang menyebabkan perempuan mampu menghasilkan kata-kata jauh lebih banyak dari siapa pun.

Dari sisi emosi, perempuan satu-satunya mahluk yang paling mampu bertahan dari keadaan yang menekan. Ketika perempuan mengalami suatu krisis, dia jauh lebih tangguh dan sabar dari kaum laki-laki. Dia jauh lebih tahan banting dari laki-laki.

Itulah sebabnya, pendidikan dan kesehatan adalah ranah utama masyarakat yang paling banyak membutuhkan perempuan. Di dua ranah itu, sisi emosi paling banyak dibutuhkan ketika menghadapi situasi yang paling kritis.

Dari semua itu kebudayaan tanpa kehadiran seorang perempuan, rasanya tidak akan bertahan lama. Dibutuhkan kebijaksanaan seorang perempuan untuk mengawal gerak laju kebudayaan, pasang surutnya, dan maju mundurnya kebudayaan.

Menulis ini membuat eike menjadi ingat mamak dan istri eike di rumah. Mamak beberapa hari ke depan sedang pergi ke Bandung mengunjungi sepupu yang bersekolah dan akan dikukuhkan di tanggal 2 nanti di sana. Mamak berangkat sekalian menjenguk keluarga kakaknya yang sudah beristri dan dikebumikan di tanah Jawa.

Kekosongan mamak di rumah, langsung terasa (apalagi di rumah mamak orang yang paling sering eike ajak "cek-cok" mulut tentang agama dan politik menjelang selepas magrib). Beberapa pekerjaan rutin yang sering dilakukannya tidak serta merta bisa digantikan. Kecuali beberapa hal semisal menyapu, membuat teh, dan bersih-bersih rumah saja yang bisa dikerjakan. Memasak dan pergi ke pasar di pagi-pagi masih sepi orang sampai sekarang belum bisa dilakukan.

Sementara, Lola, istri eike dari pagi sudah harus menyusui Banu. Setelah itu ia turun dari lantai dua untuk menanak nasi, memasak, dan seringkali mencuci piring kalau ada. Setelah semua itu rampung, kembali ia mengecek Banu. Singkatnya , ia berperan seperti mamak di pagi hari. Menyiapkan meja makan tetap terisi sampai malam tiba.

Dari dua perempuan ini saja sudah terasa bagaimana perempuan berperan suatu kehidupan dipertahankan. Di mulai dari rumah menopang satu keluarga agar terus hidup. Pekerjaan domestik macam ini, memang bagi sebagian feminis dianggap remeh dan temeh.

Tapi, bagi eike yang mengalami langsung, melihat secara terang bagaimana perempuan membentuk kebudayaan rumah bukan saja melalui produksi kata-kata, tapi juga tindakan.

Rumah dalam hal ini memang bukan sekadar bangunan material belaka, ia sekaligus menjadi medium budaya, nilai, tradisi dan pengetahuan dipertahankan dan direproduksi ulang. Dan, perempuan adalah faktor paling utama yang menopangnya dari dalam.

31 Oktober 2018

Tauhid dan Tuhan-Tuhan Jauh


Ibnu Arabi dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. 
Dikenal dengan konsep Wihdatul Wujud



TAUHID. Alkisah, di bukit Sinai, di semak-semak yang menyala, Tuhan menghadirkan dirinya di hadapan Musa. Tuhan yang ia saksikan kemudian memerintahkan Musa menghadapi Firaun untuk membebaskan bangsa Israel dari raja yang zalim itu.

 

Lalu, Musa bertanya, ”dengan nama apakah Engkau disebut?”

 

Dalam Bibel Tuhan berucap: ”Ehyeh asyer Ehyeh.”

 

”Aku adalah Aku.”

 

Kemudian Musa diingatkan agar jangan sekali-kali bertanya tentang diri Tuhan. Dia adalah Dia. Zat yang hanya diketahui diri-Nya sendiri.

 

Disebutkan ketika Musa ingin melihat wajah Tuhan, sekali lagi ia diperingatkan: ”Engkau tidak bisa memandang wajah-Ku, karena tidak ada yang bisa memandang wajah-Ku dan bisa hidup.”

 

Di kisah itu, ketika Musa dipaksa umatnya agar Tuhan menampakkan diri-Nya, gunung tempat Tuhan menunjukkan dirinya hancur lebur. Musa terperanjat, gemetar ia dan seketika pingsan.

 

Tuhan, yang maha perkasa di peristiwa itu membuktikan: ”Tak ada yang bisa memandang diri-Ku.”

 

Ibn Arabi, ahli gnostik dan tasawuf mengecam orang-orang yang melanggar suatu kaidah pikiran yang disebut al-khawdl (pikiran spekulatif dan serampangan) tentang Tuhan. Tuhan biar bagaimana pun usaha agar mengetahuinya adalah sesuatu yang mustahil. Usaha yang sia-sia belaka.

 

Dengan kata lain, Tuhan bukanlah konsep yang sanggup dibatasi pikiran.

 

Tuhan dalam pemikiran Ibn Arabi disebut ”al illah al haq”, Tuhan yang Sebenarnya. Tuhan yang misterium. “Al illah al Majhul”, Tuhan yang Tak Dapat Diketahui.

 

Melalui Al-Qur'an surat Al-Syurah ayat 11, Dia dikatakan ”Tidak sesuatu pun serupa dengan-Nya”.

 

”Penglihatan tidak dapat mempersepsi-Nya, tapi Dia mempersepsi semua penglihatan”. Begitu dalam Al-An'am ayat 103.

 

Lalu, yang bagaimanakah tauhid itu? Suatu tonggak pikiran yang mempersepsi Tuhan?

 

Bagaimanakah Tuhan dalam kalimat yang seringkali dilafaskan: la ilaha ilallah...

 

Jangan-jangan, tuhan yang selama ini diketahui adalah jenis tuhan dalam "la ilaha". Jenis tuhan yang dilarang dan kalau perlu dienyahkan. Jenis tuhan yang dikatakan ”tidak ada tuhan” seperti persepsi kita, tangkapan kita, kemauan kita. Bahkan mungkin kepentingan kita.

 

Tuhan yang dilarang, kata Ibn Arabi adalah tuhan dalam pikiran. Tuhan yang dibatasi berdasarkan pemahaman manusia. Tuhan yang diciptakan makhluknya.

 

Dalam teori atheis, Ludwig Feuerbach, seorang filsuf cum antropolog Jerman menyebut tuhan pikiran sebagai realisasi harapan tertekan dari manusia.

 

Tuhan dengan kata lain, hanyalah proses rekayasa imajinatif manusia untuk menutupi keterbatasan dirinya. Suatu proyeksi pikirannya sendiri.

 

Kalau demikian siapakah yang dibela selama ini? Bisa jadi Dia yang maha besar, Dia yang maha tak bisa diwakili dalam defenisi apapun, pada akhirnya berubah menjadi tuhan-tuhan pikiran. Tuhan-tuhan konsep. Sesuatu yang belakangan dibela mati-matian.

 

Barangkali karena itulah, tuhan yang dibela selama ini sering menimbulkan suara gaduh dari pada suluh. Tuhan yang diringsek kepentingan pikiran. Tuhan yang ditunggangi ego kelompok, bahkan politik.

 

Maka, alih-alih menjadi suluh, tuhan-pikiran yang dibela tidak mampu membuat teduh dan justru rusuh.

 

La ilaha ilallah, justru adalah tuhan yang ”hudur”. Kata ahli suluk tuhan yang hadir dalam batin sang makhluk. Tuhan yang begitu dekat dari pada jarak tuhan-konsep.

 

Tuhan yang hadir dengan begitu adalah tuhan hasil perjalanan dari tuhan-konsep menuju kedalaman penghayatan sang makhluk. Tuhan yang berjarak menjadi tuhan yang hadir bersama sang makhluk. Tuhan yang telah membunuh tuhan-tuhan dalam ”la ilaha” menuju dan menjadi ”ilallah”. Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan.

 

Tuhan lebih dekat dari urat lehermu. Begitu kata agama.

 

Bagi tubuh, urat leher begitu saja ”ada” tanpa pernah dipikirkan. Ia ada tapi sangat jarang disadari. Ia, saking dekatnya, tidak pernah dipikirkan.

 

Tapi justru, karena itu ia malah menunjang hidup matinya seseorang. Tanpa urat leher, barangkali tak ada manusia yang dapat hidup.

 

Sebaliknya dikatakan, Tuhan, bahkan saking dekatnya dengan manusia, lebih dekat lagi dari dekatnya urat leher manusia.

 

Namun apa boleh buat, urat leher yang dekat seringkali dirasakan jauh. Malah ia sering kali tidak dihiraukan. Lebih malang lagi, Tuhan sebenarnya yang dinyatakan lebih dekat dari urat leher, justru dirasakan lebih jauh lagi dari pada urat leher. Lebih-lebih kehadirannya, nyaris tidak pernah terasa.

 

Walaupun demikian, di masa sekarang, justru yang dipahami, yang diperjuangkan bukan saja tuhan-tuhan konsep, melainkan juga tuhan-tuhan jauh: tuhan-tuhan yang menjelma kekuasaan, jabatan, kata-kata, tuhan-tuhan ormas, juga mungkin sekaligus secarik bendera.

 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...