28 Agustus 2018

Membela Suara Meiliana


Erich Pinchas Fromm. 
Seorang Psikolog sosial, 
psikoanalis, sosiolog, dan filsuf berkebangsaan Jerman. 
Fromm  dikenal dengan pandangan Psikologi humanistiknya

Malangnya, becermin dari kasus ibu Meiliana, wanita asal Tanjung Balai, Sumut yang dihukum 18 bulan bui karena mengeluhkan volume azan di masjid, jangan-jangan religiusitas yang kita perjuangkan selama ini adalah jenis religiusitas yang angkuh. Namun juga sekaligus ringkih.

Religiusitas yang angkuh, entah bagaimana caranya, seolah-olah melenyapkan suatu ciri yang sudah menjadi tulang sumsum bangsa kita: kepedulian.

Dulu kepedulian itu senantiasa dipegang sama-sama, dipikul  di atas pundak bersama yang kiwari sudah kedengaran klise: tenggang rasa.

Tapi, kini semuanya kian menegang.

Semua dimulai dari suatu keyakinan yang monolitik. Suatu jenis pandangan agama yang berdiri di atas menara-menara gading dan bukan didudukkan di dalam rumah-rumah sesama.

Sudah merupakan hukumnya, di atas ketinggian, apa pun menjadi kecil. Bahkan, suara-suara hilang dibawa angin. Di ketinggian, seseorang bakal lupa diri.

Alkisah, hiduplah seorang muazin nun jauh di suatu negeri. Melalui azan, ia terobsesi menyiarkan Islam di negeri orang kafir. Tapi sayang suaranya cempreng. Dengan percaya diri, sampai juga suaranya ke telinga seorang wanita yang sedang tertarik mempelajari Islam. Lantaran penasaran bertanyalah sang wanita kepada ayahnya yang kebetulan seorang pendeta:

“Suara jelek apakah ini, Ayah?”

“Ini panggilan orang Islam untuk melaksanakan ibadah shalat, Nak,” jawab sang Ayah.

“Alangkah buruknya cara mereka memanggil kaumnya beribadah.”

Mendengar ucapan anaknya itu sang ayah yang sebelumnya khawatir anaknya masuk Islam lantas menjadi senang.

Di kisah itu, seperti sudah diketahui endingnya, sang gadis urung masuk Islam lantaran suara cempreng sang muazin. Sementara sang muazin berbangga diri merasa sudah melakukan perbuatan terpuji. Menyiarkan Islam di seantero negeri kafir.

Memang niat saja tak cukup. Yang tidak kalah utama adalah cara bagaimana niat itu direalisasi.

Terkadang banyak salah mengira tindakan dengan niat baik otomatis melahirkan perbuatan baik pula. Padahal, beda niat berbeda pula tindakan. Niat mungkin saja baik tapi belum tentu dengan caranya.

Mungkin, kini suara sang muazin itu bisa jadi adalah suara kita yang kerap merasa jemawa. Barangkali adalah hasrat kita yang kita letakkan di atas ketinggian bukit-bukit ego tanpa sedikitpun mau menyadari betapa seringkali iman kita ternyata memangkas sesuatu yang berbau kejamakan.

Namun, begitulah adanya. Iman yang berpas-pasan dan tumbuh di zaman ini memang kerap menjelma menjadi iman tanpa kepedulian sosial. Iman yang individualistik, dan bahkan formalistik.

Bukankah iman sebenarnya adalah sesuatu yang mengandung cinta. Unsur yang tidak terjebak bentuk-bentuk formal. Senyawa yang menurut Erich Fromm, scholar ilmu jiwa dapat menghidupkan empat gejala manusia: care (kepedulian), responsibility (bertanggung jawab), respect (penghormatan), dan knowledge (ilmu pengetahuan).

Dengan empat gejala ini, cinta tidaklah seperti yang dibayangkan orang-orang, buta dan nyaris tanpa akal sehat.

Kepedulian adalah gejala pertama cinta. Kepedulianlah yang rela membuat pemeluk agama mau mengorbankan sesuatu terhadap sesamanya. Kepedulian bahkan menjadi salah satu nafas utama dari religiusitas agama-agama di muka bumi.

Kedua adalah tanggung jawab. Misi agama-agama adalah melahirkan manusia-manusia yang bertanggung jawab berdasarkan posisi dan perannya secara individual maupun sosial. Rasa tanggung jawab tidak akan mungkin lahir kalau sebelumnya tidak diikutkan dari kepedulian antara sesama.

Ketiga, dalam Islam ada pengakuan terhadap pemeluk agama lain yang bersumber dari surah Al Kafirun ayat 6 yang berbunyi: “Lakum diinukum waliyadiin” (Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku). Tidak saja pengakuan, ayat ini juga bermakna pentingnya penghormatan kepada pemeluk agama lain ketika menjalankan keyakinannya.

Ilmu pengetahuan adalah gejala terakhir dari cinta. Artinya cinta mustahil menempatkan seseorang di dalam lorong kegelapan. Cinta dengan sendirinya mencerahkan. Melalui ilmu pengetahuan, atau sebaliknya, cinta, membuat seseorang mengalami pencerahan. Dengan kata lain, barang siapa mencintai, cintanya membuatnya terbebas dari kejahiliyaan.

Akhir kata, apabila konsep iman demikian dipraktekkan dalam kehidupan ril, besar kemungkinan tidak akan muncul kasus-kasus seperti yang menimpa ibu Meiliana di Tanjung Balai. Semoga.

23 Agustus 2018

Merdeka dari Kebencian

Mohammad Natsir. Pemikir dan Pendiri Masyumi
Perdana Menteri dalam pemerintahan Soekarno pada 1950. 
Perselisihannya dengan Soekarno mengenai Islam dan Sekulerisme 
masih sering mewarnai pembicaraan ideologi saat ini

Akhir Desember 2015, BBC melaporkan, di tahun yang sama adalah tahun kebencian bagi Inggris. 2015: The Year that Angry Won The Internet, begitu bunyi judulnya. Laporan itu merujuk data-data  yang dikeluarkan Demos, suatu lembaga think tank di Inggris yang merata-ratakan 480 ribu pesan berisi kebencian ras di tweet-kan melalui Twitter tiap bulan pada tahun 2015.

Jika beradasarkan hitungan Demos, di Inggris, dalam satu tahun rata-rat ada 5.760.000 ujaran kebencian beredar melalui Twitter. Hitung-hitungan ini akan jauh lebih besar kalau mengikutkan platform media sosial lain dan arus penyebarannya. Tidak bisa dibayangkan betapa besarnya arus kebencian yang malangmelintang dari hari ke hari melalui dunia maya.

Masih mengacu BBC, api pemicu ujaran kebencian itu adalah ujaran-ujaran rasial anti muslim, terorisme, pengungsi timur tengah, dan juga kelompok-kelompok perempuan dan Yahudi. Yang menarik dari laporan itu, sebagian besar ujaran kebencian tidak lagi menggunakan akun-akun palsu, melainkan terang-terangan menggunakan akun asli. Laporan BBC menulis, “banyak orang merasa kebencian mereka dapat diterima dan nyaman mempostingnya dengan nama asli atau akun media sosial reguler mereka."

Apa yang terjadi di Inggris, setidaknya menunjukkan dua hal: pertama, dari hari ke hari, kebencian berbau SARA semakin meningkat seiring massifnya penggunaan media sosial. Kedua, mengingat sebagian banyak waktu masyarakat dihabiskan di dunia maya, bukan tidak mungkin, kebencian yang sering mengemuka di dunia online adalah cermin perilaku masyarakat di dunia sehari-hari.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia sendiri hemat saya belum ada data khusus merekam perkembangan ujaran kebencian di dunia online. Walaupun demikian, fenomena kebencian semakin mengemuka semenjak munculnya kubu haters dan lovers  setelah pilpres 2014 lalu. Setelah momen pilpres 2014, fenomena kebencian di dunia maya ibarat bola salju, terutama di momen-momen politik semisal pileg dan pilkada.

Melihat trend ini, bagi bangsa Indonesia, bisa jadi tahun 2018 berganti menjadi tahun kebencian di samping tahun politik. Apalagi bukan saja di arena politik, di arena keagamaan dan kebudayaan timbul gejala yang sama seperti ditandai dari ujaran kebencian dengan kode sosial semisal “penista agama”, “cebongers”, “bani taplak”, “kaum bumi datar”, “kaum liberal”, “komunis” dlsb.

Fenomena kebencian semacam ini ditilik secara sosiologis adalah hasil konstruksi sosial yang berkembang seiring timbulnya mobilisasi dari “agen sosial” sebagai produsennya.

Menurut Gordon dalam Peterson (2005) emosi berupa kebencian dapat terbangun melalui kesadaran sosial secara kolektif melalui jaringan informasi dan teknologi. Dalam kasus ini, berdasarkan penjelasan Gordon, ungkapan kebencian yang merajalela terdorong ulah “social warriors” sebagai agen hingga massif menyebar.

Lalu siapakah “agen sosial” yang dimaksud? Tiada lain mereka yang selama ini berkedudukan sebagai pengguna medsos yang sering kali memobilisasi orang-orang dengan ujaran kebencian apalagi hoaks melalui isu SARA.

Edi Santoso dalam artikel Pengendalian Pesan Kebencian (Hate Speech) di Media Baru melalui Peningkatan Literasi Media mengemukakan ada hubungan antara ujaran kebencian dengan tindakan kekerasan dalam hal ini genosida. Dimulai dari kata-kata berupa stereotyping atau informasi negatif bisa meningkat eskalasinya hingga pembumihangusan etnis tertentu. Ditilik dari analisis ini, bukan tidak mungkin sudah dan akan terjadi (lagi) di Indonesia.

Merdeka dari

Agustus bagi bangsa Indonesia adalah masa bersejarah sekaligus romantik. Bukan saja karena di bulan ini adalah bulan kemerdekaan, tapi juga di waktu yang sama Indonesia menandai dirinya menjadi bangsa yang kian dewasa. Ibarat usia manusia, menginjak 73 di tahun ini adalah usia yang sudah matang. Seperti seorang sepuh, Indonesia sudah banyak menimba saripati kehidupan.

Namun, melihat kembali fakta-fakta di atas, masih menjadi pekerjaan berat bagi Indonesia dari perilaku warganya yang diselimuti kebencian. Pekerjaan ini akan kian berat terutama akan tampak di momen menjelang pilpres nanti. Umur Indonesia boleh kian bertambah, tapi apakah menjamin kedewasaan warganya?

Lalu apa makna kemerdekaan bakal warga Indonesia rayakan 17 Agustus nanti? Secara romantik sudah tentu merayakan kebebasan dari penjajahan bangsa asing. Mengkhidmati perjuangan pahlawan terdahulu dari agresi kolonialisme, dan ikut serta merasakan betapa susahnya mempertahankan sejengkal tanah pertiwi dari kaki-kaki bangsa penindas kala itu.

Sekarang, seharusnya, salah satu perjuangan warga Indonesia adalah melawan kebencian dari saudara setanah air sendiri. Mengembalikan makna warga negara yang berhak mendapatkan penghargaan sesamanya. Bukan saling menghujat dan menjelek-jelekkan sampai membentuk spiral kebencian di dunia nyata maupun online.

Masa lampau, kebencian kepada penjajah dikelola oleh tangan-tangan cerdas nan bijak. Untuk menyebut beberapa semisal, Sukarno, Moh. Hatta, Agus Salim, Moh. Natsir, dlsb. Para pejuang kemerdekaan tidak menjadikan kebencian terhadap bangsa asing tanpa pencerahan. 

Dengan kata lain, secara kebangsaan, kebencian dari warganya dididik, dibimbing, dan ditransformasikan menjadi aksi positif mempertahankan ibu pertiwi. Puncaknya, emosi kolektif yang sudah tercerahkan terakumulasi dengan matang pada 17 Agustus 1945 lalu.

17 agustus nanti, menghayati makna sejarah kemerdekaan, mari memerdekakan diri dari kebencian. Dari penjajahan sesama saudara sendiri.

---

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...