24 Maret 2018

Diam

Poster film Silence, yang diperankan salah satunya oleh Liam Nelson

DIAM. Menurut eike, arti silence merujuk kepada dua hal: pertama, ia menandai iman kristiani masyarakat Jepang yang dipraktikkan secara sembunyi-sembunyi di bawah intaian kekaisaran Jepang. Di masa-masa awal gerakan Jesuit di abad itu -diperkirakan sekira abad 16 atau 17-- memang menjadi masa-masa yang mencekam. Para padre, ketika memperkenalkan iman kristus di masa kekaisaran Edo sama halnya sedang menggali liang kuburnya sendiri.

Makna silence, lebih jelas kelihatan ketika menunjukkan keadaan masyarakat yang selama beberapa tahun beragama tanpa bimbingan "sang imam" yang bakal mereka temui kelak. Selama masa kekosongan spiritual itu, orang-orang kristen beribadah tanpa bimbingan. Iman yang nyaris betul-betul polos. Iman yang bukan dibuktikan melalui dasar-dasar yang logis, melainkan suatu praktik yang dihayati tanpa pamrih.

Kedua, arti itu menandai praktik iman sang tokoh utama yang memilih diam paska dipersekusi dan diintimidasi inkuisitor kekaisaran Jepang. Di akhir hayatnya, seperti diceritakan, sang tokoh utama mengambil strategi dakwah tanpa menonjolkan simbol-simbol keagamaan di hadapan publik. Kepercayaan yang dia imani cukup dia praktikkan sejauh tiada mata yang menyaksikannya.

Sang tokoh, diceritakan akhirnya harus berdamai dengan kekuasaan. Dia memilih menjalankan keyakinannya secara sembunyi-sembunyi. Tanpa kata-kata, bahkan tanpa perbuatan.

Tapi, siapa sesungguhnya sang tokoh utama itu sendiri? Apakah sang padre atau sebenarnya seseorang yang lain. Seseorang yang tidak hadir dalam narasi, tapi ia ikut di dalam cerita.

Jangan-jangan film ini, sebenarnya ditokohi oleh kita sendiri sebagai figur utamanya. Dengan kata lain, sang tokoh utama bukan sosok yang memainkan perannya melalui drama sinematik itu, melainkan sang jiwa manusia yang yang kehilangan "dasar" iman, kehilangan sandaran untuk memercayai segala ihwal.

Memang film ini menceritakan dua misionaris Jesuit yang pergi mencari padre Ferreira nun jauh di tanah Jepang. Suatu tempat asing yang belum pernah mereka injak sama sekali. Dengan bekal informasi yang masih samar-samar berangkatlah mereka berdua bersama Kichiro sebagai penunjuk jalan. Bergegaslah mereka dari Eropa menuju dunia Timur yang sama sekali berbeda.

Padre Ferreira adalah orang yang paling berjasa bagi kekristenan saat itu. Setidaknya bagi dua padre yang menganggap ia sebagai tokoh penting bagi iman mereka. Itulah sebabnya mereka berani pergi mencarinya yang dikabarkan telah murtad. Walaupun mereka tahu, di Jepang, siapa pun yang diketahui sebagai kristiani bakal dipersekusi dan dibunuh.

Sampai di sini, kisah Silence adalah kisah mengenai pencarian. Narasi dimulai dari berita yang belum lengkap untuk mencari kepastian keberadaan sosok Ferreira. Tokoh yang samar-samar dan dinyatakan hilang.

Tapi, secara esoteris, --seperti yang ditokohkan oleh diri kita-- yang hilang sebenarnya bukanlah Ferreira. Yang hilang sesungguhnya bukanlah seorang sosok. Melainkan suatu pokok. Ferreira hanya simbol, yang menarasikan jiwa-jiwa manusia yang kehilangan "dasarnya". Kehilangan "pijakannya".

Ferreira dalam hal ini hanyalah pantulan cermin jiwa yang terkait dengan suatu asal sekaligus akhir, tempat semua telah bermula dan akan kembali kepadanya.

Itulah sebabnya, di awal cerita, Rodrigues dan Garupe kukuh untuk pergi mencari Ferreira. Bagi mereka, yang hilang bukan sekadar sosok Ferreira. Apa yang sedang mereka cari jauh melampaui suatu sosok, yakni iman itu sendiri sebagai fondasi kekristenan mereka.

Iman dengan begitu adalah ihwal yang mesti diperjuangkan. Sesuatu yang tidak boleh hilang, bahkan mesti dipertahankan.Jiwa manusia bukanlah jiwa yang sesungguhya tegar betul. Ia entitas yang mudah guyah. Tanpa "iman" jiwa hanyalah eksistensi yang telanjang dan tanpa arah.

Lalu yang manakah arah itu? Lebih tepatnya, di manakah seseorang harus mengarahkan sampannya?

Dalam Silence, arah itu justru ditunjukkan dari "sesuatu yang masih samar-samar". Sosok yang ada sekaligus dikabarkan hilang. Dengan kata lain figur "misterius" yang diperankan melalui Ferreira.

Bertolak dari "yang samar-samar" itulah sang tokoh pergi bermil-mil jauhnya. Dengan mengambil risiko mencari sosok sekaligus pokok yang sebenarnya bukanlah Ferreira, melainkan "imannya" itu sendiri.

Di titik itulah pencarian itu pada akhirnya berubah menjadi pergulatan atas diri sendiri. Mencari jiwa yang menjadi pegangan walaupun akan mengalami pembalikan dari hambatan-hambatan yang dilaluinya.

Itulah sebabnya, dalam cerita, di tengah perjalanan padre Rodrigues tidak lagi punya urusan dengan tujuan awalnya --mencari sang panutan padre Fereirra-- melainkan mencari keyakinan yang nyaris hilang dalam dirinya.

Silence dalam arti ini berarti kisah tentang jiwa manusia yang mencari jiwanya yang terasing, jauh, sekaligus juga samar-samar.

Melalui Al Qur'an Islam menyebutkan percayalah kepada yang ghaib. Entitas yang melampaui ruang dan waktu, dan sekaligus sesuatu yang disebutkan "samar-samar".

Yang ghaib, disebutkan dalam allaziina yu'minuna bilghaibi. "Mereka yang beriman kepada yang ghaib". Surah Al Baqarah ayat 3.

Di situ iman --seperti dijelaskan dari ayat sebelumnya--- dikatakan iman ketika didasarkan kepada sesuatu yang diberikan bagi yang menginginkan petunjuk, yakni orang-orang yang percaya kepada yang ghaib.

Percaya terhadap yang ghaib dengan kata lain adalah tanda bagi orang-orang yang bertaqwa.

Jiwa dalam tasawuf dibilangkan menjadi tiga paras. Paras yang pertama adalah jiwa mutmainnah, jiwa yang tenang dan akrab dengan sang asal. Yang kedua adalah jiwa lawwamah, yakni paras jiwa yang bisa merangkak menjadi mutmainnah tapi mudah tergelincir menjadi jiwa dengan paras yang ketiga, yakni jiwa amarah.

Jiwa lawwamah adalah jiwa yang bisa naik ke ketinggian paras mutmainnah ketika dia berhubungan dengan sang asal, tapi bisa jatuh ke kerendahan wajah amarah jika ia melupakan sang asal.

Selama pencarian Ferreira, Rodrigues (dan Garupe) ditemani sosok Kichiro. Kichiro diceritakan sebagai sosok yang ambigu. Suatu waktu ia membantu dan menjadi umat Rodrigues, tapi di waktu yang lain ia mengkhianati demi sekantung uang.

Dia sosok yang terjebak di antara iman dan penyangkalan akibat tekanan-tekanan yang dilaluinya. Dia ibarat jiwa lawwamah yang mudah bergerak di antara dua paras jiwa.

Kichiro dalam hal ini adalah narasi tentang jiwa yang belum berkembang purna. Ia mewakili jiwa manusia yang plin plan akibat tegangan antara dunia dengan sang asal. Ia ibarat sisi libidinal jiwa yang bergerak atas dasar hasrat tapi sekaligus menjadi jiwa yang merindukan tempat dirinya berasal.

***

Abad 17 adalah bagian dari sejarah panjang kolonialisme. Di bawah semboyan gold, glory, dan gospel, Eropa memperluas cakrawala dunianya dengan mendirikan koloni di negeri-negeri timur. Semenjak itu dunia timur-barat menjadi hubungan yang timpang. Timur direpresentasikan menjadi negeri-negeri terbelakang, dan bangsa-bangsa barat adalah bangsa yang mewakili kemajuan.

Hubungan yang timpang itu pula yang nampak mencolok dalam Silence. Di luar konteks ceritanya, perspektif orientalisme masih kukuh mempertahankan ketergantungan negeri-negeri timur dari barat. Hal ini dilihat dari sosok Rodrigues dan Garupe yang mewakili barat sebagai kiblat, dan bangsa Jepang sebagai negeri yang belum dimerdekakan dengan iman kristiani.

Melalui penjelasan inilah, mengapa intitusi kekuasaan Jepang menganggap iman kristus dalam film ini adalah keyakinan yang tidak dapat tumbuh di tanah Jepang. Pohon yang tumbuh di tanah seberang, seperti perkataan Inoe Sama di saat berbicara dengan Rodrigues, adalah pohon yang tidak dapat tumbuh di negeri lain. “Daunnya membusuk di sini, dan tunasnya mati.”

Percakapan yang dilakukan Inoe Sama dan Rodrigues (01:30:21) adalah dialog yang memperlihatkan tegangan antara lokalitas masyarakat Jepang dengan kristiani sebagai ajaran yang sama sekali asing. Agama kristiani dilihat sebagai irisan langsung dari kolonialisme bangsa Eropa. Itu artinya klaim universal yang diwakilkan dalam pendakuan Rodrigues, tidaklah sama di mata Jepang. Di mata Jepang, apa pun yang datang dari Eropa adalah modus lain dari kolonialisme.

Terakhir, narasi penutup dari Silence adalah adegan-adegan yang berangkat dari akhir hayat Rodrigues. Pada akhirnya dia mesti mengambil jalan lain, yakni jalan sunyi ketika imannya tidak mampu ia percakapkan melalui kata-kata, dan tak bisa ia perlihatkan melalui perbuatan.


15 Maret 2018

Perempuan

PEREMPUAN. Eike sampai sekarang seringkali takjub dengan perempuan. Secara biologis, dia mampu menanggung "dua nyawa" sekaligus di masa-masa yang sangat khas. Suatu masa yang sangat feminin. Masa waktu yang tak dipunyai oleh mahluk selain sepertinya. Pengalaman yang tidak mungkin dimiliki laki-laki sekalipun.

Di masa itu, seorang perempuan bertaruh nyawa detik demi detik untuk menahan sakit demi "setengah" jiwa yang ditanggungnya. Dari sisi ini, kata perempuan lebih bermakna dari kata wanita. Terma perempuan, lebih jelas menggambarkan kualitas khusus yang hanya dimilikinya. Empu, seperti ditemukan dalam nama Empu Tantular, dengan kata lain lebih pantas disematkan kepada mahluk yang sering kali direndahkan itu.

Perempuan sering kali dilecehkan, didiskriminasikan, dan bahkan mengalami kekerasan akibat cara pandang yang tidak adil. Secara ideologis, pandangan dunia patriarki masih kuat menempatkan perempuan ke titik subordinat. Secara simbolik, bahasa lebih banyak diucapkan menurut artikulasi laki-laki, sehingga bahasa percakapan lebih beraroma maskulin tinimbang feminin. Dan, secara biologis, perempuan kadang mendapatkan perlakuan kasar secara fisik maupun psikis.

Dengan kata lain, baik ideologis, simbolik, dan biologis, perempuan secara berlapis mengalami penindasan. Di bidang ekonomi, dia dinarasikan sebagai orang yang mesti didomestifikasikan di dalam dapur. Di bidang sosial budaya, kehidupan sosialita perempuan tidak jauh dari "dunia sumur" sebagai ruang pengalamannya yang paling jauh. Dan, yang paling miris, secara seksual, dia hanya dilihat sebagai mahluk yang harus ditundukkan di atas "kasur."

Pertanyaannya, jika hampir semua medan pengalaman perempuan mengalami penindasan sehingga tidak dapat menunjukkan jati dirinya, maka dari manakah perempuan mesti menempatkan pijakannya agar dapat setara dengan laki-laki? Bukankah semua ruang pengalaman manusia sudah dari awal dinarasikan melalui cara pandang laki-laki?

Belakangan, ideologi gender banyak menuai kritik melalui perspektif feminisme yang kadang secara global tidak mampu menerjemahkan permasalahan lokal para perempuan. Di tingkat yang paling kecil, kadang feminisme global mengalami kebuntuan. Perspektif yang terlampau barat, malah justru menjadi soal tersendiri. Feminisme barat, dalam hal ini dengan kata lain terlampau eropasentris. Terlalu kebarat-baratan.

Itulah sebabnya, perjuangan perempuan di manapun mesti mengambil pijakannya bukan dari panggung yang sudah diciptakan barat. Pijakannya, dengan kata lain, mesti bertolak dari "tanahnya" sendiri, tempat perempuan-perempuan menjalani kehidupannya.

Narasi feminisme selama ini yang terlampau eropasentris, mau tidak mau mesti didudukkan dengan hati-hati. Imajinasi feminisme barat adalah imajinasi yang lahir tidak jauh dari hubungan kolonialisme barat dengan negeri-negeri koloninya. Dia, ibarat "suara pembebasan" yang terdengar asing. Di sana-sini apa yang dibangun secara konseptual, di banyak hal tidak cocok dengan kebudayaan masyarakat timur yang tipikal dan khas.

Itulah sebabnya, kesadaran perempuan mesti digali dari tempatnya hidup itu sendiri. Bahasa perjuangannya mesti diucapkan melalui "lidahnya" sendiri. Diambil dari "perutnya" itu sendiri. Dari kehidupannya yang paling intim sekalipun.

Atas dasar itulah, eike menyarankan, mulai saat ini perjuangan perempuan mesti menggunakan bahasa lokalnya, bahasa yang dipakai sehari-hari sebagai bahasa kesadarannya, di mana dari itu kehidupan kultural perempuan bermula.

Sampai di sini, perjuangan perempuan bukanlah mau menyasar kehidupan sehari-hari yang nampak alami. Seolah-olah natural dan tanpa bias gender walaupun di balik semua itu ada ideologi dominan yang berperan besar menciptakannya. Perjuangan perempuan, singkat kata, hingga saat ini adalah perjuangan kultural, bukan menerima kehidupan natural yang selama ini mengelilinginya.

Dengan kata lain, dari semua itu perempuan mesti menciptakan budayanya sendiri. Kehidupan yang bersih dari cara pandang laki-laki yang mensubtitusinya.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...