12 Mei 2018

Ziarah dan Ego


ZIARAH. Ziarah, jika ia adalah tali jangkar, barangkali di ujungnya juga adalah perjumpaan.

Tapi, ia juga sekaligus ikatan penting bagi jiwa manusia. Jiwa manusia ketika ia dibelah, kedua-keduanya adalah potongan dari dunia yang transenden. Di dunia itu, jiwa manusia diingatkan dari mana ia berasal. Di tempat itu jiwa manusia kembali diteguhkan, untuk apa ia mesti berpulang.

Dengan begitu, ziarah adalah tangga di antara dua dunia, namun juga sekaligus ikatan perjumpaan kepada rumah sejatinya.

Kedudukan manusia seperti dinyatakan para mistikus mempunyai jiwa yang menancapkan kaki-kakinya di dunia spiritual. Makhluk bidimensional kata Ali Syariati, seorang sosiolog Islam. Manusia dalam percakapan Ali Syariati ini sekaligus mendakukan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua lapisan diri.

Lapisan pertama, adalah kulit manusia yang berinteraksi melalui unsur-unsur biologisnya. Para ahli membilangkan manusia dari sisi ini adalah zoon politicon: makhluk yang berinteraksi dengan kebutuhan-kebutuhan praktisnya di dunia publik; sebagian lagi menyebutnya homo economicus sebagai eksistensi yang berkemampuan hidup melalui interaksi tukar tambah; juga sebagian lagi menyebutnya makhluk berbudaya, yakni makhluk yang hidup melalui makna-makna yang ia ciptakan.

Di lapisan pertama, manusia menggunakan kepingan jiwanya demi utuhnya keberadaannya secara fisik-biologis. Tapi kadang, lapisan kulit pertama seringkali menjatuhkan manusia ke dalam tanah yang lempung. Kata Ali Syariati, kesejatian manusia dilahirkan dari tanah yang berlumpur. Akibatnya, ia alih-alih menjadi simbol jatuhnya eksistensi manusia.

Namun, "apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". Ruh dengan kata lain adalah entitas asal dari jiwa manusia. Dituliskan melalui metafora Al Quran, Ia, Wujud di atas wujud, meniupkan dirinya kepada manusia yang terikat tanah. Sesuatu yang menjadi asal tapi juga jurang kejatuhannya.

Ali Syariati mendudukkan ayat di atas sebagai narasi penciptaan yang mendudukkan manusia sebagai makhluk yang memiliki lapisnya yang kedua: ruh spiritual. Melalui inilah, seperti kisah burung-burung dari syair-syair Fariduddin Attar, jiwa manusia mengepakkan sayapnya menuju puncak-puncak tertinggi untuk mengenal asal dirinya.

Dengan kata lain, manusia yang tercipta dari tanah, asalnya yang kotor menjadi juga tumpuannya untuk bangkit melalui kejatuhannya. Ia mesti merangkak naik menuju dunia spiritual tempat kepingan sebelah jiwanya yang lain.

Barangkali karena itulah, kata "sujud" dalam narasi di atas lebih menggambarkan suatu arti yang menunjukkan kejatuhan eksistensi manusia sekaligus cara ia merangkak naik. Sujud adalah penanda jiwa manusia mengartikan dirinya yang rendah tapi juga jalan baginya menggapai ketinggian kedudukan spiritualnya.

Itulah sebabnya, kata Ali Syariati jiwa manusia mesti dibebaskan melalui cinta. Hanya melalui cintalah sujud menjadi cara manusia menunjukkan kebangkitannya dihadapan eksistensi Maha Cinta. Suatu cara yang disebutnya jalan kemerdekaan manusia bagi jiwanya.

Tapi, kelak jika jiwa kembali jatuh di asalnya yang rendah (tanah yang kotor), di saat itulah jiwa manusia terjerat ego. Dia justru melupakan tanah seberang tempat asalnya yang sejati.

Era kiwari, ego manusia lebih banyak mengambil alih jiwa. Di kerendahan lempung tanah, ego manusia sulit merangkak naik menuju alamat abadinya. Melalui sesat pikir jabatan, nama tenar dunia, ikatan harta berlebihan, sentimentalisme agama, dan cinta terhadap kekuasaan, membuat jiwa terperangkap jauh di kubangan ego.

Syahdan, seperti pendakuan Erich Fromm, seorang ahli ilmu jiwa, manusia modern lantaran ditawan ego adalah orang-orang yang ditinggal pergi cinta. Dia menyebutnya manusia yang lebih menyukai "dicintai" dari pada "mencintai". Akibatnya, orang-orang modern sukar berempati terhadap orang lain. Mereka lebih suka menerima dari pada memberi.

Dengan kata lain, manusia modern hari ini lebih banyak membangun ikatan melalui pengertian lapisan kulit pertamanya. Mereka sibuk mengedepankan interaksi materialnya daripada mengutamakan kulit kedua yang menghubungkannya dengan suatu tatanan transendental "di atasnya".

Di konteks demikian itu, ziarah menjadi penting. Dia adalah jalan yang membangkitkan memori manusia untuk menengok asalnya. Melaluinya, sekali lagi ego yang memenjara jiwa dibebaskan dari ikatan-ikatan material menuju kebangkitannya.

Secara moral, ziarah juga berarti upaya saling mengunjungi, saling mendatangi dengan mengedepankan empatik terhadap sesama. Ziarah dengan kata lain menjadi modal sosial yang menghubungankan jaringan interaksi yang semakin hari mengalami atomisasi.

Hari-hari esok, ketika ramadan tiba, selama itu perhelatan ziarah akbar akan mengajak jiwa-jiwa manusia kembali pulang ke kampung halamannya. Dia diingatkan, jangan sekali-kali pernah jatuh akibat genangan lumpur, tapi tengoklah lapisan jiwa paling dalam melalui perjalanan ruhani. Di situ suatu alamat pulang sudah dari awal disematkan untuk saling berempati sekaligus tangganya menuju keabadian.


08 Mei 2018

Alienasi

ALIENASI. Siapapun ketika menjadi buruh, ia kehilangan kebebasan hakikinya. Buruh adalah warisan panjang dari zaman yang timpang. Ia adalah narasi orang -orang yang kalah. Orang-orang yang tercerabut kemerdekaannya.

Sudah semenjak lama ketika roda sejarah berputar: budak, hamba sahaya, dan kini kelas pekerja, diteruskan ambisi suatu golongan masyarakat yang mensegregasinya menjadi golongan-golongan. Dari sejarah demikian itu, buruh dipekerjakan, dikuasai, dan dihisap melalui suatu aktivitas kerja.
Tapi, kemerdakaan bukanlah berkah bagi kelas pekerja. Dengan kata lain, ia bekerja bukan dalam keadaan yang sejati. Tidak dalam keadaan merdeka.

Marx membedakan, pekerjaan yang merdeka itu karena didorong oleh suatu ikhtiar yang bebas. Tanpa tekanan dan intimidasi. Sedangkan buruh di bawah sistem kapitalisme menjadi mahluk determinis. Ia bekerja atas dasar tekanan dan paksaan.

Itulah sebabnya, kerja di bawah bayang-bayang kapitalisme justru tidak manusiawi. Ia menjadi proses alienatif. Kerja yang sejatinya sebagai realisasi kemanusiaan akhirnya berubah menjadi momok yang eksploitatif.

Pertama, ia tercerabut dari hasil kerjanya. Seorang pekerja sepatu, sehari-hari menghasilkan sepatu. Di pabrik-pabrik ia mengeluarkan satu-satunya yang dimilikinya: tenaga. Dari itu tercipta sepatu yang sehari-hari dijual pabrik di etalase-etalase. Namun, sepatu itu bukan miliknya, walaupun itu lahir dari tangannya.

Sepatu itu pada akhirnya bukan lagi materi yang padat. Bukan lagi seperti semula sebagai bahan-bahan yang disentuh tangannya. Ia, kata Marx, tiba-tiba "menguap begitu saja di angkasa". Kapitalisme-lah yang mentransformasikannya: semula hasil pekerjaan sang buruh, tapi dia "menguap" di etalase pasar.

Kedua, sang buruh menjadi manusia yang kehilangan dimensi sosialnya. Waktunya banyak ia berikan untuk pabrik. Selama lebih dua belas jam ia tak bisa menikmati waktu senggangnya. Ia tak bisa bersosialisasi sebagai anggota masyarakat: berinteraksi, berbelanja, jalan-jalan, menonton film, liburan, sekolah, dlsb. Singkat kata, ia menjelma mahluk asosial. Terasing dari lingkungan sosialnya.

Pada akhirnya akibat dua kenyataan di atas, sang buruh teralienasi dari dirinya sendiri. Dia tidak mampu merasakan produk kerjanya sendiri lantaran sistem jual beli pasar mentransformasikan sepatu yang dibuatnya menjadi lebih mahal dari upah yang diterimanya. Manusia yang sejatinya mahluk sosial, akibat jam kerja padat dan panjang, membikinnya berjarak dari hakikat dirinya. Dia menjadi asing atas dirinya sendiri.

Kerja macam demikian di era modern menjadi mesin raksasa yang menggerakkan sejarah. Di pabrik-pabrik, buruh bekerja bersebelahan dengan mesin-mesin yang mengambil alih tenaga manusia; di kantor-kantor: para karyawan bekerja mengolah berkas-berkas melalui meja birokrasi berlapis-lapis; di institusi-institusi pendidikan, tenaga pengajar memeras otak melalui mesin kurikulum; dokter-dokter, guru-guru, jurnalis, para hakim, sastrawan, pengacara, pramugari, seniman, programer dlsb. (profesi yang belakangan dikatakan Antonio Negri sebagai buruh immaterial), ketika semuanya hanya “menukarkan” keahlian dan tenaga di bawah sistem akumulasi modal, maka di situ-lah hak milik lenyap diambil alih “sistem raksasa” yang disebut kapitalisme.

Syahdan, kerja di hari ini tidak lagi menjadi medium maksimalisasi nilai kemanusiaan, justru sebaliknya: modal.

Modal dengan begitu adalah pokok tapi juga sekaligus momok. Dia berfungsi melipatgandakan kekayaan, alat tukar, tapi ia juga sebagai alat eksploitasi.

Dalam sejarah kontemporer, modal bertransformasi menjadi informasi: sesuatu yang beberapa dekade belakangan menggerakkan, menghubungkan, dan menguasai interaksi orang-orang, menjadi modal utama ketika dia disebut “kecerdasan umum”. Kecerdasan umum (general intellect) seperti yang dibilangkan Marx adalah kecerdasan kolektif yang diprivatisasi lantaran dia menjadi standar universal mengetahui segala jenis pengetahuan teoritis dan praktis tentang sesuatu.

Itulah sebabnya misalnya, Mark Suckerberg melalui perusahaannya banyak meraup keuntungan bukan lantaran aplikasi yang diciptakannya, melainkan karena facebook menjadi standar universal dalam berkomunikasi. Dengan kata lain, ia merebut segala ruang komunikasi dan memonopoli jalur informasi dari jenis aplikasi sepertinya. Dia menguasai pengetahuan dan melegitim “hak kekayaan intelektual” dari segala yang berkaitan dengan facebook.

Pendidikan sebagai tempat pengetahuan kolektif, di dalam skema kapitalisme kontemporer, menjadi bagian dari skema terbentuknya “kecerdasan umum”. Ia bertindak sebagai wadah yang memproduksi bahasa, simbol, dan teks dalam rangka tindak lanjut dari produksi kapitalisme yang semula bersifat material menjadi simbolis. Melalui fungsi ini, intitusi pendidikan menjalankan fabrikasi menyiapkan tenaga-tenaga kerja ahli sesuai pekerjaan perusahaan-perusahaan.

Inilah juga mengapa ilmu pengetahuan dalam skema kapitalisme pada akhirnya diprivatisasi melalui intitusi-intitusi pendidikan (inilah dasar mengapa tenaga ahli melalui ijazah menjadi indikator pekerjaan).

Belakangan, pendidikan justru berubah mengenaskan. Alih-alih membebaskan manusia dari “situasi asal” menjadi “situasi merdeka”. Di saat yang lain, ia menjadi sumber kecemasan: biaya yang tinggi, kurikulum yang padat, penyelenggaraan yang semrawut, tenaga pengajar yang tidak kontekstual, penelitian-penelitian pesanan dan sekolah-kampus yang jadi elit.

Ia dengan kata lain menjadi asing bagi orang banyak. Ia menjadi lingkungan privat. Bahkan, pendidikan akhirnya menjadi tidak membahagiakan.

Pendidikan dengan begitu, sama halnya dengan aktivitas kerja buruh yang mengasingkan dirinya. Murid-murid, mahasiswa-mahasiswa, di jam-jam belajarnya, seolah-olah buruh pabrik yang terasing. Ilmu yang diprivatisasi, mengasingkan dirinya dari ilmu yang tidak kontekstual. Ilmu lantaran diproduksi melalui “teks kekuasaan” kenyataannya membikin pembelajar tercerabut dari fenomena hidupnya sehari-hari. Ilmu menjadi tidak praktis.

Pada akhirnya, pendidikan melalui intitusinya menjadi “ruang publik” yang sama sekali tidak “publik.” Di dalamnya, nasib publik sama sekali samar-samar mulai hilang. Lantas justru menjadi menara gading. Terasing.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...